Baby... I Love You

Baby... I Love You
Serabi



" Semangat sekolahnya Abang. " Ujar Sya kepada Kendra.


Saat ini Sya dan Radit seperti biasa mengantarkan Kendra ke sekolahnya. Jika biasanya hanya Radit, tapi sekarang Sya ikut karena Radit tidak ke Kantor.


" Siyyapp Bunda. " Jawab Kendra dengan ceria.


" Yang rajin sekolahnya, oke Bang. " Radit tidak lupa memberikan nasihat untuk putranya itu.


" Oke Ayah.. " Jawab Kendra dengan semangat.


Sya dan Radit mengantarkan Kendra sampai depan kelas.


" Abang sekolah dulu ya adek, nanti kita main baleng lagi di lumah. Assalamu'alaikum. " Tidak lupa Kendra berpamitan kepada dedek bayi yang ada di perut Sya.


" Wa'alaikumsalam Abang, nanti adek tunggu di lumah yah. " Jawab Sya seraya menirukan suara anak kecil.


Setelah mengantarkan Kendra, Sya dan Radit kembali ke mobil.


" Mas, kita jalan-jalan dulu yuk. Jangan langsung pulang. " Ujar Sya kepada Radit.


Cuaca pagi ini yang sedang cerah membuat Sya ingin menikmati suasananya.


" Boleh, kamu pengen kemana sayang? " Tanya Radit seraya menyalakan mesin mobilnya.


" Ke Taman Kota kayaknya seru Mas, disana pasti suasananya sejuk. " Sya membayangkan betapa menyenangkannya kalau dia duduk di bawah pohon rindang menikmati seraya menikmati jajanan pasar.


" Ya udah, sekarang kita kesana ya. " Jawab Radit seraya tersenyum lembut.


" Tapi kita mampir ke pasar dulu ya. " Ujar Sya. Matanya berbinar seperti ada sesuatu yang begitu menarik perhatiannya.


" Ke pasar? Kamu pengen beli apa sayang? " Radit tau jika Sya sedang ngidam mode on. Ya, karena sebelum hamil Sya tidak pernah menunjukkan wajah begitu ingin seperti sekarang ini.


" Banyak, kita liat aja disana ada apa aja. " Jawab Sya.


Radit hanya mengikuti kemauan istrinya itu. Selama ini ngidam Sya adalah sesuatu yang cukup mudah untuk didapatkan. Dan sangat jarang Sya ngidam saat tengah malam. Mungkin bayi di dalam perut Sya ini memang tidak ingin merepotkan mereka berdua.


Tidak jauh dari sekolahan Kendra, sekarang ini Sya dan Radit sudah ada di pasar. Cukup ramai karena memang ini masih pagi. Banyak penjual jajanan dan sayur-sayuran yang menggelar dagangannya di depan toko yang masih belum buka.


Sya menyapukan pandangannya kesana kemari, perhatiannya tertuju pada penjual serabi. Eehmm, sepertinya Sya ingin makan itu.


" Mas, beli serabi ya. " Ujar Sya kepada Radit.


" Yang mana? " Tanya Radit, dia bahkan tidak melihat ada penjual serabi di sini.


" Itu loh, " Sya menunjuk sebuah gerobak berwarna biru. Terlihat tulisan Serabi Solo di gerobaknya, cukup jauh memang tapi masih jelas terlihat di mata Sya dan Radit.


" Ya udah ayo kesana. " Radit menggenggam tangan Sya agar tetap di sampingnya.


Begitu sampai di tempat penjual serabi itu, terlihat seperti piring-piring dari tanah liat yang digunakan untuk membuat serabi terjejer rapi diatas bara api. Hhhmm, Sya semakin tidak sabar ingin menikmati serabi itu.


" Ibuk, saya mau dong serabinya. 10 biji ya. " Ujar Sya dengan ceria.


" Iya neng, tunggu sebentar ya. " Ujar Ibu penjual dengan ramah. " Mau toping apa aja neng? " Tanya ibu penjual kepada Sya.


" Eehhmm, sebentar buk. " Sya melihat toping apa saja yang ada disana. Namun dari sekian banyak toping yang ditawarkan, Sya hanya tertarik dengan toping coklat dan keju saja.


" Keju sama coklat aja Buk. " Ujar Sya memberitahu.


Radit yang melihat Sya begitu tertarik dengan proses pembuatan serabi itu tidak bisa menahan senyum untuk tidak terbentuk di bibirnya. Namun melihat kelucuan wajah Sya ini memang tidak bisa membuatnya menahan senyum.


" Wangi kan Mas. " Ujar Sya kepada Radit. Aroma dari gurihnya santan terasa begitu menggoda di hidung Sya yang sekarang ini menjadi sangat sensitif itu.


" Iya sayang. " Radit mengiyakan ucapan Sya, meski sebenarnya Radit sendiri tidak mencium aroma yang dimaksud oleh Sya.


" Ini neng serabinya, totalnya jadi 30 ribu. " Ujar Ibu penjual memberikan pesanan Sya.


" Oo iya, ini buk uangnya. Terima kasih ya. " Sya memberikan uang pas untuk membayarnya.


" Sama-sama neng, Terima kasih juga. "


" Hhmm, wangi. " Sya mencium aroma serabi yang ada di dalam box kantong kreseknya.


" Masih ada lagi nggak? " Tanya Radit kepada Sya. Rasanya tidak mungkin kalau Sya hanya membeli satu macam saja. Cemilan Sya perhari dalam sekali makan saja lebih dari 3 macam.


" Belum dong Mas, kita cari-cari lagi ya. " Ujar Sya seraya tersenyum.


Benar bukan apa yang Radit katakan tadi? Sya tidak mungkin hanya membeli makanan satu macam saja.


" Baiklah, ayo kita cari. Tapi kamu nggak capek kan yank? " Tanya Radit kepada Sya. Pasalnya mereka sudah berjalan agak lama.


" Enggak Mas, kan sekalian olahraga juga. Kata Mama bagus kok kalo ibu hamil sering jalan. " Jawab Sya.


Lebih dari satu jam mengelilingi pasar, Sya berhasil membeli beberapa jajanan lagi selain serabi, ada onde-onde, klepon, dadar gulung, risoles, dan kue cubit. Dan sekarang di tangannya juga sedang menggenggam seplastik es kelapa muda karena Sya merasa haus setelah berburu jajanan.


" Udah Mas, kayaknya cukup deh. Tapi enggak jadi ke taman ya, soalnya udah capek aku. " Ujar Sya kepada Radit. Kakinya sudah lelah dan lagi cuaca juga semakin panas. Sya rasanya ingin cepat-cepat mandi saja.


" Iya, ya udah kita pulang aja. " Jawab Radit.


Sya dan Radit masuk ke mobil untuk pulang.


" Ternyata aku belinya banyak banget ya Mas. " Ujar Sya menatap kantong-kantong berisi makanan yang dia beli.


" Emang kamu baru sadar yank? " Tanya Radit seraya terkekeh geli.


Sejak tadi Sya tidak menyadari kalau makanan yang dia beli cukup banyak. Saat Sya bilang ingin ini ingin itu, Radit selalu mengatakan iya, jadi ya gimana ya, apalagi semua ini Radit yang bayar. Sya kan jadi khilaf.


" Hehehe, nggak papalah toh di rumah ada embak sama satpam. Dan juga ada Mama sama Ayah juga kan. " Ujar Sya menenangkan diri. Ya, dia tidak akan berbuat mubazir dengan membuang-buang makanan. Pasti akan habis kok, ujar. Sya berpikir positif.


" Hahaha... " Radit hanya tertawa melihat Sya yang masih shok dengan banyaknya makanan yang dia beli itu.


Di perjalanan Sya sudah tidak sabar untuk mencicipi serabi, jajanan yang pertama kali menarik perhatiannya saat di pasar tadi.


" Aku makan serabi disini boleh Mas? " Tanya Sya kepada Radit.


" Ya boleh sayang, kamu beli emang buat dimakan kan? " Jawab Radit seraya terkekeh geli mendengar pertanyaan polos yang Sya lontarkan kepadanya.


Dengan semangat Sya membuka kotak serabinya. Setelah mencium aromanya, Sya menggigitnya perlahan.


" Heemm, enak... " Sya menikmati serabi itu sendiri, dan pada serabi yang kedua Radit menginterupsi nya.


" Kamu nggak tawarin aku? " Tanya Radit kepada Sya. Ya inilah. Sya yang sekarang, sering lupa segalanya kalau sudah bertemu makanan yang dia suka.


" Hehehe, lupa Mas. Aku suapin ya. " Sya menyodorkan serabi yang ada di tangannya itu kepada Radit agar menggigitnya.


" Enak enggak? "Tanya Sya kepada Radit.


" He.em, enak kok. " Jawab Radit.


" Besok kita beli lagi ya Mas, 20 biji. " Ujar Sya kepada Radit.


Ya Tuhan, ini aja belum habis, tapi Sya sudah berpikir ingin membelinya lagi besok, bahkan 20 biji. Namun meski begitu Radit tetap mengiyakan ucapan Sya itu.


" Iya sayang, besok kita beli lagi. "