Baby... I Love You

Baby... I Love You
Pasrah



"Saat ini Radit sedang mengamuk di kamarnya dan kata Bi Siti dia sedang membanting semua barang-barangnya." Ujar Mama Riana lirih.


Sya yang mendengarnya terkejut bukan main. Pikiran-pikiran negatif langsung bersliweran di kepalanya.


"Ma, aku harus segera pulang. Mas Radit... aku takut nanti Mas Radit kenapa-napa." Sya benar-benar panik saat ini. Bagaimana kalau Radit melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri? Tadi Mama Riana bilang Radit sedang mengamuk dan membanting barang-barangnya.


"Tenang Sya, tenang dulu. Percaya sama Mama, Radit tidak akan melakukan hal bodoh yang akan menyakiti dirinya sendiri." Mama Riana mencoba menenangkan Sya. Meskipun usahanya itu memang sia-sia. Menantunya itu sudah meneteskan air matanya dengan deras.


"Tapi Ma... Gimana kalau Mas Radit... " Sejenak Sya menyesali keputusannya pergi dari rumah. Harusnya Sya bisa lebih bersabar lagi. "Ma, aku harus pulang. Aku tidak bisa tenang kalau tidak tau keadaan Mas Radit yang sebenarnya." Ujar Sya masih sesenggukan.


"Baiklah, kita hubungi Radit sekarang." Ujar Mama Riana. Kali ini Mama Riana mengalah, dia juga tidak tega kalau Sya terus menangis seperti ini.


Mama Riana mengambil ponselnya dan langsung menghubungi nomor Radit. Tidak lupa juga dia nyalakan speaker agar Sya bisa mendengar obrolan di antara mereka.


Tut... tut... tut... Pada dering ke 3 Radit mengangkat panggilan telepon dari Mama Riana.


"Halo Ma." Terdengar suara Radit yang sendu.


"Kamu sedang apa mengamuk di kamar? Mengamuk dan membanting semua barang tidak akan membuat Sya langsung kembali ke kamu. Jangan lakukan hal bodoh Radit." Mama Riana langsung menyemprot Radit dengan omelannya. Rasanya Mama Riana sudah habis kesabaran karena sikap Radit itu.


Radit terdiam tidak menjawab ucapan Mama Riana, sedangkan Sya di samping Mama Riana menunggu jawaban dari sang suami. Sedikit ada perasaan lega saat bisa mendengar suara Radit.


"Mama tau kalau Maureen pergi? Apa itu berarti Maureen dan anak-anak ada bersama Mama?" Radit mengabaikan Mama Riana yang sedang meluapkan amarah kepadanya.


"Ya, mereka sama Mama. Karena kebodohan kamu itu membuat Mama membawa pergi mereka dari kamu." Jawab Mama Riana santai. Mama Riana adalah sosok ibu dan juga nenek yang bisa bersikap lembut sekaligus tegas. Mama Riana tidak akan segan-segan memberi pelajaran kepada orang terdekatnya yang berbuat salah.


"Ma, kenapa Mama tega lakuin ini ke Radit. Radit butuh Maureen Ma, jangan pisahkan kita seperti ini. Radit tau kalau Radit salah." Radit tanpa malu merengek kepada Mama Riana untuk mengembalikan Sya kepadanya.


"Jadi sudah sadar kalau apa yang kamu lakukan itu salah? Sudah sadar kalau pekerjaan kamu itu tidak lebih penting dibandingkan keluarga? Mama bahkan akan merelakan kalau ada laki-laki baik yang mau memperistri Sya. Tidak apa-apa Sya tidak menjadi menantu Mama lagi asal tidak kamu sakiti." Ujar Mama Riana dengan tajam. "Mama sudah menganggap Sya sebagai anak Mama sendiri. Dan Mama juga tidak rela kalau dia disakiti, walaupun itu sama kamu, anak kandung Mama sendiri."


Sya yang mendengar ucapan Mama Riana kembali meneteskan air matanya. Dapat Sya rasakan kalau Mama Riana benar-benar tulus menyanyanginya.


"Maa..." Ucap Sya lirih.


"Maureen, sayang... Kamu jangan dengerin omongan Mama. Aku cinta kamu. Aku enggak akan nyakitin kamu lagi sayang. Aku minta maaf, kita bicarakan ini baik-baik ya. Sekarang katakan, kamu dimana biar aku jemput kamu sekarang juga." Radit benar-benar takut saat mendengar Mama Riana mengatakan kalau dia rela memisahkan dirinya dengan Sya. Tidak, Radit tidak mau berpisah dengan Sya. Bisa-bisa dia akan mati kalau Sya benar-benar meninggalkannya. Terlebih tadi Radit mendengar suara Sya, bagaimana kalau istrinya itu setuju dengan ucapan Mama Riana? Tidak, itu tidak boleh terjadi.


"Ma... Mama, kalian dimana, biar Radit kesana. Radit harus bicara sama Maureen." Radit terdengar memohon kepada Mama Riana.


Mama Riana menatap Sya terlebih dahulu sebelum menjawab ucapan Radit.


"Kamu tidak perlu tau. Biarkan untuk saat ini Sya menenangkan dirinya terlebih dahulu." Jawab Mama Riana.


"Ma, tolong kasih tau Radit... Kalian di Bali kan? Iya, kalian pasti di Bali sekarang, aku jemput ya, aku kesana sekarang juga." Ujar Radit memelas.


"Iya, kita memang ada di Bali. Tapi sekali lagi Mama minta sama kamu untuk JANGAN kesini. Beri waktu Sya untuk menata hatinya kembali untuk bisa memaafkan kesalahan kamu." Mama Riana tetap menolak permintaan Radit. "Kalau kamu nekat kesini, Mama akan bawa Sya dan anak-anak pergi lebih jauh dari kamu." Satu-satunya jalan untuk mencegah Radit datang kesini adalah dengan mengancamnya.


"Maaa.... " Radit terdengar tidak setuju dengan ucapan Mama Riana. Tidak, Radit tidak mau lebih lama lagi jauh dari istri dan anak-anaknya.


"Jadi bagaimana? Kamu lebih memilih untuk lebih lama jauh dari mereka atau kamu sedikit bersabar menunggu kepulangan kita?" Tanya Mama Riana kepada Radit.


"Tapi Mama harus janji untuk tidak memisahkan aku dan Maureen. Mama juga harus janji tidak akan mengenalkan Maureen dengan laki-laki lain. Karena selamanya hanya aku yang akan menjadi suami Maureen." Ujar Radit kepada Mama Riana.


"Bisa saja Sya meninggalkan kamu kalau sikap kamu tidak juga berubah." Jawab Mama Riana santai.


"Maa, tolong jangan seperti itu. Radit janji akan berubah. Radit janji akan selalu memprioritaskan keluarga diatas segalanya." Ujar Radit sendu.


"Baiklah, sekarang biarkan Sya dan anak-anak menikmati waktunya disini. Kamu kembali fokuslah dengan perusahaan. Selesaikan secepatnya, jika permasalahan mengenai perusahaan sudah selesai, maka Mama akan mengantar Sya dan anak-anak pulang ke rumah." Ujar Mama Riana.


"Tapi Ma... Itu terlalu lama,persiapan pembukaan cabang perusahaan masih 2 minggu lagi. Aku tidak sanggup kalau harus menunggu selama itu untuk bertemu dengan Maureen dan anak-anak." Radit sangat tidak setuju dengan ucapan Mama Riana.


"Jangan lebay, kamu mengabaikan mereka berbulan-bulan lamanya. Dan sekarang kamu hanya harus menunggu selama 2 minggu saja. Lagi pula percuma saja kalau mereka pulang sekarang. Selama dua minggu ini kamu juga masih sibuk. Lebih baik mereka bersenang-senang disini." Jawab Mama Riana.


"Tapi Mama harus berjanji tidak akan mengenalkan Maureen dengan laki-laki lain." Ujar Radit kepada Mama Riana.


"Kita lihat saja nanti bagaimana kamu."


"Sayang, kamu jangan dengerin omongan Mama kalau dia ngajak kamu yang enggak-enggak. Ingat aku sangat mencintai kamu. I Love You."


Sya yang mendengar ucapan Radit seketika tersenyum. Setidaknya dia sudah sangat lega setelah mendengar kalau Radit baik-baik saja.