
Sya sudah sampai di Bali bersama anak-anaknya dan juga orang tua Radit. Sesampainya di villa Sya langsung mengistirahatkan tubuhnya bersama Kendra dan Rendra yang sudah tertidur lelap lebih dulu. Untuk sejenak Sya melupakan sosok Radit. Kali ini Sya benar-benar lelah dan butuh istirahat.
Tidak sampai 1 jam Sya tidur dia kembali terbangun karena kandung kemihnya yang terasa penuh. Sya beranjak ke kamar mandi untuk mengosongkannya.
Kembali ke kamar, Sya menatap kedua putranya yang lucu itu masih tertidur. Sya memutuskan untuk membereskan barang-barang bawaannya di bandingkan tidur lagi. Karena kalau kedua putranya sudah bangun maka Sya tidak akan sempat melakukannya.
Saat sedang memasukkan baju-baju ke lemari Sya teringat ponselnya. Sya mencoba mencari-cari kesemua tas yang dia bawa tapi tetap tidak di temukan.
"Aku taro dimana ya." Ujar Sya terduduk di lantai seraya mengingat-ingat dimana dia menyimpan ponselnya.
Setelah hampir 10 menit, pada akhirnya Sya ingat kalau dia meletakkan ponselnya di nakas dekat ranjang setelah sebelumnya dia gunakan untuk memesan taksi dan menghubungi Mama Riana.
"Jadi apa HPnya ketinggalan di rumah?" Ujar Sya kepada dirinya sendiri.
Apa iya saat ini Tuhan benar-benar mendukung keputusan Sya untuk pergi dari Radit sementara ini? Bahkan sebenarnya Sya sama sekali tidak berniat untuk meninggalkan ponselnya.
Sya berdiri dan berjalan kearah jendela. Menatap pemandangan birunya air laut dan putihnya pasir pantai yang seakan menyatu menjadikan sesuatu yang begitu indah. Jangan lupakan juga cerahnya cahaya matari yang berbanding terbalik dengan suasana hati Sya saat ini.
Papa Riyan dan Mama Riana memutuskan untuk memilih Villa yang ada di dekat pantai karena mereka tau kalau Kendra sangat menyukai pantai.
Papa Riyan, meskipun laki-laki itu mengetahui akan permasalahan antara dirinya dan Radit tapi beliau sama sekali tidak berkomentar apapun. Karena menurut penuturan Mama Riana, Papa Riyan memang tidak ingin terlalu ikut campur mengenai rumah tangga anak-anaknya. Tapi jangan salah, Mama Riana mengajak Sya dan anak-anak ke Bali juga tetap dalam persetujuan Papa Riyan.
Sebenarnya tujuan Sya ikut Mama Riana ke Bali adalah untuk menenangkan dirinya. Tapi disini Sya sama sekali tidak mendapatkan ketenangan itu. Sya justru terus memikirkan Radit. Bagaimana reaksi suaminya itu saat tau kalau Sya dan anak-anak tidak ada di rumah. Apakah dia akan cemas dan merasa kehilangan? Uuuhhh... sepertinya Sya berharap terlalu banyak.
Lamunan Sya tersadarkan oleh tangis baby Rendra yang sudah terbangun. Buru-buru Sya menghampiri putra bungsunya itu. Untung saja tangisan baby Rendra tidak membuat Kendra juga ikut terbangun. Sepertinya Kendra benar-benar kelelahan.
Saat Sya sedang menyusui tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk dari luar.
"Sya... Mama boleh masuk? Mama dengar Rendra nangis ya." Terdengar suara Mama Riana yang memanggil Sya.
"Iya Ma, masuk aja pintunya enggak di kunci." Jawab Sya.
Setelah mendengar jawaban dari Sya yang memperbolehkannya masuk, Mama Riana langsung membuka pintu kemudian menutupnya lagi.
"Rendra kenapa nangis Sya?" Tanya Mama Riana kepada Sya.
Sya tersenyum.
"Cuma haus kok Ma, biasa kalau bangun tidur pasti nangis." Jawab Sya.
Mama Riana duduk di sofa berhadapan dengan Sya yang sedang menyusui.
"Kamu jangan terlalu mikirin Radit, Sya. Anak itu memang sekali-kali harus di beri pelajaran agar tidak mengulangi kesalahannya terus, jadi kamu tidak perlu merasa bersalah." Ujar Mama Riana kepada Sya.
Sya terdiam mendengar ucapan Mama Riana. Apa dirinya begitu terlihat jelas kalau sedang memikirkan Radit? Meskipun pada kenyataannya memang iya, tapi sejak tadi Sya selalu memasang wajah bahagia di depan Mama Riana dan Papa Riyan.
Dan sebenarnya tanpa Sya sadari Mama Riana melihat Sya yang sedang melamun di depan jendela. Wajah Sya terlihat jelas kalau wanita itu sedang merasakan sedih, marah sekaligus rasa bersalah. Untuk itu Mama Riana datang ke kamar Sya mencoba untuk menghibur menantunya yang bahkan sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri itu.
Disini meskipun Radit adalah anak kandungnya, tapi Mama Riana sama sekali tidak berpihak kepada Radit. Karena apa? Tentu saja karena Radit memang bersalah.
"Iya Ma." Jawab Sya seraya memaksakan senyumnya.
"Satu hal yang harus kamu tau, Mama dan Papa akan selalu ada di pihak kamu." Ujar Mama Riana kepada Sya.
Radit menatap jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah 5 sore, itu berarti sebentar lagi dia sudah bisa pulang. Rasanya Radit tidak sabar untuk segera bertemu dengan Sya dan anak-anaknya. Sya pasti akan tekejut dan senang melihatnya pulang cepat hari ini. Bukankah beberapa hari ini Sya marah karena dirinya selalu lembur? Nanti sesampainya di rumah dia akan langsung meminta maaf kepada istrinya itu.
"Oke, sebentar lagi Radit. Hanya tersisa satu dokumen. Setelah itu kau akan bebas." Ujar Radit menyemangati dirinya sendiri.
Radit melihat kearah bunga tulip putih yang cantik yang saat ini tergeletak di atas meja. Seperti biasa Andre akan selalu menjadi asisten yang bisa dia andalkan. Tadi sepulang makan siang Andre membawakan bunga tulip putih sesuai pesanannya.
30 menit terasa sangat lama untuk Radit saat ini. Bahkan sekarang Radit sudah menggunakan jasnya kembali. Sebenarnya bisa saja Radit pulang saat ini juga, tapi karyawannya bahkan belum pulang, jadi Radit memutuskan pulang bersamaan dengan yang lainnya.
Ting....
Radit langsung meraih tas dan buket bunga kemudian keluar dari ruangannya. Mengabaikan tatapan heran dari Lisa karena tidak biasanya Radit begitu semangat mendapati waktu pulang kerja.
Tidak butuh waktu lama untuk Radit sampai di parkiran. Dan tanpa basa-basi dia menjalankan mobilnya pergi dari area kantor.
Saat melewati oultet ayam goreng kesukaan Kendra, Radit menghentikan mobilnya dan membeli seember untuk putranya itu.
Bayangan raut wajah bahagia Sya dan Kendra sudah menari di pikiran Radit dan membuat laki-laki itu tidak bisa menahan senyumnya lagi.
"Maureen dan Kendra pasti suka."
Radit tidak menyadari kalau mungkin saja ini adalah senyuman terkahir yang akan terpatri di wajahnya untuk beberapa saat kemudian.
Sesampainya di rumah Radit langsung masuk tanpa memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.
"Sayang... aku pulang." Ujar Radit seraya berteriak. Dia bahkan lupa mengucapkan salam karena terlalu bahagia bisa pulang lebih awal dari biasanya.
Bukan Sya yang muncul seperti yang Radit harapkan, melainkan Mbak Tinah.
"Mas Radit... " Mbak Tinah terlihat takut-takut berbicara kepada Radit.
Radit memicingkan matanya.
"Kenapa Mbak? Oo iya, Maureen sama anak-anak kemana, kok sepi." Ujar Radit bertanya kepada Mbak Tinah.
"Mas Radit, Mbak Sya sama anak-anak tidak ada di rumah. Orang rumah juga tidak ada yang tau mereka kemana." Mbak Tinah memberanikan diri untuk memberitahu Radit.
"Tidak ada di rumah? Kenapa nggak kasih tau dari tadi?" T
Ujar Radit kesal.
"Saya sudah telefon Mas Radit sejak sehabis dzuhur, tapi tidak diangkat." Jawab Mbak Tinah seraya menundukkan kepalanya.
Radit mengambil ponsel yang ada di sakunya yang memiliki 5 panggilan tak terjawab dari telefon rumah, ternyata dalam mode hening tanpa getar yang membuat Radit tidak tau kalau ada yang menelfonnya.
Tanpa berlama-lama Radit lari ke kamarnya. Meskipun Mbak Tinah sudah mengatakan kalau Sya tidak ada di rumah, tapi Radit tetap berteriak memanggilnya.
"Maureen... Sayang kamu dimana." Radit benar-benar takut saat ini.
Apa Maureen benar-benar meninggalkannya?