
Radit menghubungi telefon rumah, dia sangat berharap kalau Kendra baik-baik saja. Ternyata Radit tidak hanya mengabaikan si baby, tapi juga tanpa sadar mengabaikan si Abang.
"Ya Tuhan, kenapa aku bisa sampai sebodoh ini." Ujar Radit seraya mengusap wajahnya kasar. Radit merasa dia bukanlah Ayah yang baik untuk anak-anaknya. Dan Radit yakin kalau Sya sampai mengetahui semua ini dia pasti akan merasa sedih karena ketidakbecusannya merawat anak-anak mereka.
Pada dering ke empat, akhirnya sambungan telefonnya diangkat.
"Halo Assalamu'alaikum." Terdengar suara Mbak Tinah dari sebrang telefon.
"Wa'alaikumsalam Mbak Tinah, Kendra sekarang dimana?" Tanya Radit langsung pada intinya. Dia begitu mencemaskan keadaan Kendra saat ini.
"Kendra di atas Pak sedang bersama Mbok Inah, Tadi Kendra sempet nangis setelah Mbak Sya di bawa ke rumah sakit. Tapi sekarang sepertinya sedang tidur." Jawab Mbak Inah.
"Ooo gitu, nanti kalau misalkan Kendra bangun dan rewel, kamu minta aja Pak Agus buat nganterin kamu sama kendra ke rumah sakit. Tapi kalau Kendra tidak bangun biarkan saja, kamu bawa Kendra kesini besok pagi saja." Ujar Radit memberitahu Mbak Tinah.
"Baik Pak, nanti saya hubungi Pak Radit kalau misalkan Kendra bangun dan minta ke rumah sakit." Jawab Mbak Tinah.
"Oke, kalau gitu saya tutup dulu telfonnya ya Mbak. Sya titip Kendra." UJar Radit mengakhiri pembicaraan dari telefonnya.
Baru saja Radit mematikan telefonnya, tidaak lama kemudian Papa Riyan datang menghampirinya di ruang NICU. Radit memang disini sendiri karena Mama Riana tadi pergi ke ruangan Sya.
"Sya sudah sadar." Ucap Papa Riyan.
Ucapan Papa Riyan ini terasa seperti angin segar untuknya.
Buru-buru Radit beranjak dari duduknya, setelahnya menatap bayi merah yang saat ini masih tertidur.
"Ayah ke tempat Bunda dulu ya, kamu tunggu disini, nanti Ayah janji akan bawa kamu ke Bunda." Ujar Radit berpamitan kepada si baby.
Setelah itu Radit dan Papa Riyan pergi meninggalkan ruangan NICU untuk ke kamar Sya.
Sesampainya disana, terlihat Sya yang masih terbaring lemah, namun wajahnya sudah tidak sepucat tadi. Sudah ada rona merah yang menghiasi pipinya.
Sya yang melihat kedatangan Radit langsung menyunggingkan senyumnya.
"Mas Radit..." Panggil Sya dengan suara lembut.
Radit balas menatap Sya. Entah sudah berapa banyak rasa syukur yang dia ucapkan sejak tadi. Dengan perlahan Radit berjalan mendekati Sya.
"Jangan seperti ini lagi, kamu buat aku takut sayang. " Ujar Radit seraya mengecup kening Sya.
"Maaf Mas aku yang ceroboh. Mas jangan marah sama Mbok Inah ataupun Mbak Tinah. " Ujar Sya kepada Radit.
"Mas tidak memarahi Mbok Inah dan Mbak Tinah. Lebih tepatnya sama sekali tidak kepikiran. " Jawab Radit.
Radit bahkan tidak berpikir sedikitpun untuk memarahi dulu asisten rumah tangganya itu atas kejadian yang menimpa Sya hari ini.
"Baby masih ada di NICU, dia harus masuk inkubator karena lahir kurang bulan. " Ujar Radit menjelaskan.
"Tapi baby enggak papa kan Mas? " Tanya Sya dengan cemas.
Wajar saja itu karena Sya bahkan sama sekali belum melihat si baby. Sya melahirkan sudah dalam keadaan tidak sadar. Namun Alhamdulillah dia bisa melewati semua itu.
"Enggak papa, baby sehat kok. Nanti kalau kamu dan baby sudah agak lebih stabil suster akan membawa kesini. " Jawab Radit dengan lembut. Melihat istrinya sudah membuka mata membuat Radit merasa terharu.
Diam, Sya terlihat sedang memikirkan sesuatu.
Sampai...
"Mas, Abang ikut kesini enggak? Tadi Abang liat banyak darah aku yang ada di lantai. Dia gimana keadaannya? Abang baik-baik aja kan? " Tanya Sya dengan cemas.
Bayangan Kendra yang terdiam di sudut dapur tiba-tiba berputar di kepalanya. Saat itu rasanya Sya sangat ingin mengatakan kepada Kendra kalau dia baik-baik saja. Tapi rasa sakit yang sedang dia alami tadi sudah tidak bisa membuat Sya melakukan itu. Sya terlalu fokus dengan rasa sakit dan rasa cemasnya kepada si baby. Dan sekarang Sya sangat merasa bersalah kepada Kendra. Jangan sampai Kendra memiliki trauma di usianya yang masih sekecil itu.
"Abang enggak ikut kesini. Tadi Mas sudah telfon Mbak Tinah, dia bilang Abang memang sempat nangis waktu kamu di bawa ke rumah sakit. Aku udah pesen sama Mbak Tinah kalau Abang bangun dan rewel bisa di bawa ke sini aja, atau kalau enggak paginya. " Ujar Radit menjelaskan.
"Kamu jangan mencemaskan apapun sayang, kata Dokter kamu harus banyak istirahat. Sekarang kamu bobok lagi ya, ini kan juga udah malem. " Ujar Radit kepada Sya.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam saat ini. Dan 5 jam yang sudah terlewati tadi merupakan salah satu moment yang paling menegangkan yang pernah Radit lalui sepanjang hidupnya.
"Tapi... Aku pengen ketemu Abang Mas, aku takut Abang kenapa-napa. Dia pasti enggak baik-baik aja Mas. Bahkan saat dia melihat aku yang sedang berdarah Abang enggak menangis sama sekali. Hanya wajahnya yang pucat dan tatapannya yang terlihat kosong. " Ujar Sya seraya meneteskan air matanya.
Saat ini yang ada di pikiran Sya hanya Kendra. Jika sampai Kendra memiliki trauma, itu adalah karena dirinya.
"Sayang dengarkan aku. Untuk kali ini aku mohon kamu jangan keras kepala. Ini semua demi kebaikan kamu, kamu harus istirahat sekarang dan tolong jangan memikirkan apapun. Aku janji besok pagi Kendra dan baby sudah ada disini saat kamu bangun nanti. " Ujar Radit kepada Sya.
Ya, kali ini Radit memang harus lebih tegas untuk mengatasi kekeras kepalaan Sya. Toh ini semua demi kebaikan Sya.
"Bobok ya sayang, aku ada di sini temenin kamu. " Ucap Radit dengan lembut.
Dan akhirnya Sya menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Radit. Sya sadar semua ini terjadi karena sifat keras kepalanya. Jika tadi dia membiarkan Mbak Tinah membantunya di dapur saat menggoreng pisang, pasti ini semua tidak akan terjadi. Pasti baby tidak harus lahir secepat ini. Dan pasti Kendra tidak akan melihat hal menakutkan seperti tadi di usianya yang masih sekecil itu. Pada intinya semua adalah salahnya.
Sama seperti Sya yang sedang menyalahkan dirinya sendiri, begitu pula dengan Radit. Laki-laki itu masih merasa bersalah karena sudah mengabaikan kedua anaknya sekaligus.
"Maafin aku Mas, ini semua memang salah aku. " Ucap Sya dengan suara lirih.
"Husstt, ini semua bukan salah kamu atau siapapun. Tidak ada yang akan di salahkan dalam kejadian ini. Ini adalah pelajaran untuk kita semua agar lebih hati-hati. Sekarang bobok ya. " Dengan lembut Radit mencium tangan Sya.
Ya, saat ini memang tinggal Radit sendiri di rumah sakit. Mama Riana dan Papa Riyan sudah Radit suruh pulang agar bisa istirahat dengan baik. Karena bagaimana pun tidak baik untuk kesehatan orang tuanya kalau disini terlalu lama.