Baby... I Love You

Baby... I Love You
Sambil menyelam minum air



Pulang dari kantor Radit dan Sya langsung ke rumah Mama Riana untuk menjemput Kendra yang tadi sepulang sekolah di jemput Pak Agus. Niat akan ke kosan menjadi tertunda lagi, sebenarnya sudah tidak ada barang penting milik Sya yang tertinggal. Hanya ada baju-baju dan beberapa perabotan.


" Mas beli sesuatu yuk buat Mama. " Ucap Sya kepada Radit yang sedang menyetir itu.


" Heemm? Beli apa emang. " Jawab Radit tetap fokus dengan jalanan yang cukup ramai karena memang jam pulang kerja. Seperti perjanjian yang sudah di sepakati bersama, Sya sudah tidak boleh lembur lagi. Jadilah Sya akan selalu pulang sore.


" Beli lauk aja kali ya, biar nanti Mama nggak usah masak lagi buat makan malam. " Sepertinya bukan ide yang buruk kan datang ke rumah mertua membawakan lauk untuk makan malam.


" Ya udah, berarti kita mampir beli lauk dulu ya. " Jawab Radit menatap lembut Sya.


Sebenarnya ini masih sore kalau untuk makan malam, tapi nggak papa biarlah nanti kan bisa diangetin lagi lauknya.


Akhirnya Radit memberhentikan mobilnya disebuah restoran langganannya. Sya memesan beberapa menu ayam dan sop.


Setelah selesai, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke rumah Mama Riana. Tidak sampai 10 menit kemudian mereka sudah sampai. Seperti biasa rumah terlihat sepi, Mama Riana, Papa Riyan dan Kendra pasti sedang ada di ruang keluarga seperti biasa. Kenapa sore-sore begini Papa Riyan ada di rumah? Itu karena semenjak Radit selesai cuti dan kembali masuk kantor, Papa Riyan juga langsung menyerahkan semua pekerjaannya kepada Radit.


" Assalamu'alaikum. " Salam Sya begitu masuk rumah. Tangannya tidak pernah lepas dari gandengan Radit semenjak mereka turun dari mobil.


Benar saja, tidak ada yang menjawab salamnya. Rumah ini sangat besar hingga membuat setiap ruangannya luas dan bersekat.


Sya dan Radit berjalan menuju ruang keluarga, dan benar saja terlihat Papa Riyan sedang menonton sebuah berita di TV dan Mama Riana duduk disampingnya tengah melihat-lihat majalah fashion. Sedangkan Kendra sedang melakukan hobinya yaitu mewarnai.


" Assalamu'alaikum. " Sya mengulang salamnya kembali.


" Wa'alaikumsalam. " Jawab Mama Riana dan Papa Riyan kompak. " Udah pulang sayang, kok Mama nggak denger suara mobilnya sih. " Tambah Mama Riana.


Sya dan Radit berjalan menghampiri Mama Riana dan Papa Riyan kemudian meraih tangannya untuk mencium tangan seperti biasa.


" Emang dari sini nggak pernah kedengeran suara mobil masuk atau keluar kan. " Jawab Radit cuek seperti biasa.


" Bunda.... " Kendra yang mendengar suara Sya langsung beranjak dari duduknya dan berjalan cepat menghampiri Sya.


" Hey... anak Bunda yang ganteng. " Sya langsung menundukkan badannya dan meraih tubuh Kendra kedalam gendongannya.


" Biasanya kalau Ayah pulang Kendra larinya ke Ayah, kenapa sekarang Ayah seperti nggak kelihatan. " Ucap Radit namun justru tidak mendapat tanggapan apapun dari Kendra, bahkan melirik sedikit pun tidak.


cup... cup... cup...


Kendra mencium kedua pipi Sya dan dahi Sya, dia bahkan mengabaikan Ayahnya.


Radit memutar bola matanya malas, untung saja Kendra anaknya, kalau bukan sudah dia titipkan ke tetangga.


" Jangan keseringan cium-cium, Bunda itu punya Ayah. " Ujar Radit kepada Kendra. Kendra yang mendengar ucapan Ayahnya itu langsung memelototkan matanya tidak terima.


" No, Bunda itu punya Kendla. " Teriak Kendra marah.


" Mas, jangan mulai deh. " Ujar Sya mengingatkan.


Sedangkan Mama Riana dan Papa Riyan hanya menggelengkan kepalanya melihat anak dan cucunya saling berebut perhatian dari Sya.


" Kan emang kamu punya aku, bukan punya Kendra. " Radit masih tidak mau mengalah kepada Kendra.


" Ayah nakal. " Teriak Kendra marah.


" Biarin, yang penting Bunda punya Ayah. " Radit menjulurkan lidahnya seolah meledek Kendra.


Satu...


Dua...


Tiga....


" Hahaha... Gitu aja langsung nangis, masa cowok cengeng sih. " Bukannya membujuk Kendra supaya tidak menangis Radit justru semakin mengejeknya.


" Mas Radit ihhh. " Ucap Sya gemas dengan sikap Radit, sebaliknya Radit justru terus tertawa tanpa rasa bersalah.


" Aw.. aw.. aw... sakit Ma, ini telinga Radit sakit. " Radit memegang telinganya yang di jewer Mama Riana. Sedari tadi melihat Radit yang tidak mau mengalah kepada Kendra membuatnya gemas ingin menjewer telinga putranya itu. Bagaimana bisa sudah menjadi seorang Ayah masih saja tidak mau mengalah dengan anaknya sendiri.


" Biarin, salah sendiri bikin cucu Mama nangis. " Jawab Mama Riana santai.


Papa Riyan hanya tertawa melihat kejadian itu. Begitu pula dengan Sya dan Kendra, bocah tampan itu terlihat bahagia dan langsung tertawa begitu melihat Ayahnya di jewer sang Oma hingga melupakan tangisannya.


...~~~...


Selesai makan malam Sya dan Radit berpamitan kepada Mama Riana dan Papa Riyan untuk langsung pulang.


" Nggak nginep aja sayang? " Tanya Mama Riana kepada Sya.


" Enggak Ma, besok Sya dan Mas Radit kan harus kerja. Kendra juga kan besok masih masuk sekolah. " Ujar Sya menolak permintaan Mama Riana dengan halus.


" Ya udah kalian hati-hati di jalan ya. "


" Assalamu'alaikum Ma Pa. " Ucap Sya.


" Wa'alaikumsalam. " Jawab Mama Riana dan Papa Riyan.


" Kendra salam. dulu sama Oma dan Opa. " Ujar Sya kepada Kendra.


Bocah kecil itu langsung menuruti perintah dari Sya.


" Assalamu'alaikum Oma, Opa. " Kendra mengucapkan salam kemudian mencium tangan merek berdua.


" Wa'alaikumsalam cucu Oma Opa. "


Kemudian barulah Radit yang berpamitan kepada orang tuanya. Biasanya jika dia menjemput Kendra di rumah orang tuanya dia akan langsung pergi begitu saja. Tapi semenjak ada Sya dia di haruskan untuk selalu berpamitan oleh wanita tercintanya itu.


Sepanjang perjalanan Sya dan Kendra menonton video di IPadnya, sedangkan Radit fokus menyetir mobil.


Beberapa menit kemudian...


Dan disinilah mereka sekarang. Mereka ber 3 ada di atas ranjang dengan posisi Radit duduk di dekat kepala ranjang sedangkan Sya tidur dengan menyandarkan tubuh bagian atasnya di dada Radit. Dimana Kendra? Bocah kecil itu sedang tiduran diatas badan Sya seraya menciumi perutnya.


" Dedek bayi udah ada di pelut Bunda belum? " Tanya Kendra dengan polosnya.


Sya terdiam tidak tau harus menjawab apa, tidak mungkin kan dia membohongi Kendra dengan mengatakan dedek bayi sudah ada di perutnya sementara Sya sendiri tau dia belum hamil.


" Bentar lagi, Abang doain aja biar dedek bayinya mau dateng ke perut Bunda. " Ujar Radit menjawab pertanyaan Kendra.


" Dedek bayinya belum mau dateng Ayah? " Tanya Kendra.


" Belum makanya Abang harus berdoa terus minta sama Allah SWT. Terus Kendra nggak boleh minta gendong lagi sama Bunda, nanti Bundanya kecapean. Dan yang paling penting Kendra harus berani bobok sendiri biar dedek bayinya cepet dateng ke perut Bunda. " Jawab Radit terdengar serius.


" Ya udah, mulai sekalang Kendla bakal belani bobok sendili di kamal. " Ujar Kendra dengan polosnya mempercayai semua ucapan Radit.


Tadinya Sya sudah terharu mendengar jawaban yang Radit berikan kepada Kendra. Tapi saat mendengar kalimat terakhirnya perasaan haru itu mendadak sirna. Bisa-bisanya Radit memperdaya Kendra dengan sebuah rencana terselubung.


" Mass... " Bisik Sya berusaha protes dengan ucapan Radit.


" Kan usaha sayang. Sambil menyelam minum air. Biar proses pembuatan dedek bayi juga cepet. " Jawab Radit seraya tersenyum penuh kemenangan.