Baby... I Love You

Baby... I Love You
Karena Tio



Seperti biasa didalam pertemanan ini Dian akan menjadi anggota yang paling heboh.


"Sya emang lo beneran enggak mu balik kerja lagi?" Tanya Dian seraya menyuapkan sushi ke dalam mulutnya.


"Ya enggak lah, orang suaminya aja udah kaya tujuh turunan, kalau gue jadi Sya juga gue ogah banget disuruh kerja." Tentu itu bukan Sya yang menjawabnya. Di denga dari nada nyolotnya setiap menimpali ucapan Dian itu sudah pasti adalah Leo orangnya.


"Gue nggak nanya elo ya, gue nanyanya ke Sya." Jawab Dian sewot.


Sya sungguh merindukan momen seperti ini. Momen diman Dian dan Leo saling beradu argumen. Padahal kalau lagi akur mereka itu termasuk pasangan yang sweet loh. Ya meskipun sampai saat ini Sya juga tidak tau apakah antara Dian dan Leo menjalin sebuah hubungan atau tidak.


"Enggak gitu juga Le, aku juga kalau boleh kerja ya maunya kerja lagi." Jawab Sya.


"Lah ngapain kerja lagi, duit suami lo udah banyak Sya, lo jangan ikut nambah-nambahin kekayaan dia." Ujar Leo kepada Sya.


"Emang kalo lo sekaya Pak Radit istri lo udah nggak boleh kerja juga?" Ujar Dian menimpali ucapan Leo.


"Jelas lah, ya tapi walaupun gue enggak sekyaa Pak Radit gue juga pengennya istri gue di rumah aja ngurus anak, biar urusan duit gue yang cari." Leo menatap Dian penuh arti, dan Sya juga bisa melihat kalau Dian sedikit salah tingkah mendengar ucapan Leo.


Sya tersenyum penuh arti kepada Dian yang mencoba untuk mengalihkan pandangan dari Sya.


"Ooo iya, sekarang baby Rendra udah bisa apa aja Sya? Dia pasti gembul banget ya. Dari foto yang lo kirim ke gue aja udah keliatan kalau dia gembul." Ujar Dian mengalihkan pembicaraan.


"Rendra kan masih 4 bulan, jadi ya udah mulai belajar tengkurap sama kalau di gendong dia udah nggak mau di tidurin, pengennya tuh kepalanya di angkat terus." Sya dengan semangat menceritakan perkembangan baby Rendra.


"Tapi ya Sya, baby Rendra mirip banget saam Pak Radit. Lo segitu cintanya yah sama dia?" Ujar Leo berceletuk.


Pipi Sya bersemu merah mendengar pertanyaan Leo.


"Lo kalau nanya suka nggak mikir, ya jelas Sya cinta banget sama Pak Radit. Secara dia suaminya, apalagi Pak Radit ganteng, kaya, baik pula." Ini tentu saja Dian yang menjawabnya.


Sya tertawa melihat perdebatan antara Dian dan Leo.


Sampai akhirnya...


Ceklek, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu seseorang masuk ke ruangan ini.


Dan ternyata...


"Mas Radit? Ngapain disini?" Tanya Sya kepada suaminya itu.


Radit berjalan santai mendekat kepada Sya dan duduk disamping istrinya itu.


"Kenapa? Emangnya nggak boleh aku kesini? Lagi pula ini kan masih area kantor." Jawab Radit santai.


"Kalian jangan tegang gitu dong, saya cuma pengen gabung aja sama kalian. Kayaknya seru banget." Ujar Radit kepada yang lain.


Dian tersenyum canggung kepada Radit, Leo bersikap lebih santai karena dia memang beberapa kali ikut rapat bersama Radit. Sedangkan Tio hanya diam menatap Radit. Memang sepanjang Sya disini Tio terus membungkam, dia hanya sesekali memakan sushi yang Sya bawa.


Sya menyadari sikap santai yang Radit lakukan saat ini adalah sikap yang perlu dia waspadai.


"Eehh, kayaknya aku pulang dulu deh, kasian Rendra di tinggal lama-lama, dan sebentar lagi Kendra juga pulang. Kalau tau aku nggak di rumah bisa-bisa dia rewel." Mendadak Sya langsung berpamitan kepada teman-temannya.


"Kok buru-buru sih sayang, aku kan baru duduk. Lagi pula aku pengen kenal deket sama karyawan sekaligus temen-temen kamu." Ujar Radit terdengar merajuk.


"Apa sih Mas, ya udah kalau enggak mau pulang biar aku sendiri yang pulang, kamu disini aja." Ujar Sya kesal. Sungguh Sya benar-benar merasa kesal dengan Radit, suaminya itu merusak acara dirinya dan teman-temannya.


"Ya udah iya ayo kita pulang... Btw kalian kapan-kapan dateng aja ke rumah, kita makan-makan. Jangan terlalu sungkan, anggap saja saya temen kalian juga." Ujar Radit kepada Dian, Leo dan tentunya Tio.


"Baik Pak, terima kasih atas tawarannya." Jawab Dian.


"Ya udah aku pamit dulu ya Di, Leo, dan Mas Tio." Setelah berpamitan Sya langsung keluar bersama Radit yang merangkul pinggang ramping Sya.


Tanpa ada yang menyadari bahwa ada seseorang yang menatap mereka dengan tatapan dalamnya.




"Iihh Mas tuh kenapa kesana sih, aku kan bentar lagi juga balik, tuh liat masih ada 15 menit lagi Mas." Saat ini Sya sedang merajuk kepada Radit. Sedangkan Radit dengan santai mendiamkan Sya tanpa memberikan penjelasan kenapa dia tiba-tiba kesana.



"Udah? Keselnya udah selesai belum?" Tanya Radit kepala Sya saat melihatmu istrinya itu sudah duduk dengan tenang di sofa.




"Ya udah sini." Radit melambaikan tangannya meminta Sya untuk mendekat kepadanya.



"Apa?" Tanya Sya dengan bingung.



"Sini deketan sama aku, aku mau ngomong sayang." Ujar Radit dengan nada lembut.



Sya mendekati Radit, dan saat dia sudah ada di samping suaminya itu, dengan cepat Radit menarik tangan Sya dan membuatnya jatuh tepat di pangkuan Radit.



"Mass...." Sya berusaha melepaskan dirinya dan berdiri dari pangkuan Radit.



"Diem dulu ih, jangan gerak-gerak." Ujar Radit kepada Sya dan dia semakin mengencangkan pelukannya di pinggang istri itu.



Sya langsung terdiam dan duduk dengan tenang.



"Aku tuh cemburu." Ujar Radit tiba-tiba.



Sya mengerutkan dahinya heran.


"Cemburu? Mas cemburu sama siapa?" Tanya Sya kepada Radit. Pasalnya seingat Sya dia tidak ada interaksi apapun dengan lawan jenis, ya selain Leo dan Tio tadi.



"Cemburu sama laki-laki kurang ajar yang udah berani natap kamu." Jawab Radit kesal.



Laki-laki kurang ajar? Siapa?


"Memangnya siapa?" Tanya Sya bingung.



Radit membuka laptopnya dan memperlihatkan rekaman CC TV ruangan divisi akutansi 2 yang mana disana memperlihatkan dirinya dan juga teman-temannya.



"Apa? Nggak ada yang aneh kok Mas." Ujar Sya kepada Radit. Karena memang Sya tidak menemukan hal-hal yang menyebabkan Radit mendadak cemburu seperti ini.



Radit berdecak kesal.


"Liat tuh laki-laki yang ada di samping kamu. Dia liatin kamu terus sejak kamu dateng. Si Tio Tio itu yang suka sama kamu kan yank?" Ujar Radit menjelaskan.



Sya melihat rekaman itu, ternyata benar, Tio terus menatapnya. Pantas saja Radit langsung cemburu.



"Aku enggak tau kalo Mas Tio liatin aku terus." Ujar Sya menenangkan Radit.



"Aku enggak suka kamu diliatin laki-laki lain sayang. Rasanya pengen kurung kamu di rumah aja."