Baby... I Love You

Baby... I Love You
Ketahuan



" Sya, nanti abis pulang kerja temenin gue belanja bulanan yuk, hampir semua stok makanan sama peralatan mandi gue udah pada mau abis soalnya. " Ujar Dian kepada Sya yang sedang mengerjakan pekerjaannya.


" Oke Di, tapi hari ini aku nggak bawa motor, gimana dong? " Jelas Sya tidak membawa sepeda motornya, dia saja berangkat ke kantor nebeng mobil Radit atas paksaan laki-laki itu.


" Ya nggak papa, pake motor gue aja. Lagian kalo belanja sendirian tuh aneh banget rasanya. Tenang aja, nanti lo gue anterin sampe kosan kok. " Sama seperti Sya, di Jakarta Dian hidup sendiri dan ngekos. Jarak kosan Sya dengan Dian pun tidak terlalu jauh sebenarnya, hanya sedikit lebih jauh kosan Sya.


" Okelah kalo gitu. Aku juga ada beberapa yang perlu dibeli. " Jawab Sya.


Eehhh tunggu sebentar, sepertinya ada yang Sya lupakan. Tapi apa ya? Sya berpikir apa yang sedang dia lupakan saat ini.


Hingga akhirnya Sya tersadar dan tersentak dari duduknya, dia belum memberitahu Radit. Padahal Sya sudah mengiyakan permintaan Dian. Lalu bagaimana ini? Ya udahlah kirim pesan aja, toh Radit belum menjadi suaminya, jadi Sya tidak harus menuruti setiap perkataan Radit.


Mas, nanti sepulang kantor aku mau nemenin Dian belanja bulanan. Jadi aku nggak pulang sama kamu ya.


Sya mengirimkan pesan kepada Radit.


Tadi saat makan siang Sya memang makan bersama Radit. Dengan alasan ada kepentingan, Sya berbohong lagi kepada teman-temannya. Mau bagaimana lagi, Sya masih belum siap jika hubungannya dengan Radit diketahui oleh teman-temannya sekarang ini. Dan Radit pun tidak lagi mempermasalahkannya.


ting...


Direktur Ganteng


Kemana?


Jawaban yang sangat singkat bukan? Ya inilah Radit yang sebenarnya. Laki-laki yang tidak terlalu banyak bicara namun sangat cerewet saat bersama Sya. Sya merasa jika Radit seperti memiliki kepribadian ganda. Setelah beberapa bulan mengenalnya secara personal, Sya masih merasa jika dia sebenarnya tidak mengenal Radit dengan baik karena terlalu banyak perubahan perilaku Radit yang kadang terlalu drastis.


Ke mall deket kantor kok biasanya.


Sya memberitahu Radit tempat mereka akan pergi berbelanja.


ting...


Direktur Ganteng


Oke sayang, hati-hati ya. Nanti kalo udah sampai kosan jangan lupa kabarin aku.


Setelah mendapat izin dari Radit barulah Sya merasa lega.


Iya Mas.


Tidak terasa jam pulang kantor sudah tiba, Sya dan Dian sudah menyelesaikan pekerjaan mereka. Setelah berpamitan dengan Leo dan Tio mereka keluar terlebih dahulu. Dan disinilah mereka berdua sekarang, diparkiran khusus karyawan.


" Sebenarnya ada yang pengen gue tanyain ke lo Sya. " Ujar Dian tiba-tiba.


" Ha.. Apa? " Tidak biasanya Dian berbicara serius kepda Sya. Dan kali ini sangat berbeda rasanya.


" Nanti aja, kita sekalian makam malem disana. " Jawab Dian seraya tersenyum penuh arti.


Sebenarnya apa yang ingin Dian tanyakan kepada Sya? Sya merasa jika Dian mengetahui sesuatu mengenai dirinya saat ini. Dan Sya berharap semoga saja tidak tentang hubungannya dengan Radit.


" Oo gitu, oke deh. Ya udah ayo berangkat, nanti malah keburu kemaleman loh Di. " Ujar Sya kepada Dian.


" Lah gue udah dari tadi duduk di atas motor. Lo nya aja yang dari tadi diem-diem bae sambil bengong. " Jawab Dian seraya memutar bola matanya malas. Bisa-bisanya Sya menyuruhnya cepat sedangkan dirinya sendiri tidak sadar kalau sedang melamun.


" Eehh, oo iya. Ya maaf. " Ujar Sya tersenyum tanpa rasa bersalah.


Untung saja Sya menyimpan helm di lokernya, jadi dia bisa dengan tenang naik motor bersama Dian tanpa takut terkena tilang jika nanti ada.


Setibanya di Mall, Sya dan Dian langsung menuju ke tempat swalayan dimana barang-barang kebutuhan rumah beranda.


" Mie instan, snack, cokelat, sabun mandi, deterjen, shampo, conditoner, sabun cuci piring, pasta gigi. Terus apalagi yang kurang. " Ujar Dian mengecek barang belanjaannya.


" Sayur sama daging. " Ujar Sya menambahkan.


" Emang perlu ya? " Tanya Dian kepada Sya.


" Ya terserah kamu lah, emang tiap hari kamu mau makan mie instan doang? " Sya justru bali bertanya tanpa menjawab pertanyaan Dian.


" Ya enggak lah. Ya udah deh, beli sayur sama daging juga. "


" Susu nggak? " Tanya Sya.


" Eehh iya, susu ya. "


Setelah semua kebutuhan rumah sudah terpenuhi, Sya dan Dian memutuskan untuk makan di restoran Jepang langganan Dian yang juga Sya sukai.


Sya dan Dian memutuskan untuk memesan Sushi, Yakiniku, dan 2 porsi Ramen.


Sembari menunggu pesanan datang, mereka berbincang-bincang, hingga akhirnya Dian menanyakan sesuatu kepada Sya.


" Jadi, ada yang ingin lo ceritain ke gue atau gue sendiri aja yang ngomong? " Tanya Dian tiba-tiba.


" Ha, maksudnya gimana Di? aku nggak paham. " Tanya balik Sya.


" Lo pasti paham Sya. Mengenai hubungan lo sama Pak Radit. " Ujar Dian langsung pada intinya.


" Kamu tau darimana? Dan sejak kapan?" Tanya Sya kepada Dian.


" Tau dari mata gue sendiri. Dan sejak gue liat lo masuk ke mobil Pak Radit. Gue nggak sengaja liat waktu gue ke basement. Nggak mungkin kan kalian nggak ada hubungan apa-apa." Jawab Dian santai. " Udahlah Sya, buat apa juga lo tutupin, gue dukung kok semua keputusan lo. Dan kenapa gue baru tanya sekarang, itu karena tadinya gue pengen lo cerita sendiri, tapi karena lo nggak cerita-cerita ya udah gue tanya sendiri aja. Dan kenapa gue nggak tanya tentang hal ini di depan temen-temen yang lain, itu juga karena gue tau kalo Tio ada perasaan sama lo. Jadilah gue disini berusaha menghargai perasaan Tio. Asal lo tau, gue itu orangnya peka tau. " Ujar Dian menyombongkan dirinya sendiri.


Sebenarnya Sya cukup terkejut saat Dan mengakatan hal ini, namun sebisa mungkin Sya ingin terlihat biasa saja seolah-olah ini bukanlah sesuatu yang sengaja dia tutupi.


" Peka apaan, tapi Leo suka sama kamu, kamunya nggak pernah peka tuh. " Ujar Sya mengejek.


" Hussh, nggak udah bahas itu. Yang sekarang kita bahas tuh hubungan lo sama Pak Radit, jadi gimana ini? " Tanya Dian dengan tidak sabar.


" Apanya yang gimana Di. Ya nggak gimana-gimana. Biasa aja sih. " Jawab Sya dengan santai.


" Susah ih ngomong sama lo. Maksudnya, kalian bener-bener ada hubungan gitu? Hubungan selain antara karyawan dan bos. Secara dari awal yang gue tau lo kan deket banget sama anaknya Pak Radit yang lucu itu. Siapa namanya? " Tanya Dian kepada Sya.


" Kendra. "


" Iya Kendra, jadi apa hubungan lo yang sebenarnya? " Tanya Dian sekali lagi.


" Jadi, aku sama Pak Radit tuh..... "


" Permisi Kak, boleh saya letakkan makanannya. " Salah satu pelayan menginterupsi pembicaraan Sya dan Dian.