
Muach... muach... muach...
Radit terbangun dari tidurnya setelah merasakan kecupan basah di kedua mata dan dahinya. Jangan lupakan juga beban berat yang terasa menindih badan Radit.
"Ayah... Ayah ayo bangun, udah siang, ayo kita main ke pantai." Terdengar suara khas anak kecil yang sudah sangat Radit hafal, siapa lagi kalau bukan Kendra putra sulungnya. Radit memutuskan untuk tetap memejamkan matanya untuk mengerjai Kendra.
"Ayah... " Kendra terus membangunkan Radit seraya menciumi mata Radit.
Tapi tetap saja Radit tidak mau membuka matanya. Hal ini membuat mata Kendra langsung memerah karena menahan tangisnya. Kendra benar-benar merindukan Radit, dan dia ingin pergi bermain ke pantai bersama sang ayah.
"Bunda... Ayah enggak mau bangun." Kendra yang siap untuk menangis langsung mengadu kepada Sya saat melihat Bundanya itu masuk kedalam kamar.
"Mas, aku tau kamu udah bangun. Itu Abang udah mau nangis." Ujar Sya kepada Radit. Dalam sekali lihat saja Sya sudah tau kalau Radit sudah bangun, terlihat dari bola matanya yang bergerak-gerak dan bibirnya yang mengulum senyum.
Mendengar ucapan Sya membuat Radit langsung membuka matanya dan membawa Kendra yang masih diatas badannya ke pelukannya.
"Uuhhh, anak Ayah yang ganteng. Iya ini Ayah udah bangun, jangan nangis ya." Ujar Radit seraya menciumi wajah Kendra.
"Ayah nakal, udah bangun tapi enggak mau buka mata." Ujar Kendra merajuk.
"Jangan ngambek dong Bang, ini kan Ayah udah bangun. Yukk katanya mau main ke pantai." Ujar Radit membujuk Kendra.
Mendengar kata pantai, wajah Kendra langsung berubah menjadi senang.
Sya hanya tersenyum melihat tingkah suami dan anaknya itu.
Tiba-tiba...
Terdengar suara tangisan bayi disamping Radit dan Kendra. Radit seketika langsung menoleh ke samping.
Terlihat baby Rendra menangis seraya menatap kearahnya. Sya yang melihat baby Rendra menangis langsung mengangkatnya.
"Anak Bunda udah bangun ya." Biasanya baby Rendra akan langsung terdiam jika sudah ada di gendongan Sya, tapi kali ini tidak, bayi berusia 4 bulan itu masih saja menangis.
"Sini sayang biar sama aku aja." Ujar Radit kepada Sya. "Abang duduk samping Ayah dulu ya." Ujar Radit meminta Kendra untuk turun dari atas tubuhnya.
Dan ajaibnya begitu baby Rendra di gendong oleh Radit, bayi itu seketika terdiam seraya menatap polos kearah Radit dengan mata bulatnya yang sembab.
"Ooo adek mau di gendong sama Ayah ya, iya... " Ujar Radit seraya menciumi pipi babu Rendra yang semakin gembul itu.
"Adek kangen sama Ayah kayaknya makanya pengen digendong." Ujar Sya menimpali.
"Iya, adek sama Abang kan kangen Ayah, eehh sama Bunda juga kangen Ayah. Abisnya Ayah kelja telus. Pulangnya malem pas atbang sama adek udah bobok." Ujar Kendra dengan polos. "Kata Bunda, Ayah lagi banyak keljaan makanya enggak ikut Abang, adek, Bunda, Oma sama Opa libulan. Jadi sekalang Ayah udah nggak banyak keljaan lagi ya? Uang Ayah udah banyak?" Kendra benar mencecar Radit dengan berbagai pertanyaan.
Radit tersenyum mendengar ucapan Kendra.
Kendra terdiam sejenak mendengar ucapan Radit, kemudian bocah 4 tahun itu menggelengkan kepalanya.
"Enggak, Abang enggak mau beli apa-apa. Mainan Abang di lumah udah banyak. Uangnya buat Ayah aja bial nanti Ayah enggak kelja-kelja lagi." Jawab Kendra seraya menatap polos Radit.
Sya yang mendengar ucapan Kendra benar-benar merasa terenyuh. Tidak menyangka kalau Kendra ternyata masih mengingat ucapannya sendiri, Kendra pernah bilang kalau dia tidak akan minta beli mainan lagi biar Radit tidak terlalu sibuk bekerja mencari uang untuknya membeli mainan.
Radit terdiam, jujur dia sangat-sangat merasa bersalah. Mungkin Kendra berpikir kalau Radit sibuk bekerja agar uangnya banyak dan bisa membelikan dia mainan. Dan jika sebelumnya Kendra akan mudah mengungkapkan keinginannya untuk membeli mainan atau sesuatu yang lainnya, Radit yakin kalau dalam beberapa waktu kedepan Kendra akan menahan semua keinginannya. Dan Radit tidak mau itu sampai terjadi. Radit bekerja keras agar bisa memenuhi apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan anak-anaknya. Radit tidak mau Kendra menjadi anak yang suka memendam nantinya.
"Enggak papa, Abang maunya apa? Uang Ayah udah banyak banget soalnya." Ujar Radit kepada Kendra.
Kendra menoleh kearah Sya yang sedang menatapnya.
"Benelan Bunda uang Ayah udah banyak banget?" Tanya Kendra dengan polos.
Sya hanya menganggukkan kepalanya. Sya juga merasa bersalah, dia yang mengatakan kalau Radit bekerja agar bisa membeli mainan untuk Kendra dan baby Rendra. Tapi itu Sya lakukan agar Kendra tidak berpikir kalau Radit tidak menyayangi mereka lagi seperti yang Kendra pikirkan selama Radit sibuk kemarin.
Melihat Sya menganggukkan kepalanya Kendra langsung percaya kalau uang Radit memang sudah sangat banyak.
"Sekalang Abang belum mau mainan, Abang mau main di pantai sama Ayah." Ujar Kendra dengan semangat. Seminggu di Bali membuat kulit Kendra sedikit menggelap karena sering bermain di pantai.
"Ya udah Abang sekarang sarapan dulu ya, kayaknya tadi Bunda liat Oma udah nyiapin sereal Abang. Biar Ayah mandi dulu, abis itu kita pergi ke pantai bareng-bareng." Ujar Sya kepada Kendra.
Tanpa diminta 2 kali Kendra langsung menuruti ucapan Bundanya, dia langsung keluar dari kamar untuk menemui Omanya.
Tinggallah disini Radit, Sya dan baby Rendra yang sedang asik menghisap jempol tangannya.
"Maaf Mas, aku yang bilang kalau kamu kerja buat beli mainan Abang dan adek. Aku mencoba untuk mengalihkan Kendra yang berpikiran kalau kamu sudah tidak sayang lagi sama kita karena terus sibuk kerja dan tidak pernah menemani Kendra bermain lagi. Aku pikir Kendra akan senang kalau tau kamu kerja agar dia bisa beli mainan, ternyata Kendra justru merasa kalau dirinya adalah beban untuk kamu. Kendra bahkan bilang sama aku kalau dia tidak akan meminta untuk membeli mainan lagi agar kamu tidak terlalu sibuk bekerja." Ujar Sya seraya menundukkan kepalanya tidak berani menatap Radit.
Radit meletakkan baby Rendra di ranjang kemudian menghampiri Sya.
"Aku enggak marah sama kamu. Aku tau kamu pasti bingung bagaimana menjelaskannya kepada Kendra. Disini yang harus disalahkan memang aku. Aku yang sudah mengabaikan kalian sampai-sampai membuat Kendra berpikir kalau aku tidak menyayanginya lagi." Ujar Radit dengan lembut. "Apa yang kamu lakukan sudah benar sayang. Terima kasih karena sudah dengan sabar merawat Kendra dan Rendra tanpa adanya peran aku selama beberapa bulan ini. Dan terima kasih sudah mau memaafkan aku." Ujar Radit seraya memeluk tubuh Sya.
.
.
.
Jangan lupa buat baca juga Laras for Dani ya😂
Jangan lupa kritik dan sarannya, kasih tau aku juga kalau ada typo 😂
*Terima Kasih😘**💕*