Baby... I Love You

Baby... I Love You
Alibi Sya



" Sayang, aku minta maaf untuk hari ini. Maaf aku tidak bisa mengontrol emosi." Ujar Radit saat mereka sampai di parkiran kantor.


" Nggak papa Mas, maafin aku juga kalo aku kurang peka sama perasaan kamu. Tapi lain kali kalo ada apa-apa jangan diam aja. Di bicarain, biar aku juga tau salah aku dimana. " Jawab Sya dengan suara halus.


" Maureen... " Panggil Radit tiba-tiba.


" Hhmm... kenapa Mas? " Sya bingung dengan tatapan Radit saat ini.


" Kapan aku bisa ngehalalin kamu? " Tanya Radit dengan serius.


" Haaa... Emang kenapa Mas? " Sya justru bingung dengan pertanyaan Radit.


" Setiap liat kamu tuh rasanya pengen cepet-cepet aku halalin. " Jawab Radit dengan senyum manis yang sangat jarang orang lain lihat.


" Isshh... Gombal banget sih kamu Mas. Udahlah ayo masuk, aku udah telat hampir 1 jam Mas. " Ujar Sya mengalihkan pembicaraan karena malu untuk membahas topik pernikahan dengan Radit.


" Aku nggak lagi gombal sayang. Dan oke ayo kita keluar dari mobil. Itu berarti kamu udah siap go public kan? " Tanya Radit dengan tatapan menggodanya.


Sya lupa lagi kalo mereka saat ini menjalin hubungan backstreet.


" Aku dulu yang keluar, baru setelah itu Mas Radit. " Jawab Sya dengan wajah memelsnya.


" Ya udah, sana keluar dulu. Aku tunggu 5 menit disini. " Ujar Radit tersenyum menenangkan Sya. Radit bisa memahami keputusan Sya untuk menjalin hubungan backstreet karena mungkin gadis itu takut akan menjadi bahan gosip di kantor. Padahal Radit tentu bisa membungkam semua mulut karyawannya untuk tidak menggosipkan mereka nantinya. Tapi tidak apa-apa, yang terpenting sekarang adalah kenyamanan Sya.


" Assalamu'alaikum Mas. " Sya berpamitan untuk keluar.


" Eehhh stop dulu Maureen... " Radit menghentikan gerakan Sya yang bersiap untuk keluar dari mobil.


" Apalagi Mas? Aku udah telat banget ini. Aku nggak enak sama temen-temen yang lain. " Sya memutar bola matanya malas melihat Radit, tidak sopan sebenarnya memang. Tapi ya refleksnya terlalu cepat.


" Cium tangan dulu dong. " Radit mengulurkan tangannya kearah Sya.


" Eehhh... tidak sopan. Untung sayang. Kalau nggak udah aku karungin kamu. " Radit menggelengkan kepala melihat tingkah Sya yang begitu lucu dimatanya. Mungkin inilah salah satu pesona Sya yang membuatnya jatuh cinta. Sya adalah perempuan dengan sifat dewasa dan juga lucu.


Radit masih terdiam di mobil setelah lebih dari 5 menit Sya pergi. Dalam hatinya ada rasa takut juga jika Sya akan meninggalkan dirinya seperti mantan istrinya dulu. Radit juga berfikir, apa sebenarnya ini semua bukan sepenuhnya salah Audrey. Apa iya dia juga ikut andil menjadi penyebab Audrey berani selingkuh darinya seperti apa kata Mama Riana.


Tapi setelah Radit pikirkan kembali, saat dia memergoki Audrey bersama laki-laki yang merupakan selingkuhannya disebuah mobil, Radit hanya merasa marah. Hanya karena dia merasa sebagai pemilik Audrey saat ini, Radit merasa terusik karena miliknya diambil oleh orang lain, tidak lebih. Tidak ada sedikitpun rasa kecewa dalam hatinya saat itu. Apa iya selama sepuluh tahun hubungan mereka hingga akhirnya menikah, sebenarnya tidak ada cinta diantara mereka berdua? Apakah hubungan mereka dulu adalah sekedar nafsu semata? Bahkan saat mereka SMA dulu Audrey sering diantar pulang oleh teman laki-lakinya Radit tidak pernah cemburu. Dia membiarkan saja. Begitu pula saat Radit mendengar kabar jika Audrey meninggal karena kecelakaan mobil bersama selingkuhannya, Radit tidak menangisinya, dia hanya melampiaskannya kepada rokok dan alkohol. Entah itu disebut melampiaskan atau justru merayakan? Radit tidak bisa mendiskripsikannya saat itu. Meski begitu, satu hal yang Radit syukuri dengan adanya Audrey di hidupnya, yaitu kelahiran Kendra. Kendra adalah salah satu anugrah terbesar dari Tuhan yang Radit terima. Dengan kehadiran Kendra, kehidupan malam dia dan Audrey menjadi terhenti. Hingga saat ini, Radit tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di club malam. Meskipun alkohol dan rokok masih ada dihidupnya, tapi itu semua dia lakukan di rumah. Dan Radit pastikan Kendra tidak akan pernah tau. Kendra membuat hidupnya penuh dengan batasan-batasan yang membuat Radit sebisa mungkin tidak melangkahinya. Membuat hidup Radit lebih teratur dan terencana. Radit tidak ingin saat besar nanti Kendra mengikuti jejaknya. Meskipun kalau itu terjadi pun Radit tidak akan menyalahkan Kendra karena dirinya pun juga seperti itu.


Sangat berbeda dengan perasaan yang Radit rasakan kepada Sya saat ini. Melihat Sya berbicara dengan laki-laki lain saja Radit sudah merasa sangat cemburu. Radit ingin Sya selalu terlihat oleh matanya. Bahkan tanpa Sya tau, Radit selalu memperhatikan dia lewat CC tv di ponselnya. Dan mengenai dirinya yang menyuruh Sya mengganti SIM card, itu semua bukan tanpa alasan. Kalaupun Sya menghapus atau bahkan memblokir nomor Jero, bukan tidak mungkin laki-laki itu menghubungi Sya dengan nomor lain. Dan dari pada dia terus gelisah memikirkannya, lebih baik dia mengganti SIM card Sya. Dengan begitu sudah dapat dipastikan jika Jero tidak akan mengetahui nomor Sya lagi. Dasar Pajero perebut bini orang. Eehhh salah-salah, Sya belum menjadi istrinya. Lalu apa? Perebut pacar orang? Tapikan Radit sendiri tidak tau apakah Jero berniat merebut Sya darinya?


.


.


.


Sya di dalam lift bingung harus memberikan penjelasan apa kepada teman-temannya. Walau bagaimana pun Sya sangat jarang berbohong jika tidak terlalu mendesak. Tapi apakah saat ini dia dalam keadaan terdesak? Ya jelas, tentu saja dirinya dalam keadaan terdesak saat ini. Jika teman-temannya tahu hubungan dia dengan Radit apa jadinya nanti? Sya tidak siap menjadi bahan gosip di kantor ini.


Sya berjalan dengan perlahan, terlihat pintu ruangannya tertutup rapat. Haruskah dia masuk sekarang? Tapi kalau tidak masuk dia mau ngapain di kantor.


" Assalamu'alaikum. " Salam Sya begitu masuk ke ruangannya.


Semua orang terdiam kearah Sya. Hingga akhirnya...


" Ya ampun Sya. Kamu darimana aja? Dari tadi aku nelfonin kamu tapi nomornya nggak aktif. Udah gitu Pak Sean dateng kesini cuma bilang Sya akan kembali ke kantor terlambat karena ada sesuatu yang harus dia lakukan. Pikiran gue udah macem-macem tau. " Ucap Dian dengan suara keras begitu menyadari jika yang masuk adalah Sya.


" Hehehe... Aku nggak papa kok. Maaf ya udah buat kalian cemas. Mmmm... nomor aku ganti, makanya nggak aktif. Yang itu hapus aja, nanti aku kasih ya baru. " Ujar Sya tersenyum kecil kepada semuanya. Terlihat Leo hanya menyimak pembicaraan Sya dan Dian. Sedangkan Tio sudah menatapnya dengan tatapan menyelidik.


" Kamu sebenarnya dari mana Sya? " Tanya Tio tiba-tiba.


" Eemmm... Aku... "