
Beberapa hari setelah acara aqiqahan baby Rendra, Mama Farida dan Ayah Dodi harus kembali ke Jogja. Biar bagaimana pun pekerjaannya yang sebagai dosen tidak bisa membuat Ayah Dodi terlalu lama meninggalkannya. Terlebih untuk beberapa bulan ke depan beliau harus menjadi dosen pembimbing untuk beberapa mahasiswanya.
Sekarang jadilah Sya di rumah hanya bersama dengan Radit, Kendra, Mbok Inah dan Mbak Tinah.
"Sayang, kamu beneran enggak butuh baby sitter buat bantuin kamu ngurus adek? " Tanya Radit kepada Sya. Pasalnya Radit terkadang merasa kasihan kepada Sya saat pagi-pagi harus sibuk mengurus baby Rendra dan juga Kendra.
Ya, sedewasa-dewasanya Kendra, bocah tampan itu tetap lah anak kecil pada umumnya. Terkadang Kendra juga sedikit manja dengan meminta perhatian lebih kepada Sya. Untung saja Radit belum kembali kerja ke kantor, jadi sedikit banyak Radit bisa membantu meringankan tugas Sya.
"Kayaknya buat sekarang belum dulu deh Mas, lagian aku belum terlalu repot kok, kan ada kamu yang bantuin aku terus. " Jawab Sya seraya tersenyum.
"Baiklah, tapi kalau kamu merasa sudah butuh baby sitter, kamu langsung bilang ke aku. "
Untung saja setelah melahirkan Sya tidak mengalami baby blues. Sya terlihat sangat menikmati perannya menjadi seorang ibu dengan 2 anak yang salah satunya baru lahir.
Mungkin karena dukungan Radit dan keluarga juga yang mempengaruhi Sya sehingga membuat dirinya menjadi sangat tenang.
"Bundaa.... " Terdengar panggilan Kendra dari luar kamar disaat Sya sedang menyusui baby Rendra.
"Iya Abang, Bunda lagi nenenin adek. " Jawab Sya dari dalam. " Tolong bukain pintunya Mas. " Ujar Sya kepada Radit yang saat ini sedang mengerjakan pekerjaannya. Ada juga beberapa berkas yang tadi Andre antarkan.
duk... duk... duk...
Terdengar gedoran pintu yang semakin mengeras.
"Mas.... " Sya sedikit kesal karena Radit tidak mendengarkan ucapannya.
"Iya sayang... " Radit segera beranjak dari duduknya setelah mendengar suara merajuk Sya.
Jika sudah begini, Radit tidak bisa untuk menunda permintaan istrinya itu.
Ceklekk....
"Iihhh, Ayah lama banget buka pintunya. Abang kan mau ketemu Bunda. Kangen tau Abang sama Bunda sama adek. " Ujar Kendra dengan wajah menampilkan wajah masamnya.
Hal ini membuat Radit melebarkan matanya begitu mendengar ucapan Kendra.
"Jadi kangennya sama Bunda dan adek aja? sama Ayah enggak? " Tanya Radit kepada Kendra.
Dengan polosnya Kendra menggelengkan kepalanya.
"Ya emang enggak. " Kendra langsung berlalu meninggalkan Radit di depan pintu dan menghampiri Sya.
"Lama-lama Bunda sama adek Ayah umpetin nih. " Ujar Radit dengan kesal.
Tidak kesal yang marah, Radit hanya gemas kepada Kendra yang sangat posesif kepada Bunda dan adiknya, entah dari mana putranya itu bisa memiliki sifat seperti itu. Tentu saja bukan dari dirinya kan?
Sya yang sedari tadi mendengarkan ucapan antara putra pertama dan suaminya itu tidak bisa untuk menahan senyumnya. Selalu saja seperti ini, entah kenapa Radit dan Kendra ini sangat jarang akur jika itu mengenai Sya dan baby Rendra.
"Bunda lagi nenenin adek ya? " Tanya Kendra seraya naik ke ranjang.
"Iya Abang. " Jawab Sya seraya tersenyum. " Oo iya, tadi sekolahnya gimana bang? seru kan? belajar apa aja sama Miss? " Tanya Stasiun kepada Kendra.
Ya, setiap pulang sekolah seperti ini Sya memang selalu menanyakan mengenai kegiatan Kendra selama di sekolah. Sya ingin Kendra menjadi anak yang terbuka dan tidak segan untuk menceritakan apapun padanya.
Sya berharap dia bisa menjadi ibu yang memahami setiap kondisi anak-anaknya. Untuk sekarang mungkin Kendra masih kecil dan bisa dengan leluasa bercerita kepadanya. Tapi saat dewasa nanti, mungkin akan menjadi sedikit lebih tertutup, dan Sya dan saat itu terjadi dia berjanji tidak akan pernah memaksakan agar Kendra selalu bercerita kepadanya nantinya.
"Tadi Abang di sekolah menang lomba lari, kata miss Abang larinya hebat kayak kuda." Ujar Kendra bercerita.
"Oo iya? wahhh anak Bunda hebat banget sih. " Ujar Sya seraya mengelus puncak kepala Kendra.
"Abang dapet hadiah loh dari Miss, sebental Abang mau ambil dulu. " Kendra langsung turun dari ranjang begitu mengingat kalau dia mendapatkan hadiah dari gurunya sebagai reward memenangkan lomba lari tadi.
"Ayah, Abang minta tolong boleh? Tolong bukain pintu kamal Abang. " Ujar Kendra kepada Radit, dia berdiri tepat di depan konecting door yang menghubungkan kamar Radit dan Sya dengan kamarnya. Tidak perlu repot-repot keluar kamar bukan?
Radit tersenyum mendengar Kendra yang begitu lembut saat meminta tolong kepadanya. Ya, Kendra akan bersikap seperti ini jika dia sedang membutuhkan Radit untuk melakukan sesuatu atau meminta sesuatu darinya.
Meskipun seperti itu, Radit segera melakukan apa yang Kendra minta. Kenapa? Tentu saja karena Kendra memintanya dengan baik. Kalau saja Kendra tidak mengucapkan kata tolong, mungkin Radit tidak mau membantu untuk membukakannya.
"Baiklah." Radit beranjak dari duduknya setelah tadi sempat melanjutkan pekerjaannya kembali.
"Terima kasih Ayah. " Setelah mengucapkan itu Kendra langsung berlalu ke kamarnya.
Sepulang sekolah, Kendra memang di haruskan untuk mengganti baju dan membersihkan diri terlebih dahulu sebelum bertemu dengan baby Rendra. Karena bagaimana pun imun bayi biasanya tidak sekuat imun orang yang lebih dewasa.
"Sama-sama." Jawab Radit.
Tatapan Radit beralih kepada Sya.
"Adek udah bobok tuh yank, sini biar aku pindahin ke box.nya aja biar dia bisa bobok dengan nyaman. Kalau Kendra kesini lagi nanti bisa-bisa kebangun lagi. " Ujar Radit kepada Sya.
Sya tersenyum, dia langsung memberikan baby Rendra kepada Radit. Setelah di pikir-pikir memang benar apa yang di katakan Radit. Lagi pula ini adalah waktunya untuk Kendra. Mumpung baby Rendra tidak sedang rewel.
Meskipun sudah memiliki adik, Sya tidak ingin memperlakukan Kendra yang merupakan anak pertama dengan tidak adil karena terlalu over dalam memberikan perhatiannya kepada baby Rendra. Sya ingin dia memperlakukan kedua anaknya ini dengan seimbang supaya adil.
" Taraaa... Ini kado yang Miss kasih buat Abang. " Kendra memperlihatkan sebuah kotak yang di bungkus kertas kado bergambar kartun kesukaan Kendra.
" Waaww, belum di buka ya? " Tanya Sya kepada Kendra.
Seketika bocah tampan itu menggelengkan kepalanya.
"Enggak, Abang maunya buka baleng-baleng sama Bunda. Kan bila selplesss. " Jawab Kendra seraya menampilkan senyum dengan sederetan gigi yang terlihat rapi.
"Oke, kalau gitu ayo kita bareng-bareng. " Ujar Sya kepada Kendra.
Dengan semangat 45 Kendra langsung mendekat dan naik kembali ke ranjang.
"Ayo Bunda kita buka. " Kendra sangat semangat saat menatap kadonya.
Sya mengambil gunting yang ada di nakas samping ranjang.
satuu...
dua....
tiga....
Terlihat sebuah botol minum di dalamnya. Meski hanya sebuah botol minum tapi itu sudah cukup membuat Kendra sangat bahagia.