
Pagi ini keluarga Radit sedang bersiap untuk pulang ke Jakarta. Namun, ditengah kesibukan persiapan mereka ada satu yang sepertinya berat untuk meninggalkan kota ini. Siapa lagi kalau bukan Kendra. Pria kecil itu tampak murung terduduk di sofa ruang tamu. Sya yang melihatnya segera mendekatinya.
" Kendra kenapa? Kok kelihatannya sedih begitu? " Tanya Sya dengan lembut. Sya sudah duduk di samping Kendra.
" Kendla nggak pengen pulang. Kendla mau disini aja sama Bunda. " Jawab Kendra dengan lirih. Wajahnya menunduk dengan sendu.
" Kenapa Kendra pengen disini sama Bunda? " Tanya Sya mengusap kepala Kendra.
" Nanti kalo Kendla pulang telus Bunda disini kita nggak bisa beltemu. Nanti Kendla kangen. " Jawab Kendra dengan polos. Saat mengetahui jika Sya tidak ikut pulang bersamanya, Kendra menjadi sangat sedih. Apa ini adalah terakhir kalinya dia bertemu dengan Sya? Mungkin itulah yang ada dipikiran Kendra saat ini. Kendra sangat menyayangi Sya seperti dia menyayangi Radit, Ayahnya.
" Kata siapa kita nggak bisa ketemu lagi hem? Bunda juga nanti pulang ke Jakarta kok. Bunda cuma disini lebih lama, soalnya kan Bunda kerjanya libur. " Ujar Sya mencoba memberikan penjelasan yang mungkin bisa dipahami oleh Kendra.
" Benelan? Bunda nggak bohong kan sama Kendla? " Tanya Kendra memastikan ucapan Sya.
" Iya beneran sayang. Mana mungkin Bunda bohong sama Kendra. Bunda disini cuma 4 hari lagi kok, setelah itu Bunda langsung pulang ke Jakarta." Jawab Sya tersenyum. "Eemm... Emangnya Kendra nggak kangen sama Grey? " Ujar Sya mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Gley? " Kendra terdiam beberapa saat, terlihat bocah itu sedang bepikir. " Kendla kangen Gley. " Setelah berpikir cukup lama ternyata Kendra mengambil kesimpulan jika dia rindu Grey, anak kucing milik Mama Riana.
" Nah, Grey pasti juga kangen Kendra. Udah lama kan Kendra nggak ketemu sama Grey? " Tanya Sya kepada Kendra yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Kendra.
Ternyata tanpa sepengetahuan Kendra dan Sya. Saat ini Radit sedang berdiri di belakang keduanya dengan koper yang dia bawa. Sedari tadi Radit mendengarkan bagaimana Sya membujuk Kendra untuk tidak sedih karena harus pulang lebih awal.
" Ekhemm... " Ujar Radit berdehem. Hal ini membuat Sya dan Kendra menolehkan kepalanya kearah laki-laki jangkung yang saat ini sedang berdiri dibelakang mereka.
" Udah siap Mas? " Tanya Sya kepada Radit.
" Iya udah kok. " Radit mendudukkan dirinya di hadapan Sya sembari menunggu orang tuanya selesai bersiap.
" Ya udah, sarapan dulu yuk. " Ajak Sya kepada Radit dan Kendra.
Setelah beberapa lama bersiap, akhirnya selesai juga. Saat ini semua ada di depan rumah Sya. Menunggu Pak Iman memanaskan mobil.
" Kenapa harus cepet-cepet sih Mbak pulangnya. Apa nggak bisa ditunda aja meetingnya. " Ujar Mama Farida kepada Mama Riana.
" Itu udah dibahas tadi malem Ma, jangan mulai lagi deh. " Ujar Ayah Dodi menimpali pertanyaan istrinya. Pasalnya sejak tadi malam Mama Farida terus saja merengek seperti anak kecil yang menolak untuk ditinggalkan.
" Iihh, Ayah tuh nggak tau perasaan wanita. " Jawab Mama Farida cemberut.
Semuanya tentu saja langsung tertawa melihat Ibu yang usianya hampir setengah abad ini merajuk. Begitu juga dengan Kendra.
" Hahaha, Mbah Uti lucu. " Ujar Kendra tertawa.
Seketika Mama Farida menghentikan aksi merajuknya itu.
" Ya udah kalau gitu kita pamit dulu ya Far, Dod. " Ujar Papa Riyan berpamitan kepada sepasang suami-istri itu.
" Iya hati-hati bro. Nanti kalo udah sampe Jakarta kabarin ya. " Jawab Ayah Dodi seraya menepuk pelan bahu Papa Riyan.
" Pamit ya Far, Mas. " Ujar Mama Riana.
" Iya hati-hati ya Mbak. "
" Om Tante, Radit pamit pulang dulu. InshaAllah kalo ada kesempatan Radit main lagi kesini. " Ujar Radit kepada Ayah Dodi dan Mama Farida.
" Ya pasti kesini lagi lah, kan kamu mau jadi mantu. " Ujar Mama Farida menggoda Radit.
Radit hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan Mama Farida.
" Mbah Uti Kendla pulang dulu ya. " Ujar Kendra seraya menyalimi Mama Farida seperti yang Radit lakukan.
" Iya sayangnya Mbah Uti. Yang pinter, jangan susah kalo disuruh maem. " Ujar Mama Farida mencium pipi Kendra.
" Hati-hati ya bocah bagus. Kapan-kapan kalo Mbah Kung ada waktu nanti main ke tempat Kendra. " Ujar Ayah Dodi mencium puncak kepala Kendra.
Setelah acara pamitan selesai, barulah mobil melaju kearah Bandara. Tentu saja Sya ikut mengantarkan.
Papa Riyan duduk di depan bersama Pak Iman, Kendra duduk bersama Mama Riana. Sedangkan Radit duduk dibelakang bersama Sya.
Di dalam mobil hanya ada celotehan dari Kendra dan Mama Riana. Terkadang Papa Riyan pun bercerita dengan Pak Iman. Sedangkan Radit dan Sya hanya terdiam di tempat duduknya. Namun tanpa ada yang tau, ternyata tangan Radit sedang menggenggam erat tangan Sya.
" Mas... " Ucap Sya dengan lirih seraya mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Radit.
" Heemmm... Biarin aja. Ini buat penawar nanti karena aku 4 tidak bisa ketemu sama kamu. " Bisik Radit lirih. Untung saja Pak Iman menyalakan Radio. Jadi obrolan Sya dan Radit tidak terdengar oleh yang lain.
" Kan nanti bisa video call Mas. " Ujar Sya tidak menyerah.
" Beda video call sama ketemu langsung. " Jawab Radit memberikan alasan.
Akhirnya Sya mengalah saja. Tidak terasa mereka sudah sampai Bandara. Bawaan awal mereka yang tadinya sedikit menjadi bertambah berkali-kali lipat karena Mama Riana yang berburu oleh-oleh dan juga pernak-pernik dari Jogja di tambah juga pemberian dari Mama Farida sangat banyak.
" Jaga hati dan jaga pikiran. Kamu sekarang punya aku. " Ujar Radit berbisik kepada Sya. Hal ini membuat pipi Sya bersemu merah.
" Mas juga. Nanti kalo sudah sampe Jakarta kabari aku. Jangan lupa. " Ujar Sya kepada Radit.
" Iya sayang. "
Setelah sedikit drama dari Kendra. Akhirnya keluarga Radit take of juga.
Sya dan Pak Iman kembali ke rumah.
" Mas Radit itu calon suami Mbak Sya ya? " Tanya Pak Iman kepada Sya.
" InsyaAllah Pak. Doain aja yang terbaik. Manusia bisa berencana tetap Allah SWT yang menentukan. " Jawab Sya seraya tersenyum.
" Aamiin Mbak, semoga saja dilancarkan semuanya. Mbak Sya baik insyaAllah pasangannya juga baik. " Ujar Pak Iman.
" Aamiin Pak. "
Sesampainya di rumah, Sya ke dapur untuk menemui Mama Farida.
" Mama, adek pulang. " Ujar Sya memeluk Mamanya dari belakang.
" Duh, udah gede masih manja aja sama Mamanya. " Ujar Ayah Dodi muncul dari pintu dapur. Dia tersenyum melihat tingkah anaknya itu.
" Biarin. "
" Ya udah adek ke kamar dulu ya. " Ujar Sya berpamitan.
Sya merebahkan dirinya di ranjang. Ada aroma Kendra tercium di bantal tidurnya karena beberapa hari ini Kendra memang tidur bersamanya.
" Baru satu jam aja aku udah kangen. " Ujar Sya bergumam.
Tanpa sadar Sya akhirnya tertidur. Dan beberapa saat kemudian terbangun karena mendengar notif dari ponselnya.
Direktur Galak
Sayang, aku udah sampe di Jakarta. Aku kangen kamu. Padahal baru berapa jam yang lalu kita nggak ketemu. I Love You.
Sya tersenyum mendapat pesan dari Radit.