Baby... I Love You

Baby... I Love You
Menolak Berbicara



Sya terbangun dari tidurnya, ternyata di luar masih terlihat gelap. Dan memang saat Sya melihat kearah jam yang terpasang di dinding, ini masih pukul 5 pagi. Sya melihat kearah Radit yang tertidur di sofa yang ada di ruangan ini. Terlihat Radit tidur dengan tidak nyaman, bagaimana tidak, tubuhnya yang besar dan menjulang tinggi itu harus tidur di sebuah sofa yang besar dan panjangnya tidak seberapa.


Sebenarnya Sya tidak tega untuk membangunkan Radit yang terlihat sangat keleahan itu, tapi mau bagaimana lagi Radit belum melaksanakan sholat subuh. Dan Sya yang sudah bangun tentu saja memiliki kewajiban untuk membangunkan suaminya itu untuk melaksanakan kewajibannya sebagai umat beragama Islam.


"Mas Radit..." Panggil Sya dengan suara agak keras.


Dan ajaibnya Radit langsung membuka matanya. Hal yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Biasanya Radit baru bisa terbangun kalau Sya sudah membangunkannya beberapa kali. Apa saking tidak nyamannya Radit tidur di sofa itu?


"Heemm, kenapa sayang? Kamu butuh sesuatu?" Tanya Radit dengan suara serak khas bangun tidur, laki-laki itu langsung bangun dari tidurnya dan duduk seraya mengusap wajahnya untuk menhilangkan rasa kantuknya.


"Enggak Mas, aku enggak butuh apa-apa kok. Tapi ini udah pagi, Mas harus sholat subuh kan?" Ujar Sya kepada Radit.


"Ooo udah pagi ya." Gumam Radit seraya menatap jam yang terpasang di dinding. "Kamu beneran nggak butuh apa-apa sayang?" Tanya Radit memastikan sekali lagi.


"Enggak kok Mas, udah sana kamu mandi dulu terus ambil wudhu." Ujar Sya dengan lembut.


Sepulang kerja kemarin Radit memang belum mandi sama sekali. Dan saat akan mandi pun tidak bisa karena Radit tidak membawa baju ganti. Pak Agus mengantarkan pakaiannya saat jam hampir menuju tengah malam, sebenarnya dia ingin mandi tapi rasanya terlalu malas karena sebentar lagi pagi. Dan ya, Radit baru bisa mandi sekarang.


Radit segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Sepeninggalnya Radit, Sya terdiam di tempat tidurnya. Tidak sabar rasanya dia untuk bisa segera bertemu dengan Kendra dan baby yang sudah dia lahirkan kemarin malam.


Meskipun rasa bersalah masih sedikit menyelusup di dalam hatinya, tapi Sya mencoba untuk tetap ikhlas dan sabar dengan apa yang telah tejadi.




Dengan cepat matahari menyingsing dari ufuk timur. Saat ini Sya sedang menghabiskan sarapan paginya disuapi oleh Radit.



"Mas, Abang sama adek kapan kesininya? Aku udah kangen banget sama mereka." Ujar Sya kepada Radit.



Radit tersenyum mendengar Sya yang sedang merajuk itu.


"Sabar sayang, ini aja masih jam 7. Abang juga pasti baru bangun. Nanti pasti di anter kesini kok. Dan adek juga nanti di bawa kesini sama suster, aku denger kondisi adek juga udah stabil. Sekarang makanannya habisin dulu biar kamu cepet sehat." Ujar Radit dengan lembut.



Dan benar, setelah Sya selesai menghabiskan makanannya dan juga membersihkan tubuhnya dengan di bantu oleh Radit, tidak berapa lama kemudian pintu kamarnya di ketuk dan masuklah Mama Farida, Ayah Dodi, Mama Riana, Papa Riyan dan Kendra.



"Assalamu'alaikum ." Ucap Mama Farida saat masuk ke dalam ruangan Sya. Terlihat wajah Mama Farida yang sembab seperti habis menangis.



"Wa'alaikumsalam." Jawab Radit dan Sya bersamaan.



"Mama..." Ucap Sya lirih begitu melihat Mamanya.



Orang tua Sya sebenarnya datang sudah dari semalam, tapi Radit dan orang tuanya melarang untuk datang ke rumah sakit langsung karena kondisi Mama Farida yang saat sampai sedang tidak fit, jadi mereka baru ke rumah sakit pagi harinya.



"Adek udah enggak papa kan?" Tanya Mama Farida dengan lembut. Di peluknya si anak bungsu kesayangannya ini.



"Adek udah baik-baik aja kok Ma, Mama sama Ayah nggak usah khawatir lagi." Jawab Sya menenangkan Mama Farida.



"Adek hebat, selamat sekarang udah jadi Ibu." Ucap Ayah Dodi saat gilirannya memeluk Sya.



Rasa cemas seketika hilang setelah mendapati keadaan Sya yang sudah lebih baik. Dari semalam sejak Mama Farida dan Ayah Dodi mengetahui Sya yang terjatuh dan pedarahan pikiran buruk langsung berkelana di kepala mereka. Terlebih saat mengetahui kalau Sya sempat kritis.



Perhatian Sya langsung tertuju kepada Kendra yang sedari tadi menyembunyikan wajahnya di dada Papa Riyan. Sejak masuk kendra tidak berbicara sedikitpun bahkan tidak mengangkat kepalanya sama sekali.



"Abang, Abang enggak mau peluk Bunda? Emangnya Abang enggak kangen? Bunda aja semalem enggak ketemu sama Abang kangen banget." Ujar Sya kepada Kendra.



Kendra hanya diam tidak menjawab pertanyaan Sya sama sekali.




"Abang...." Panggil Sya dengan lembut.



"Abang itu di panggil Bunda loh." Bisik Radit di telinga Kendra.



Tapi tetap saja tidak ada jawaban dari Kendra.



"Abang, Bunda nanti sedih loh kalau Abang nggak mau ngomong sama Bunda." Bisik Radit lagi.



"Abang marah ya sama Bunda." Ucap Sya kepada Kendra. Dan seketika Kendra langsung menggelengkan kepalanya meskipun tidak mengangkat kepalanya sama sekali.



"Terus kalau enggak marah kok Abang enggak mau ngomong sama Bunda?" Sya mengeluarkan suara bernada sedihnya.



"Abang, Bunda nangis tuh." Bisik Radit.



Tanpa di duga justru terdengar isakan dari Kendra. Apa bocah tampannya ini sedang menangis?



Sya langsung meminta Radit untuk membawa Kendra ke ranjangnya, awalnya Kendra menolak dan menangis semakin keras.Tapi akhirnya Kendra mau duduk di samping Sya. Sebenarnya Sya ingin Kendra duduk di pangkuannya, tapi kondisinya yang sehabis operasi ini tidak memungkinkan Sya untuk melakukan itu.



"Husshh, jangan nangis, masa udah punya adek masih suka nangis." Ujar Sya menggoda Kendra.



Tapi Kendra masih tetap menangis dengan memejamkan matanya menolak untung melihat kearah Sya.



"Abang.... Kenapa enggak mau liat Bunda? Abang enggak sayang lagi sama Bunda." Tanya Sya sedih.



"Maafin Abang Bunda... Abang nakal kalena enggak temenin Bunda. Abang buat Bunda beldalah kemalin kalena Abang mainan telus." Kendra menangis menumpahkan isi hatinya.



Sya dan Radit yang mendengar ucapan Kendra itu langsung merasa bersalah.



"Sekarang Abang buka matanya." Ucap Sya dengan lembut.



Dengan perlahan Kendra membuka matanya dan menatap Sya masih dengan sesenggukan.



Melihat wajah sembab Kendra rasanya Sya sangat sedih, terlebih penyebabnya adalah Sya sendiri.



"Abang... Dengerin Bunda, Abang enggak nakal kok. Siapa yang bilang kalau Abang nakal? Kemarin Bunda berdarah bukan karena Abang, tapi karena Bunda yang kurang hati-hati. Jadi sekarang stop jangan nangis lagi dan jangan merasa bersalah." Ujar Sya menjelaskan, nada suaranya terdengar kalau dia merasa sangat bersalah kepada Kendra.



Radit yang mendengar penuturan Kendra pun tanpa sadar meneteskan air matanya.



"Abang mau ketemu adek?" Tanya Sya mengalihkan pembicaraan. Dan berhasil, mendengar ucapan Sya mata kendra langsung berbinar bahagia.



"Iya, Abang mau lihat adek." Jawab Kendra lirih.



"Sebentar lagi adek kesini kok." Ujar Radit menyambung pembicaraan.