
Setelah berbasa-basi terlebih dengan Mama Riana dan Papa Riyan, Radit dengan tanpa merasa bersalah sedikitpun langsung menarik tangan Sya untuk ke kamar.
"Kamar kita yang mana yank?" Tanya Radit dengan lembut.
"Kamu enggak tau dimana kamarnya tapi asal tarik aja." Ujar Sya dengan kesal. Pasalnya Radit menarik tangannya kearah dapur, sangat berlawanan dengan kamar tempatnya dan anak-anak mereka tidur.
Radit lagi-lagi hanya tersenyum tanpa sedikitpun merasa bersalah. Radit benar-benar lupa karena entah dia terlalu senang karena bisa bertemu lagi dengan Sya atau karena dia memang karena sudah lama dia tidak datang ke villa ini. Sebenarnya ini adalah villa milik keluarganya.
Setelah masuk ke kamar Radit langsung meletakkan kopernya dan menghampiri kedua anak-anaknya yang saat ini sedang tertidur dengan pulas.
Huft, Radit benar-benar merindukan mereka. Tanpa sadar Radit meneteskan air matanya saat melihat baby Rendra yang saat ini sedang tertidur pulas ternyata sudah lebih besar dari yang terakhir Radit ingat. Dan juga Kendra, putra sulungnya terlihat tidak kalah menggemaskan dibandingkan dengan baby Rendra.
Sungguh Radit merasa sangat menyesal saat ini. Bagaimana bisa dia mengabaikan anak-anaknya.
Kemudian Radit beralih menatap Sya. Tanpa berlama-lama dia langsung memeluk tubuh istrinya itu.
"Maaf, aku minta maaf sayang. Aku salah karena sudah mengabaikan kalian." Ujar Radit dengan suara serak.
Sya mengusap punggung Radit untuk menenangkan laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu.
"Tidak apa-apa, yang penting kamu sudah menyadari kesalahannya kamu Mas. Aku dan anak-anak sudah memaafkan Mas Radit." Ujar Sya kepada Radit.
Radit terdiam namun masih tetap memeluk tubuh Sya dengan erat seakan dia tidak ingin melepaskannya lagi.
"Mas, ganti baju dulu ya, baju kamu basah." Ujar Sya kepada Radit. Sya menyadari lengan baju suaminya itu sudah basah sejak Radit datang.
"Nanti dulu, aku masih pengen peluk kamu." Jawab Radit terdengar merajuk.
Sya membiarkan Radit tetap memeluk tubuhnya.
"Mas, beneran deh, kamu kenapa jadi kurus begini." Ujar Sya bertanya kepada Radit.
"Berat aku turun 5 kg." Jawab Radit tanpa melepaskan pelukannya.
"Kok bisa sampai turun? Kamu jarang makan ya? Begadang terus?" Tanya Sya, dia masih mencecar Radit mengenai penyebab kenapa laki-laki itu mengalami banyak penurunan berat badan.
"Enggak, karena aku rindu kamu dan anak-anak." Jawab Radit.
Benar, Radit jujur mengenai itu. Karena meski sesibuk apapun dirinya dan walaupun hanya makan 1 kali dalam sehari, tapi Radit tidak pernah mengalami penurunan berat badan seperti ini. Buktinya walaupun selama 2 bulan dia jarang makan dan selalu lembur, tapi karena Sya dan anak-anak ada di sampingnya membuat Radit sama sekali tidak mengalami turun berat badan.
"Ya udah ayo cepet ganti baju, nanti kamu bisa-bisa masuk angin Mas." Ujar Sya mengalihkan pembicaraan. Jujur, Sya merasa bersalah juga saat Radit mengatakan itu. Sya tidak pernah menduga kalau efek dia meninggalkan Radit akan seperti itu.
Radit yang mendengar ucapan tegas Sya seketika menuruti ucapan istrinya itu.
"Bantuin." Ujar Radit dengan manja.
Bagaimana bisa laki-laki yang dikenal tegas dan dingin akan menjadi semanja ini kepada istrinya?
"Mas kan udah besar, bisa kan buka kancing baju sendiri?" Ujar Sya dengan lembut.
"Bisa, tapi aku maunya kamu." Jawab Radit seraya tersenyum manis.
Sebagai ungkapan rasa bersalahnya, Sya melakukan keinginan Radit. Satu persatu dia membuka kancing kemeja suaminya itu.
"Udah, sana ke kamar mandi dulu, sekalian bersih-bersih juga. Cuci muka sama gosok gigi aja enggak usah mandi." Ujar Sya kepada Radit.
"Temenin." Lagi-lagi Radit bersikap manja kepada Sya.
"Enggak, Mas sendiri aja. Aku tunggu sini." Jawab Sya menolak.
"Sayang... " Radit masih tidak menyerah.
"Mass... " Sya masih tetap dengan pendiriannya.
Radit mendapati orang tuanya masih duduk berdua sambil menonton TV.
"Ma, liat Maureen enggak?" Tanya Radit kepada Mama Riana.
Mama Riana menoleh kearah Radit.
"Keluar kali cari villa baru." Jawab Mama Riana asal.
Mendengar itu Radit berniat untuk keluar mencari Sya, dia benar-benar tidak menyadari kalau Mama Riana sedang mengerjainya. Yang dipikiran Radit saat ini adalah Sya pasti masih marah kepadanya, itulah alasan kenapa Sya keluar mencari villa baru.
Baru saja Radit membalikkan badannya, Tiba-tiba...
"Mas, kamu mau kemana?"
Radit langsung menoleh kearah sumber suara. Dia mendapati Sya yang berdiri di depan dapur dengan tangan membawa secangkir minuman yang terlihat masih mengepulkan asap.
"Kamu darimana?" Tanya Radit kepada Sya.
"Dari dapur abis buatin teh buat kamu.' Jawab Sya bingung. Kenapa Radit menanyakannya?
" Tapi tadi Mama bilang kamu keluar buat cari villa baru. Aku pikir kamu masih marah sama aku." Ujar Radit kepada Sya.
"Cari villa baru? Buat apa? hujan-hujan gini males banget keluar." Jawab Sya sekenanya.
Sedangkan tersangka yang melakukan kebohongan hanya tertawa geli melihat Radit benar-benar percaya dengan apa yang dia katakan.
"Kamu kok percaya aja sih Mama bilang gitu." Jawab Mama Riana masih saja terus tertawa. Sedangkan Papa Riyan hanya menggelengkan kepalanya melihat kejahilan istrinya kepada putra mereka.
Mengetahui dirinya dibohongi oleh Mama Riana, sebenarnya Radit merasa cukup kesal. Tapi setelah dipikirkan lagi, kenapa juga dia bisa tertipu oleh Mama Riana?
"Dasar bucin, bener-bener like father like son." Ujar Mama Riana.
Tanpa mengatakan apa-apa Radit lebih memilih untuk menggandeng Sya ke kamar mereka.
Radit meletakkan teh buatan Sya di meja rias dan dia duduk di kursinya seraya membawa Sya agar duduk di pangkuannya.
"Aku pikir kamu beneran pergi lagi." Ujar Radit kepada Sya.
"Enggak Mas, buat apa juga aku pergi. Aku nggak punya alasan untuk melakukan itu." Ujar Sya seraya mengelus rambut Radit.
Radit menenggelamkan wajahnya diceruk leher Sya.
"Lain kali kalo aku buat salah kamu langsung marahin aku aja. Tapi jangan pernah pergi dari aku lagi." Ujar Radit dengan suara lirih.
"Iya, nanti kalau kamu buat salah aku bakal langsung marahin kamu. Tapi sekarang minum dulu tehnya biar badan kamu anget. " Ujar Sya kepada Radit. Sya dapat merasakan tangan Radit yang terasa dingin saat tadi menggandeng tangannya.
"Tadi tangan aku dingin karena aku takut kamu beneran pergi." Ujar Radit kepada Sya.
.
.
.
Tidak bosan-bosannya aku untuk mempromosikan Laras for Dani, coba dulu aja dibaca siapa tau temen-temen suka😂
Jangan lupa kritik dan sarannya, dan kasih tau aku kalau ada typo 🤗😁
Terima Kasih😘💕