Baby... I Love You

Baby... I Love You
Pembahasan umur



Fardan datang dengan wajah yang terlihat sudah segar karena selesai mandi.


"Sudah lama Mas?" Tanya Fardan kepada Radit.


"Belum, baru beberapa menit yang lalu." Jawab Radit.


"Ekhem, adeknya sendiri enggak disapa." Ya, jiwa Sya sebagai anak bungsu seketika muncul jika sudah berhadapan dengan Fardan. Biar bagaimana pun Fardan adalah kakak yang selalu ada untuknya sejak Sya masih kecil. Dan sampai akhirnya masing-masing dari mereka sudah menikah pun Fardan tetap selalu ada untuk Sya.


Fardan, Asti, dan Radit sketika langsung tersenyum melihat sifat manja Sya.


"Sayangnya Mas, apa kabar dek? Maaf ya waktu adek lahiran Mas enggak bisa dateng." Ujar Fardan dengan raut wajah menyesal. Karena jujur saja itulah penyesalan Fardan selama ini, tidak ada untuk Sya saat Fardan tau adiknya itu sedang berjuang antara hidup dan mati.


"Adek baik Mas." Jawab Sya seraya tersenyum. "Enggak papa Mas, toh adek udah baik-baik aja. Lihat tuh anak yang adek lahirin, gemoy kan kaya Shanum?" Ujar Sya seraya menunjuk baby Rendra yang saat ini tiduran di kasur lantai bersama Shanum dan juga Kendra yang menjaganya. Tadi setelah Kendra memberikan hadiah yang dia beli kepada Shanum, balita cantik itu langsung senang. Meskipun belum bisa jalan dan belum lancar bicara, dengan gemasnya dia meminta Kendra untuk bermain bersamanya.


Fardan melihat kearah baby Rendra yang sedang bermain dengan ludahnya sendiri. Sedangkan Shanum dan Kendra asik bermain barbie dan mobil-mobilan disamping baby Rendra.


"Oo ini ponakan Om yang gemesin." Ujar Fardan seraya menggendong baby Rendra. Bayi gembul itu menatap Fardan dengan mata bulatnya, tidak terlihat ada ketakukan diwajahnya meskipun ini adalah pertemuan pertama mereka. Fardan dengan gemas menciumi pipi bakpao milik baby Rendra.


Shanum yang melihat Papanya menggendong baby Rendra seketika langsung mencebikkan bibirnya ke bawah tanda tidak suka.


"Papa.. no.. no... " Sembari merangkak Shanum menghampiri Fardan yang berdiri tidak jauh darinya. Dengan berpegangan dengan kaki Fardan balita cantik itu bisa berdiri.


Semua orang terkekeh geli melihat betapa posesifnya Shanum kepada sang Papa. Padahal saat tadi Asti menggendong baby Rendra, Shanum tidak seperti itu.


Fardan memberikan baby Rendra kepada Asti dan meraih putrinya itu.


"Kenapa Mbak, Embak cemburu sama adek Rendra karena Papa gendong?" Ujar Fardan seraya menciumi pipi gembul Shanum.


"No.. no.. Papa.. no." Shanum memeluk leher Fardan erat.


"Om Faldan, kok dedek Shanum di panggil embak sih. Kan dedek Shanum masih kecil." Ujar Kendra kepada Fardan, pasalnya dia bingung saat mendengar Fardan memanggil Shanum dengan panggilan Mbak, yang Kendra tau merupakan panggilan untuk wanita yang lebih dewasa dart mereka.


Fardan, Asti, Sya dan Radit tersenyum mendengar pertanyaan kritis Kendra. Bocah tampan itu selalu bertanya jika ada suatu hal yang sekiranya tidak bisa dia pahami


"Karena nanti adek Shanum akan jadi Embak buat adek-adeknya. Termasuk Abang Kendra juga harusnya panggil Shanum itu mbak bukan adek." Ujar Fardan memberikan penjelasan.


Semua orang paham dengan maksud ucapan Fardan, kecuali Radit dan Kendra tentunya.


"Kenapa gitu?" Tanya Radit tidak paham. Radit kira Shanum di panggil Mbak karena sebentar lagi akan memiliki adik.


"Kamu enggak tau Mas?" Tanya Sya kepada Radit.


"Enggak." Jawab Radit polos.


"Sama, Abang juga enggak tau." Jawab Kendra menyambung ucapan Radit.


Asti dan Fardan tertawa kecil melihat raut wajah bingung sepasang Ayah dan anak itu.


"Jadi, Abang Kendra harus panggil Adek Shanum Mbak itu karena keturunan. Meskipun Abang usianya lebih tua dari adek Shanum, tapi karena Bunda Abang itu adeknya Om Fardan jadinya posisi Abang juga jadi adeknya Shanum. Abang paham enggak dengan penjelasan Om?" Tanya Fardan kepada Kendra.


Dengan polos Kendra menggelengkan kepalanya.


"Abang enggak paham." Ya sepintar-pintarnya Kendra tapi tetap jangan lupakan kalau Kendra adalah seorang anak kecil.


Sya dan Asti tertawa mendengar jawaban Kendra.


"Enggak papa, nanti kalau Abang udah besar juga pasti akan paham kok." Ujar Fardan kepada Kendra. "Kalau kamu paham Mas?" Tanya Fardan kepada Radit.


Radit menganggukan kepalanya.


"Berarti harusnya aku panggil kamu Mas dong? Kan aku adek ipar kamu." Tanya Radit kepada Fardan.


Fardan menganggukan kepalanya.


"Ya memang bener begitu, tapi karena usia Mas Radit lebih tua jauh dari pada aku mending nggak usah panggil Mas." Jawab Fardan.


Ya, orang Jawa memang begitu. Jika kamu adalah anak dari orang tua yang merupakan kakak pertama, meskipun usia kamu lebih muda dibandingkan dengan adik sepupu kamu, maka posisi kamu akan tetap menjadi kakak.


"Kenapa jadi bahas ini yah." Ujar Sya bingung.


"Enggak tau." Jawab Asti santai.





"Asti, kamu ada rencana nambah momongan?" Tanya Sya seraya memotong bawang-bawangan dan juga cabai.



"Ada lah. Lagian kalau aku sama Mas Fardan enggak nambah anak lagi nanti yang ada Shanum kesepian." Jawa Asti.



"Kapan kira-kira kamu berencana bikinin adek buat Shanum?" Sya masih saja menanyai Asti.



"Ehhmm, kayaknya kalau Shanum udah lepas ASI, aku sama Mas Fardan langsung mau program anak kedua. Kayaknya asik aja gitu kalau jarak anak enggak terlalu jauh. Jadi mereka gedenya bisa kaya temen." Jawab Asti seraya tersenyum. Membayangkan Shanum memiliki adik adalah sesuatu yang menyenangkan.



"Kamu kapan mau rencana nambah anak lagi Sya?" Kali ini gantian Asti yang bertanya kepada Sya.



Sya menghembuskan nafasnya pelan.


"Aku enggak tau As." Jawab Sya pelan.



"Kenapa? Mas Radit nggak pengen punya anak lagi?" Tanya Asti.



"Sebenarnya Mas Radit juga pengen punya anak lagi, tapi... dia trauma." Jawab Sya.



Asti mengerutkan dahinya. Trauma? Memangnya Radit memiliki trauma apa sampai laki-laki itu tidak ingin memiliki anak lagi? Atau jangan-jangan...



"Mas Radit trauma karena liat aku pendarahan waktu mau melahirkan. Di tambah setelah melahirkan seperti yang kamu tau kalau aku sempat tidak sadarkan diri. Mas Radit takut kalau aku hamil lagi kejadian itu akan terulang." Jawab Sya.



Tepat, seperti apa yang Asti pikirkan.



"Untuk sekarang biarkan saja. Nanti kamu pelan-pelan kasih penjelasan ke Mas Radit. Yakinkan dia kalau kamu tidak akan mengalami hal seperti itu lagi Sya." Ujar Asti.



Sya menganggukan kepalanya. Dia akan berusaha untuk membujuk Radit lagi nanti setelah baby Kendra sudah lebih besar.


.


.


.



*Selamat membaca, ditunggu kritik dan sarannya ya😍*



*Jangan lupa juga baca* ***Laras for Dani****☺😂*



**Terima** ***Kasih😘****💕*