
Sudah beberapa hari ini Sya sedang merasa tidak enak badan. Entah karena apa, yang jelas saat ini tubuhnya terasa lemas, tidak nafsu makan dan menjadi lebih sering merasa mengantuk. Radit yang menyadari Sya sedang tidak baik-baik saja tentu saja langsung melarang istrinya itu untuk berangkat ke kantor. Namun memang dasar Sya yang kadang bisa keras kepala itu tidak mengindahkan ucapan Radit. Sya terus memaksa untuk berangkat kerja dengan alasan dia sudah ijin selama 2 hari. Yaitu saat Sya berencana membujuk Kendra agar mau berangkat sekolah dan saat Sya menunggui Kendra sekolah sampai pulang.
" Udahlah yank, nggak usah masuk aja. Kamu istirahat aja di rumah. " Ujar Radit kepada Sya. Namun tetap saja Sya menolaknya.
" Nggak papa Mas, aku cuman capek sedikit aja kok. Lagian nanti di kantor juga lagi nggak terlalu banyak kerjaan. Jadi aku masih bisa istirahat kan. Atau kalo nggak nanti aku istirahat di ruangan kamu. " Jawab Sya berusaha mendapatkan ijin Radit agar mengizinkannya berangkat ke kantor.
" Beneran? Tapi janji ya, kalo kamu emang ngerasa tambah nggak enak kamu langsung hubungi aku. " Ujar Radit memberikan persyaratan kepada Sya.
" Iya Mas, lagian kamu kan juga bisa mantau aku dari CC TV kayak biasanya kan. " Ujar Sya menggoda Radit. Memang benar kan kalau Radit itu selalu memantau Sya melalui CC TV?
" Kamu ini. Ya udah kamu siap-siap dulu sana. Biar urusan Kendra aku minta tolong ke Mbak Tinah aja. Sekarang kamu jangan capek-capek dulu." Ujar Radit kepada Sya.
Sya mengiyakan ucapan Radit. Meski sebenarnya Sya ingin mengurus Kendra seperti biasanya, tapi karena mendapat ijin Radit itu sulit, jadi Sya hanya bisa menurutinya. Dari pada nanti malah Sya di larang untuk berangkat ke kantor kan.
Hari ini Sya juga tidak turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan karena Radit memintanya untuk istirahat lebih lama. Jadilah sarapan mereka kali ini di siapkan oleh Mbok Inah.
Radit yang masih menggunakan pakaian melihat Sya keluar dari kamar mandi mengambil barang yang perempuan butuhkan setiap beberapa hari dalam sebulan.
" Kamu lagi datang bulan yank? " Tanya Kendra kepada Radit.
" Hehehe, iya Mas. " Jawab Sya dengan malu. Biasanya Sya meletakkan stok di kotak yang tergantung di kamar mandi untuk menyimpan stok peralatan mandi mereka. Tapi ternyata habis dan Sya harus mengisinya lagi.
" Berarti selama seminggu ini aku puasa dong. " Ujar Radit menghela nafas berat. Kalau dipikir-pikir Radit pernah menduda selama hampir 4 tahun dan dia bisa menahannya. Tapi sejak menikah dengan Sya, seminggu itu terasa sangat lama.
" Sabar ya Mas, aku turut prihatin. " Ujar Sya menampilkan wajah sedihnya. Padahal dalam hati Sya bersorak senang melihat ekpresi dari Radit.
" Berarti aku harus jauh-jauh dari kamu, takut khilaf. " Ujar Radit seraya terkekeh geli.
Setelahnya Sya kembali ke kamar mandi untuk melanjutkan rutinitas paginya. Kepalanya sedikit pusing tapi Sya mencoba untuk menahannya.
Hampir setengah jam Sya bersiap akhirnya dia turun untuk sarapan. Terlihat di meja makan ada Radit dan Kendra yang sudah rapi dengan pakaian masing-masing. Radit dengan setelah jas dan celana bahannya sedangkan Kendra dengan seragam sekolahnya.
" Selamat pagi. " Ucap Sya dengan ceria. Dia berusaha mengalihkan rasa pusingnya dengan bersikap seperti biasa. Wajah pucatnya Sya tutup dengan lipstik nude pink yang membuat bibirnya terlihat lebih segar.
" Selamat pagi Bunda. Kata Ayah Bunda sakit? Emangnya Bunda sakit apa? " Tanya Kendra begitu melihat kedatangan Sya. Sedangkan Radit saat ini sedang melihat koran yang sedang di bacanya.
" Enggak sakit apa-apa kok, Bunda cuma sedikit pusing aja tadi. Tapi sekarang udah sembuh kok. " Jawab Sya seraya tersenyum.
Radit memperhatikan wajah Sya yang lain dari biasanya. Memang wajahnya tetap merona karena polesan make up nya. Ditambah tidak biasanya Sya menggunakan blush on seperti ini.
" Ya udah yuk sarapan. " Ujar Sya kepada Kendra dan Radit. Seperti biasa Sya akan mengambilkan makanan ke dalam piring Radit. Dan hari ini sarapan mereka adalah nasi goreng. Sedangkan Kendra tetap konsisten dengan serealnya.
Tapi melihat nasi goreng yang biasanya menggiurkan itu untuk kali ini Sya bahkan tidak tergoda sama sekali. Entah kenapa rasanya malas saat melihat butiran nasi itu.
Tatapan Sya beralih kepada roti tawar yang biasanya di makan untuk menggantikan nasi. Tapi tetap saja Sya tidak tertarik. Perutnya lapar tapi tidak ada satupun makanan yang menarik perhatian Sya saat ini.
" Loh kamu nggak sarapan? " Tanya Radit yang melihat piring Sya masih kosong.
" Aku lagi nggak laper Mas. Pengen buat jus alpukat aja deh kayaknya. Di kulkas masih ada nggak yah. " Ujar Sya seraya bangkit dari duduknya. Kemudian menuju dapur dan membuka pintu kulkasnya untuk mencari apakah ada buah yang dicarinya. Dan beruntungnya Sya menemukan buah alpukatnya. Segera saja Sya membuat apa yang dia inginkan.
Sya kembali ke meja makan dengan segelas jus alpukat.
" Tumben kamu pengen jus alpukat pagi-pagi begini? "Tanya Radit dengan heran.
Radit hanya menganggukan kepalanya.
" Kalo nggak mau makan nasi ganti aja pake roti. Setidaknya biar perut kamu isi sayang. " Ujar Radit kepada Sya.
" Ini aja Mas. Cukup kok buat perut aku kenyang. Eehm, kalo nggak nanti aku sarapan di kantor aja. " Jawab Radit.
" Maaf Mbak, menurut feeling saya sepertinya Mbak Sya sedang isi deh. " Ujar Mbok Inah. Sedari tadi dia memang ikut mengamati perubahan wajah Sya bagaimana saat dia melihat nasi goreng dengan kernyitan di dahinya. Padahal biasanya Sya menyukai nasi goreng buatan Mbok Inah.
Radit yang mendengar ucapan Mbok Inah itu terdiam di tempatnya. Radit tau maksud kata isi yang di ucapkan oleh asisten rumah tangganya itu. Tapi tadi Sya bilang kalo saat ini sedang datang bulan. Dan Radit melihatnya sendiri Sya mengambil bungkusan pemb*l*t.
" Isi? Maksudnya isi apa Mnok? " Tanya Sya tidak paham.
" Hamil Mbak. " Jawab Mbok Inah.
" Haha, enggak kok Mbok, tadi pagi aja aku baru dapet tamu. " Jawab Sya seraya tertawa kecil. Bagaimana bisa hamil kalau tadi saja Sya melihat bercak darah di ****** ********, itu berarti Sya sedang kedatangan tamu bulanannya kan?
Setelah selesai sarapan mereka segera berangkat. Tentu saja mengantarkan Kendra terlebih dahulu ke sekolahnya. Begitu Kendra turun dari mobil dan masuk kelas, Sya langsung menyandarkan kepalanya ke kursi.
" Kamu kenapa?" Tanya Radit kepada Sya.
" Sedikit ngantuk Mas. " Jawab Sya asal. Padahal sebenarnya kepala Sya saat ini merasa pusing.
" Ya udah kamu tidur dulu aja, nanti aku bangunin kalo udah sampe. " Ujar Radit.
Sya hanya menganggukkan kepalanya.
Sepanjang perjalanan Sya tidak benar-benar tidur, dia hanya memejamkan matanya.
Tidak beberapa lama kemudian, Sya merasakan mobilnya berhenti. Sya membuka matanya sebelum Radit membangunkannya.
Dan seperti biasa Sya akan mampir terlebih dahulu keruangan Radit untuk memakaikan dasi sang suami.
" Kamu beneran nggak papa? " Tanya Radit menatap Sya dalam.
" Iya Mas, emang aku kenapa? " Jawab Sya seraya tersenyum.
Radit hanya diam tidak menjawab ucapan Sya.
" Ya udah aku keluar dulu ya Mas. Selamat kerja. ".Ujar Sya seraya mencium tangan Radit. Begitu juga dengan Radit yang membalasnya dengan mencium bibir Sya sekilas.
" Kalo ada apa-apa langsung hubungi aku. " Ujar Radit kembali mengingatkan Sya.
" Iya Mas. " Setelahnya Sya keluar dari ruangan Radit.
Baru 10 menit Radit duduk di kursinya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Panggilan dari Andre.
" Hhmmm... " Jawab Radit singkat.
"..... "
Mendengar ucapan Andre, dengan tergesa-gesa Radit berlari keluar dari ruangannya. Radit bedoa semoga Sya baik-baik saja.