Baby... I Love You

Baby... I Love You
Extra Part 5 (FINAL)



Sya yang sedang tertidur nyenyak merasa terusik saat tubuhnya di himpit oleh sesuatu yang membuatnya menjadi sedikit sesak nafas. Ya, seseorang sedang memeluk erat tubuh Sya dari belakang. Dengan cepat Sya mendorong tubuh di belakangnya itu. Jujur Sya benar-benar takut.


Brukk…


Sya beranjak dari ranjang dan buru-buru menyalakan lampu utama kamarnya.


“Aawww… Sayang kenapa aku di dorong.” Terdengar suara seorang laki-laki yang mengerang di bawah sisi ranjang. Ya, Sya sangat mengenali suara itu.


“Mas Radit…” Ujar Sya dengan wajah terkejut.


Buru-buru Sya berlari kesisi ranjang untuk membantu suaminya itu bangun. Terjantuh dari ranjang yang lumayan tinggi tentu saja membuat badan Radit terasa sakit.


“Mas, kamu nggak papa?” Tanya Sya dengan wajah panik.


Sya tidak bermaksud untuk mencelakakan Radit, dia hanya kaget dan panik saat ada seseorang yang tiba-tiba memeluknya sedangkan sudah hampir 1 minggu ini Radit bekerja ke luar negeri, tepatnya di Singapura. Radit bilang dia akan di sana selama 10 hari, tapi ini baru hari 6.


“Sakit sayang…” Ujar Radit dengan suara memelasnya. Di bantu oleh Sya, saat ini Rait sudah duduk di ranjang.


“Ya maaf Mas, aku nggak tau kalau itu kamu. Lagian kamu pulang nggak bilang-bilang, jadi kan takutnya ada maling mesum yang masuk kamar.” Jawab Sya. “Mana yang sakit? Coba sini aku liat.” Ujar Sya kepada Radit.


“Punggungnya.” Jawab Radit.


Tangan Sya langsung mengusap dengan lembut punggung Radit.


“Maaf ya Mas, aku nggak sengaja.” Ujar Sya.


“Aku maafin tapi harus peluk dulu.” Ujar Radit seraya merentangkan tangannya.


Sya tersenyum kemudian masuk ke dalam pelukan suaminya itu.


“Bisa-bisanya kamu nggak paham kalau yang peluk tubuh kamu itu suami sendiri, padahal kita udah menikah selama 14 tahun.” Ujar Radit kepada Sya.


Sya tertawa kecil mendengar ucapan Radit.


“Bukan nggak paham Mas, tapi kan aku dalam keadaan ngantuk dan kamu juga posisinya harusnya masih ada di Singapura. Siapa yang nggak takut coba kalau di peluk tiba-tiba begitu.” Jawab Sya.


Sya menciumi aroma tubuh Radit yang sudah sangat dia rindukan beberapa hari ini.


“Iya iya, aku yang salah.” Jawab Radit mengalah.


Hening… Radit dan Sya menikmati hangatnya pelukan mereka di tengah malam seperti ini.


“Aku kangen banget sama kamu yank.” Bisik Radit di telinga Sya.


Sya tersenyum.


“Aku juga kangen kamu Mas.” Jawab Sya.


Mendengar jawaban itu semakin membuat Radit mengeratkan pelukannya.


“Mas udah bersih-bersih belum?” Tanya Sya kepada Radit yang membuat laki-laki itu melepaskan pelukannya.


“Hehe… Belum yank.” Jawab Radit sok polos.


Baru saja Sya membuka mulutnya…


“Ini mau langsung bersih-bersih kok, tadi aku udah nggak tahan pengen peluk kamu.” Jawab Radit dengan wajah tanpa dosa.


Setelah mengatakan itu Radit langsung berlari ke kamar mandi sebelum dia mendapatkan semprotan dari Sya.


Sya tersenyum melihat tingkah Radit. Di usia Radit yang sudah menginjak 46 tahun, Sya merasa Radit masih sama seperti awal-awal pernikahan mereka. Di samping tubuhnya yang tetap bugar dan wajahnya yang tetap tampan, Radit juga masih sangat posesif kepadanya. Sifatnya juga masih tetap manja seperti dulu kalau mereka hanya sedang berdua seperti ini.


Sya turun ke bawah untuk membuatkan Radit susu hangat untuk menghangatkan perut suaminya itu. Tidak kopi karena saat ini sudah malam dan Sya tidak mau kalau Radit justru tidak bisa tidur nantinya.


Sya masuk ke kamar bertepatan dengan Radit yang keluar dari kamar mandi.


“Dari mana yank?” Tanya Radit kepada Sya.


“Buatin Mas susu.” Jawab Sya seraya memperlihatkan cangkir yang dia bawa.


“Padahal aku lebih suka susu dari sumbernya langsung.” Jawab Radit seraya tertawa kecil.


Seketika Sya memelototkan matanya.


“Dasar mesum.” Jawab Sya.


“Kalau nggak mesum ya anak kita nggak sampai 3 sayang.” Ujar Radit santai.


Radit berjalan menghampiri Sya dan mengambil cangkir susu dari tangan istrinya itu.


“Jangan marah-marah, mending kita sayang-sayangan aja di kasur.” Bisik Radit di telinga Sya.


“Iihh Mas tuh ya, udah tua tapi otaknya masih tetap mesum.” Ujar Sya dengan pipi memerah.


“Umur boleh tua tapi stamina jangan sampai tua sayang. Tua-tua begini juga kamu kalau melayani aku di atas kasur tetep aja kewalahan. Padahal kamu 7 tahun lebih muda dari aku.” Ujar Radit meledek Sya.


“Ooo gitu… Ya udah nggak usah sekalian aja.” Jawab Sya santai.


Sekarang ganti Radit yang memelototkan matanya.


“Eehh, mana ada. Nggak bisa gitu, nolak suami untuk melakukan itu dosa loh.” Ujar Radit mengeluarkan kata-kata andalannya jika sedang mendapat penolakan dari istrinya.


Dan ya, jika sudah seperti ini maka Sya hanya bisa melambaikan bendera putih tanda menyerah.


“Ayookk sayang… Kangen.” Radit dengan cepat mengangkat tubuh Sya ke dalam gendongannya dan menidurkannya dengan lembut di atas ranjang mereka.


Sya? Tentu saja pasrah.




Pagi ini semua anggota keluarga Santoso berkumpul di ruang makan. Bisa tebak siapa yang paling heboh saat ini? Ya tentu saja Sandra si anak bungsu.




“Jangankan sama adek, orang sama Bunda aja Ayah nggak bilang.” Ujar Sya menyahuti.



Radit hanya tersenyum melihat 2 wanita kesayangannya ini.



Berbeda dengan Sandra yang langsung menanyakan banyak hal kepada Radit, maka Kendra dan Rendra jauh lebih tenang. Mereka terlihat biasa saja melihat kepulangan Ayahnya. Hanya bertanya kapan Radit pulang setelah itu langsung duduk di kursi mereka masing-masing.



“Tapi Ayah bawa oleh-oleh kan buat adek?” Tanya Sandra.



“Buat Mas juga ada kan Yah?” Ujar Rendra menyambung.



Kendra? Dia tetap diam tidak menanyakan hal yang sama seperti ke dua adiknya itu.



“Bawa dong, Ayah bawa oleh-oleh buat Bunda, Abang, Mas, sama Adek. Tenang aja semua kebagian.” Jawab Radit seraya tersenyum.



“Udah di makan dulu sarapannya, bentar lagi siang loh nanti kalian telat berangkat sekolahnya.” Ujar Sya kepada anak-anaknya.



“Adek di anter Ayah kan hari ini?” Tanya Sandra kepada Radit.



Radit menganggukan kepalanya.


“Iya, hari ini adek Ayah anter ke sekolah. Mas mau bareng Ayah apa sama Abang?” Tanya Radit kepada Rendra. Hari ini Radit memang memutuskan untuk libur kerja, jadi dia bisa mengantarkan Sandra sekolah.



Ya, Rendra memang selalu berangkat bersama Kendra karena memang sekolahnya bersebelahan. Kendra juga sudah mendapatkan SIM nya sejak laki-laki yang sebentar lagi masuk bangku kuliah itu berusai 17 tahun.



“Mas bareng Abang aja Yah, kan sekolah adek beda arah sama Mas.” Jawab Rendra.



Begitu selesai sarapan Kendra dan Rendra langsung berangkat ke sekolah mereka. Begitu juga dengan Radit yang akan mengantarkan Sandra berangkat sekolah. Tapi sebelum itu…



“Hadiah kamu ada di koper yang kotaknya warna pink sayang.” Bisik Radit di telinga Sya.



Begitu Radit dan Sandra berangkat, Sya langsung ke kamar untuk melihat hadiah apa yang Radit berikan untukknya.



Dan ternyata….



“Emang dasar Pak Tua mesum.” Ujar Sya seraya tertawa kecil.



Bagaimana bisa jauh-jauh dari Singapura, Radit justru membelikan sebuah lingerie?


.


.


.


*Yeayyy... Ini udah* ***final part*** *ya, jadi setelah ini nggak ada update BAB lagi dari* ***Baby... I Love You***. *☺*


*Makasih buat suport temen-temen selama ini, dan ya disinilah kita harus berpisah*😇


*Tapi tenang aja, buat kisahnya Abang Kendra insyaallah bakal aku up akhir bulan ini. Bocoran mengenai kisahnya apa? Rahasia😎🤣*



*Oo iya jangan lupa baca* ***Laras for Dani*** *juga ya (Please lah, agak maksa😂) 😍*



*Jangan lupa kritik dan sarannya juga😍😍*



***Terima Kasih 😘****💕*