Baby... I Love You

Baby... I Love You
Extra Part 3



Sandra bangun dari tidurnya setelah efek bius pada dirinya sudah hilang.


“Bunda…” Ujar Sandra dengan suara lirihnya.


Sya yang mendengar panggilan putri bungsunya itu langsung beranjak menghampiri Sandra, begitu juga dengan Radit, Kendra dan Rendra.


“Udah bangun sayang.” Ujar Sya dengan lembut.


“Adek mau mimik.” Ujar Sandra kepada Sya.


“Sebentar Ayah ambilin.” Dengan sigap Radit mengambil botol minum dengan sedotan dan memberikannya kepada Sya.


Kendra dan Rendra sedari tadi hanya diam menatap adik mereka. Rasa bersalah masih mereka rasakan.


“Gimana? Apa yang adek rasakan, sakit?” Tanya Radit kepada Sandra.


Sandra terseyum dan menggelengkan kepalanya.


“Enggak, sakitnya cuma sedikit aja kok. Adek bisa tahan, kan adek kuat.” Jawab Sandra. Memang di balik sifatnya yang sangat manja, Sandra tidak ingin membuat orang tua dan kakak-kakaknya khawatir. Terlebih Sandra tau kalau disini dirinya sendiri yang salah karena tidak menuruti ucapan Bundanya.


“Wahh, adek emang kuat ya. Bangga deh Ayah sama adek.” Ujar Radit seraya mengecup puncak kepala putrinya itu.


Sandra tersenyum mendapat pujian dari sang Ayah.


“Mas sama Abang kok diem terus sih?” Sandra menatap bingung kedua kakaknya itu.


“Maafin Abang ya, lagi-lagi Abang nggak jagain adek.” Ujar Kendra kepada Sandra.


“Maafin Mas juga ya dek, karena Mas sibuk mainan sendiri dan malah nggak temenin adek.” Ujar Rendra kepada Sandra.


“Iya adek maafin, tapi besok-besok Abang sama Mas harus temenin adek main.” Ujar Sandra kepada ke dua kakaknya. Meskipun paling kecil, di rumah dialah yang paling berkuasa setelah sang Bunda tentunya. Ayah dan ke dua Abangnya selalu menuruti permintaan dirinya.


“Iya Abang usahain buat bisa temenin adek main.”


“Mas juga janji nggak sibuk gambar terus.”


“Adek juga minta maaf sama Bunda, Abang, dan Mas karena adek nggak nurut sama ucapan kalian.” Ujar Sandra kepada Sya, Kendra dan Rendra.


“Bunda maafin sayang, tapi ingat jangan di ulangi lagi ya, nurut apa kata Bunda selagi itu buat kebaikan adek.” Ujar Sya seraya mengusap lembut puncak kepala Sandra.


Melihat ke tiga anaknya yang saling peduli satu sama lain membuat Sya dan Radit bahagia. Mereka cukup bangga karena bisa mendidik anak-anak mereka untuk tidak gengsi meminta maaf dan mengakui kesalahan mereka.



Setelah 2 hari di rumah sakit, akhirnya Sandra sudah di perbolehkan untuk pulang. Tapi tetap saja setiap 1 bulan Sandra di haruskan untuk kontrol.



“Abang sama Mas sekolah ya Bund?” Tanya Sandra kepada Sya saat mereka pulang  dari rumah sakit tapi tidak menemukan ke dua kakaknya di rumah.



“Iya dek.”



“Yahh, adek sendirian deh di rumah.” Ujar Sandra seraya mencebikkan bibirnya.



“Nggak boleh manyun gitu, kan Ayah di rumah temenin adek.” Ujar Radit kepada putrinya itu. Sejak Sandra masuk rumah sakit Radit memang memutuskan untuk tidak berangkat ke kantor dulu. Dia ingin menemani Sya dan Sandra.



“Iihh, adek jadi tambah sayang sama Ayah.” Ujar Sandra kepada Radit.



Sya yang melihat  itu tersenyum. Sya merasa hidupnya sudah sangat sempurna dan Sya bersyukur akan hal itu.



Setelahnya Sya pergi ke dapur untuk memasak karena sebentar lagi jam makan siang. Sedangkan Sandra di temani oleh Radit bermain di ruang keluarga bersama Radit. Meskipun hanya bisa bermain dengan duduk karena kakinya yang masih sakit, tapi keceriaan Sandra tetap tidak hilang.



“Cepet sembuh ya dek, nanti kalau udah sembuh kita jalan-jalan ke Bali.” Ujar Radit kepada Sandra.



“Beneran Ayah?”



Radit menganggukan kepalanya.



“Yeyey, bisa main sama Mbak Shanum.” Ujar Sandra dengan ceria.




Hari ini Kendra pulang sekolah lebih awal dari biasanya. Dan lagi, hari ini dia juga sedang tidak memiliki jadwal les apapun. Kendra berjalan ke halte di depan sekoahnya. Kenapa tidak di jemput? Ya, sejak masuk SMP Kendra memang sudah tidak mau di jemput lagi, dia lebih suka menggunakan angkutan umum seperti teman-temannya.


Dan meskipun Kendra masih SMP tapi postur tubuhnya sudah tinggi dan seperti anak SMA. Di usianya yang ke 14 tahun ini Kendra sudah memiliki tinggi badan hampir 170 cm, bahkan sudah lebih tinggi dari Sya.


Banyak anak-anak perempuan di sekolahnya yang menyukai Kendra, tetapi dengan sifatnya yang dingin dan cuek tidak ada satupun yang membuat Kendra tertarik. Kendra menganggap semua adalah teman, tidak ada yang spesial. Bahkan sebenarnya bukan hanya anak-anak perempuan di sekolahnya saja yang suka kepadanya. Kendra juga cukup terkenal di sekolah lain baik kalangan anak SMP seusianya maupun anak SMA.


Seperti kata pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya bukan? Begitupun Kendra, pesonanya tidak berbeda jauh dengan Radit saat masih muda.


Mendadak Kendra teringat Sandra yang baru saja pulang dari rumah sakit hari ini.


“Beli es krim? Kayaknya enggak bakal di bolehin sama Bunda dan Ayah. Beli Ayam goreng kakek? Apalagi itu. Sandra harus makan makanan sehat agar cepat sembuh. Jadi beliin adek apa ya?” Kendra berbicara dalam hati. Dia ingin membelikan Sandra sesuatu.


Mendadak tatapannya tertuju pada sebuah toko kue yang lokasinya tidak jauh dari sekolahnya. Kendra ingat kalau Sandra sangat menyukai donat karakter dari toko itu. Tanpa menunggu lama Kendra langsung ke toko kue itu dan membeli sekotak donat karakter untuk Sandra.




“Assalamu’alaikum…”



“Wa’alaikum salam.” Jawab Radit yang mendengar suara Kendra.



Sandra yang mendengar suara Abang kesayangannya itu langsung tersenyum



“Abang… Adek di sini.” Ujar Sandra berteriak dari ruang keluarga.



Radit hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya itu.



“Jawab dulu salam Abangnya dek.” Ujar Radit kepada Sandra.



“Wa’alaikum salam Abang… Sini adek disini.” Sandra mengikuti nasihat Ayahnya untuk menjawab salam Abangnya.



Sya yang mendengar suara Kendra juga langsung keluar dari dapur untuk menyambut putra sulungnya itu.



“Udah pulang Bang? Kok tumben hari ini pulang cepat.” Ujar Sya kepada Kendra. Pasalnya ini masih jam 1, biasanya Kendra pulang sekitar jam 3 atau 4.



“Iya Bunda, guru-guru ada rapat soalnya.” Jawab Kendra seraya mencium tangan Sya.



Kemudian bersama-sama Kendra dan Sya berjalan ke ruang keluarga untuk menemui Princess di rumah ini.



“Abang bawa apa?” Tanya Sandra saat melihat Kendra membawa sebuah kotak yang tampak familiar di matanya.



“Hadiah buat adek.” Jawab Kendra seraya tersenyum.



Terlebih dahulu Kendra mencium tangan Radit sebelum memberikan hadiahnya.



“Waahh… Donat.” Mata Sandra seketika berbinar melihat donat karakter yang berwarna berbentuk tokoh kartun kesukaannya ini.



“Bilang apa sama Abang?” Ujar Sya mengingatkan.



“Terima kasih Abang… Adek sayang sama Abang.” Ujar Sandra kepada Kendra.



“Sama-sama dek, cepet sembuh ya.” Ujar Kendra seraya mencium puncak kepala Sandra.