
Sya terdiam di tempat duduknya menatap ponselnya yang saat ini tergeletak tak berdaya. Ini adalah kali pertamanya Sya menggunakan aplikasi belanja online setelah menikah dan langsung kalap seperti ini. Biasanya Sya melakukan pembelian online hanya untuk pesan makanan atau beberapa kebutuhan dapur. Memang yang Sya beli adalah baju-baju bermerek karena ini untuk Kendra dan beberapa untuk Radit. Tapi tetap saja Sya tidak menyangka kalau totalnya menjadi begitu banyak.
Sya merutuki kebodohannya yang kurang teliti saat melakukan pembayaran. Harusnya Sya sadar kalau perbaju yang dia beli saja harganya ada yang lebih dari 500 ribu, belum lagi baju dewasa untuk Radit. Tidak mungkin kan total dari belasan baju yang dia beli ini hanya 1,6 juta saja.
Sya buru-buru mengambil ponselnya untuk mengecek saldo rekening miliknya yang memang Radit berikan untuknya yang katanya untuk jajan dirinya. Betapa terkejutnya Sya saat melihat saldo rekeningnya diawali angka 1 dengan tambahan sembilan digit angka lagi di belakangnya. Seumur hidupnya Sya tidak pernah mempunyai simpanan uang sebanyak ini, mentok-mentok yang ada di rekeningnya dulu hanya 50 juta. Itu pun Sya mengumpulkannya dengan begitu keras.
Jika selama 10 bulan pernikahan Sya dan Radit jumlah uang di rekening Sya mencapai 1 milyar lebih, itu berarti uang jajan yang Radit berikan untuknya berapa? 100 juta? Sya terkejut bukan main. Ya karena selama ini Sya tidak pernah bertanya kepada Radit mengenai berapa nominal uang bulanan yang dia berikan untuknya. Menurut Sya untuk apa, karena dengan adanya uang bulanan atau yang Radit bilang uang untuknya jajan itu tidak terlalu penting untuk Sya karena suaminyalah yang selalu membayar dan memenuhi segala permintaannya. Jadi uang yang ada di rekening Sya yang sudah terkumpul selama 10 bulan baru pertama kali di pakai dan hanya 16 juta saja.
Sya lagi-lagi syok dengan fakta yang baru saja dia ketahui ini. Jadi suaminya itu benar-benar kaya Raya ya? Pantas saja saat dia dan Rida menghabiskan uang puluhan juta untuk biaya perawatan yang mereka lakukan di salon Radit terlihat biasa saja.
Sya pikir Radit hanya seorang pengusaha yang hanya kaya saja, bukan kaya raya layaknya seorang sultan.
Masih syok dengan saldo rekening miliknya, Sya tetap terbengong di tempat duduknya. Uang sebanyak ini bagaimana caranya untuk bisa mendapatkannya. Dan jika Sya masih bekerja seperti dulu akan butuh berapa lama dia bisa mengumpulkanya. Sekarang ini Sya justru mendapatkannya secara cuma-cuma.
Jika dilihat dari kehidupan Radit sebenarnya tidak terlalu yang wah atau bagaimana, semua terlihat normal-normal saja. Rumah yang mereka tempati pun tidak seperti istana-istana seperti yang sering digambarkan dalam sebuah cerita.
Dan pikiran Sya sekarang adalah untuk apa Radit memberinya begitu banyak uang bulanan kalau segala kebutuhannya dan juga rumah tangga mereka Radit yang mengurus semuanya?
Terlalu larut dalam lamunannya, tiba-tiba Sya di kejutkan dengan panggilan masuk dari ponselnya. Panggilan itu dari Radit.
"Assalamu'alaikum, halo Mas." Ujar Sya menjawab panggilan telefon dari Radit. Sya yakin kalau Radit pasti sudah mengetahui kalau dirinya telah melakukan pengeluaran dari rekeningnya itu. Dan Sya merasa gugup sekarang ini.
"Wa'alaikumsalam sayang. Kamu lagi apa? Baru sebentar nggak ketemu kamu aja aku udah kangen kamu banget." Ujar Radit tanpa menyinggung mengenai uang 16 juta yang baru saja Sya belanjakan.
"Aku lagi duduk aja Mas di depan TV." Jawab Sya merasa sedikit gugup. Apakah dia harus mengatakan yang sejujurnya kepada suaminya itu.
"Di rumah jangan capek-capek ya, istirahat yang banyak." Ujar Radit dengan suara lembutnya.
Sya menganggukan kepalanya, dia tidak sada kalau saat ini mereka bukan sedang video call dan pastinya Radit tidak akan melihatnya mengangguk. Sya benar-benar gugup saat ini.
"Sayang... kamu masih disana kan? Kok diem aja?" Pertanyaan dari Radit ini langsung membuat Sya terkejut.
"Hemmm... Kenapa Mas? Eehmm ini aku lagi... eehmm lagi apa ya.. lagi ini..." Jawab Sya dengan masih gugup.
"Kamu kenapa sayang? Lagi enggak enak badan? Aku pulang sekarang ya." Ucap Radit dengan panik. Tidak biasanya Sya seperti sedang hilang fokus seperti ini.
Mendengar ucapan suaminya itu Sya langsung menyangkalnya.
"Enggak Mas, aku nggak papa kok. Cuma itu... ehmm gimana ya ngomongnya." Ucap Sya dengan bingung. Sya tidak tau harus mulai darimana untuk mengawali kejujurannya mengenai uang 16 juta yang dia belanjakan baru saja.
"Kenapa sayang? jangan buat aku khawatir seperti ini." Ujar Radit dengan lembut.
"Iya, maaf Mas udah bikin kamu cemas." Sya menjeda ucapannya "Aku tadi bingung nggak tau mau ngapain, terus aku iseng-iseng buka aplikasi belanja online. Tadinya aku cuma mau liat-liat doang buat keperluan baby . Tapi karena kata Mama kalau belum 7 bulan belun boleh beli perlengkapan baby, jadinya aku beli beberapa baju buat Kendra sama Mas. Eeehh bukan beberapa doang sih, tapi emang agak banyak yang buat Kendra. Terus waktu aku bayar aku kira cuma1,6 juta doang, ternyata 16 juta Mas. Maaf ya aku pake uangnya banyak banget. Aku khilaf Mas, janji lain kali nggak akan di ulangi dan bakalan lebih hemat lagi." Sya langsung menceritakan apa yang membuatnya tiba-tiba menjadi gugup itu secra panjang lebar kepada Radit.
Bukannya nasehat atau amarah yang Sya dapatkan, Radit justru tertawa mendengar cerita Sya yang menurutnya sangat lucu itu.
"Sayang, dengerin aku. Aku nggak marah kok kamu belanja sampai 16 juta. Itu memang uang udah menjadi hak milik kamu sejak aku memberikannya sebagai nafkah. Jadi mau kamu belanjaain apa aja juga itu terserah kamu sayang. Kamu nggak perlu lagi ijin dari aku. Aku justru seneng waktu tadi ada notif kalau kau pakai uang yang aku berikan ke kamu. Tapi waktu tadi kamu bilang kalau kamu belanjain uang 16 juta itu untuk beli baju aku dan Kendra sebenarnya aku agak kurang setuju. Karena biar bagaimana pun uang itu harusnya kamu belanjakan untuk kebutuhan kamu saja. Aku dan Kendra sudah memiliki jatah masing-masing kan." Ujar Radita kepada Sya.
"Jadi Mas nggak marah? Nggak mau nasehatin aku supaya enggak boros-boros?" Tanya Sya kepada Radit.
"Boros itu kalau kebutuhan rumah tangga belum tercukupi tapi uangnya kamu gunain buat hal nggak penting. Kalau semua kebutuhan sudah terpenuhi tidak ada salahnya membelanjakan uang untuk menyenangkan diri kita. Yang penting sedekah dan tabungan tetap harus berjalan dan ada." Ujar Radit menjawab pertanyaan Sya.
.
.
.
Ya namanya aja halu kan kakak-kakak, jadi ya sesuai imajinasi aja walaupun setelah dibaca ulang agak berlebihan juga mengenai jatah uang bulanan Sya dari Radit, banyak banget ya. Aku juga pengen kan punya suami kayak Radit nantinya 😂😂
Jangan lupa kritik dan sarannya ya🤗
Terima Kasih🙏💕