
" Mas, I Love You. "
Radit terdiam beberapa saat sampai akhirnya tersadar dengan kalimat yang baru saja Sya ucapkan. Kalimat yang Radit tunggu-tunggu akan keluar dari bibir Sya sejak mereka jadian.
" Apa? " Tanya Radit syok.
Sya hanya tersenyum menatap lembut kearah Radit. Lucu sekali melihat wajah Radit yang seperti ini.
" Sayang, kamu tadi ngomong apa? " Tanya Radit dengan wajah sok polosnya.
" Nggak ada pengulangan Mas. Kalau kamu nggak denger ya udah. Aku nggak mau ngulangin lagi. " Jawab Sya tersenyum.
" Kapan sih aku bisa halalin kamu? " Tanya Radit langsung pada intinya.
" Masss..... " Sya tidak menyangka jika Radit akan mengatakan demikian.
" Kenapa? Aku denger kok tadi kamu ngomong apa. I Love You too Maureen. Jadi kapan kamu siap Mas halalin? Kan kamu juga udah cinta sama aku." Radit menatap hangat kearah Sya. Tatapan cintanya sudah tidak bisa ditutupi lagi.
" Mas... " Panggil Sya lirih.
" Hemm... Kenapa? "Jawab Radit dengan suara lembutnya.
" Kamu nggak romantis. " Sekarang gantian Sya yang mengerucutkan bibirnya.
" Kan aku udah bilang dari dulu kalo aku nggak bisa romantis sayang. "
" Belajar Mas kalo nggak bisa. Udahlah, aku ngantuk. " Jawab Sya jutek.
" Iiihss... Kok ngantuk, baru juga ngobrol sebentar sayang. " Radit sepertinya tidak ingin mengakhiri obrolan mereka terlalu cepat.
" Males sama kamu, udah bye. Assalamu'alaikum. " Sambungan video call langsung dimatikan secara sepihak oleh Sya.
" Wa'alaikumsalam calon istri. " Jawab Radit sebelum sambungan video call benar-benar terputus.
Sejenak raut wajah Radit berubah menjadi sangat dingin. Namun seketika juga tatapan Radit melembut saat melihat kearah Kendra. Anak semata wayangnya yang sangat Radit sayangi. Apapun akan Radit lakukan demi kebahagiaan Kendra, Termasuk menekan sedalam mungkin perasaannya. Apa yang tidak kita ketahui tentang Radit? Banyak, sangat banyak.
.
.
Di kamar kosannya, Sya sedang menggerutu sendiri. Bagaimana bisa setelah menyatakan perasaannya kepada Radit, namun balasan laki-laki itu sangatlah tidak romantis.
Kalau dulu memang karena Radit tidak memiliki perasaan kepadanya, tapi sekarang kan berbeda. Radit sendiri yang sudah berulangkali menyatakan perasaan kepada dirinya, tapi tetap saja saat mengajaknya menikah tidak berubah menjadi lebih romantis.
" Untung cinta, kalau enggak mana mau aku sama kamu Mas. " Ujar Sya menggerutu pelan. Ini sudah larut malam dan pastinya penghuni kamar sebelah juga sudah tidur.
Berbeda dengan Sya, setelah video call dan menyatakan perasaannya Sya menjadi tidak bisa tidur. Ada sebuah pemikiran dikepalanya, apa sudah benar keputusan yang Sya ambil dengan memberikan hatinya untuk Radit? Jatuh cinta kepada seseorang yang pernah trauma akan cinta.
Sudahlah, Sya sudah dewasa, dia akan bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Semua keputusan yang sudah dia ambil akan dia teima semua konsekuensinya. Jatuh cinta bukanlah hal buruk, bukan juga suatu hal yang dilarang. Jadi apa salahnya jika Sya memberanikan diri untuk jatuh cinta.Dan sekarang Sya tidak hanya sedang jatuh cinta kepada Radit tapi jatuh cinta juga kepada Kendra.
.
.
Hari ini seperti biasa Sya bangun pukul 5 pagi, karena tidak sedang sholat jadi Sya memutuskan untuk menonton drama Korea agar paginya lebih semangat. Baru setelahnya Sya bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
Rasanya baru 5 menit Sya menonton, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi.
" Wahh, alamat kesiangan ini mah. " Ujar Sya dengan terburu-buru mematikan laptopnya dan berlari kearah kamar mandi.
" Hmmm... Enak kayaknya. " Ujar Sya kepada dirinya sendiri.
Sambil menunggu nasi gorengnya sedikit dingin, Sya akan mengganti baju rumahannya dengan baju kantor.
Membersihkan kamar biasanya Sya lakukan sepulang kantor atau saat dirinya libur, dan hari ini pun seperti itu.
Sudah siap semua, sekarang waktunya untuk sarapan. Nasi goreng dengan telur mata sapi diatasnya dan juga segelas air hangat Sya rasa cukup untuk pagi ini.
Ting...
Ponselnya berbunyi tanda pesan masuk.
Direktur Ganteng
Selamat pagi sayang. Hari ini aku jemput kamu ya. Kita berangkat ke kantor bareng.
Sya kaget membaca pesan dari Radit. Sya ingin menolaknya karena Radit sudah terlalu sering mengajaknya untuk berangkat ke kantor bersama, dan Sya takut jika ada salah satu karyawan kantor yang mengetahuinya. Maka rahasia mereka selama ini akan terbongkar, mereka semua akan tau jika Sya menjalin hubungan dengan Bosnya sendiri.
Mas, aku naik motor aja ya, kapan-kapan aja deh aku berangkat sama kamunya.
Sya tau permintaannya ini akan sia-sia. Karena Radit tidak pernah mengikuti permintaannya jika itu bertentangan dengan Radit. Dan benar saja, tidak berapa lama sebuah notif pesan balasan dari Radit masuk.
ting...
Direktur Ganteng
Iya boleh kok, kamu boleh berangkat naik motor kalo kamu bisa nglewatin aku. Btw aku udah di depan kosan kamu.
Ya, seperti biasa Radit akan menjadi orang yang selalu seenaknya sendiri. Radit tidak pernah menunggu persetujuan dari Sya. Laki-laki itu selalu melakukan apa yang memang ingin dia lakukan.
Jika sudah seperti ini, maka yang dapat Sya lakukan hanyalah menurut. Sudah tidak ada kesempatan lagi untuk menolak ajakan Radit. Dan setiap kali ini terjadi, Sya akan langsung pasrah jika teman-temannya nanti mengetahui hubungan antara dirinya dan Radit.
Ya udah Mas, aku sarapan dulu. Sebentar ya.
Sekarang mau marah pun sudah tidak bisa Sya lakukan. Sya hanya akan terus selalu memahami sifat Radit yang posesif dan seenaknya selama ini masih dalam batas normal.
ting...
Direktur Ganteng
Tidak usah buru-buru sayang. Ini masih terlalu pagi untuk berangkat ke kantor. Kamu makan aja dulu.
Radit tau ini masih terlalu pagi, lalu kenapa sepagi ini dia sudah ada dikosan Sya? Pemikiran Radit memang lain dari yang lain.
Mas tau ini masih sangat pagi kenapa sudah ada dikosan aku sekarang?
Sya tidak bisa menahan tangannya untuk tidak mengetik pertanyaan itu kepada Radit. Setelah semalam saling mengungkapkan perasaan, tetap saja jiwa posesif Radit tidak menghilang.
ting...
Direktur ganteng
Justru karena masih pagi, jadinya kamu belum berangkat ke kantor. Kalau aku jemput kamu lebih siang dari ini sudah dapat dipastikan kamu akan berangkat dengan motor kesayangan kamu itu.
Ya ucapan Radit memang benar, tadi Sya berniat untuk berangkat agak pagi, tapi justru keduluan Radit.
Ya udahlah. Ini aku udah mau keluar kok, bentar ya.