Baby... I Love You

Baby... I Love You
Ketakutan



Sya duduk di kursi pantai bersama baby Rendra sembari menunggu Radit dan Kendra yang sedang bermain di tepi pantai. Sengaja Sya tidak ikut bergabung karena baby Rendra masih belum bisa diajak untuk bermain.


Terlihat Radit dan Kendra sedang membangun sebuah istana pasir. Mereka tampak bekerja sama dengan baik. Benar-benar sepasang ayah dan anak yang manis.


"Aaeee.. aaa.. eee" Baby Rendra bergumam seraya mengemut telunjuknya.


Sya yang menyadari itu seketika tersenyum.


"Apa sayang? Adek pengen ikut main sama Ayah dan Abang? Besok ya kalau adek udah agak gedean kita main bareng. Kalau sekarang liat Ayah sama Abang main dulu ya." Ujar Sya menimpali gumaman baby Rendra. Lagi-lagi bayi itu membalas ucapan Sya dengan gumaman.


Tidak terasa dari jam 9 sampai hampir jam setengah 12 Kendra dan Radit belum juga menyelesaikan acara bermain mereka. Padahal hampir seminggu ini Kendra selalu ke pantai, tapi rasanya anak itu tidak pernah bosan.


"Ayah, Abang, mainnya udah dulu yuk, udah siang kita makan dulu." Ujar Sya memanggil 2 laki-laki kesayangannya.


"Sebentar Bunda." Ya, itu sudah pasti jawaban yang akan keluar dari mulut Kendra pertama kali setiap Sya meminta untuk kembali.


"Bunda tunggu sampai 5 menit lagi ya." Ujar Sya menimpali.


"Iya Bunda. " Kendra tetap fokus dengan pasir dan ember di tangannya. Sedangkan Radit sudah lebih dulu menghampiri Sya. Tidak di pungkiri kalau Radit pun sudah merasa kepanasan saat ini.


"Wiihh, kok adek makin ganteng sih pake kacamata item begini?" Ujar Radit mengomentari gaya baby Rendra.


"Iya dong, aku kan mau diapain aja tetap ganteng." Jawab Sya seraya menirukan suara anak kecil.


Radit tertawa kecil mendengar Sya yang bersuara seperti anak kecil.


"Oo iya lupa, Adek kan anak Ayah, ya jelas udah pasti ganteng. Secara Ayahnya aja ganteng banget begini." Jawab Radit dengan percaya dirinya.


Sya tersenyum mendengar ucapan Radit.


"PD banget kamu Mas." Ujar Sya menimpali.


"Orang kenyataan kok, bibit aku tuh unggul semua." Jawab Radit.


"Aku juga ikut andil kok buatnya." Ujar Sya tiba-tiba.


Radit terdiam sejenak mendengar ucapan Sya. Sampai akhirnya...


"Cie yang ikut andil dalam pembuatan dedek bayi, nanti malem ikutan lagi ya yank." Ujar Radit kepada Sya. Hal ini membuat pipi Sya seketika memerah merona.


"Apaan sih Mas, enggak jelas banget." Ujar Sya mencoba untuk menutupi rasa malunya.


"Ooo... Jadi kurang jelas ya? Ya udah aku perjelas, nanti malam kita.... "


"Diem, jangan menodai pendengaran Rendra yang masih suci." Ujar Sya menghentikan ucapan Radit.


Lagi-lagi Radit tertawa mendengar respon Sya yang malu-malu seperti itu. Padahal mereka sudah setahun lebih menikah, kenapa Sya masih malu jika membahas hl seperti ini?




Malam ini Radit dan keluarganya sedang menghabiskan waktu dengan makan malam bersama di sebuah Restoran. Radit hampir lupa bagaimana rasanya makan bersama keluarga sejak dirinya sibuk dengan pekerjaan. Lagi-lagi Radit hanya bisa menyesalinya.



"Jadi gimana mengenai cabang perusahaan yang sebenar lagi dibuka?" Tanya Ayah Riyan kepada Radit.



"Semuanya lancar Pa, dan jika tidak ada kendala kita bisa melakukan pembukaannya seminggu lagi." Jawab Radit.



Papa Riyan menganggukkan kepalanya paham.



"Mas enggak papa kalau lama-lama disini? Pasti kerjaan kamu banyak banget kan?" Sya tidak tahan rasanya untuk tidak menanyakan ini. Disaat Radit di sampingnya, Sya justru merasa dirinya egois saat ini. Radit pasti memiliki banyak pekerjaan di Jakarta, dan karena dirinya kabur ke Bali Radit harus mengorbankan waktunya untuk menjemputnya.




"Udah ah ngomongin kerjaannya lain kali aja. Sekarang ngomongin yang lain." Ujar Mama Riana. Pasalnya dia merasa bosan, setiap pembahasan yang terjadi antara Papa Riyan dan Rare pasti tidak jauh dari kantor dan perusahaan. Benar-benar membosankan.



"Oo iya, ngomong-ngomong kalian enggak sekalian *honeymoon* aja mumpung udah di Bali? Kemarin waktu habis nikah kalian belum sempet *honeymoon* kan?" Ujar Mama Riana bertanya kepada Radit dan Sya.



"Hanimun itu apa Oma?" Tanya Kendra dengan polosnya. Mama Riana sepertinya lupa kalau masih ada Kendra diantara mereka. Meskipun seperti terlihat sedang sibuk dengan dunianya sendiri, ternyata Kendra mendengarkan pembicaraan diantara para orang tua. Dan kata *honeymoon* begitu mengusik rasa penasarannya, pasalnya ini baru pertama kali Kendra mendengarnya.



Sya menutup wajahnya malu saat mendengar Kendra bertanya mengenai *honeymoon*. Sedangkan Papa Riyan dan Radit justru tertawa kecil.



"Jelasin Ma, itu cucunya tanya." Ujar Papa Riyan kepada istrinya.



Mama Riana tersenyum santai.


"Jadi *honeymoon* itu artinya Ayah sama Bunda pergi liburan berdua. Dan Abang sama adek Rendra enggak boleh ikut." Jawab Mama Riana.



"Kenapa halus beldua? Kenapa Abang sama Adek Lendla enggak boleh ikut?" Kendra masih belum paham mengenai konsep *honeymoon* yang Mama Riana jelaskan.



"Ya kan namanya bukan liburan keluarga Bang, kalau liburan keluarga baru Abang sama Adek boleh ikut." Mama Riana tidak kehabisan kata-kata dalam menjelaskan kepada Kendra.



"Yah, kalau gitu Ayah sama Bunda enggak boleh *honeymoon*. Abang enggak mau kalau enggak ikut sama Ayah dan Bunda. Pokoknya Abang halus ikut kalau Ayah sama Bunda mau pelgi hanimun." Jawab Kendra dengan kekeh.



"Abang pengen punya adek lagi enggak?" Tanya Mama Riana kepada Kendra. Ini adalah cara terakhir agar bisa mendapatkan ijin dari Kendra untuk Radit dan Sya pergi *honeymoon*.



Awalnya Radit masih tersenyum saat mendengar percakapan antara Mama Riana dan Kendra. Tapi saat Radit mendengar pertanyaan Mama Riana kepada Kendra mengenai adik seketika membuat Radit langsung terdiam. Bayangan Sya yang terduduk lemah di dapur dengan darah yang mengalir di kedua pahanya dan membasahi lantai dan juga pakaiannya membuat Radit langsung merinding seketika. Tidak, Radit belum siap melihat Sya hamil lagi. Belum siap atau justru dia tidak akan pernah siap? Yang jelas Radit takut jika kejadian dimasa kehamilan Sya kembali terjadi lagi.



Radit tidak ingin melihat Sya kembali kesakitan. Terlebih resiko dirinya untuk kehilangan Sya cukup besar.



"Aku tidak ingin memiliki anak lagi, buat aku dengan adanya Kendra dan Rendra sudah cukup." Ucap Radit tiba-tiba.


.


.


.


*Selamat membaca, jangan lupa kritik dan sarannya. Kasih tau aku kalau ada typo 🤗😂*



*Jangan lupa juga baca* ***Laras for Dani****😍*



***Terima Kasih😘💕***