Baby... I Love You

Baby... I Love You
Mas Radit...



" Loh, Mbak Rida kok ada disini? " Tanya Sya dengan wajah bingung.


Saat ini Sya dan Radit ada di lobi hotel dan bertemu dengan Rida yang sedang duduk seolah memang sedang menunggu kedatangannya.


" Hehehe, iya Sya, kan emang aku disini. " Jawab Rida tidak masuk akal.


" Iya, maksud aku kok Mbak ada di Jogja, bukannya Mbak ada di Bandung ya nemenin Mas Raga? " Ujar Sya menjelaskan maksud dari pertanyaannya.


" Iya, kebetulan aku sama Raga ada kepentingan di Jogja Sya. " Jawab Rida seraya tersenyum manis.


" Kamu belum sarapan kan sayang? Yuk kita makan dulu. " Radit menghentikan pembicaraan kedua wanita itu.


Sya menolehkan wajahnya ke arah Radit. Sejenak dia lupa akan keberadaan Radit karena saking terkejutnya melihat keberadaan Rida.


" Ayo Sya, kita makan dulu. Hari ini kita butuh banyak tenaga untuk acara nanti malam. " Ujar Rida kepada Sya.


Acara nanti malam? ini apa lagi? Apa disini hanya dirinya saja yang tidak tau apa-apa.


" Acara apa Mbak? " Tanya Sya yang hanya dibalas senyuman oleh adik dari laki-laki yang dia cintai itu.


Sya kembali menatap ke arah Radit dengan pandangan seolah bertanya, ada apa sebenarnya? Dan Radit menyadari itu.


" Nanti kamu juga tau sayang. Sekarang kita sarapan dulu. Ini udah hampir jam 9 loh. "


Sya memutuskan untuk tidak lagi bertanya, toh meski dirinya bertanya kakak beradik itu tidak akan memberitahukannya.


Akhirnya mereka sarapan di restoran hotel tersebut. Sya memutuskan untuk sarapan nasi goreng saja, menu simple namun enak. Sama halnya dengan Radit dan juga Rida.


Saat sedang makan, tiba-tiba Raga datang menghampiri mereka.


" Oohh, kalian udah sampe ya? " Tanya Raga yang tentu saja tertuju pada Radit dan Sya.


" Heem. " Jawab Radit simpel.


" Iya Mas, kita baru aja sampe. " Ujar Sya menjawab pertanyaan Raga. Sekali lagi Sya mencoba menahan untuk tidak lagi bertanya, dia takut kecewa jika nantinya Raga juga tidak memberikan jawaban yang dia butuhkan. Lebih baik dia mengikuti saja alur yang ada hingga nantinya dia akan mengetahui sendiri.


" Kamu mau makan apa? " Tanya Rida kepada Raga.


" Nanti aku pesen sendiri aja yank. Aku belum laper. " Namun meski bilang begitu Raga justru meminta untuk di suapi oleh Rida.


Pemandangan ini terasa begitu romantis menurut Sya, apalagi mereka adalah pasangan halal. Berbeda dengan Radit yang seolah tidak peduli dengan pasangan yang ada di depannya ini. Fokusnya sekarang hanya kepada Sya, gadis yang dia cintai.


" Aurel nggak ikut Mbak? " Tanya Sya kepada Rida. Jika Mama dan Papanya saja ada di Jogja masa iya mereka tega meninggalkan balita gemoynya di Bandung?


" Aurel lagi di ajak jalan-jalan sama Mama Papa. " Yang menjawab pertanyaan Sya ini bukan Rida, melainkan Raga.


" Berarti sama Kendra juga Mas? "


" Iya, sama Kendra juga. " Jawab Radit seraya menyeruput kopinya yang masih panas itu.


" Eehh Sya kamu capek nggak? " Tanya Rida memotong ucapan Sya sebelum gadis itu akan bertanya kepada Raga.


" Enggak Mbak, kenapa? " Tentu saja Sya tidak merasa capek. Yang dia rasakan sekarang hanya rasa penasaran yang begitu tinggi.


" Temenin aku ke salon yuk. Itung-itung buat girls time. " Ujar Rida kepada Sya.


Sya terlihat bingung. Dia menatap ke arah Radit.


" Iya nggak papa, kamu ikut aja sama Rida. " Ujar Radit kepada Sya. Tidak lupa senyum manis yang selalu Radit tampilkan setiap menatap ke arah Sya.


" Ya udah Mbak, aku mau. " Jawab Sya pada akhirnya.


Setelah beberapa waktu berlalu mereka habiskan untuk mengobrol, akhirnya Sya dan Rida berpamitan untuk pergi ke salon.


Sya kira mereka akan ke salon hanya sekedar untuk creambath atau apapun itu. Ternyata Sya dan Rida melakukan serangkaian perawatan tubuh yang sebelumnya tidak pernah Sya lakukan.


Sya hanya menurut saja setiap mereka selesai dengan perawatan yang satu lalu berganti dengan perawatan yang lainnya. Perawatan ini di lakukan dari mulai ujung kepala sampai ujung kaki. Memang setelahnya Sya menjadi sangat rileks hingga tidak sadar dia menjadi tertidur.


Hingga tidak terasa mereka menghabiskan waktu sampai jam setengah 5 sore, itu berarti mereka menghabiskan hampir 5 jam disini. Untung saja sebelum mereka berangkat ke salon Sya mendapat tamu bulanannya hingga akhirnya membuat Sya tidak berkewajiban untuk menjalankan sholat. Karena dia tidak membawa apapun saat pulang ke Jogja jadilah Sya memakai baju milik Rida.


Tiba akhirnya untuk melakukan pembayaran. Dan betapa terkejutnya Sya saat biaya perawatan mereka ini menghabiskan dana lebih dari 50 juta.


" Mbak, ini nggak salah ya sampe 54 juta? Emang kita ngapain aja? " Tanya Sya dengan polosnya.


Bagi Sya uang 50 juta itu sangatlah besar. Jika dihitung-hitumg itu jumlah gajinya selama hampir 1 tahun bekerja. Dan mereka dalam 5 jam menghabiskan lebih dari 50 juta.


" Tapi worth it kan Sya? Sesuai lah sama pelayanan yang kita dapet. " Jawab Rida seraya tersenyum santai.


" Ini siapa yang bayar Mbak? " Tanya Sya dengan spontan. Jika dia harus membayar biaya perawatan ini walau hanya setengah nya saja maka paling tidak tabungannya akan terkuras lebih dari separuh. Yang benar saja, Sya saja bekerja belum sampai setahun. Terlebih gajinya sudah dia gunakan untuk bayar kosan, beli makan dan lain-lain.


" Ya Mas Radit dong. " Lagi-lagi dengan santainya Rida menjawab pertanyaan Sya.


" Nggak usah dipikirin Sya, buat Mas Radit uang 50 juta itu nggak ada apa-apanya. Cuma recehan. " Ujar Rida tertawa kecil. Dia menyadari pikiran Sya yang sepertinya sangat terbebani dengan uang 50 juta yang mereka habiskan untuk melakukan perawatan ini.


" Ya udah kita balik ke hotel yuk. "


Sya hanya mengikuti Rida. Pikirannya masih kepada uang 50 juta yang terbuang sia-sia.


Setibanya di hotel Sya langsung mandi, Sya belum menyadari jika hari ini dia berpisah dengan Radit seharian penuh. Padahal pertanyaannya saja belum mendapatkan jawaban.


Begitu selesai mandi dan masih menggunakan bathrobenya. Sya dikejutkan dengan kehadiran Rida dan 2 orang wanita lainnya di kamarnya.


" Mbak ini ada apa? " Tanya Sya kepada Rida.


" Hehehe... Mereka ini yang akan merias wajah kamu. "Ujar Rida tersenyum.


" Merias? Buat apa? " Sya masih tida memahami ucapan dari Rida.


" Nanti kamu juga tau. " Lagi-lagi jawaban itu yang Sya dapatkan.


Sya duduk di depan meja rias dan para wanita yang Sya ketahui merupakan seorang MUA mulai menjalankan tugasnya.


Selama Sya di rias, Rida meninggalkannya begitu saja. Sya menjadi semakin bingung. Sebenarnya ada apa?


Hingga akhir jam menunjukkan pukul setengah 7, Sya sudah selesai dengan riasannya. Salah satu dari mereka membuka lemari, kemudian meminta Sya untuk segera berganti dengan sebuah gaun sederhana namun terlihat mewah dan elegant itu.


Dibantu oleh salah satu dari mereka akhirnya Sya berhasil memakainya. Sangat indah. Kenapa aku terlihat cantik sekali malam ini? Ujar Sya dalam hati. Dia menatap tubuhnya yang sudah berbalut gaun pink ini.



...photo by Google...


" Mbak Sya cantik banget loh. " Puji salah seorang dari mereka.


" Ternyata pilihan Pak Radit benar. Gaun ini sangat cocok buat Mbak Sya. Tidak terbuka, simple, namun terlihat mewah dan elegant. " Sambung salah satunya lagi.


Jadi ini gaun pilihan Mas Radit? Ujar Sya dalam hati.


Tok... tok... tok...


Pintu kamar Sya di ketuk. Salah seorang dari mereka membuka pintunya. Terjadi percakapan diantara keduanya.


" Mbak Sya, sudah di tunggu. Kita harus berangkat sekarang. " Ujarnya.


" Berangkat? Kemana? " Tanya Sya kepada periasnya itu.


Lagi-lagi tidak ada jawaban yang Sya dapatkan.


Sya hanya bisa mengikuti ucapan yang wanita itu katakan kepadanya.


Dengan jantung berdebar, Sya mengikuti langkah keduanya. Sesampainya di mobil pun mereka semua hanya diam. Tidak ada sedikitpun percakapan diantara mereka. Mau bertanya tapi Sya yakin jawaban yang akan dia dapatkan hanya nanti Mbak Sya juga akan tau jadi lebih baik dia tidak bertanya bukan?


Tiba-tiba ponsel salah satu dari mereka berbunyi.


" Halo. "


"...... "


" Sebentar lagi kita akan segera sampai Pak. "


"...... "


" Iya, baik Pak. "


Hanya sebuah percakapan yang tidak membantu Sya sama sekali menemukan sedikit clue akan semua ini.


Akhirnya mereka tiba di sebuah restoran. Terlihat sepi karena hanya ada beberapa mobil saja yang terparkir. Di dalam pun terlihat suana remang.


Sya turun dari mobil setelah pintu di bukakan.


" Mbak Sya bisa langsung masuk saja. " Ucap wanita itu dengan ramah.


" Saya sendiri? Jadi kalian nggak ikut? " Tanya Sya kepada mereka.


" Kita hanya mengantar sampai disini saja Mbak. " Jawabnya seraya tersenyum.


Sya mengangguk paham. Perlahan dia berjalan kearah pintu masuk restoran.


Begitu pintu terbuka, Sya langsung terkejut.


" Mas Radit.... "