
Seminggu setelah kejadian di ruang Direktur. Kini baik Sya maupun Radit sudah kembali ke rutinitas masing-masing seperti biasa. Tidak ada lagi komunikasi diantara keduanya. Sya sudah melupakan kejadian itu, dia menganggap jika Radit berbicara seperti itu hanya sebagai angin lalu. Sedangkan Radit memang sengaja menghindari Sya, ditambah dengan kepulangan Papa Riyan dari Bali, membuat perhatian Kendra sedikit teralihkan dari Sya karena asik bermain dengan Opa nya setelah hampir sebulan tidak bertemu.
" Pak, besok kita harus ke Semarang untuk kunjungan pengecekan perusahaan anak cabang disana." Ujar Andre kepada Radit. Sejak kejadian itu pula, Andre tidak pernah membahas ataupun bertanya kepada Radit tentang Sya. Dia bersikap seperti biasa seperti tidak pernah terjadi apa-apa dan tetap profesional.
" Jam berapa jadwalnya? " Tanya Radit tetap fokus pada berkasnya.
" Penerbangan kita pukul 7 pagi. Dan kita mulai kunjungan perusahaan sehabis dzuhur. " Jawab Andre.
" Oke. " Jawab Radit singkat.
Dirasa sudah semua agenda untuk besok tersampaikan kepada Radit, Andre mengundurkan diri untuk keluar dari ruangan itu.
.
.
.
Jam istirahat ini Sya berada di cafetaria kantor dengan formasi tim lengkap, yaitu Prita, Dian, Leo, dan juga Tio.
" Kalian mau pada mau makan apa? Catet aja biar gue yang entar pesenin. " Ujar Leo kepada teman-temannya.
Sya mengambil selembar tisu untuk mencatat pesanan mereka.
" Kamu apa Di? " Tanya Sya kepada Dian yang memang ada di sebelahnya.
" Ayam bakar sama es jeruk aja." Jawab Dian kembali sibuk dengan ponselnya.
" Mbak Prita? "
" Aku Sop ayam sama nasi putih, terus minumnya es teh tawar. " Jawab Prita.
" Mas Tio? "
" Ayam pop minumnya espresso. " Jawab Tio.
" Pesenan Mas Leo mau sekalian aku catet nggak? " Tanya Sya kepada Leo.
" Iya, gado-gado sama kopi hitam panas aja. " Jawab Leo.
" Ihhh nggak nyambung banget gado-gado sama kopi panas. " Celetuk Dian tiba-tiba.
" Ya suka-suka gue lah, orang yang mau makan gue. " Jawab Leo sinis.
Sya, Prita, dan Tio hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sebentar lagi tom and Jerry sepertinya akan segera dimulai.
Namun perkiraan mereka sepertinya salah, karena setelahnya Dian justru kembali diam dan sibuk dengan ponselnya lagi.
Leo beranjak dari duduknya untuk memberikan list pesanan kepada pekerja cafetaria yang memang bertugas mengurutkan catatan pesanan pelanggan.
" Kok sekarang Pak Radit tidak pernah membawa Kendra ke kantor ya? Padahal biasanya seminggu bisa 3 sampai 4 kali main ke kantor. " Ujar Prita tiba-tiba menanyakan perihal Kendra.
Sya yang mendengarnya hanya diam saja. Lagian juga dia memang tidak tau alasan kenapa Kendra tidak pernah diajak ke kantor lagi oleh Radit.
" Lah Bundanya Kendra kan elo Sya." Ujar Dian kepada Sya.
" Mana ada aku Bundanya Kendra. Nikah sama Bapaknya Kendra juga enggak pernah. " Jawab Sya seraya terkekeh kecil tidak merasa terganggu dengan pernyataan Dian itu.
" Aku dulu udah pernah cerita tentang itu lo Mas sama kalian semua. " Jawab Sya yang sepertinya malas untuk menceritakan awal mula Kendra memanggilnya Bunda.
" Ooh ya? Kapan, kok aku nggak inget sih? " Jawab Tio seraya mengingat-ingat kapan Sya pernah menceritakan alasan kenapa Kendra memanggilnya Bunda. " Kayaknya belum deh. " Ujar Tio.
" Iya, ke aku juga belum. Dari terakhir kita makan bareng itu kan kamu nggak cerita apa-apa ke aku. " Ujar Prita menambahkan.
" Waktu itu kayaknya Mas Tio lagi di ruangan Pak Sean deh. " Ujar Dian mengingat-ingat.
" Jadi? " Tanya Tio sekali lagi.
" Jadi ya gitu, gimana ya, aku aja nggak tau. Mbak Prita kan tau waktu pertama kali Kendra tiba-tiba panggil aku Bunda. " Ujar Sya kepada Tio dan Prita.
" Kalo awal mulanya aku tau, yang aku tanyain itu alasan Kendra bisa sampai manggil kamu Bunda. " Jawab Prita memperjelas maksudnya.
" Oo itu. Karena aku cantik. " Jawab Sya seraya tertawa.
" Serius Sya. " Ujar Tio.
" Iihh, ya ini aku serius Mbak Mas, Kendra kan belum pernah melihat sosok ibunya secara langsung karena dia sudah meninggal saat Kendra masih kecil. Nah Pak Radit dan Mamanya selalu menjawab jika Bundanya itu cantik setiap Kendra bertanya seperti apa Bundanya. Dan ya, Kendra panggil aku Bunda tentu saja karena aku ini cantik. Tidak ada alasan khusus yang gimana-gimana kok. " Sya menjelaskan seraya tertawa kecil saat bagian dia mengatakan dirinya cantik.
" Iya memang kamu cantik. " Jawab Tio tanpa sadar.
" Memang. Mas baru sadar aku cantik? Kemana aja selama ini? " Ujar Sya seraya tertawa.
Dian dan Prita juga ikut tertawa melihat Sya yang dengan sangat percaya dirinya mengatai diri sendiri cantik.
" Kalian lagi bahas apa deh sampai ketawanya kenceng banget dari sana. " Ujar Leo yang datang dengan troli berisi makanan teman-temannya. Disini memang makanan yang sudah siap harus diambil sendiri.
" Lagi bahas aku cantik. " Jawab Sya kembali tertawa.
Leo hanya menggelengkan kepalanya heran. Semakin kesini sifat jaim Sya sudah mulai menghilang digantikan dengan sikap yang lebih ceria dan kadang bobrok seperti Dian. Dan sejak Sya masuk ke kantor ini, dimana ada Sya disitu pula Dian berada.
Mereka berlima menikmati makanan masing-masing sambil sesekali melemparkan candaan recehnya.
" Itu muka Pak Direktur makin kesini makin kusut aja ya nggak seperti biasanya. Seperti ada beban pikiran yang tidak terselesaikan." Tanpa sengaja Dia melihat Radit yang berjalan melewati meja mereka bersama Andre yang selalu ada dibelakangnya.
Sya yang dari tadi sedang ngobrol bersama Tio mengalihkan perhatiannya kearah dimana Radit berada. Tatapan mereka tanpa sengaja bertemu, namun Sya bersikap seolah-olah dia biasa saja dan kembali melanjutkan obrolannya bersama Tio.
" Sya... Sya... " Ujar Dian menyenggol lengan Sya dengan sikunya.
" Apa sih Di, aku lagi mau nyuap ini bentar dulu. " Ujar Sya seraya menyuapkan sesendok nasi kedalam mulutnya.
" Hhmmm... Apa? " Tanya Sya dengan mulut penuhnya.
" Telen dulu baru ngomong Sya." Ujar Tio mengingatkan.
" Lo bikin salah apa sama Pak Radit? " Tanya Dian yang membuat Sya, Tio, Prita dan Leo mengalihkan perhatiannya kearah Dian. Dian melihat jika saat Pak Radit melewati meja mereka, laki-laki itu menatap tajam kearah Sya.
" Salah? Emang aku bikin salah apa? " Tanya Sya bingung.
" Ya mana gue tau, kan gue tanya ke elo. Tuh liat, dari tadi Pak Radit ngeliatin lo kayak seolah-olah lo tuh ada utang sama dia dan mangkir waktu ditagih." Ujar Dian.
Dapat Sya lihat Radit sudah masuk kedalam mobilnya.
" Emang aku ada utang dua ratus ribu sama Pak Radit. " Jawab Sya santai.