
" Ndreee... " Panggil Radit tiba-tiba kepada Andre yang sedang menyiapkan berkas-berkas perusahaan anak cabang.
" Ada apa Pak? " Tanya Andre seraya mengalihkan perhatiannya ke arah Radit yang sedang terduduk di kasur hotel.
" Kamu tau siapa dia? " Radit menyodorkan ponselnya kepada Andre. Seketika Andre mengernyitkan dahinya. Apa bosnya ini sedang memata-matai Sya? Atau dia memang sedang tidak ada kerjaan hingga memantau para pekerjanya satu persatu?
" Itu Mbak Sya Pak." Jawab Andre pada akhirnya.
" Saya juga tau kalau itu Maureen. Yang saya tanyakan siapa laki-laki itu? laki-laki yang sedang berduaan dengan Maureen. " Tanya Radit dengan tidak sabar.
" Mbak Sya tidak sedang berduaan Pak, lihat di sebelah kiri pojok, itu masih ada wanita lain Pak. " Andre semakin aneh dengan pertanyaan dan tingkah laku Radit. Untuk apa bosnya itu menanyakan sesuatu yang bahkan saat ini sedang tidak berhubungan dengan pekerjaan mereka.
" Kamu tinggal jawab saja. Tau tidak siapa laki-laki itu? " Radit berusaha meredam emosinya karena berbicara dengan Andre saat ini membuat darahnya menjadi naik. Kenapa Andre menjadi lemot? Tidak seperti Andre yang cepat tanggap seperti kemarin-kemarin.
" Itu Leo, staf akutansi di divisi 2 bersama Mbak Sya. Dan wanita yang ada disebelah dipojok itu namanya Dian. Di divisi 2 ada satu lagi karyawan laki-laki yang bernama Tio. Laki-laki yang waktu itu sempat bertemu dengan kita dilift bersama Mbak Sya juga. " Pada akhirnya Andre memahami maksud pertanyaan Radit. Sepertinya bosnya ini sedang cemburu melihat interaksi antara Sya dengan Leo.
" Mereka terlihat sangat akrab." Gumam Radit pelan yang masih dapat terdengar oleh Andre.
" Sudah pasti mereka dekat dan akrab Pak. Secara mereka satu divisi. Dan lagi, Mbak Sya merupakan wanita yang cukup humble dengan orang lain." Ujar Andre menanggapi gumaman dari Radit.
" Tapi Maureen tidak pernah sedekat itu dengan saya. Padahal kita sudah memutuskan untuk mulai menjalin hubungan pertemanan." Ujar Radit. Mungkin tanpa sadar Radit sedang curhat kepada asisten pribadinya itu.
" Anda berteman dengan Mbak Sya? " Tanya Andre dengan terkejut.
" Iya, kenapa? " Radit bingung dengan respon Andre yang sepertinya sangat berlebihan.
" Kok bisa sih Pak? Mbak Sya tidak menolak gitu? " Pertanyaan Andre ini sudah sangat kurang ajar menurut Radit. Bagaimana bisa Andre berbicara seperti itu kepada dirinya yang merupakan atasan Andre.
" Maksud kamu apa? Saya tidak cocok gitu berteman dengan Maureen? " Tanya Radit dengan suara dinginnya.
" Bukan begitu Pak, tapi... " Andre tersadar dengan ucapannya yang sedikit lancang itu. Tapi ya mau gimana lagi, dia sudah terlanjur heran dengan kedua orang itu. " Bapak kan kemarin berantem cukup hebat sama Mbak Sya. Karena sikap bapak yang sudah sangat brengsek itu. Tapi kenapa Mbak Sya masih mau berteman dengan Anda? Kalau saya jadi Mbak Sya, jelas aja saya tidak mau berteman dengan Anda setelah apa yang terjadi kemarin." Andre dengan berani mengungkapkan apa yang ada di pikirannya kepada Radit.
" Sudah tidak usah dibahas lagi yang itu. Saya juga sudah mengakui kesalahan saya. Apa salahnya kalo saya ingin memulai sebuah hubungan dengan benar." Jawab Radit pelan namun dalam. Radit sudah menyadari kesalahan yang dia lakukan kepada Sya tempo hari.
" Baguslah kalau Bapak sudah menyadari kesalahan Anda sendiri." Jawab Andre dengan berani. Dia tidak salah bukan dengan berkata seperti itu? Toh ini juga demi kebaikan kedua belah pihak.
Radit memilih untuk diam saja tidak menanggapi perkataan Andre.
" Mereka sedang membicarakan apa? Kenapa laki-laki itu sampai tertawa seperti itu." Ujar Radit dengan suara pelan. Dia merasa penasaran dengan pembahasan yang sedang Sya dan Leo bicarakan.
" Perlu saya pasang penyadap suara dimeja Mbak Sya, Pak? " Tanya Andre tiba-tiba. Radit tau jika saat ini Andre sedang berusaha untuk menggodanya.
" Tidak usah, kamu lanjutkan saja pekerjaan yang tadi. " Radit beranjak dari ranjang kearah sofa. Menutup sambungan CC tv ruangan kerja di divisi Sya kemudian mulai mengecek e-mail yang masuk.
" Pak Radit jatuh cinta kan sama Mbak Sya." Ujar Radit mengejutkan Radit.
" Nggak usah sok tau kamu. Lagian kenapa juga kamu ikut campur urusan pribadi saya. " Jawab Radit dengan ketus.
Sedangkan Andre yang ada dibelakang Radit hanya tersenyum kecil melihat bosnya yang tampak sedang salah tingkah itu. Sudah pernah menikah bahkan sudah memiliki anak ternyata tidak membuat seseorang bisa bersikap biasa saja jika itu mengenai cinta, pasti akan ada hal baru yang mereka temukan diberbagai banyaknya cinta. Entah itu cinta keluarga, anak, sahabat, atau bahkan pasangan. Ujar Andre dalam hati.
Tidak terasa sudah hampir pukul 12 siang. Sebentar lagi Radit dan Andre akan melakukan kunjungan anak perusahaan. Namun sebelum itu, Radit ingat jika saat ini merupakan jam istirahat kantor pusat. Dengan wajah semangat seperti remaja yang sedang kasmaran, Radit mengirimkan pesan kepada Sya.
Bunda Maureen
*Sudah jam istirahat kan? Jangan lupa makan siang biar kamu kuat kerja sampai sore nanti.
send*....
" Bapak ingin makan siang apa? " Tanya Andre kepada Radit.
" Kita pergi ke tempat makan khas Semarang saja. " Jawab Radit seraya mengambil dompetnya.
.
.
" Ughhh... Akhirnya kelar juga ni pekerjaan." Ujar Sya seraya merentangkan kedua tangannya agar tidak kaku.
" Mau makan siang dimana? " Tanya Dian menghampiri meja Sya. Disusul Leo dan juga Tio.
" Pindah tempat makan yuk, kita cari suasana baru. Tapi cari yang murah aja kayak di cafetaria kantor. " Jawab Sya seraya tertawa kecil.
" Kalau gitu di KFC deket gedung olahraga aja. " Ujar Leo memberikan usulnya.
" Ayok. " Jawab Sya, Dian, dan Tio serempak.
Mereka berempat beranjak keluar dari ruangan kerja yang membuat otak mereka seperti mendidih itu.
ting...
Ponsel Sya berbunyi tanda sebuah pesan masuk.
Ternyata dari Direktur Galak.
" Tumben sekali Pak Direkturnya itu menanyakan hal sepele seperti ini." Ujar Sya dalam hati. Sangat aneh menurut Sya dengan perubahan Radit dari cuek dan arogan ke Radit yang hangat dan friendly. Sya belum terbiasa dengan sikap Radit yang seperti itu.
" Iya Pak, ini saya juga sedang makan." Jawab Sya singkat.
ting....
Direktur Galak
Kamu makan siang sama siapa?
" Lah ini kenapa jadi kepo banget sih dia." Sya merasa semakin aneh dengan perubahan yang terlalu drastis itu.
" Sama temen-temen Pak." Ya. Lagi-lagi hanya Sya balas dengan singkat. Bukan apa-apa, hanya saja Sya tidak tau harus membalas atau bertanya apa kepada Radit.
ting....
Direktur Galak
Makan siang pake apa? Jangan terlalu banyak junk food tidak baik untuk kesehatan.
" Makan siang di KFC Pak."
ting....
Direktur Galak
Kenapa tidak makan ditempat lain saja? Kan banyak tempat makan enak dengan menu yang lebih sehat.
" Lah ini orang kenapa sih? " Ujar Sya dalam hati.
" Sudah terlanjur makan disini Pak. Dan disini juga menunya murah-murah. Sesuai dengan kantong karyawan." Jawab Sya membalas pesan Radit.
ting...
Direktur Galak
Kode mau minta naik gaji ya?