
"Bunda kalau dedek yang Boy nya udah lahil, Abang buatin lagi yang dedek Girl ya, yang kayak dedek Shanum." Ujar Kendra kepada Sya.
Asti yang mendengar ucapan Kendra itu langsung tertawa, dengan mudahnya Kendra meminta untuk dibuatkan seorang adi perempuan di saat adik yang ada di dalam perut Sya saja belum lahir ke dunia.
Berbeda dengan Asti, Sya langsung spechless begitu mendengarnya. Melahirkan 1 anak saja Sya belum tau bagaimana rasanya ini sudah di request lagi. Untung saja Radit sedang ke kamar mandi. Kalau laki-laki itu mendengarnya tentu saja dia pasti akan langsung mengiyakan permintaan Kendra.
"Liat nanti ya Bang, tunggu dedek yang ini lahir dulu." Ujar Syya kepada Kendra. "Sekarang ayo maem dulu, biar Bunda suapin." Sya berusaha mengalihkan perhatian Kendra dari pembahasan mengenai dedek yang girl. Dan untung saja Kendra langsung melupakan pembahasan mengenai adik bayi.
...~~~...
Selesai makan siang Kendra dan Aurel kembali bermain, kali ini mereka mengajak Shanum serta. Tentunya masih dalam pengawasan para orang tua.
Shanum yang masih berusia 2 bulan itu selalu tertawa saat Kendra dan Aurel memainkan boneka untuknya. Ya pada dasarnya bayi gemoy itu memang murah senyum seperti Asti mamanya. Untung saja tidak mengikuti jejak Fardan yang pendiam.
"Mama.... mama... Ulel penenn dedekk nanumm..." Ujar Aurel saat melihat Rida menghampirinya bersama Raga.
"Beneran? Emang Aurel udah siap punya adek?" Tanya Raga kepada putri tunggalnya itu.
Entah Aurel paham atau tidak dengan maksud ucapan Raga, tapi bocah berpipi chuby itu menganggukan kepalanya.
Raga langsung menatap Rida untuk memberinya kode, Tapi Rida yang pada dasarnya belum menginginkan untuk menambah anak berpura-pura tidak paham dengan kode yang Raga berikan. Rida sendiri masih trauma saat melahirkan Aurel 2 tahun yang lalu. Bagaimana tidak, waktu yang dia butuhkan untuk melahirkan Aurel memakan waktu lebih dari 12 jam, itu pun harus di induksi. Jadi untuk hamil dalam waktu dekat ini Rida masih belum siap. Tapi bukan berarti Rida tidak ingin menambah momongan lagi. Ada rencana setidaknya menambah 1 lagi agar anaknya menjadi 2 seperti yang pemerintah anjurkan, yaitu 2 anak lebih baik.
"Nanti kita bujuk Mama..,Oke." Bisik Raga di telinga Aurel.
Disaat Kendra sedang ada dibawah bersama yang lain. Saat ini Radit ada di kamar bersama Sya. Mumpung ada banyak yang menjaga Kendra, bukankah ini waktu yang tepat untuk bermanja-manja dengan istrinya? Maka inilah yang sedang Radit lakukan. Radit sedang tidur di pangkuan Sya, meminta istrinya itu untuk memjiat kepalanya agar menjadi lebih rileks.
"Nggak berasa bentar lagi dedek bakal lahir ya, 2 bulan lagi kita bakal ketemu adek." Ujar Radit seraya menciumi perut Sya yang sudah lebih besar dari sebelumnya.
"Aku juga nggak nyangka waktu berjalan secepat ini. Hamil adek rasanya menyenangkan, dia nggak pernah nakal sejauh ini." Ucap Sya seraya tersenyum. Membayangkan seorang bayi berwajah mirip Kendra tapi versi mini begitu di nantikannya.
"Nanati kalau dedek udah lahir kamu nggak usah diet ya yank." Ucap Radit tiba-tiba.
Sya mengerutkan dahinya.Tidak usah diet? Ohh no, Sya bahkan sudah membayangkan akan langsung menurunkan berat badannya.
"Kenapa? Aku pengen ngurusin badan lagi Mas. Berat tau rasanya badan aku." Ujar Sya memberikan alasan.
"Boleh berat badan turun, tapi jangan diet ya. Aku nggak mau kalau kamu diet-diet terus kamunya malah sakit nantinya. Kan nanti kalau dedek udah lahir kita juga bakal begadang dan kamu bakal nyusuin. Nanti juga berat badan kamu turun dengan sendirinya." Ujar Radit menjelaskan.
Sya tersenyum mendengar ucapan Radit, duhhh suaminya ini so sweet banget, gimana Sya nggak jatuh cinta setiap hari coba.
"Iya, aku nggak akan diet-diet." Ujar Sya pada akhirnya. Menurut Sya yang Radit katakan memang benar adanya, jika dia begadang dan menyusui nantinya pasti berat badannya akan turun dengan sendirinya.
Disaat Radit sedang menghabiskan waktunya bersama Sya, tiba-tiba saja terdengar teriakan memekan dari Kendra.
" Bunda.... Bunda dimana..." Teriak Kendra yang terdengar tidak jauh dari kamar Sya.
"Kebiasaan, kalau udah sadar Bundanya nggak ada di samping Kendra, dia pasti bakal langsung cari kamu." Ujar Radit. Laki-laki itu sudah sangat paham dengan kebiasaan Kendra. Tadi saat Radit mengajak Sya ke kamar, bocah tampan itu memang masih fokus bermain bersama Shanum dan Aurel.
"Bukain dulu pintunya Mas." Ujar Sya kepada Radit.
Radiit langsung beranjak duduk dari pangkuan Sya kemudian berjalan untuk membuka pintu.
"Cari siapa?" Tanya Radit kepada Kendra. Radit sedang memerankan tokoh seperti seorang reseprionis.
Kendra menatap Ayahnya tidak peduli, fokusnya sekarang adalah untuk segera menemukan keberadaan sang Bunda.
"Abang lagi nyarli Bunda. Bunda dimana yah?" Tanya Kendra kepada Ayahnya itu.
"Eehmm...Ayah nggak liat Bunda dari tadi, coba tanya Oma atau Mbah Uti." Ujar Radit kepada Kendra.
Sya yang memang ada di dalam kamar tertawa karena tidak tahan mendengar percakapan antara Ayah dan anak itu.
Mendengar suara Sya, Kendra langsung menerobos masuk melalui celah di samping Radit.
"Ayah nakal mau umpetin Bunda dali Abang." Seru Kendra marah kepada Radit.
Radit hanya tertawa melihat wajah Kendra yang sedang marah itu. Mengerjai Kendra memang selalu menyenangkan.
Sedangkan Sya mencoba untuk menenangkan Kendra.
"Husshh, nggak boleh marah gitu Bnag, Ayahkan cuma bercanda." Uja Sya seraya mengelus punggung Kendra. Sya memelototkan matanya kearah Radit yang masih saja tertawa tanpa rasa bersalah disaat Kendra sudah marah seperti ini.
" Tapi Ayah nakal, Abang nggak mau sama Ayah." Ujar Kendra menelusupkan wajahnya di perut Sya tidak mau menatap Radit.
"Iya iya... Nanti Bunda bilangin ke Oma biar Ayah dimarahi." Ujar Sya kepada Kendra.
"Sama Opa, Mbah Uti sama Mbah Kakung juga." Ujar Kendra meminta.
"Iya sama mereka juga." Ujar Sya menambahkan.
Radit semakin mengulum senyumnya mendengar Sya yang sedang membujuk Kendra itu.
"Bener nih Abang mau marah sama Ayah." Ujar Radit mencoba untuk mengajak Kendra berbicara.
Kendra menganggukan kepalanya di perut Sya.
"Ooo gitu... Padahal Ayah mau pergi jalan-jalan sama Dedek Aurel sama Dedek Shanum.... Tapi karena Abang marah sama Ayah ya sudah nggak Ayah ajak." Ujar Radit berusaha mengiming-imingi Kendra. Tapi sepertinya bocah tampan itu tidak tertarik sama sekali.
"Ya udahlah, buat dedek girlnya nggak jadi kalau Abang masih ambekan begini." Radit mengeluarkan jurus terakhirnya yang kali ini membuat Sya semakin memelototkan matanya mendengar ucapan Radit. Tadi memang Kendra sudah bilang kepada Radit kalau dia ingin dedek yang girl seperti adek Shanum.
Dan pada akhirnya Radit berhasil, Kendra mengangkat kepalanya dari perut Sya.
"Ya udah ini Abang nggak jadi malah. Tapi dedek girlnya halus di buatin." Jawab Kendra dengan polos.
.
.
.
Buat kakak-kakak yang mau kasih nama buat adeknya Abang Kendra di persilahkan kok. Itung-itung buat bantu aku yang nggak jago bikin nama ini.๐
Semangat buat puasa terakhirnya besok, nggak berasa udah mau lebaran aja ya. ๐
Buat yang besok udah lebaran aku ucapin *Minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin* ya๐๐
Jangan lupa kritik dan sarannya๐ค
***Terima Kasih๐๐***