Baby... I Love You

Baby... I Love You
Gara-gara Mimpi Buruk



Sya terbangun dari tidurnya saat merasakan sebuah tangan mengelus lembut perutnya. Dengan perlahan Sya membuka matanya untuk melihat siapa yang sedang melakukan itu.


" Mas.... " Panggil Sya dengan suara lirihnya. Karena masih sangat mengantuk Sya bahkan sangat sulit saat berusaha untuk membuka matanya.


" Heemm, tidur lagi sayang. Ini masih jam 3 kok. " Jawab Radit lirih. Dan hanya mendapat gumaman dari Sya sebagai jawabannya.


Sudah dari setengah jam yang lalu Radit terbangun dari tidurnya karena merasa gelisah setelah memimpikan sesuatu yang begitu mengganggu tidurnya.


Radit berusaha untuk kembali tidur lagi, namun untuk membuat hatinya tenang, Radit mencoba untuk mengelus perut Sya dengan lembut. Belum terasa tendangan atau apapun itu. Tapi ini sudah lebih dari cukup untuk membuat Radit kembali tenang.


...***...


Pagi-pagi, seperti biasa Kendra akan pindah ke kamar Sya dan juga Radit. Dan karena hari ini weekend, itu berarti Kendra libur sekolah sedangkan Radit libur kerja. Jadilah saat ini mereka masih tidur dengan nyaman diatas ranjang empuk itu.


Tapi karena memang Sya terbiasa bangun pagi, jadilah sekarang ini di jam 6 Sya sudah bangun dari tidurnya setelah tadi juga bangun untuk sholat shubuh walau akhirnya Sya tidur lagi.


Dengan perlahan Sya melepaskan pelukan tangan Kendra di pinggangnya dan turun dari ranjang meninggalkannya bersama Radit.


Dan tiba-tiba saja Sya ingin makan bubur ayam yang dijual di depan komplek perumahan ini. Bayangan bubur yang bertabur suwiran ayam dan kacang tidak lupa juga dengan siraman kaldu ayam begitu menggoda indra pengecapan Sya. Dan ya seperti biasa tentu saja tanpa daun bawang.


Sya keluar dari kamar dengan cardigan yang membalut tubuhnya. Cuaca yang mendung membuat udara terasa lebih dingin dari pada biasanya. Tidak lupa juga membawa beberapa lembar uang.


Saat Sya turun dia bertemu dengan Mbak Tinah yang sedang menyapu lantai.


" Selamat pagi Mbak Tinah. " Seperti biasa Sya akan menyapa asisten rumah tangganya itu dengan ramah.


" Selamat pagi juga Mbak Sya. Wahhh pagi-pagi gini mau kemana Mbak? " Tanya Mbak Tinah kepada Sya. Pasalnya jika Sya turun menggunakan cardigan itu berarti wanita itu akan keluar rumah.


" Heheh, ini mau beli bubur ayam di depan. " Jawab Sya seraya tersenyum.


" Oo, kalau gitu biar saya suruh Eko buat beliin aja Mbak. Jadi Mbak Sya nunggu di rumah aja. " Ujar Mbak Tinah menawarkan. Karena Mbak Tinah sendiri tidak ingin kalau Sya sampai kelelahan.


" Nggak usah Mbak, soalnya aku juga mau jalan-jalan, biar sehat juga. " Ujar Sya menolak. Selama dia bisa sendiri dan tidak sedang sibuk lalu kenapa harus meminta bantuan seseorang bukan?


" Oo gitu, kalau begitu hati-hati ya Mbak. " Ujar Mbak Tinah pada akhirnya.


" Nanti kalo Mas Radit atau Kendra nyariin tolong bilangin kalau aku lagi keluar sebentar beli bubur di depan komplek ya Mbak. " Setelah memberikan pesan kepada Mbak Tinah, Sya keluar rumah untuk membeli bubur Ayam yang dia inginkan itu.


Sebelum keluar dari gerbang pun lagi-lagi Eko menawarkan untuk dia saja yang membelikannya, namun tentu saja Sya menolak karena wanita itu ingin membelinya sendiri.


Dan ya, dengan berjalan santai Sya keluar dari rumahnya menuju depan komplek dimana penjual bubur ayam itu berada. Agak sedikit jauh tempatnya memang, tapi tetap saja Sya ingin membelinya sendiri dan memilih untuk jalan kaki.


Seperti komplek perumahan orang kaya pada umumnya, jalanan disini cenderung sepi karena penghuninya mayoritas para pengusaha dan pegawai kantoran yang pastinya sangat sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan tetangga komplek yang Sya kenal saja hanya hitungan jari saja.


Tidak terasa Sya sudah sampai di tempat penjual bubur Ayam yang diinginkan. Dengan semangat wanita itu memesannya tanpa tau jika di rumah sedang terjadi keributan.


...***...


" Ayah... " Terdengar suara lirih Kendra yang memanggilnya.


" Ayahh.... " Panggil Kendra sekali lagi, tapi kali ini suaranya sedikit lebih keras daripada yang pertama.


" Heeemmm... " Radit hanya bergumam untuk menjawab panggilan Kendra.


" Bunda dimana? " Tanya Kendra kepada Radit.


" Di kamar mandi mungkin. " Jawab Radit singkat.


Hening... tidak ada suara dari Kendra. Radit pikir putranya itu sudah bertemu dengan Sya. Jadi Radit memilih untuk melanjutkan tidurnya. Tapi baru beberapa menit, terdengar suara tangisan Kendra.


" Hikss... hikss... Ayah... Hikss... Bunda... nggak ada... di kamal mandi.. " Ujar Kendra dengan suara terbata-bata karena menangis.


Radit yang mendengar ucapan Kendra itu seketika langsung terbangun dari tidurnya dan beranjak dari ranjang. Bayangan mimpi tadi malam saat Sya pergi meninggalkannya seorang diri hanya bersama Kendra membuat Radit takut bukan main.


Mengabaikan Kendra yang masih menangis, Radit menuju kamar mandi untuk mencari Sya berharap wanitanya itu ada disana. Tapi seperti yang sudah Kendra katakan tadi, Sya tidak ada disana. Kemudian Radit beralih ke walk in closetnya, tapi Sya juga tidak ada di sana.


Radit mencoba menenangkan dirinya, dengan penuh keyakinan Radit berpositif thinking kalo Sya tidak akan pergi meninggalkannya. Toh selama ini mereka baik-baik saja. Dan semalam pun tidak ada pertengkaran diantara mereka.


Kendra yang masih menangis mencari Sya kemudian di raih ke dalam gendongan Radit. Ya, seperti inilah Kendra kalau terbangun dan tidak mendapati Sya bersamanya.


Belum apa-apa saja Radit sudah cemas bukan main. Padahal dia sendiri hanya mencari Sya di area kamar saja. Bisa jadi saat ini Sya ada di dapur kan?


Padahal ini bukan pertama kalinya Sya terbangun lebih dulu kemudian keluar dari kamar untuk pergi memasak di dapur atau sekedar duduk-duduk di teras depan. Tapi karena mimpi menyebalkan tadi malam, Radit menjadi sulit untuk bisa berpikir jernih.


Radit turun ke ke lantai satu bersama Kendra yang ada di gendongannya. Mencari Sya ke dapur tapi disana hanya ada Mbak Tinah yang sedang mengupas bawang-bawangan.


" Tinah, kamu tau dimana Maureen? " Tanya Radit langsung pada intinya.


" Tadi Mbak Sya katanya pengen bubur yang ada di kompleks depan Pak. Dan sekarang lagi beli kesana. " Jawab Mbak Tinah dengan tenang. Tanpa tau mood Radit yang sedang buruk.


" Kenapa kamu ijinin dia pergi sendiri sih? " Entah kenapa. tiba-tiba saja Radit merasa emosi.


Mbak Tinah yang mendengar suara Radit seperti sedang marah langsung menjadi gugup.


" Tadi saya udah bilang sama Mbak Sya biar Eko saja yang beli. Tapi Mbak Sya ngotot pengen beli sendiri Pak. " Jawab Mbak Tinah mencoba untuk tetap tenang.


" Saya titip Kendra. " Ujar Radit seraya menyerahkan Kendra yang masih menagis kepada Mbak Tinah.


Radit berlari keluar rumah masih hanya menggunakan atasan piyama tapi bawahannya celana kolor. Penampilan tidak ada dalam pikirannya untuk saat ini. Yang terpenting sekarang adalah Sya.


Sampai akhirnya Radit berpapasan dengan Sya yang menenteng beberapa bungkusan bubur Ayam di tangannya.


Sya yang melihat Radit ada disini dengan tatapan dinginnya seketika terdiam tidak tau harus berkata apa.


Dan dengan cepat tiba-tiba saja Sya sudah ada di pelukan Radit.


" Jangan seperti ini lagi, aku tidak suka. " Bisik Radit di telinga Sya. Dan tentu saja Sya semakin bingung, sebenarnya ada apa?