
Ceklek...
Tanpa mengetuk pintu seperti biasa Radit asal nyelonong masuk ke ruangan kerja Sya dan teman-temannya. Dan tentu saja dengan wajah super datarnya itu.
Kehadirannya ini pertama kali di sadari oleh Kendra. Bocah kecil itu sedang menggambar bersama Tio. Sedangkan Sya dan yang lainnya masih fokus dengan pekerjaan masing-masing.
" Ayahh..... " Panggil Kendra kepada Radit dengan suara sedikit keras yang lebih mirip dengan sebuah teriakan.
Sya, Tio, Leo, dan Dian seketika langsung mengarahkan tatapannya pada Radit yang masih berdiri di depan pintu. Seketika suasana yang tadinya tenang dan ceria dengan celotehan lucu Kendra menjadi terasa mencekam.
" Ayah, liat Kendla udah bisa gambal Ayam. Tadi Kendla di ajalin sama Om Tio. " Kendra berbicara dengan ceria memberitahukan keberhasilannya hari ini yang sudah bisa menggambar seekor ayam kepada Radit. Tangan kecilnya mengangkat sebuah buku gambar yang berisi banyak sekali gambar ayam dengan berbagai ukuran.
" Bagus. " Jawab Radit singkat padat dan jelas, tidak lupa sedikit senyuman yang dia berikan untuk Kendra.
Radit menatap Sya sekilas namun tidak mengatakan apa-apa. Dari tatapannya saja Sya sudah bisa menebak jika suasana hati suaminya itu sedang tidak baik. Wajahnya yang datar dan dingin sudah bisa menjawabnya. Hanya saja alasan kenapa Radit seperti itu masih belum Sya ketahui.
" Kendra mau makan ayam goreng kakek nggak? " Tanya Radit kepada Kendra yang terlihat tidak lagi peduli dengan kehadirannya setelah bocah kecil itu memperlihatkan gambarnya kepada Radit.
Tentu saja Kendra yang mendengar ucapan dari sang Ayah yang menawari untuk makan ayam goreng kakek kesukaannya itu tidak akan menolaknya. Ini adalah moment langka dimana Radit dengan baik hatinya mengajak Kendra untuk makan ayam goreng kakek, biasanya harus Kendra yang meminta dulu, itupun harus disertai sebuah rengekan.
" Mau Ayah, Kendla mau makan ayam goleng kakek. " Jawab Kendra dengan semangat. Tidak ada dalam kamusnya seorang Kendra menolak makanan yang menurutnya paling enak di dunia.
" Oke kalo gitu kita berangkat sekarang. Tapi Kendra harus beresin dulu barang-barang Kendra." Ujar Radit kepada Kendra.
Sya yang mendengar ucapan Radit itu hanya terdiam. Dia memikirkan kesalahan apa yang sudah dia perbuat hingga Radit mendiamkannya seperti ini. Bahkan Radit tidak mengajaknya untuk ikut makan ayam goreng kakek.
" Ayo Bunda, kita makan ayam goleng kakek. " Ajak Kendra kepada Sya.
" Haaa...? " Sya tersentak karena sedari tadi sedang melamun. Namun dia mendengar dengan jelas apa yang Kendra ucapkan. Kemudian matanya beralih kepada Radit yang sedang menatapnya dengan pandangan yang menurut Sya sulit untuk diartikan.
Sya bingung harus apa, saat melihat jam di dinding ini masih kurang dari setengah jam lagi untuk waktu istirahat tiba. Tap jika Sya tidak ikut pasti suasana hati Radit akan menjadi semakin buruk.
" Ayoo Bunda. " Tangan Sya di tarik oleh Kendra. Sya menatap kearah teman-temannya yang seolah tidak peduli dengan semua ini. Bahkan Tio saja sudah kembali ke kubikelnya entah sedang apa padahal pekerjaannya sudah selesai dari tadi.
Sya mematikan komputernya dan sedikit membereskan mejanya yang sedikit berantakan. Kemudian meraih dompet dan ponselnya.
" Yukk. " Ujar Sya beranjak dari duduknya kemudian menggandeng tangan Kendra.
Radit berlalu lebih dulu tanpa mengatakan apapun.
" Guys, aku ijin keluar duluan ya. " Ujar Sya kepada teman-temannya.
" Oke Sya. "Jawab Leo seraya mengacungkan jempolnya. Sedangkan Tio dan Dian hanya menganggukkan kepalanya.
Dian sedikit takut saat melihat wajah Radit yang sangat dingin itu. Matanya menatap tajam kesegala arah seolah sedang menilai semua yang ada di ruangan ini. Hingga tanpa sengaja tatapan Dian bertabrakan dengan Radit. Hal itu membuatnya langsung saja menundukkan matanya.
...***...
Saat ini Sya sedang berada di dalam lift yang sama dengan Radit. Tapi sekali lagi tidak ada percakapan antara dirinya dan juga Radit. Sebenarnya Sya sudah tidak tahan, dia ingin menanyakan ada apa dengan Radit. Tapi karena disini ada Kendra maka Sya mengurungkan niatnya.
Sesampainya di parkiran Radit membukakan pintu mobil untuk Sya. Tapi tetap saja laki-laki yang sudah sahabat menjadi suaminya itu tidak mengatakan apapun.
" Mas, aku ke kamar mandi dulu ya. " Ujar Sya kepada Radit. Namun lagi-lagi hanya sebuah jawaban tidak memuaskan yang keluar dari mulut Radit.
" Hmmm. " Jawab Radit cuek seraya menikmati makanannya.
Baiklah, jika memang Radit ingin bermain-main dengannya, maka akan Sya ikuti alurnya. Kita lihat siapa yang sanggup bertahan hingga permainan ini berakhir.
Sya beranjak dari duduknya untuk ke kamar mandi. Disana dia membasuh wajahnya yang terasa panas agar menjadi lebih segar.
Sya terus memikirkan sebentar dia sudah melakukan kesalahan apa? Karena saat Sya memikirkannya dia bahkan tidak menemukan alasannya.
Setelah kurang lebih 5 menit di kamar mandi Sya keluar dan kembali ke mejanya bersama Kendra dan juga Radit.
" Enak sayang? " Tanya Sya kepada Kendra. Dia sengaja tidak menatap kearah Radit sama sekali. Meskipun Sya tau saat ini Radit sedang melihat kearahnya.
" Enak dong, Bunda mau? " Tanya Kendra kepada Sya.
" Mau, tapi Kendra yang suapin ya. " Jawab Sya seraya tersenyum. Hal ini membuat Kendra tertawa cekikikan setelah mendengar permintaan Sya.
" Bunda kan udah besal, masa minta disuapin sih. Kayak dedek Ulel tau. Kendla aja makan sendili. " Ujar Kendra dengan suara polosnya.
" Jadi Bunda nggak boleh kalo minta disuapin Kendra nih? " Tanya Sya seraya menampilkan wajahnya sedihnya yang sengaja dia buat.
" Boleh kok, Kendla mau suapin Bunda. Sini sayang sini. " Dengan lucunya Kendra memanggilnya sayang seperti kebiasaan Sya jika memanggil Kendra untuk datang kepadanya. Atau justru Kendra sedang menirukan panggilan yang biasa Radit lakukan untuknya?
Sya tertawa mendengar ucapan Kendra. Dan Sya juga masih tetap tidak mau menatap kearah Radit.
Setelah selesai makan, mereka memutuskan kembali ke kantor. Dan dalam perjalanan pulang ini Kendra tertidur tepat dipangkuan Sya. Mungkin karena sudah kenyang dan ini memang waktunya Kendra untuk tidur siang hingga membuatnya dengan mudah tertidur.
Sesampainya di parkiran kantor Radit membukakan pintu untuk Sya. Dia berniat untuk mengambil alih Kendra dari pangkuan Sya ke gendongannya. Namun itu segera Sya tolak.
" Nggak usah Mas, biar aku aja. Dari pada nanti Kendra malah kebangun. " Ujar Sya dengan lembut.
Radit tetap diam mendengar ucapan Sya. Namun dia menuruti ucapan dari istrinya itu.
" Kendra di tidurin di ruangan aku apa di ruang kerja kamu aja Mas? " Tanya Sya kepada Radit.
" Di ruang kerja aku aja. " Jawab Radit pendek.
Selama mereka berjalan ke ruang kerja Radit semua masih sama, tidak ada percakapan diantara keduanya.
Radit membuka pintu ruangannya, kemudian menuntun Sya untuk mengikutinya masuk ke kamar yang ada di dalam ruangan Radit untuk menidurkan Kendra agar lebih nyaman.
Ini seperti sebuah dejavu yang terjadi saat dimana mereka masih baru saling mengenal. Dimana Radit pertama kali melamar Sya dengan sangat buruk. Radit mengingat semuanya dengan jelas.
Saat Sya sudah menidurkan Kendra dengan posisi nyamannya, dia turun dari ranjang. Namun tiba-tiba saja...
Happ.... Sebuah pelukan Sya rasakan dari belakang.
" Sayang, maafkan aku. Aku cemburu. "