Baby... I Love You

Baby... I Love You
Positif



Sya keluar dari ruangan Radit dengan sakit kepala yang semakin terasa. Sya pikir dia akan minum obat pereda sakit kepala nanti setelah meminta tolong OB untuk membelikan dia bubur ayam yang ada di dekat kantor.


Selama di dalam lift Sya memijat kepalanya berusaha untuk setidaknya bisa mengurangi rasa pusingnya.


Sya membuka pintu ruang kerjanya, disana sudah ada ke empat temannya yang sedang duduk seraya berbincang.


" Selamat pagi. " Ujar Sya menyapa teman-temannya seperti biasa yang dia lakukan setiap pagi.


" Pagi Sya... " Balas Dian dengan ceria.


" Kamu pucet banget Sya, lagi sakit? " Tanya Tio tiba-tiba.


Seketika Dian dan Leo memperhatikan wajah Sya, dan benar saja, wajahnya terlihat sangat pucat.


" Enggak, cuma lagi sedikit pusing aja kok. " Ujar Sya seraya duduk di kursinya.


" Beneran lo nggak papa Sya? " Tanya Leo kepada Sya.


" Iya, aku nggak papa kok. " Jawab Sya seraya beranjak dari duduknya untuk mengambil minum yang terletak di samping pintu.


Namun baru beberapa langkah Sya beranjak dari duduknya, tiba-tiba saja tubuhnya lemas. Sampai akhirnya Sya tidak bisa menahan matanya untuk tetap terbuka.


" Sya.... " Teriak Dian, Leo, dan Tio bersamaan. Segera saja mereka menghampiri Sya.


Dian berniat untuk memberitahu Radit, tapi baru saja dia keluar dari ruangannya, dia bertemu dengan Andre yang kebetulan sedang lewat.


" Pak Andre.... " Panggil Dian dengan panik.


" Ya kenapa? " Tanya Andre bingung.


" Itu, Sya pingsan. " Jawab Dian yang membuat Andre seketika langsung terkejut.


Tanpa pikir panjang dia langsung menghubungi Radit seraya berjalan menghampiri Sya yang saat ini tengah pingsan. Tubuhnya saat ini sudah Leo dan Tio baringkan di sofa.


Tidak sampai 5 menit Radit datang dengan wajah khawatir yang tidak bisa dia tutupi.


" Mana Maureen? " Tanya Radit saat melihat Dian di depan pintu.


" Di dalam Pak. " Jawab Dian takut-takut.


Radit masuk kedalam ruangan kerja Sya, hatinya mencelos saat melihat tubuh sang istri terbaring tak berdaya di sofa.


" Sayang, kamu kenapa? " Gumam Radit, tangan Sya terasa dingin saat Radit mencoba untuk menggenggam tangan Sya.


" Andre, segera siapkan mobil. Kita ke rumah sakit sekarang. " Ujar Radit memerintahkan Andre. Dengan segera Andre menjalankan perintah bosnya itu untuk menyiapkan mobil.


Radit mengangkat tubuh Sya yang terasa ringan di gendongannya.


...***...


Radit membiarkan Sya di tangani oleh dokter setibanya di rumah sakit.


" Istri saya sakit apa dok? " Tanya Radit kepada sang dokter begitu beliau selesai memeriksa keadaan Sya yang masih pingsan.


" Saya belum bisa memastikan Pak, tapi perkiraan saya saat ini ibu Maureen sedang hamil. " Ujar Dokter Tia seraya tersenyum.


" Tapi saat ini istri saya sedang datang bulan Dok. " Ujar Radit kepada Dokter Tia.


" Nanti setelah Ibu Maureen sadar, Pak Radit bisa langsung memeriksakan kondisi Bu Maureen kebagian Obgyn. Karena saya tidak ada dalam kewenangan menjelaskan mengenai hal itu. Lebih baik langsung kepada ahlinya saja Pak. " Ujar Dokter Tia dengan ramah.


Radit mengangguk mengerti. Setelahnya Dokter Tia berpamitan untuk undur diri. Sedangkan Radit duduk dikursi di samping Sya.


Mendengar ucapan dari Dokter Tia yang menyatakan Sya hamil tentu saja Radit merasa sangat bahagia. Tapi tadi Sya bilang kalau dia sedang datang bulan kan? Pikir Radit bingung. Tunggu-tunggu, kejadian ini pernah terjadi kepada Audrey di awal kehamilan saat mengandung Kendra kan? Kenapa Radit tidak menyadari itu? Betapa bodohnya dia, ditambah Radit baru sadar kalau Sya memang telat datang bulan bulan ini. Bagaimana Radit bisa tau? Tentu saja Radit menghitungnya, ini demi kebaikannya, agar Sya tidak bisa menolaknya dengan alasan datang bulan.


" Andre, tolong nanti kamu langsung hubungi dokter kandungan begitu Maureen sudah sadar. " Ujar Radit kepada Andre yang saat ini sedang duduk di ruang tunggu tepat di depan kamar rawat Sya.


" Baik Pak. " Jawab Radit mengerti.


Radit kembali duduk menemani Sya yang masih belum sadar juga. Di genggamnya tangan Sya lembut.


" Cepat bangun sayang, aku khawatir sama kamu. " Bisik Radit lirih.


...***...


Sya tersadar dari pingsannya setelah hampir 1 jam.


" Aku nggak papa Mas, tadi cuma pusing sedikit doang. Eehh nggak taunya malah pingsan. " Jawab Sya seraya terkekeh kecil seolah ini adalah sesuatu yang lucu.


" Disaat aku cemas seperti ini kamu masih bisa tertawa sayang. " Ujar Radit menggelengkan kepalanya.


" Andre... " Panggil Radit kepada Asisten pribadinya itu.


" Ya Pak. " Andre muncul dari balik pintu yang sedari tadi tertutup.


" Panggilkan dokter seperti yang aku perintahkan tadi. " Ujar Radit kepada Andre.


" Baik Pak. " Andre segera menjalankan perintah dari bosnya.


Sya menatap lembut Radit yang sedari tadi terdiam di kursinya. Tidak ada sepatah kata pun yang Radit ucapkan setelah Andre keluar dari ruangan ini.


Hingga tidak berapa lama kemudian seorang dokter bername tag Lilis masuk kedalam ruangan bersama seorang perawat.


Radit menyingkir dari samping Sya untuk mempersilahkan Dokter Lilis memeriksa keadaan Sya.


Dokter Lilis melakukan pengetesan secara mendetil, di mulai dari detak jantung, tekanan darah, cek urine bahkan cek darah. Sya hanya diam mengikuti perintah dari sang dokter.


Dalam hati Sya merasa cemas memikirkan kalau-kalau dirinya mengidam penyakit berbahaya. Bagaimana dengan orang tuanya nanti? Fardan? Radit dan Kendra? Apa Sya siap meninggalkan orang-orang tersayangnya itu.


Setelahnya Dokter Lilis meminta Radit untuk membawa Sya ke ruang prakteknya karena memang disanalah peralatan yang di perlukan itu berada.


Radit segera membaringkan Sya di ranjang yang Dokter Lilis tunjukkan. Sya menatap Radit dengan perasaan cemas.


" Tidak apa-apa, semua baik-baik saja. " Ucap Radit dengan lembut.


" Sebentar ya Bu, saya ijin buat buka sedikit baju Ibu Maureen. " Ujar Dokter Lilis kepada Sya.


Sya menganggukkan kepalanya tanda mengijinkan sang dokter untuk menyingkap kemeja Sya.


Pikiran Sya semakin kalut, apa penyakitnya ini ada di dalam perutnya?


Sesuatu seperti gel dapat Sya rasakan saat sang dokter mengolesknnya di perut Sya, terasa dingin.


" Usia kandungan Ibu Maureen sudah 5 minggu Pak, Bu" Ujar Dokter Lilis seraya tersenyum.


Mendengar ucapan Dokter Lilis tentu saja Sya terkejut namun juga merasa sangat bahagia. Sedangkan Radit yang memang sudah tau sebelumnya juga ikut tersenyum.


" Ini janinnya. " Ujar Dokter Lilis seraya menunjuk titik yang ada di layar monitor. " Di minggu kelima ini, janin sedang asyik berkembang. Perkembangan janin yang berusia 5 minggu ini umumnya berukuran sebesar biji wijen atau 0,12 cm dengan berat 1 gram. Pada fase ini, organ-organ tubuh lainnya juga sudah mulai disempurnakan. " Ujar Dokter Lilis memberikan penjelasan.


Sya dan Radit mengangguk paham.


Tapi tiba-tiba Sya teringat sesuatu, bukankah pagi ini Sya mendapat tamu bulanannya?


" Tapi Dok, tadi pagi saya dapat tamu bulanan. " Ujar Sya kepada Dokter Lilis.


" Itu biasa terjadi di kehamilan trimester awal Bu. Penyebabnya bisa saja karena Ibu Maureen yang kelelahan. Dan maaf saya harus mengatakan kalau janinnya sedikit lemah. Tapi tidak apa-apa, saya akan memberikan penguat kandungan dan vitamin untuk Ibu. Dan kalau bisa selama trimester awal ini lebih baik Ibu Maureen bedrest di rumah saja. " Ujar Dokter Lilis.


Sya yang mendengarnya sedikit cemas. Dia melirik kearah Radit yang sangat fokus mendengar penjelasan Dokter Lilis.


" Baik Dok, saya pastikan kalau istri saya ini akan bedrest di rumah. " Ujar Radit seraya menatap kearah Sya.


" Dan mengenai hubungan malamnya, mohon untuk tidak dulu dilakukan sebelum kandungan ibu Maureen sudah benar-benar kuat ya Pak. " Ujar Dokter Lilis menambahkan.


Pipi Sya seketika memerah mendengar ucapan Dokter Lilis. Sedangkan Radit hanya mengangguk paham. Pembahasan seperti ini sudah bukan hal yang memalukan untuk Radit. Karena semua ini dia lakukan demi calon anaknya.


.


.


.


Mohon kritik dan sarannya kakak-kakak, karena aku dapat pemahaman mengenai kehamilan ini dari Google jadi takutnya aku salah informasi. Dan kalau ada yang keliru aku minta tolong untuk di luruskan. ☺


Terima Kasih 🙏💕