
" Namanya Radit Ma, dan bener dia sekarang duda. Mas Radit itu bosnya Sya di kantor. " Jawab Sya.
" Loh bosnya adek? Kok tadi waktu adek video call Mama dirumah Mbak Riana adek kayak yang akrab banget sama mertua. Adek sama Nak Radit pacaran ya? Beneran pacaran sama bos sendiri? "
" Belum Ma. " Jawab Sya.
" Oo belum, ya sudahlah. " Ujar Mama Farida biasa saja.
" Emang Mama ngebolehin kalo adek pacaran sama Duda? " Tanya Sya karena penasaran dengan respon Mama Farida kalau dia benar-benar menjalin hubungan dengan Radit.
" Memang kenapa kalo sama Duda? Nggak ada salahnya kok. Apalagi kalo dia pribadi yang baik, sayang dan dapat membimbing adek. Dan yang paling penting tuh harus takut sama gusti Allah. " Jawab Mama Farida.
" Gitu ya Ma. " Jawab Sya mengangguk-anggukan kepalanya paham.
" Iya, gitu. "
" Ya udah Ma, adek mau makan dulu ya. Mama sama Ayah sama Mas Fardan sehat-sehat disana. " Ujar Sya kepada Mama Farida.
" Iya dek, kamu juga sehat-sehat disana. Jangan makan mie instan terus lho ya. Ini adek mau makan pake apa? " Mama Farida ingat jika Sya ini sangat menyukai mie instan. Tapi menurut penuturan Fardan, dia tidak melihat adanya stok mie instan dilemari makanan milik Sya, jadi dia merasa sedikit lega.
" Nggak Ma, ini adek mau makan nasi kok sama lauk ayam. " Jawab Sya. Memang sudah seminggu ini stok mie instannya sudah habis. Dan untung saja dia belum sempat membelinya. Kalau sampai Mas Fardan melihat mungkin Sya akan mendapatkan ceramah panjang kali lebar.
" Ya udah, Mama tutup telfonnya ya, adek makan dulu sana. Assalamu'alaikum. " Ujar Mama Farida mengakhiri panggilan telfonnya.
" Wa'alaikumsalam. "
Setelah mengakhiri panggilan telfonnya dengan Mama Farida, Sya langsung beranjak dari kasur untuk makan, padahal tadi dia sudah makan cukup banyak di rumah Mama Riana. Entah kenapa di jam tanggung seperti ini Sya sudah lapar lagi. Mau menunggu malam rasanya sangat malas.
" Makan ahh.. laper, kalau nunggu malam keburu pingsan aku. " Ujar Sya bergumam.
Baru saja Sya akan memakan makanannya, tiba-tiba pintu diketuk oleh Dita.
Tok... tok... tok...
"Mbak Sya, aku mau main. " Ujar Dita dari balik pintu.
" Buka aja Dit, pintunya nggak aku kunci. " Jawab Sya dari dalam.
Ceklek...
" Lagi apa mbak? " Tanya Dita dengan kepala yang menyembul dari balik pintu.
" Lagi makan, sini masuk. Tutup pintunya. "
" Mbak Sya kok jam segini baru makan? " Tanya Dita heran.
"Laper Dit, kamu mau makan nggak? Mumpung Mbak punya lauk enak. " Ujar Sya menawari Dita.
" Lauk apa? " Tanya Dita.
" Liat aja tuh dirantang. "
Dita berjalan kedapur yang memang ada disebelahnya.
" Wihhh enak nih. Mau makan ah Mbak. " Ujar Dita berbinar.
" Ambil aja. Itu nasinya di rice cooker. "
Dita kembali kehadapan Sya dengan nasi berisi nasi dan lauk.
" Mas Fardan udah pulang tadi subuh kan ya Mbak? Tapi kok dari tadi aku liat kamar Mbak Sya dikunci dari luar. Abis darimana kok nggak ngajak-ngajak aku? " Tanya Dita seraya menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
" Tadi Mbak dijemput Pak Radit disuruh main kerumahnya, katanya Kendra kangen sama Mbak. " Jawab Sya menjelaskan.
" Yang kangen Pak Radit apa Kendra? " Tanya Dita menggoda Sya.
" Mana Mbak tau. tapi kayaknya Kendra deh." Karena yang Sya tau memang Kendra yang merindukannya. " Udahlah abisin dulu makanannya, baru nanti kita cerita lagi. " Tambah Sya.
" Oke siap boss. "
Dirumah Radit sedang memikirkan ucapanan Pak Didin yang meminta PJ yang baru Radit tau artinya pajak jadian. Dulu saat dia pacaran tidak ada tuh yang minta pajak seperti itu. Kenapa makin kesini tren bahasa anak muda semakin aneh.
" Jadi apa yang harus aku beli untuk pajak jadian? " Ujar Radit bergumam kepada dirinya sendiri. " Tapi tadi Pak Didin bilang kalau pajak jadian itu semacam traktir makanan. Aku beli pizza aja kali ya. " Pada akhirnya Radit memutuskan untuk membeli pizza saja.
Dihubunginya restoran langganan tempat Radit biasan membeli Pizza.
" Saya pesan 20 box pizza diantar ke Kosan Permata nomor 2 di Jalan Cendrawasih ya Mbak. "
" Baik Pak. Mohon ditunggu sebentar. "
Radit tersenyum sendiri mengingat kejadian tadi saat mengantarkan Sya pulang. Rasanya dia memang seperti anak muda yang sedang jatuh cinta. Berdua bersama Sya pada akhirnya membuat Radit sadar jika Sya tidak sedewasa seperti yang terlihat selama ini. Ternyata Sya adalah pribadi yang ceria dan senang tertawa. Hal ini tentu saja membuat sifat dinginnya menjadi mencair. Dan Radit menikmati perasaan ini.
" Aku bahkan tidak mengingat sedikitpun kenangan kita dulu saat kita kecil. Tapi ternyata Tuhan membuat kita bertemu lagi setelah belasan tahun lamanya. " Gumam Radit seraya terkekeh kecil. " Mungkin memang benar apa kata Mama jika kamu adalah menantu sesungguhnya, wanita yang akan menjadi istriku untuk selamanya. "
" Ayah, ayo kita belamain belsama Gley, kasian Gley kesepian. " Radit dikagetkan dengan kedatangan Kendra yang tiba-tiba.
" Kalo masuh ketuk pintu dulu sayang. " Ujar Radit mengingatkan.
" Maaf Ayah, tadi pintuna telbuka. " Jawab Kendra tersenyum memamerkan gigi susunya yang putih dan rapi itu.
" Ya sudah ayo kita bermain bersama Grey. Tapi nanti kita pulang kerumah yah. " Ujar Radit mengelus kepala Kendra.
" Tapi Gley nanti gimana? " Tanya Kendra.
" Grey biar disini nemenin Oma sama Opa. Emangnya Kendra nggak kangen sama Mbok Inah dan Mbak Tinah? Pasti mereka kesepian dirumah. " Ujar Radit berusaha membujuk Kendra.
" Oke Ayah. " Dengan berat hati Kendra mengiyakan ucapan Ayahnya itu.
" Good boy. " Ujar Radit mengacak rambut Kendra.
" No Ayah, Lambut Kendla nanti belantakan. " Kendra menampilkan wajah cemberutnya yang justru membuat Radit tertawa gemas.
" Mas Fardan kok ya bisa ganteng banget gitu sih Mbak. " Ucap Dita kepada Sya yang membuat Sya langsung tertawa geli.
" Ya iyalah, kamu nggak liat adeknya cantik begini. " Ujar Sya semakin tertawa.
" Iihhh PD kali Mbak Sya ini. " Jawab Dita mencebikkan bibirnya.
" Tapi emang cantik kan? Kamu aja sampe tanya skincare apa yang aku pakai. " Ujar Sya menggoda Dita.
" Iya iya, Mbak emang cantik. " Jawab Dita.
" Nah gitu. Kan enak dengernya. "
Disaat Dita dan Sya sedang bercerita kesana kemari entah itu mengenai drakor, kuliah Dita dan yang lainnya, tiba-tiba pintu kamar Sya diketuk oleh Pak Didin.
tok... tok... tok...
" Permisi Mbak Sya. " Ucap Pak Didin.
" Iya Pak, sebentar. " Sya beranjak dari duduknya.
" Ada apa ya Pak? Kok tumben banget ke kamar aku. " Tanya Sya begitu membuka pintu kamarnya.
" Itu Mbak, ada kiriman 20 box pizza dari Mas Radit. "