Baby... I Love You

Baby... I Love You
Kumpul keluarga



Sesuai dengan yang sudah di rencanaka beberapa waktu yang lalu, Besok Sya, Radit dan yang lainnya akan ke Jogja untuk mengadakan acara 7 bulanan kehamilan Sya.


Dan untuk sekarang ini Sya, Radit dan Kendra ada di rumah keluarga Radit. Tidaak hanya ada mereka saja, kali ini Rida dan Raga juga ikut serta dalam acara keluarga ini. Mereka datang dari Bandung sudah 2 hari yang lalu, tentu saja bersama anak mereka Aurel. Rencananya mereka akan menggunakan private jet untuk besok ke Jogja. Tentu saja ini atas dasar keinginan dari Mama Riana. Beliau tidak mau kalau Sya merasa tidak nyaman jika harus naik pesawat umum. Padahal bagi Sya tidak masalah. Tapi tentu saja titah sang Ibunda Ratu tidak boleh di bantah, dan Papa Riyan memang setuju-setuju saja dengan keputusan yang dibuat istrinya itu. Begitu juga dengan Radit dan Rida.


"Dedek Aulel, bental lagi Abang mau punya adek loh. Dedek Aulel mau punya adek kapan?" Tanya Kendra dengan polos kepada Aurel.


Aurel yang saat ini sudah berusia 2 tahun tentu saja sudah mengerti dengan maksud ucapan Kendra.


"Dedekkk... Ulell naau dedekkk" Yang jelas dari pengucapan Aurel hanya dedek saja. Tapi meski begitu Kendra mengetahui maksud dari ucapan Aurel.


" Nanti dedek Aulel minta sama tante Lida sama Om Laga aja, pasti nanti di buatin. Abang juga minta sama Ayah Bunda makanya sekalang Abang udah mau punya dedek bayi. Tapi yang ini Boy, bukan Girl kayak dedek Aulel." Ujar Kendra memberikan tips agar bisa memiliki adik bayi seperti dirinya kepada Aurel. Dan mengenai ucapan Kendra tentang adiknya yang berjenis kelamin laki-laki itu memang benar adanya. Hasil pemeriksaan kemarin menunjukkan kalau janin yang ada di dalam kandungan Sya memang berjenis kelamin laki-laki. Tadinya Sya dan Radit tetap ingin merahasiakan jenis kelamin anak mereka, tapi karena Kendra terus mengatakan kalau adiknya ini berjenis kelamin laki-laki akhirnya Radit juga menjadi penasaran.


Percakapan antara 2 balita ini membuat semua orang gemas mendengarnya. Terlebih Sya, dia merasa malu dengan ucapan Kendra yang begitu frontal itu, yang tentu saja merupakan ajaran dari sang Ayah, siapa lagi kalau bukan Radit.


"Udah ayo makan malam dulu, mainnya nanti lagi." Ujar Mama Riana kepada 2 cucu tersayangnya itu.


Hari ini memang Mama Riana sengaja tidak memasak. Jadi beliau memutuskan untuk memesan makanan dari Restoran saja.


" Rida, panggil Papa, Radit sama Raga, suruh mereka turun dulu buat makan. Mereka itu kebiasaan kalau udah bahas pekerjaan selalu lupa waktu." Ujar Mama Riana kepada Rida. Saat ini ketiga laki-laki dewasa di rumah ini memang sedang ada di ruang kerja Papa Riyan, tentu saja untuk membahas pekerjaan atau kondisi saham saat ini. Ya meskipun Raga adalah seorang Arsitek sama seperti Fardan kakak Sya, tapi dia juga ikut menanamkan sahamnya di perusahaan keluarga Santoso.


Rida langsung melaksanakan perintah Mamanya itu. Sedangkan Sya ikut membantu Mama Riana menata piring dan makanan.


"Kamu beneran enggak mual kan Sya kalau makan seafood?" Tanya Mama Riana kepada Sya, belaiau sadar kalau orang hamil biasanya lebih sensitif mengenai makanan.


"Enggak kok Ma, beberapa hari ini Sya udah enggak mual lagi kok kalau soal makanan." Jawab Sya seraya tersenyum.


"Alhamdulillah kalau gitu, Mama takutnya kamu malah jadi mual kalau makan seafood."


Mama Riana memng selalu memperhatikan tumbuh kembang kehamilan Sya. Karena bagaimana pun saat ini Sya jauh dari orang tuanya untuk kehamilan pertama, dan itu pasti rasanya sangat berat. Untuk itulah Mama Riana sebisa mungkin membuat Sya tidak merasa kehilangan kasih sayang orang tuanya. Karena Mama Riana sendiri tidak hanya menganggap Sya sebagai menantu, melainkan anak perempuannya sama seperti Rida.


Tidak berapa lama kemudian Papa Riyan turun di ikuti anak dan menantunya itu.


"Kalau udah bahas pekerjaan lupa tuh sama semuanya." Sindir Mama Riana. Dan seperti biasa Papa Riyan hanya tersenyum mendapat omelan sang istri. Berbeda dengan Radit yang tetapa cuek, berbeda juga dengan Raga yang tersenyum tidak enak hati kepada Mama mertuanya itu.


"Ayo makan dulu Ma, marahnya di tunda dulu." Ujar Papa Riyan menggoda Mama Riana.


Hal ini membuat Sya, Rida, dan Raga tertawa kecil dengan tingkah pasangan paruh baya itu. Lagi-lagi Radit tidak peduli dengan sekelilingnya. Yang menjadi fokusnya sekarang ini adalah senyum di bibir Sya.


" Jangan melotot gitu, nanti cucu-cucu kita takut kalau Omanya matanya besar begitu." Ujar Papa Riyan masih saja menggoda istrinya.


Pada akhirnya makan malam mereka berlangsung dengan hangat seperti biasa. Mama Riana dan Papa Riyan merasa begitu bahagia karena anak cucu mereka kumpul semua di rumah ini. Suasana menjadi ramai dan ceria dengan tawa yang tercipata dari Kendra dan juga Aurel. Mama Riana juga senang karena adanya Rida dan Sya bisa dia ajak untuk memilih baju di online shop. Dan kali ini Sya lebih terkjeut karena ternyata Mama Riana itu bisa mengabiskan uang sebanyak puluhan juta untuk sekali belanja. Pantas saja Radit biasa saja saat Sya belanja 16 juta seminggu yang lalu. Ternyata Mama dan adiknya juga tidak berbeda jauh dalam hal berbelanja.


Bagi Sya apa yang dia lakukan kemarin itu adalah salah satu hal terboros yang pernah dia lakukan. Tapi untuk keluarga Radit, Sya justru dapat di katakan terlalu hemat.


Disaat para orang tua sibuk dengan kegiatan masing-masing, ada 2 orang balita yang sudah tertidur di sebuah karpet bulu bersama kucing berwarna abu-abu.


Melihat itu, jadilah para orang tua menyudahi pembicaraan mereka. Ini sudah larut malam dan mereka akan flight ke Jogja jam 7. Sudah waktunya istirahat, terlebih Sya yang sebenarnya sudah menahan kantuk sedari tadi. Tapi karena merasa tidak enak jadi Sya menahannya.


Radit langsung menggendong Kendra ke kamar di ikuti juga oleh Sya.


" Capek? " Tanya Radit kepada Sya.


" Lumayan. " Jawab Sya seraya tersenyum. Memang kakinya sedikit terasa pegal.


" Mau Mas pijitin nggak? " Ujar Radit menawarkan.


Sya tersenyum mendengar Radit yang begitu pengertian itu.


" Boleh... Tapi Mas nggak minta imbalan kan? " Tanya Sya kepada Radit. Jangan pernah lupakan kalau Sya sudah sangat hafal sifat suaminya itu. Hampir mustahil Radit menawarkan untuk memijatnya tanpa ada imbalan.


" Hehehe... Tadinya mau minta yank... Kalau boleh sih. " Jawab Radit seraya tersenyum malu.


" Emang kalau aku bilang enggak boleh Mas bakal terima? " Tanya Sya lagi.


" Ya terima aja sih yank... Tapi kan nolak suami itu dosa. " Jawab Radit tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Sudah bisa di tebak bukan apa yang akan terjadi pada akhirnya?