Baby... I Love You

Baby... I Love You
Extra Part 1



“Adeekkk, Mas pulang…” Terdengar suara teriakan Rendra yang baru pulang sekolah. Bocah yang saat ini berusia 5 tahun ini datang dengan membawa sekotak susu strawberry di tangannya.


“Adeknya lagi bobok Mas.” Sya yang mendengar suara Rendra langsung turun untuk menemui putra ke duanya itu.


“Assalamu’alaikum Bunda…” Rendra langsung memberikan salam dan mencium tangan begitu melihat sang Bunda.


“Wa’alaikum salam Mas.” Jawab Sya seraya menvium puncak kepala Rendra. “Tadi gimana sekolahnya? Mas belajar apa aja?” Tanya Sya kepada Rendra.


“Mas tadi gambar rumah dan dapet bintang 5 dari Miss.” Jawab Rendra  seraya tersenyum senang.


“Wahh, hebat anak Bunda.” Ujar Sya seraya mengelus pelan rambut Rendra.


“Adek boboknya udah lama belum Bun? Mas pengen main sama adek.” Ya, setiap pulang sekolah maka yang akan Rendra cari pertama kali adalah baby Sandra.


Putri tunggal Sya dan Radit itu saat ini sudah berusia 10 bulan dan sedang aktif-aktifnya merangkak.


“Baru aja adek bobok Mas.” Jawab Sya lembut.


“Yahhh…” Rendra merasa sedikit kecewa karena dia harus menunda acara bermainnya dengan baby Sandra.


“Mas mau puding? Tadi Bunda abis bikin puding strawberry.” Ujar Sya kepada Rendra.


“Mauu….” Jawab Rendra dengan semangat.


Ya, Sya tau apa yang akan membuat Rendra dan Kendra senang, tentu saja makanan yang berbau strawberry.



“Adek, ini mainnya bukan gitu. Tapi di puter belakangnya biar bebeknya bisa jalan.” Ujar Rendra kepada baby Sandra yang malah memukul-mukulkan boneka bebek ke lantai.



“Adek belum tau cara mainnya Rendra.” Ujar Kendra kepada adik laki-lakinya. Entah kenapa di usianya yang masih kecil ini Kendra sudah tidak lagi banyak berbicara seperti dulu lagi. Sifatnya ini sama persis dengan Radit saat Sya pertama kali ketemu dulu.



“Ya makanya ini Mas kasih tau Bang.” Ujar Rendra kepada Kendra.



Kendra hanya mengangkat bahunya setelah itu kembali melanjutkan membaca buku.



Kendra memang pendiam sekarang, tapi itu bukan berarti dia tidak sayang kepada Rendra dan baby Sandra. Kendra tetap bermain dengan kedua adiknya kok, hanya saja sekarang Kendra sedang memliki hobby membaca.



Sya dan Radit pun tidak melarang hobby Kendra itu, hanya saja mereka harus sering mengingatkan agar Kendra tidak sampai lupa makan dan lain-lainnya. Karena jika sudah membaca buku maka Kendra akan melupakan segalanya dan hanya berfokus dengan bukunya saja.



Dan mungkin karean perhatian Sya dan Radit juga harus terbagi 3, mereka tidak terlalu memperhatikan Kendra yang mendadak sifatnya sudah berubah ini. Tapi saat Sya dan Radit memutuskan untuk mendatangkan psikiater anak, hasilnya Kendra baik-baik saja, memang sifatnya saja yang pendiam dan tidak terlalu banyak bicara.



“Abang lagi baca buku apa sih?” Tanya Sya kepada Kendra.



“Cerita petualangan Bunda.” Ujar Kendra menjawab pertanyaan sang Bunda.



Sya mengusap rambut Kendra lembut.



“Tadi di sekolah belajar apa aja Bang?” Tanya Sya dengan lembut.



Saat ini Kendra sudah kelas 4 SD dan tingginya bahkan sudah hampir sama dengan Sya.



“Bahasa Inggris sama IPA Bun.” Jawab Kendra singkat.



Sya memutuskan untuk tidak lagi bertanya .Meskipun Kendra tidak mengatakan kepadanya, tapi Sya tau kalau Kendra pasti terganggu karena dia terus bertanya disaat Kendra sedang fokus membaca.



“Ba..babbaa..baabbbaa…” Baby Sandra yang tadi sedang bermain dengan Rendra  tiba-tiba merangkak dan menghampiri Kendra seraya menarik-narik buku yang sedang Abangnya baca.




“Iiin…Babba…aiinn…” Ujar Sandra dengan bahaya bayinya. Giginya yang sudah tumbuh 4 terlihat menggemaskan. Pipinya yang chubby dan matanya yang bulat membuat siapa saja akan langsung jatuh hati kepada bayi itu.



“Ya udah, ayo main. Adek mau main apa sama Abang?” Kendra membawa Kendra kedalam gendongannya.



Semua itu tidak luput dari perhatian Sya. Kendra yang pendiam akan selalu menuruti apapun yang adik perempuannnya inginkan. Rasa sayang Kendra kepada adik-adiknya sangat jelas. Meskipun ada kalanya Kendra terkadang juga kesal dengan Rendra yang menurut Kendra terlalu aktif.



Baby Sandra menunjuk rak buku yang terletak di dekat televisi. Itu semua merupakan koleksi buku cerita milik baby Sandra yang Kendra belikan. Pastinya dengan uang Radit, hanya saja Kendra yang memilih hampi semua buku-buku yang baby Sandra punya.



Sebenarnya baik Kendra, Rendra, maupun baby Sandra memiliki ruangan masing-masing untuk menyimpan koleksi mainan di kamar mereka. Ya, sekarang Rendra juga sudah pindah kamar di sebelah kamar Kendra. Sedangkan kamar yang memiliki connecting door dengan kamar Sya dan Radit sekarang menjadi milik baby Sandra.



Ya namanya juga anak-anak, walaupun mereka memiliki  tempat untuk menyimpan mainan masing-masing, tapi tetap saja banyak mainan yang di bawa ke ruang tengah.



“Mau Abang bacain buku?” Tanya Kendra kepada baby Sandra.



“Buu..bbuuu…tuuu.”



“Ya udah ambil udu, nanti Abang bacain.” Kendra menurunkan baby Sandra agar bayi itu bisa bebas merangkak mengambil buku yang dia inginkan.



Baby Sandra mengambil buku yang sudah puluhan kali Kendra bacakan.



“Cinderella lagi dek?” Tanya Kendra kepada baby Sandra.



“Eaa…eeeaa…”



“Ya udah ayo kita baca.” Kendra mendudukan Baby Sandra di pangkuannya.



Sebenarnya Kendra tau kalau bukan membaca yang adiknya itu sukai. Baby Sandra hanya senang melihat gambar-gambar yang ada di dalam buku itu.



Bruukkk…..


“Huaaa… Bunda….”


Sya yang sedang menemani Radit makan di ruang makan langsung berlari mendengar teriakan dan tangisan Rendra.


“Astagfirullah, aedknya kenapa Bang?” Sya panik melihat Rendra yang terduduk di lantai dengan dahi yang memerah dengan Kendra disampingnya.


“Main sepatu roda terus jatuh kena meja kepalanya Bun.” Jawab Kendra.


Radit dan Sya yang mendengar jawaban Kendra langsung menghela nafas pelan. Ini bukanlah kejadia pertama kali dimana Rendra jatuh saat menggunakan sepatu rodanya.


Radit mengangkat Rendra ke dalam gendongannya, sedangkan Sya dengan sigap mengambilka minum untuk putranya itu.


“Cupp… cup udah jangan nangis ya, mana yang sakit biar Ayah liat.” Ujar Radit menenangkan Rendra.


Sedangkan Kendra dengan sigap membantu melepas sepatu roda yang Rendra gunakan. Tadi saat Rendra jatuh, Kendra sedang membaca bukunya. Dia tidak tau kalau Rendra bermain dengan sepatu rodanya.


“Mas, Ayah kan sudah pernah bilang, kalau Mas pengen main sepatu roda itu di luar dan juga pakai alat pelindungnya Kalau main di dalam rumah kan sempit, Mas jadi nggak bisa bebas mainnya, apalagi Mas juga nggak pake alat pelindung diri.” Ujar Radit menasehati dengan lembut setelah Rendra berhenti menangis dan sudah lebih tenang.


Rendra hanya menganggukan kepalanya mendengar nasehat yang sudah berkali-kali Radit ucapkan ini. Meskipun sudah jatuh berkali-kali tapi Rendra tidak pernah jera dan tetap mengulangnya.


Dan ya, tingkah Rendra yang sangat aktif ini seringkali membuat Sya dan Radit kewalahan. Mereka harus benar-benar memperhatikan Rendra agar tidak melakukan sesuatu yang seringkali membahayakan dirinya sendiri.