
Sesuai kesepakatan antara Radit dan Kendra tadi, malam harinya Kendra meminta Radit untuk video call dengan Sya.
" Ayah, katana tepon Dunda yang ada gambalnya." Ujar Kendra mengingatkan.
" Sebentar ya, Ayah kerja dulu. " Jawab Radit masih sibuk dengan laptop di pangkuannya.
" Ayah jangan kelja telus. Kendla mau beli tau Dunda kalo Kendla puna Gley." Ujar Kendra dengan wajah cemberut.
Akhirnya mau tidak mau Radit menutup dan meletakkan laptopnya ke meja yang ada disampingnya.
" Oke kita video call Bunda Maureen." Ujar Radit mengalah pada akhirnya.
" Holeeee." Kendra langsung berteriak kegirangan dan berlari kepangkuan Radit.
Tutt... tutt... tutt...
" Dunda..... " Teriak Kendra begitu melihat wajah Sya ada dilayar ponsel Ayahnya.
" Heyy sayang... kenapa video call, rindu ya sama Tante Dunda? " Jawab Sya seraya tersenyum manis.
" Iya, Kendla lindu sama Dunda." Jawab Kendra tersenyum malu. " Dunda... Kendla mau kasih liat sesuatu sama Dunda." Ujar Kendra dengan antusias.
" Wahh.. Apa sayang, Tante jadi penasaran nih." Jawab Sya juga semangat.
" Tunggu bental ya." Kendra turun dari pangkuan Radit untuk mengambil kucing kesayangannya itu.
Ponselnya saat ini beralih ke tangan Radit. Sedari tadi Radit hanya diam dibelakang Kendra memperhatikan interaksi antara anaknya dan Sya.
" Kamu sedang apa? " Tanya Radit pada akhirnya saat tidak ada salah satu dari mereka yang mau membuka obrolan. Sya memang sengaja tidak menyapa Radit, dia masih malas bebicara dengannya setelah kejadian tadi siang. Tidak peduli Radit itu atasannya, yang jelas selama bukan di kantor Radit bukan siapa-siapanya.
" Saya sedang duduk saja Pak. " Jawab Sya singkat.
" Ooo. " Ujar Radit singkat.
Mereka terdiam kembali. Radit sendiri tidak tau lagi mau berbicara apa karena biasanya Sya lah yang lebih sering membuka obrolan saat mereka bersama.
Sedangkan Sya saat ini terlihat sibuk sendiri entah dengan apa karena Radit tidak bisa melihatnya.
Sekitar 5 menit mereka terdiam layaknya orang asing yang memang tidak saling mengenal. Sampai pada akhirnya Kendra datang dengan Grey di gendonganya.
" Dunda kenalin ini empusnys Kendla namanya Gley. Kendla tadi ke pathshop sama Oma, telus ketemu deh sama Gley." Ujar Kendra menceritakan dengan semangat.
" Wah Gley lucu sekali, kenalin aku Tante Sya temennya kakak Kendra." Ujar Sya tersenyum dan menyapa Grey.
" Dunda, namana Gley bukan Gley. Dunda juga bukan teman Kendla. Dunda itu Dundanya Kendla." Kendra protes mendengar jawaban dari Sya.
" Oo Iya lupa, aku kan Bundanya Kendra. Salam kenal Grey." Jawab Sya seraya tertawa kecil dengan protes Kendra.
" Dunda besok kesini ya, kita main sama Gley." Ujar Kendra tersenyum.
"Mmmm...Besok ya? Nanti Tante kabarin ya kalau jadi ke rumah Kendrw. " Jawab Sya.
" Kendra kok belum bobok?. " Tanya Sya mengalihkan pembicaraan saat melihat wajah Kendra yang terdengar sedih saat menjawab ajakan Kendra tadi.
" Beyum ngantuk Dunda, Kendla masih mau main sama Gley, bye Dunda." Kendra langsung turun kembali dari pangkuan Radit setelah menjawab pertanyaan Sya.
Sekarang hanya ada Radit dan Sya.
" Kendra kenapa Pak? Marah ya sama saya? " Tanya Sya begitu melihat Kendra pergi meninggalkan video call mereka.
" Mungkin." Jawab Radit pendek.
" Kok mungkin sih Pak, yang bener marah nggak sama saya? " Tanya Sya memastikan.
" Sepertinya marah." Radit hanya menatap Sya santai.
" Kan Kendra sudah bilang besok pengen kamu kesini, temenin dia main sama Grey. Sudah ya, saya sibuk." Radit langsung mematikan sambungan video call mereka.
" Itu yang saya rasakan saat kamu tiba-tiba mematikan sambungan telfon secara sepihak." Ujar Radit dalam hati.
Radit membiarkan Kendra bermain dengan Grey dan Mamanya, sedangkan dia kembali melanjutkan pekerjaan kantor.
" Dit, nanti Kendra tidur sama Mama aja ya." Ujar Mama Riana dari depan pintu kamar Radit.
" Kalau Kendra mau ya tidak apa-apa." Jawab Radit pendek tanpa menolehkan pandangannya dari layar Laptop.
Mama Riana yang memang sudah paham dengan sifat anaknya yang tidak bisa diganggu saat sedang bekerja langsung pergi meninggalkan Radit untuk fokus dengan pekerjaannya.
Tidak terasa sudah hampir tengah malam tepatnya pukul 23.15 . Radit menutup laptop dan menghentikan pekerjaannya. Radit turun kebawah untuk melihat apakah Kendra dan Mamanya sudah tidur atau belum. Dan ya sudah dapat dipastikan jika ruang keluarga pasti sudah kosong. Radit berjalan kearah dapur untuk mengambil makanan, dari sore tadi Mamanya memang sudah memanggilnya untuk makan, tapi karena pekerjaannya belum selesai jadi Radit tidak turun kebawah.
Lauk pauk tadi sore ternyata sudah dimasukkan kedalam kulkas oleh asisten rumah tangganya. Merasa malas dengan makanan yang ada, pada akhirnya Radit memilih untuk memasak mie instan.
Makan sendirian memang sudah menjadi kebiasaan Radit semenjak dia ditinggalkan oleh istrinya.
Setelah memasak mie, Radit duduk diruang keluarga sambil makan dan menonton pertandingan sepak bola.
Tidak puas dengan permainan tim jagoannya malam ini, Radit memutuskan untuk kembali kekamar. Radit duduk dibalkon seraya menikmati batang rokoknya. Seperti sebelumnya, pikiran Radit akan melayang entah kemana bersama lamunan-lamumannya.
Radit bukanlah orang yang mudah bercerita dengan seseorang, bahkan dengan ibunya sendiri. Dia merasa bahwa semua akan baik-baik saja dan tidak membutuhkan bantuan orang lain setiap ada masalah yang menderanya.
Sudah habis 3 batang namun rasanya Radit belum puas. Baru saja dia akan menyalakan rokok yang ke empat, ponsel dikantong celananya berbunyi tanda pesan masuk.
tiing....
Bunda Maureen
Pak Radit, sudah tidur belum?
Ehmmm... Gimana ngomongnya ya.
Setelah saya pikir-pikir. Saya mau minta alamat rumah Bapak saja. Besok saya mau kesana kalau sempat untuk memenuhi permintaan Kendra buat main bareng.
Radit tersenyum membaca pesan dari Sya.
" Kenapa harus menulis pesan sebaku ini hanya untuk meminta alamat rumah." Ujar Radit dalam hati.
Terlihat whatsapp Sya masih online, langsung saja Radit menekan logo video call. Namun panggilannya itu ditolak secara sepihak oleh Sya.
tiing.....
Bunda Maureen
Jangan video call Pak, takut nanti ngebrisikin tetangga. Mending Bapak kirim alamat lewat pesan saja.
Lagi-lagi Sya mengirimnya lewat pesan.
Direktur galak
Saya tidak mau balas lewat pesan. Kalau kamu mau tau alamat rumah saya, cepat angkat video call dari saya.
Radit membalas pesan dari Sya.
Setelah hampir 5 menit menunggu Sya membuka pesan darinya, akhirnya pesan itu dibaca oleh Sya. Namun ternyata tidak kunjung ada balasan. Hingga akhirnya....
tiing....
Bunda Maureen
Ya sudah kalau Pak Radit tidak mau memberitahu alamat rumah Anda. Lagian tidak penting-penting amat kok buat saya.