Baby... I Love You

Baby... I Love You
Ingin Es krim



" Eeemmm,,, Kendra beneran nggak mau punya adik bayi lagi? " Tanya Sya kepada Kendra.


Kendra terdiam sejenak menatap Sya. Terlihat wajahnya sedang berpikir dengan keras.


" Kendla mau punya dedek bayi. " Jawab Kendra kemudian kembali fokus dengan mobil-mobilannya.


Sya senang mendengar jawaban dari Kendra, tapi dia tidak tau bagaimana caranya untuk berbicara kepada Kendra mengenai rencana bulan madunya bersama Radit. Dan setelah lama berpikir namun tetap saja tidak menemukan jawaban yang tepat Sya akhirnya menyerah. Dia memutuskan untuk menyerahkan masalah ini kepada Radit saja.


" Eehmm, Bunda boleh tanya lagi nggak? " Ujar Sya kepada Kendra.


" Boleh. " Jawab Kendra dengan sangat singkat.


" Kendra kenapa beberapa hari ini nggak mau berangkat sekolah? " Tanya Sya dengan lembut. Sya berusaha menunjukkan bahwa dia tidak sedang memarahi ataupun menginterogasi Kendra. Sya memposisikan dirinya sebagai seseorang yang menjadi tempat curhat untuk bocah tampan itu jika memang Kendra memiliki sesuatu hal yang mengganggunya.


" Kendla mau sama Bunda. " Jawab Kendra lirih.


" Iya Bunda ngerti kok. Tapi karena Kendra sekarang udah sekolah, jadi Kendra harus mendahulukan kewajiban Kendra, yaitu berangkat sekolah. Kendra kan anak baik, anak pinter. " Ucap Sya seraya mengusap kepala Kendra dengan lembut. " Jadi, besok berangkat sekolah lagi ya sayang. Emang Kendra nggak kangen sama temen-temen? " Ujar Sya menambahkan.


" Kendla kangen sama temen-temen, tapi Kendla juga pengen sama Bunda telus. " Jawab Kendra.


Sya terdiam memikirkan sebuah solusi untuk membuat Kendra mau kembali sekolah.


" Eehmm, gimana kalo besok Bunda tungguin Kendra di sekolah? " Ujar Sya memberikan penawaran.


" Mau mau, Kendla mau sekolah sama Bunda. " Jawab Kendra dengan riang. Sepertinya ini adalah hal yang memang Kendra tunggu selama ini. Karena sejak Sya dan Radit menikah, Sya tidak pernah menunggui Kendra, hanya mengantarkannya saja sampai kedalam kelas.


" Baiklah, besok Bunda akan tungguin Kendra di sekolah. Tapi ada syaratnya. " Sya tersenyum menatap Kendra yang saat ini matanya tengah berbinar.


" Apa? " Tanya Kendra kepada Sya.


" Kendra harus rajin sekolah. " Jawab Sya.


" Oke, Kendla akan lajin sekolah. " Ujar Kendra dengan tegas.


" Bagus, anak Bunda emang hebat. " Sya membawa Kendra ke pelukannya dan mencium puncak kepala Kendra.


Setelah berhasil membujuk Kendra agar mau berangkat sekolah lagi, sekarang Sya melanjutkan untuk menemani Kendra bermain lagi.


" Kendra... " Panggil Sya.


" Kenapa Bunda? " Tanya Kendra kepada Sya.


" Kendra mau es krim nggk? "Ujar Sya yang justru balik bertanya kepada Kendra.


Kendra yang mendengar ucapan Sya berupa penawaran enak tentu saja tidak akan menolaknya.


" Mau dong, kita beli es klim? " Ujar Kendra dengan antusias.


" Oke, yuk kita beli es krim. " Ujar Sya tersenyum.


Entah kenapa tiba-tiba saja Sya sangat ingin menikmati es krim. Bayangkan es krim yang dingin lumer di dalam mulutnya mendadak menjadi sesuatu yang sangat menggiurkan.


Sya segera mengganti pakaiannya dengan sebuah celana kulot panjang dan menambahkannya dengan cardigan. Karena memang saat di rumah tadi Sya hanya menggunakan celana pendek. Sedangkan Kendra tentu saja tidak perlu mengganti pakaiannya karena memang sudah menggunakan pakaian yang layak untuk dibawa keluar rumah. Pada dasarnya semua pakaian Kendra memang tidak ada yang tidak bagus.


Sya mengambil tas selempangnya di kamar. Sedangkan Kendra dudul manis di sofa menunggu sang Bunda.


" Mbak Tinah, aku keluar dulu ya sebentar. " Ujar Sya kepada salah satu asisten rumah tangganya yang terlihat sedang mengupas bawang-bawangan.


" Iya Mbak, ngomong-ngomong Mbak mau kemana? " Tanya Mbak Tinah. Beliau hanya antisipasi kalau tiba-tiba Radit telfon dan menanyakan keberadaan Sya.


" Cuma jalan-jalan sebentar kok sama Kendra. Oo Iya, Mbak Tinah mau nitip apa? Biar nanti sekalian.


" Nggak usah Mbak, bumbu-bumbu masih lengkap kok. " Jawab Mbak Tinah tersenyum. Nyonya rumahnya itu sangat baik, bahkan setiap dia keluar akan selalu menawari para pekerjanya ingin di bawakan apa. Dan jika mereka menolak pun Sya pasti membawakan sesuatu untuk mereka.


" Iya Mbak, hati-hati ya. "


Sya menghidupkan motornya. Tidak lupa memakai helm untuknya dan juga Kendra. Tapi sepertinya ada sesuatu yang Sya lupakan.


Sya menuju sebuah kedai es krim langganannya yang sedikit jauh dari kompleks perumahannya.


" Kendra mau es krim rasa apa sayang? " Tanya Sya kepada bocah tampan yang sedang menatap buku menu dengan pandangan berbinar. Sya ingin makan dan menikmati suasana di kedai es krim yang asri ini.


Pilihan Kendra jatuh kepada Es krim strawberry favoritnya dengan siraman saus strawberry dan juga terdapat buah strawberry diatasnya. Sedangkan Sya tentu saja memilih es krim coklat ditamabah lelehan cokelat seperti biasanya.



...photo by Google...


Kendra dan Sya menikmati es krim tersebut tanpa tau ada seseorang yang sedang panik karena tidak bisa menghubungi mereka.


...***...


Setelah menyelesaikan sebuah rapat dengan beberapa kepala divisi perusahaan, akhirnya Radit bisa menghembuskan nafasnya lega. Suasana hatinya sedikit buruk mengingat hari ini Sya tidak ada di kantor. Dan sekarang Radit merindukan istrinya itu. Eits, jangan lupakan Kendra juga.


Kendra memutuskan untuk menghubungi Sya.


Tut... tut... tut...


Tidak ada jawaban dari sang empunya ponsel. Tidak pantang menyerah tentu saja Radit mencoba sekali lagi.


Tut... tut... tut...


Panggilan darinya hanya mendapat jawaban dari sang operator.


Radit mencoba menghubungi telfon rumahnya. Namun juga tidak ada jawaban dari sana. Namun saat Radit mengecek GPS ponsel milik Sya terlihat posisinya ada di rumah. Tapi kenapa tidak diangkat?


Akhirnya Radit memutuskan untuk menghubungi satpam rumahnya, yaitu Eko.


Baru satu deringan ternyata panggilan dari Radit sudah diangkat oleh Eko.


" Selamat siang Pak? " Ujar Eko menyapa Radit.


" Ya... Saya mau tanya, apa Maureen ada di rumah? " Tanya Radit langsung pada intinya.


" Tadi Mbak Sya pergi naik motor sama Kendra Pak. Katanya mau jalan-jalan sebentar. " Ujar Eko memberitahu Radit.


" Pergi kemana? " Tanya Radit datar.


" Saya kurang tau Pak kalo itu. " Jawab Eko.


" Oke. " Jawab Radit singkat kemudian langsung mematikan ponselnya secara sepihak.


Eko menatap ponselnya, sepertinya bos besarnya itu tidak dalam suasana hati yang baik.


Sedangkan Radit menghela nafas di tempatnya. Kalau Sya pergi keluar rumah kenapa istrinya itu tidak menghubungi dirinya terlebih dahulu? Ditambah Sya juga tidak membawa ponselnya. Sebenarnya ini adalah masalah sepele. Tapi karena saat ini suasana hati Radit sedang tidak baik, jadilah dia menjadi sedikit emosi.


" Pak mau.... " Tiba-tiba Lisa masuk kedalam ruangan Radit.


" Kalau masuk ketuk pintu dulu. " Ujar Radit sedikit berteriak.


" Tapi saya dan Lisa sudah mengetuk pintu Pak. " Jawaban santai itu keluar dari mulut asisten kepercayaan Radit, yaitu Andre.


" Heemmm. " Ujar Radit dengan datar. Jika di suasana normal seperti biasa tentu saja Radit akan merasa malu. Tapi tidak untuk kali ini.