
Sesampainya di kamar, Radit mendapati kamarnya begitu sunyi. Tidak terlihat Sya yang biasanya sedang duduk bersandar di samping box bayi mereka. Tidak juga Radit dapati baby Rendra yang biasanya tertidur di box bayinya.
Radit terduduk pilu di atas ranjangnya. Apa Maureen benar-benar meninggalkannya? Apa dia sudah benar-benar keterlaluan hingga membuat Maureen tidak lagi memiliki kesabaran kepadanya?
Radit kemudian berjalan cepat membuka connecting door yang menghubungkan kamarnya ke kamar Kendra. Radit masih berharap kalau Sya dan anak-anaknya sedang berkumpul disana.
Tapi harapan Radit harus runtuh seketika, tidak dia temukan istri dan anak-anaknya disana. Kamar Kendra juga terlihat rapi dan tidak berpenghuni.
Radit ingat, dia belum menghubungi Sya kembali. Bodohhh! Kenapa tidak dia lakukan dari tadi.
Tut... tut... tut...
"Sayang, aku mohon tolong angkat. Kita perlu bicara." Ujar Radit kepada dirinya sendiri.
Tidak ada jawaban dari Sya. Radit mencobanya sekali lagi.
Tapi tunggu, kenapa samar-samar Radit mendengar suara dering ponsel milik Sya?
Radit berjalan keluar kamar Kendra menuju sumber suara itu. Dan ya, ponsel Sya tergeletak di atas nakas samping tempat tidur.
"Apa kamu sengaja ninggalin HP kamu karena benar-benar ingin pergi dari aku sayang?" Ujar Radit menatap nanar ponsel milik istrinya itu.
Lagi-lagi Radit hanya bisa terduduk lemas di ranjang. Diambilnya ponsel milik Sya yang memang kata sandinya sama dengan ponsel milik Radit.
Radit melihat kolom chat milik Sya untuk mencari sedikit petunjuk agar siapa tau dia bisa mengetahui keberadaan Sya. Lagi-lagi tidak dia temukan petunjuk disana. Hanya ada chat terakhir darinya dan orang tua Sya yang menanyakan kabar cucu-cucu mereka. Tapi tunggu sebentar, Radit menemukan sesuatu di chat yang di arsipkan. Dan ya, Radit menemukan petunjuk disana. Sya melakukan chat terakhir dengan supir taksi dan Mama Riana.
Terlihat Sya memesan taksi dan mengirimkan alamat penjemputan kepada supir taksi tersebut, namun tidak Sya beritahukan kalau dia akan pergi kemana. Segera saja Radit menghubungi supir taksi itu.
Tut... tut...
"Halo... "
"..... "
"Saya suami dari penumpang yang pesan taksi bapak dari Green Residence. Kalau boleh tau tadi bapak nganter kemana ya? soalnya ponsel istri saya ketinggalan." Ujar Radit kepada sang supir taksi.
".... "
"Oo gitu, baik Pak, terima kasih atas informasinya." Radit mengakhiri panggilan telefonnya.
Ya, sekarang Radit tau dimana Sya dan anak-anaknya berada.
Ada perasaan lega di hati Radit saat ini karena mengatahui keberadaan istri dan anak-anaknya. Tanpa menunggu waktu lagi Radit segera keluar rumah untuk menjemput mereka. Radit harus segera menyelesaikan ini semua.
Mengetahui Sya pergi meninggalkannya benar-benar membuat Radit takut.
Radit mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Bagaimana pun dia tetap harus memperhatikan keselamatan dirinya dan juga orang lain. Yang penting sekarang Radit tau kalau Sya ada di rumah orang tuanya, dan itu sudah pasti tempat yang aman untuk Sya dan anak-anak.
Hampir 30 menit menyetir akhirnya Radit sampai di rumah orang tuanya. Begitu sampai Radit langsung masuk ke rumah bahkan dia sama sekali tidak menyapa satpam rumah.
"Maureen....Sayang...." Teriak Radit begitu masuk rumah.
Rumah terasa sepi.
Bi Siti yang sedari tadi ada di dapur buru-buru keluar setelah mendengar orang berteriak.
"Loh Mas Radit, cari siapa ya? Ibu sama Bapak kan lagi ke Bali. " Ujar Bi Siti kepada Radit.
Radit mengabaikan ucapan Bi Siti karena dia sendiri juga tau kalau Mama Riana dan Papa Riyan ada di Bali sejak 4 hari yang lalu.
"Mbak Sya? Mbak Sya sama anak-anak nggak kesini Mas." Jawab Bi Siti.
Bi Siti memang berkata jujur, dia memang tidak melihat kalau Sya datang ke rumah ini karena saat Mama Riana dan Papa Riyan berangkat dia ada di dapur. Dan kebetulan juga Sya memang sama sekali tidak masuk kedalam rumah terlebih dahulu.
"Bi Siti jangan bohong, tadi saya sudah telpon supir taksi yang mengantarkan Maureen kesini. Maureen pasti di atas kan? Dia soalnya lagi marah sama saya." Ujar Radit kepada Bi Siti. Tanpa berkata apa-apa lagi Radit langsung naik ke kamarnya untuk memastikan kalau Sya benar-benar ada di rumah ini.
"Siapa yang bohong? Orang Mbak Sya memang enggak kesini." Gumam Bi Siti sebelum dia kembali lagi ke dapur.
Radit langsung membuka pintu kamarnya. Lagi-lagi tidak ada tanda-tanda kalau ada orang di dalamnya. Kamar Radit seperti biasa memang bersih dan rapi, tapi memang tidak ada jejak sepert kamarnya sehabis di pakai.
"Kamu dimana sih sayang." Radit benar-benar putus asa sekarang.
Apa jangan-jangan Sya pulang ke Jogja? Radit harus mencari tau sekarang.
Tanpa membuang waktu Radit langsung menghubungi Mama Farida.
Tut... tut... tut...
"Hallo Assalamu'alaikum Ma." Ujar Radit mengawali pembicaraan.
"Wa'alaikumsalam Dit, ada apa ya tumben sore-sore telfon Mama, biasanya kan malem sambil video call sama anak-anak." Jawab Mama Farida.
Tanpa bertanya pun Radit sudah tau kalau Sya tidak ada di Jogja. Kalau mereka ada disana Mama Farida tidak mungkin menanyakan anak-anaknya kan?
"Enggak ada apa-apa Ma, Radit cuma pengen tau kabar Mama sama Ayah. Soalnya kan beberapa bulan ini Radit lembur terus dan jarang ngehubungin kalian." Ujar Radit beralibi.
"Alhamdulillah Mama sama Ayah sehat Dit. Oo iya Sya juga cerita ke Mama soal kamu lembur terus sampai lupa makan ya? Jaga kesehatan Dit, sekarang cuaca lagi enggak nentu, takutnya kamu sakit. Sya khawatir banget loh sama kamu." Ujar Mama Farida.
"Iya Ma, Radit bakal rajin makan." Jawab Radit seadanya. Saat ini dia benar-benar tidak fokus. Kemana Sya dan anak-anaknya pergi? Apa mungkin supir taksi itu membohonginya mengenai kemana perginya Sya?
"Jangan lupa makan vitamin juga buat daya tahan tubuh kamu." Ujar Mama Farida. " Oo iya Sya sama anak-anak kemana? Kok sepi kayaknya." Tanya Mama Farida.
Mendapat pertanyaan ini seketika Radit menjadi panik.
"Radit masih di kantor Ma." Jawab Radit lagi-lagi berbohong. "Oo iya, udah dulu ya Ma, Radit masih ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaiin malam ini. " Ujar Radit kepada Mama Farida.
"Oo gitu, ya udah kamu lanjutin aja pekerjaan kamu. Jangan lupa pesen Mama, jangan telat makan sama rutin minum vitamin." Ujar Mama Farida.
"Iya Ma. Kalau gitu Radit tutup dulu ya. Assalamu'alaikum." Radit mengakhiri pembicaraan mereka.
"Wa'alaikumsalam."
Begitu sambungan telfon terputus Radit langsung melemparkan ponselnya ke ranjang dan mengusap wajahnya kasar.
"Kamu dimana sayang... "
.
.
.
Lagi-lagi mau promosi cerita baru aku lagi nih. Buat yang penasaran gimana kisah antara Laras dan Dani langsung aja baca Laras for Dani. 😂😍
Jangan lupa kritik dan sarannya, dan kasih tau juga kalau aku ada typo 😁
Terima Kasih 😘💕