
" Andre, tolong panggilkan Maureen untuk ke ruangan saya. " Ujar Radit melalui sambungan interkomnya. Namun sebelum Andre menjawab ucapan Radit, bosnya itu dengan seenaknya langsung mematikan sambungannya.
" Sabar, untung bos kasih gaji gede. " Ujar Andre dalam hati.
Andre bergegas untuk keruangan Sya karena sebentar lagi jam istirahat. Jika kalian bertanya kenapa Radit tidak menghubungi Sya langsung itu karena Sya sering kali mensilent ponselnya selama bekerja, dan dari pada Radit kesal karena panggilannya tidak dijawab oleh gadisnya itu lebih baik Radit menugaskan Andre untuk memanggil Sya.
Tok... tok... tok...
Andre masuk keruangan kerja Sya setelah mengetuk pintu terlebih dahulu dimana ruangan divisi 2 itu ada Dian, Leo, dan juga Tio.
Teman-teman Sya terbiasa dengan kedatangan Andre yang datang untuk memberitahu Sya agar ke ruangan Radit.
" Pasti mau panggil Sya suruh ke ruangan Pak Direktur kan Mas? " Ujar Dian kepada Andre.
" Iya Mbak Dian. " Jawab Andre seraya tersenyum manis.
Sya menolehkan kepalanya yang sedari tadi fokus dengan pekerjaannya sampai tidak tau jika ada orang yang masuk ke ruang kerja mereka.
" Mas Andre, kenapa Mas? " Tanya Sya.
" Biasa Mbak, Mbak Sya disuruh keruangan Pak Bos habis ini. " Ujar Andre memberitahu maksud dan tujuannya datang kesini.
Sya hanya menganggukkan kepalanya malas.
" Kalau gitu saya pamit dulu Mbak, permisi. " Ujar Andre kemudian berlalu dari ruangan ini.
Fyi, Teman-teman satu divisi Sya sudah tau jika Sya adalah kekasih dari Direktur mereka. Tidak hanya Dian, Leo, dan Tio sebenarnya, ada juga Pak Sean kepala divisi mereka dan juga Lisa sekretaris Radit.
Kejadian ini terjadi tepat sebulan yang lalu dimana saat itu Sya dan Radit baru saja pulang dari Semarang setelah pernikahan Fardan dan Asti.
*flashback
" Sya jadi kamu ada hubungan sama Pak Radit? " Tanya Tio dengan tenang begitu sampai di ruang kerja mereka. Tentu saja disana ada Leo dan Tio.
Sya dan Dian yang mendengar ucapan Tio langsung panik sendiri, pasalnya hanya Dian yang tau jika Sya menjalin hubungan dengan Radit.
" Haaa? Kamu tau darimana? " Sya yang kaget mendengar pertanyaan Tio tanpa sadar justru mengeluarkan kalimat yang seolah membenarkan pernyataan Tio.
" Jadi bener Sya? " Tanya Tio memastikan.
" Eehhh... Apa? " Sya bingung tidak tau harus menjawab apa.
" Lo pacaran sama Pak Direktur? Wahhh hebat banget lo bisa menaklukkan gunung es macam dia. " Kali ini suara Leo yang ikut nimbrung dalam pembicaraan.
Posisi Sya saat ini seperti sedang diapit oleh ke tiga orang itu karena kebetulan Sya sedang mengambil air minum di dispenser. Dian, Leo dan Tio saat ini tepat berada di depan Sya seperti akan mengintrogasinya.
Dian dengan wajah cemasnya karena dia tidak pernah merasa membocorkan status Sya, Leo dengan wajah bangganya, sedangkan Tio dengan wajah tenang menunggu jawaban dari Sya.
" Kalian kata siapa aku pacaran sama Pak Radit? " Tanya Sya gugup.
" Lo kok grogi gitu, kalau pun iya nggak papa kali. Guru malah bangga punya temen yang tahan banting kayak lo karena bisa bersama Pak Kutub. " Benar-benar kurang ajar Leo ini. Kalau ada Radit mana berani Leo mengatakan itu dengan lantang seperti saat ini.
" Aku liat kamu turun dari mobil Pak Radit waktu kamu di anter pulang ke kosan. Aku nggak sengaja lewat sana. " Ujar Tio menjelaskan dengan tenang.
" Iya itu aku sama Pak Radit. " Jawab Sya lirih. Akhirnya dia mengakui karena sudah tertangkap basah. Mau bagaimana lagi kan? Mencari alasan sudah tidak bisa Sya lakukan.
" Jadi bener kalian pacaran? " Tanya Leo dengan antusias.
" He.em." Jawab Sya mengangguk.
" Gue bangga sama lo Sya. " Ujar Leo seraya menepuk pundak Sya pelan. Maklumi saja, Leo memang sering bertingkah absurd.
Tio terdiam di tempatnya. Dalam hati dia merasa kecewa karena dia kalah start dengan bosnya sendiri. Tapi kalau pun Tio menyatakan perasaannya kepada Sya apa mungkin gadis itu mau menerimanya? Secara dia kalah segalanya dari Radit. Mulai dari jabatan, kekayaan, dan tampangnya.
" Udah hampir 6 bulan yang lalu. " Jawab Sya dengan jujur.
" What 6 bulan? Gimana bisa lo nyembunyiin hubungan sama Pak Radit sampai selama ini. Lo nggak ada niatan go public gitu? " Saat ini Leo berubah menjadi sosok Dian yang super kepo.
" Enggak, aku nggak mau nantinya ada gosip tentang aku dan Pak Radit. " Jawab Sya tenang.
" Emang ada ya yang berani gosipin Pak Radit? Punya nyali banget tu orang kalo sampe berani. " Ujar Leo.
Setelah interogasi selama lebih dari setengah jam oleh teman-temannya ini Sya meminta kepada mereka untuk merahasiakan hubungan dia dengan Radit. Sya masih belum siap kalau harus go public sekarang.
" Sya, sumpah bukan gue yang ngasih tau. " Bisik Dian lirih di telinga Sya setelah mereka duduk di kubikel masing-masing.
" Nggak papa Di, kan tadi Mas Tio bilang dia yang liat sendiri. " Jawab Sya seraya tersenyum, mau bagaimana lagi. Toh dia memang tidak bisa menyembunyikan hubungannya dengan Radit terlalu lama kepada teman-temannya.
Berbeda dengan Dian dan Leo yang antusias dengan hubungan Sya dan Radit. Maka Tio justru menjadi seperti menghindari Sya. Tentu saja Sya menyadarinya. Hanya saja Sya tetap berpura-pura tidak tau agar Tio bisa menyembuhkan hatinya lagi.
Setelah kejadian itu Sya memberitahu Radit. Dan respon Radit tentu saja sangat senang karena satu persatu karyawannya mengetahui hubungannya dengan Sya. Dan tidak lupa juga Radit memberikan pajak jadian seperti yang Radit berikan kepada teman kos Sya dan Pak Didin. Hanya saja kali ini bukan Pizza. Radit membookingkan salah satu restoran sushi termahal di sebuah mall untuk teman-teman Sya. Tadinya Tio menolak untuk ikut, namun setelah dibujuk oleh Leo dan Dian akhirnya dia mau. Tentu saja mereka makan tanpa Radit, karena Radit terlalu sibuk dengan pekerjaannya, dan tugas Radit hanya bagian pembayaran. Sya merasa apa yang Radit lakukan itu sangat berlebihan. Namun tentu saja langsung disanggah oleh Duda beranak satu itu. Radit beralasan jika dia hanya ingin berbagi kebahagiaan dengan teman-teman Sya.
Tentu saja Dian merasa senang karena dia mendapatkan traktiran untuk yang kedua kalinya. Menang banyak bukan?
flashback end*
Jam istirahat sudah tiba.
" Aku duluan ya temen-temen. " Ujar Sya berpamitan kepada Dian, Leo dan juga Tio.
" Oke Sya. " Hanya Dian dan Leo yang menjawabnya.
Setelah terungkapnya status Sya sebagai pacar Radit. Sya mencoba bersikap seperti biasa kepada Tio meskipun laki-laki itu terus menghindarinya.
Sya keluar dari ruang kerjanya dan menuju ruangan Radit.
Lift berhenti tepat di lantai dimana ruangan Radit berada. Sya berjalan keluar dan melewati meja Lisa.
" Selamat siang Mbak Sya. " Ujar Lisa menyapa Sya dengan ramah.
" Selamat siang juga Mbak Lisa. " Jawab Sya ramah.
" Tadi Pak Radit berpesan kalau Mbak Sya bisa langsung masuk saja ke ruangan beliau. " Ujar Lisa memberitahukan pesan Radit kepada Sya.
" Iya Mbak terima kasih ya. Selamat istirahat Mbak. " Ujar sya ramah setelahnya masuk ke ruangan Radit.
Tok... tok... tok...
" Masuk sayang. " Terdengar jawaban dari dalam.
Sya membuka pintu dan langsung masuk kedalam. Terlihat Radit sudah melepas jasnya dan melipat kemeja panjangnya hingga siku, membuatnya terlihat semakin tampan.
" Mau makan apa? " Tanya Radit kepada Sya.
" Apa aja Mas. " Jawab Sya pendek, kemudian duduk di hadapan Radit, mereka masih dipisahkan oleh meja.
" Itu bukan jawaban sayang. " Seperti biasa Radit tidak suka dengan jawaban terserah atau apa aja. Karena bagi Radit jawaban ya harus sesuai dengan keinginan Sya.
" Ayam bakar aja Mas. " Jawab Sya pada akhirnya.
" Good. Itu jawaban yang aku mau. "
Tentu saja Radit tidak akan membelinya sendiri, dia akan menyuruh Andre memesankannya melalui ojek online dan nanti akan ada OB yang mengantarkannya.