Baby... I Love You

Baby... I Love You
Kalap belanja



Hari ini Radit sudah mulai kembali ke kantor setelah rencana istirahat di rumah menjadi mulur menjadi 5 hari dari rencana awal yang hanya 3 hari saja. Perban di kepalanya pun sudah di copot di gantikan dengan plester kecil untuk menutup lukanya.


Dan ya, pagi ini seperti biasa Sya di sibukkan dengan mengurus segala persiapan untuk Kendra berangkat sekolah dan juga Radit yang akan berangkat ke kantor.


Setelah menyiapkan segala keperluan para laki-laki kesayangannya itu Sya turun kr dapur untuk membuatkan mereka sarapan. Sedangkan untuk Kendra kali ini di urus oleh Radit.


Untuk Radit Sya membuatkan nasi goreng telur dan sosis dengan pelengkap secangkir kopi sebagai minuman wajibnya, sedangkan untuk Kendra seperti biasa Sya akan membuatkan semangkuk sereal dan segelas susu strawberry. Cukup simpel bukan! Tapi berhubung hari ini Kendra akan pulang lebih siang jadi Sya juga membuatkan bekal untuknya, kali ini Sya membuatkan sandwich isi sayur dan juga daging sesuai dengan permintaan Kendra tadi malam. Bocah tampan itu juga memintanya untuk membuatkan lebih banyak dari biasanya kaarena dia berencan untuk sharing dengan temannya di sekolah. Tentu saja Sya dengan senang hati membuatkannya sesuai dengan permintaan Kendra itu, dan tidak lupa beberapa buah-buahan sebagai penutup.


Tepat setelah Sya menyelesaikan masakannya, Kendra turun bersama Radit sudah dalam keadaan rapi. Hanya Radit yang masih terlihat sedikit berantakan karena kemejannya yang masih belum di kancing sebagian dengan sebuah dasi yang melingkar di lehernya. Sudah pasti itu adalah tugas wajib untuk Sya setiap Radit akan berangkat ke kantor. Untuk itulah Radit tidak melakukannya serapi Kendra.


"Selamat pagi Bunda..." Ujar Kendra menyapa Sya terlebih dahulu.


Sya langsung menoleh ke arah Kendra dan tersenyum manis.


"Selamat pagi juga Abang. Wahh udah ganteng nih." Ujar Sya memuji Kendra.


"Terima kasih bunda." Jawab Kendra pelan.


Mendengar pujian dari Bundanya itu Kendra langsung tersenyum malu-malu dengan pipi memerahnya. Hal ini membuat Sya semakin mengembangkan senyumnya."


Radit yang merasa di kacangin langsung saja mengerucutkan bibirnya.


"Aku nggak di puji kayak kendra?" Tanya Radit kepada Sya dengan nada merajuknya.


Sya tersenyum simpul melihat Radit yang sedang bertingkah seperti anak kecil itu. Sedangkan Kendra cuek saja karena saat ini dia lebih fokus dengan sereal dan susu strawbery kesukaannya. Mengacuhkan drama yang sedang Radit lakukan saat ini.


"Ya kan kamu belum rapi Mas, itu kancingnya aja masih belum di pasang kayak Kendra, dasi juga masih di kalungin di leher begitu." Ujar Sya kepada Radit yang langsung mendapat seringaian dari laki-laki itu.


"Kan aku maunya kamu yang kancingin sama pasangin dasi sayang." Jawab Radit memberikan alasan.


"Ya udah sini aku pasangin. Sekarang Mas jadi bayi gede." Ujar Sya seraya tertawa kecil.


"Bunda..." Panggil Kendra yang langsung membuat aksi mesum sang Ayah itu terhenti. Berbeda dengan Radit yang hannya bisa mendengus kesal, Sya justru tertawa kecil karena Kendra berhasil menyelamatkannya dari sang predator.


"Loh kok Bunda ada di belakang Abang, Abang kila Bunda pelgi." Ujar Kendra dengan polosnya.


"Bunda dari tadi disini kok lagi masangin dasi Ayah." Ujar Sya seraya duduk di samping Kendra karena pekerjaanya memasanagkan kancing dan dasi Radit sudah selesai. Begitu pula dengan Radit yang langsung duduk di kursinya untuk menyesap kopi favoritnya dan memakan nasi goreng yang sudah di siapkan oleh Sya.


Berbeda dengan Kendra dan Radit yang sedang sarapan, pagi ini Sya hanya ingin memkan apel dan susu hamilnya saja. Karena beberapa hari ini nafsu makan Sya terhadap nasi justru kembali menurun. Tapi untungnya kalau soal cemilan Sya masih memiliki nafsu yang banyak untu memakannya. Dan Sya juga masih bisa memakan Roti.


Selesai sarapan Sya mengantarkan kedua jagoannya itu ke depan untuk memberikan semangat kepada Radit dan juga Kendra.


"Di rumah baik-baik ya sayang, aku berangkat dulu. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku." Ujar Radit seraya mencium kening Sya sebagai rutinitas mereka saat akan berpisah. Dan Sya juga membalasnya dengan mencium tangan Radit.


" Kamu juga hati-hati Mas, dan jangan nyetir sendiri dulu. Biar Pak Agus aja yang bawa mobilnya." Ujar Sya mengingatkan Radit. Dan langsung di iyakan oleh suaminya itu. " Udah cepet sana, Abang udah nungguin tuh." Tambah Sya lagi.


Kendra memang sudah masuk mobil terlebih dahulu setelah berpamitan dengan Sya.


Radit tersenyum dan mengecup bibir Sya sekilas sebelum akhirnya benar-benar masuk ke mobil.


Setelah badan mobil sudah tidak terlihat di pandangannya lagi, Sya akhirnya masuk kedalam rumah. Rasanya Sya sudah sangat mengantuk padahal ini masih sangat pagi.


Sya duduk di ruang keluarga sendirian. Ya karena mau bagaimana lagi, saat ini pasti Mbok Inah dan Mbak Tinah pasti sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Mau mengajak mereka untuk menemaninya mengobrol pun Sya merasa tidak enak karena akan membuat pekerjaan keduanya menjadi lebih lama selesainya sedangkan Sya sendiri tidak bisa membantu mereka selain mencuci piring dan membereskan kamarnya juga Kendra. Ya karena kalau untuk menyapu seluruh area rumah ini Sya merasa tidak sanggup melakukannya dalam keadaan hamil seperti ini.


Untuk menghilangkan rasa mengantuknya, Sya memilih untuk memainkan ponselnya. Membuka beberapa aplikasi yang sekiranya bisa membuatnya lupa akan bantal dan juga kasur.


Diantara banyaknya aplikasi yang ada di ponselnya, Sya tertarik dengan aplikasi belanja online. Terlebih saat jari-jemarinya berselancar mencari perlengkapan baby. Namun karena adanya larangan untuk membeli perlengkapan bayi sebelum usia kandungan 7 bulan, pada akhirnya yang Sya lakukan hanya menyimpannya di keranjang.


Tidak berkecil hati karena tidak bisa membeli perlengkapan untuk si baby, Sya memilih untuk membeli beberapa pasang baju dan sepatu yang sekiranya cocok untuk Kendra. Dan tanpa Sya sadari yang tadinya hanya ingin membeli beberapa saja ternyata terkumpul menjadi sangat banyak. Sya begitu terkejut saat nominal pembayarannya mencapai 16 juta. Refleks saja Sya melemparkan ponselnya ke sofa yang ada di sampingnya.


"Astagfirullah, kenapa jadi sebanyak ini nominalnya?" Ucap Sya dengan panik. Lebih parahnya lagi Sya sudah menyelesaikan pembayarannya karena awalnya Sya kira hanya 1,6 juta saja.