
Radit menghampiri Sya yang sedang duduk bersama Kendra. Keduanya sibuk dengan dunia masing-masing. Sya dengan ponselnya entah sedang apa, sedangkan Kendra masih dengan video YouTube nya. Hari ini Radit sudah tidak ada pekerjaan, lalu dia harus apa? Melihat Kendra dan Sya saja?
" Bang... " Panggil Radit kepada Kendra.
" Hmmm.... " Hanya hanya gumaman yang Radit dapatkan dari Kendra.
" Ayah nggak pernah ngajarin kamu begitu lo bang, dipanggil kok nggak nyaut sih. " Ujar Radit kesal. Suaranya juga menjadi lebih keras dari biasanya.
Sya dan Kendra yang mendengarnya langsung menatap kearah Radit. Kenapa Radit marah? Biasanya juga dia tidak pernah marah hanya karena Kendra tidak menjawab panggilannya.
" Mas Marah? Biasanya kamu juga gitu loh Mas. Dan Kendra juga biasanya memang begitu karena ajaran kamu." Ujar Sya menatap ke arah Radit.
" Ayah malah sama Kendla? " Tanya Kendra dengan takut-takut. Pasalnya sangat jarang Radit marah kepadanya.
Melihat reaksi keduanya yang seperti itu, tentu saja Radit langsung gelapan. Tidak, bukan itu maksudnya. Radit sebenarnya bukan kesal karena Kendra tidak menyahuti panggilan dari dia sebagaimana mestinya. Radit hanya bingung dengan apa yang harus dia lakukan, jadilah tanpa sadar Radit kesal tanpa alasan karena di cuekin.
" Enggak, siapa yang marah. Ayah nggak marah kok. Cuma suaranya agak keras aja. " Ujar Radit mengelak.
" Ehhh... Berhubung kita lagi di Jogja, jalan-jalan yuk. Kira-kira tempat yang bagus buat ajak Kendra kemana ya? Kamu ada rekomendasi mungkin? " Tanya Radit kepada Sya untuk mengalihkan pembicaraan mengenai kemarahan Radit.
" Apa ya... Gimana kalau ke Taman Pintar aja? Disana kayaknya cocok deh buat anak kecil. " Ujar Sya memberikan saran.
" Emang di sana ada apa aja sih? " Radit memang belum pernah ke Taman Pintar seumur hidupnya, padahal dia sering bolak-balik ke Jogja. Hanya saja tidak pernah kesana karena menurutnya itu hanya tempat untuk anak yang masih sekolah saja.
" Taman Pintar itu, di khususkan pada wahana pendidikan anak usia dini dilengkapi dengan teknologi interaktif digital serta pemetaan video yang akan memacu imajinasi anak serta ketertarikan mereka terhadap teknologi. Jadi cocok buat perkembangan otak Kendra Mas. Kan jadi nambah pengetahuan juga, bukan hanya untuk Kendra, tapi untuk kita juga Mas. Lagian Taman Pintar kan jadi salah satu tempat wisata yang sering didatangi oleh wisatawan luar kota. " Ujar Sya menjelaskan. " Kendra mau kan sayang main-main ke Taman Pintar? " Tanya Sya kepada Kendra.
" Heem, Kendla mau Bunda. " Jawab Kendra semangat. Jika itu adalah ajakan Sya, maka Kendra tidak akan pernah menolaknya. Kendra selalu ingin dekat dengan Sya.
" Ya udah, Yuk kita kesana aja. Kamu siap-siap dulu sana. Aku juga mau siap-siap sekalian mandiin Kendra. " Ujar Radit kepada Sya.
Sya masuk ke kamarnya untuk mandi. Begitu pula dengan Radit yang masuk ke kamar Fardan yang memang dia tempati sejak semalam.
Seperti biasa tentu saja Sya selesai bersiap lebih awal. Simpel saja, dia hanya memakai celana jeans putih, dipadukan dengan kaos pendek warna hitam dan cardigan pink. Tidak lupa sepatu sneakers putih. Kali ini rambut panjangnya hanya Sya ikat setengah saja.
Baru saja Sya keluar dari kamarnya, terlihat di kamar sebelah Radit sedang memakaikan baju untuk Kendra. Sedangkan dirinya hanya menggunakan handuk putih yang membalut tubuhnya dari pinggang hingga lutut. Bagaimana bisa Sya melihatnya? Tentu saja karena pintunya tidak tertutup dengan rapat. Sya berniat untuk turun ke bawah saja sembari menunggu Radit dan Kendra bersiap. Namun sebelum niatnya terlaksana tiba-tiba...
" Maureen... " Panggil Radit dari dalam kamar. Ternyata Radit melihat Sya yang akan berjalan melewati kamar yang sedang dipakainya ini.
" Kenapa Mas? " Tanya Sya tanpa melihat kearah Radit.
" Tolong dong pakein baju Kendra. Aku mau ganti baju juga soalnya. " Ujar Radit kepada Sya.
" Tapi Mas... " Sya merasa tidak enak. Sekarang posisinya adalah Radit hanya memakai handuk. Dan mereka hanya berdua saat ini. Tidak, tapi bertiga hanya saja yang satu masih kecil.
" Ayolah reen, kamu kan juga udah biasa pakein baju Kendra. Aku mau ganti di kamar mandi soalnya. " Ujar Radit membujuk Sya.
" Iya Mas... " Mendengar ucapan Radit tentu saja membuat Sya lega. Dia memang sudah terbiasa melihat laki-laki hanya memakai handuk, tapi hanya Fardan, kakaknya. Dan saat melihat Radit, entah kenapa Sya justru merasa malu sendiri. Padahal bukan dia yang sedang tidak memakai baju.
" Makasih ya. " Setelah Sya masuk ke kamar, barulah Radit kembali ke kamar mandi untuk memakai baju.
" Nanti disana ada apa aja Bunda? " Tanya Kendra penasaran
" Pokoknya banyak, Bunda yakin kalau Kendra pasti nanti suka." Ujar Sya menjawab pertanyaan Kendra.
" Ya tapi apa, Kendla kan penasalan. " Ujar Kendra dengan wajah lucunya.
" Isshh, gemes tauk Bunda sama pipi kamu. " Ujar Sya kepada Kendra.
" Aku nggak chubby ya Mas, udah tirus ini. " Ujar Sya tidak terima.
" Iya ajalah Iya, tugasnya laki-laki kan emang ngalah. " Ujar Radit kepada Sya.
" Hahaha.... " Sya hanya tertawa mendengar ucapan Radit.
Sya menyelesaikan tugasnya memakaikan baju untuk Kendra. Tanpa di rencanakan, ternyata mereka memakai outfit dengan warna yang sama. Kendra dan Radit juga memakai kaos hitam dan celana putih, hanya saja mereka memakai celana selutut. Tidak lupa sepatu sneakers putih dan tambahan kacamata hitam untuk Radit.
" Mas nggak gelap pake kacamata hitam? " Tanya Sya kepada Radit.
" Nggak, kan di luar panas. " Jawab Radit santai.
Setelah selesai bersiap, mereka turun ke lantai bawah. Namun ada satu hal yang mereka lupakan. Mobilnya di bawa oleh orang tua mereka. Jadi harus bagaimana?
" Mbak Sri, mobilnya dipake yah? " Tanya Sya kepada Mbak Sri yang kebetulan sedang ada diteras rumah mengepel lantai.
" Iya Mbak, tadi dipake Bapak sama Ibu. " Jawab Mbak Sri.
" Oo gitu.. Jadi gimana Mas? " Tanya Sya kepada Radit.
" Naik motor aja gimana? Itu ada motor. " Ujar Radit menunjuk kearah sebuah motor yang terparkir di garasi.
" Nggak ah, kasian Kendra Mas. Panas soalnya, nanti dia pusing. " Ujar Sya menolak tawaran Radit. " Naik pesen taksi aja gimana? " Tanya Sya.
" Ayo, aku mah ngikutt aja lah. "
Akhirnya mereka naik menggunakan taksi.
Setibanya disana, Kendra langung antusias. Apalagi saat dia ada di aquarium air tawar. Wajahnya begitu takjub melihat besarnya aquarium dan banyaknya ikan disana.
" Wahhh.... Kendla mau ikan itu. " Ujar Kendra menunjukkan salah satu ikan berwarna cerah itu.
Tanpa sadar mereka berkeliling sampai 3 jam lamanya. Kendra begitu menyukai berada di sini.
" Pulang yuk. " Ajak Radit kepada Kendra. Dia dan Sya sudah lelah mengikuti langkah kaki Kendra yang seperti tidak ada capeknya. Sudah banyak juga wahana yang mereka coba. Namun sepertinya Kendra belum puas juga.
" No, nanti Ayah. Sebental lagi. " Dari 30 menit yang lalu yang Kendra katakan hanya itu. Namun tidak pernah selesai.
" Akhirnya setelah hampir 4 jam, Kendra sudah lelah sendiri. Saat ini dia tidur di gendongan tangan Radit.
" Capek banget pasti Kendra. " Ujar Radit kepada Sya.
" Kalau belum capek nggak akan berhenti dia. "
Untung saja mereka sudah sempat makan siang tadi, jadi langsung saja mereka pulang ke rumah.
" Makasih ya buat hari ini. Aku sama Kendra bahagia. " Ujar Radit kepada Sya.
" Sama-sama Mas, aku juga bahagia kok. " Jawab Sya menatap lembut kepada Radit.
Ya, tatapan itu sudah kembali lagi. Dan Radit sangat bahagia. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi menjadi penyebab menghilangnya tatapan penuh cinta milik Sya. Tidak akan pernah.