
Setelah dari pagi Sya menemani Kendra bermain dan belajar mulai dari menggambar hingga belajar membaca , akhirnya bocah tampannya itu mengantuk. Memang ini sudah jam 1, waktu dimana Kendra biasanya tidur siang.
" Bunda, Kendla ngantuk mau bobok. " Ujar Kendra seraya beranjak dari duduknya dan langsung memeluk Sya.
" Ya udah, bobok di kamar ya. " Ujar Sya seraya mengangkat Kendra dalam gendongannya.
" Mas, aku mau nidurin Kendra dulu ya. " Ujar Sya kepada Radit yang yang sejak selesai makan siang mulai disibukkan dengan berkas-berkas yang tadi pagi diantar oleh Andre.
Sekedar informasi kalau besok Sya dan Radit sudah mulai bekerja kembali, begitu pula dengan Kendra yang sudah mulai sekolah setelah kemarin hampir 2 minggu meliburkan diri karena acara pernikahannya dengan Radit.
" Hmmm, iya. Tapi nanti kesini lagi ya. " Jawab Radit seraya menatap Sya.
Sya hanya menganggukkan kepalanya.
Mungkin karena sudah sangat mengantuk, baru 5 menit Sya membawanya ke kamar Kendra sudah tertidur pulas. Sya sengaja menidurkan Kendra di kamarnya sendiri karena menurut Sya lebih aman jika di tinggal karena setiap sisinya bisa dipasang pembatas agar Kendra tidak terjatuh dari ranjang jika saat tidur terlalu banyak bergerak.
Baru saja Sya keluar dari kamar Kendra, terlihat Radit yang sedang berjalan kearahnya.
" Mas kok naik? Udah selesai pekerjaannya? " Tanya Sya kepada Radit.
" Kendra udah tidur? " Radit justru balik bertanya kepada Sya.
" Udah Mas, Mas sendiri belum jawab pertanyaan aku? " Ujar Sya kepada Radit.
" Aku mau istirahat dulu, capek. Temenin yuk sayang. Sekalian kamu istirahat, kamu pasti juga capek kan dari tadi main sama Kendra. " Jawab Radit seraya menggandeng tangan Sya agar masuk ke dalam kamar mereka.
Sya hanya mengikuti langkah Radit.
Setelah mendudukkan Sya di ranjang, Radit menutup connecting door yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Kendra.
" Kok ditutup pintunya Mas? " Tanya Sya kepada Radit.
" Nggak papa, biar Kendra nggak keganggu aja. " Jawab Radit santai.
Radit berjalan menghampiri Sya, kemudian merebahkan dirinya di ranjang. Sedangkan kepalanya saat ini berbaring di pangkuan Sya.
" Kenapa? Mas capek? " Tanya Sya kepada Radit.
" Nggak, sedikit pusing aja. Boleh minta tolong pijitin kepala aku nggak? " Tanya Radit kepada Sya.
" Boleh dong Mas. " Sya mulai memijat kepala Radit.
" Pijitan kamu enak. " Ujar Radit kepada Sya.
" Padahal sebelumnya aku nggak pernah mijitin siapa-siapa. " Jawab Sya seraya tersenyum.
" Wah, berarti aku beruntung dong bisa merasakan pijitan pertama kamu. " Ujar Radit seraya menatap Sya mesra.
" Ini nggak geratis ya Mas. " Ujar Sya menggoda Radit.
" Oke, kamu mau apa sebagai bayarannya? " Tanya Radit seolah menantang Sya untuk segera menghabiskan uangnya. Radit akan suka jika Sya mau menggunakan uangnya untuk kesenangan istrinya itu.
" Hahaha, enggak Mas enggak, aku bercanda kok. " Jawab Sya. Pikir Sya dia salah karena mengucapkan mengenai bayaran. Tentu saja Radit akan dengan mudah memberikan apa yang di minta.
" Yang bener sayang, masa harus selalu aku yang beliin. Sekali-kali kamu pilih sendiri apa yang mau kamu beli. " Ujar Radit menatap Sya.
" Aku lagi nggak pengen apa-apa Mas, lagian setiap yang aku pengen udah kamu beliin. " Sya sudah menghentikan pijitan tangannya di kepala Radit. Saat ini dia sedang bermain dengan rambut Radit yang tebal itu.
" Kalau kamu pengen apa-apa tinggal beli aja, nanti kalo uangnya kurang biar aku transfer. " Ujar Radit dengan santai.
" Emang kalo aku beli ini itu Mas nggak bakal mikir kalo aku matre? " Tanya Sya kepada Radit.
" Enggak, aku malah suka kalo kamu yang porotin. Lagian aku kerja juga buat kamu, Kendra, dan anak kita nantinya. Dan yang perlu kamu tau itu, wanita di katakan matre kalo dia menuntut sesuatu kepada laki-laki yang penghasilannya tidak sebanding dengan yang diminta. Kalo kamu kan aku yang suruh." Jawab Radit dengan tengilnya. Udahlah kalau masalah sombong menyombongkan itu Radit adalah rajanya, terlebih jika itu di depan Sya.
"Haha... Kok suami aku sombong banget sih. " Ujar Sya seraya tertawa.
" Aku sombong cuma sama kamu kok yank. Biar kamu terkesan sama aku. " Jawab Radit santai.
Radit mengangkat sebelah alisnya.
" Mau tanya apa? " Ujar Radit mempersilahkan Sya untuk tuk bertanya.
" Mas mau punya anak berapa dari aku? " Tanya Sya kepada Radit.
" Eehmm, berapa ya. Sebenarnya sih sedikasihnya sama Allah SWT aja. Tapi kalo boleh minta ya minimal 4 lah. " Ujar Radit menjawab pertanyaan Sya.
" Kok banyak banget sih Mas. " Ujar Sya kaget mendengar jawaban yang Radit berikan.
" Kan kamu tanya, ya aku jawab dong sayang. Gimana sih kamu, bikin aku gemes aja. " Ujar Radit seraya menelusupkan wajahnya di perut Sya.
" Terus Mas pengennya anak cewek atau cowok? " Tanya Sya sekali lagi.
" Apa aja boleh yang penting itu anak kita. " Jawab Radit tersenyum.
" Iya deh iya. Tapi... ehhhmmm... " Sya menghentikan ucapannya.
" Kenapa? " Tanya Radit.
" Kalo misal kita nggak dikasih rejeki itu sama Allah gimana Mas? " Tanya Sya kepada Radit.
Radit terdiam sejenak, dia bangkit dari pangkuan Sya dan menatap istrinya itu dalam. Kemudian meraih kedua tangan Sya.
" Kamu nggak perlu cemas soal itu sayang. Ada atau tidaknya anak di antara kita tidak menjadi masalah buat aku. Dan kita sudah punya Kendra kan? Apa kamu menyayangi Kendra? " Tanya Radit kepada Sya.
" Aku sayang banget sama Kendra, aku sudah anggap Kendra sebagai anak aku sendiri. " Ujar Sya menjawab pertanyaan Radit.
" Nah itu, jadi kalau pun kita memang tidak di percayai mendapat anugrah terindah dari Allah SWT itu, aku rasa Kendra juga sudah lebih dari cukup untuk kita. Itu semua tidak akan merubah rasa cinta aku ke kamu. Hidup kita akan tetap sempurna meski hanya bertiga, dan adanya anak lagi adalah menambah kesempurnaan kita. " Jawab Radit menatap Sya lembut.
" Terima kasih Mas. " Ujar Sya balas menatap lembut Radit.
" Sekarang jangan pikirkan itu. Kita hanya perlu berdoa dan berusaha sayang. Untuk hasilnya kita serahkan saja kepada Allah SWT. Dan yang perlu kamu tau, tujuan aku menikahi kamu agar kita bisa hidup dalam susah dan senang serta menua bersama sampai ajal memisahkan kita. Aku tidak pernah menganggap kamu sebagai pabrik pencetak anak utk untuk aku sayang. Bahkan jika kamu memutuskan untuk tidak mempunyai anak pun aku akan setuju. Aku tidak mau memaksakan sesuatu yang malah membuat kamu merasa tidak nyaman." Ujar Radit seraya mencium dahi Sya.
Sya merasa lega mendengar jawaban dari Radit, dia tidak menyangka jika pemikiran Radit akan se open itu mengenai kehadiran anak dalam pernikahan.
" Gimana kalo sekarang kita usaha buat dedek bayinya. Aku yakin usaha nggak akan menghianati hasil sayang. " Radit berusaha mencairkan suasana sedih yang tadi tercipta karena pertanyaan Sya.
" Mass ihh,. " Ujar Sya dengan wajah memerahnya.
" Mumpung Kendra masih bobok sayang, dan Kendra kan biasanya boboknya sampe sore. Lagian ini bukan pertama kalinya kita ngelakuin itu. Kok kamu masih malu-malu aja sih. " Radit mulai menggoda Sya.
" Tapi kan ini masih siang Mas. " Jawab Sya dengan pipi yang semakin memerah.
" Emang ada larangan kalo buat dedek bayi itu nggak boleh siang-siang. Emang siapa yang bikin? " Tanya Radit kepada Sya.
" Ya aku nggak tau, kan Mas Radit yang lebih berpengalaman. " Jawab Sya dengan polosnya.
" Ya karena aku lebih berpengalaman makanya kamu nurut aja sama aku sayang. " Ujar Radit tengil.
" Nggak nanti malem aja Mas? " Ujar Sya masih bernegosiasi dengan Radit.
" Enggak, siang aja. Aku pengennya sekarang sayang. Ingat kan kalo..... " Belum selesai Radit mengucapkannya Sya sudah menyambungnya.
" Nolak perintah suami itu dosa. " Setelah menikah hampir 2 minggu dengan Radit Sya menjadi hafal kata-kata itu di luar kepala.
" Pinter istrinya Mas Radit. " Ujar Radit seraya mengusap puncak kepala Sya.
" Jangan kelamaan sayang, ayolah... " Ujar Radit dengan tidak sabar.
" Ehmm, pintunya udah di kunci belum Mas? " Sya masih saja bertanya disaat seperti ini.
" Udah sayang, udah. Semua udah aku kunci. " Jawab Radit ngegas.
Dan terjadilah....................................................