
5 tahun kemudian.
"Mas, main ke taman yuk." Sandra sedari kemarin terus merengek ingin main ke taman komplek. Tapi karena sejak kemarin hujan, Sya tidak memperbolehkannya.
"Sama Abang aja dek, Mas lagi ngerjain gambar belum selesai." Jawab Rendra.
Rendra saat ini sudah berusia 10 tahun, sama seperti dulu bocah tampan itu masih menyukai aktivitas menggambar. Bahkan sekarang bukan lagi gambar hewan yang Rendra gambar. Saat ini Rendra sedang suka menggambar berbagai macam bangunan baik itu gedung, jembatan, rumah, dan sebagainya.
"Enggak ah, Abang nggak asik dari tadi baca buku terus." Ujar Sandra seraya memanyunkan bibirnya. Tidak seperti kakak-kakaknya yang saat kecil tidak bisa melafalkan huruf R, di usia 4 tahun Sandra sudah bisa mengucapkannya dengan jelas.
Sama seperti Rendra, Kendra yang saat ini berusia 14 tahun dan duduk di bangku kelas 2 SMP itu masih dengan hobi lamanya, yaitu membaca buku. Buku yang Kendra baca juga sudah bukan lagi buku cerita anak-anak ataupun komik. Kendra saat ini lebih suka membaca buku mengenai bisnis dan saham. Bagaimana bisa anak yang baru saja menginjak remaja seperti Kendra justru membaca buku semacam itu? Semua bermula saat Kendra mulai kehabisan buku bacaan. Bocah remaja itu memutuskan untuk meminjam buku yang ada di ruang kerja sang Ayah, dan kebetulan buku yang diambilnya mengenai bisnis. Dan ya, Kendra tertarik membaca dan mempelajari buku semacam itu.
"Ya udah kalau gitu minta ijin dulu sama Bunda boleh nggak pergi ke taman. Hari ini kan juga mendung dek, nanti takutnya baru sampai taman malah hujan." Ujar Rendra kepada Sandra.
Dengan semangat Sandra berlari menuju dapur untuk menemui Sya yang sedang membuat puding, dessert kesukaan anak-anak dan juga suaminya.
"Bunda.... " Dengan riang Sandra memanggil Sya.
"Iya dek, kenapa?" Tanya Sya kepada Sandra. Saat ini dia sedang memasak cairan puding di kompor.
"Adek sama Mas boleh ke taman Bunda?" Tanya Sandra dengan wajah penuh harap.
Sya melihat ke arah luar, mendung dan grimis kecil.
"Adek coba liat itu langitnya gelap kan? Dan lagi, udah grimis takutnya sebentar lagi hujan. Adek main di rumah dulu ya sama Abang sama Mas. Besok kalau udah nggak mendung atau hujan boleh main ke taman." Ujar Sya memberikan pengertian kepada putri bungsunya itu.
Terlihat raut kecewa di wajah Sandra karena tidak mendapatkan ijin dari sang Bunda.
"Yahh... Tapi Abang sama Mas nggak mau nemenin adek main Bunda." Ujar Sandra mengadu.
Sya tersenyum manis.
"Ya udah, tunggu sebentar ya. Bunda nyelesaiin bikin pudding nya habis itu Bunda temenin adek main." Ujar Sya kepada Sandra.
Dengan lesu Sandra menganggukkan kepalanya, dia kembali ke ruang tengah dimana para kakaknya sedang sibuk dengan hobbynya masing-masing.
Sandra yang benar-benar merasa bosan memutuskan untuk keluar rumah. Baik Rendra maupun Kendra sama sekali tidak menyadarinya.
Merasa langit tidak lagi grimis, Sandra memutuskan untuk bermain sepeda di halaman rumah. Mendadak rasa ingin keluar dari rumah muncul saat Sandra melihat pintu gerbang tidak tertutup. Karena Sya tidak mengijinkan dirinya untuk pergi ke taman komplek, Sandra memutuskan untuk bersepeda di jalanan depan rumah.
Dengan wajah bahagia Sandra keluar dari rumah.
Tiba-tiba... Bruukkk...
Sya, Rendra, Kendra dan Mbak Tinah yang mendengar suara itu langsung berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi. Dan betapa terkejutnya mereka semua saat mendapati ternyata Sandra tertabrak sepeda motor.
Pak Eko yang bekerja sebagai satpam di rumah keluarga Santoso ini tidak mengetahui kalau putri kecil bosnya itu keluar dari rumah karena dia sedang ke kamar mandi.
"Astagfirullah adekk... " Sya langsung menangis begitu mendapati Sandra yang tidak sadarkan diri dengan sepeda yang posisinya jauh dari Sandra.
Begitu pula dengan sang pengendara sepeda motor yang jatuh tersungkur.
Radit yang saat ini sedang ada di kantor langsung berlari ke parkiran begitu mendapat kabar dari Sya kalau putrinya terserempet sepeda motor dan dilarikan ke rumah sakit.
Andre yang melihat bosnya sangat kalut langsung mengambil alih kunci mobil Radit dan menggantikan posisi Radit untuk menyetir.
"Cepet Ndre... " Ujar Radit dengan tidak sabar. Radit takut sesuatu yang buruk terjadi kepada putri bungsunya itu. Dia tidak bisa membayangkan betapa rasa sakit harus dirasakan oleh tubuh mungil Sandra.
Tadi Sya sempat bilang kalau Sandra sudah baik-baik saja setelah mendapatkan perawatan. Tapi tetap saja, Sandra mengalami patah tulang di kakinya dan itu sudah pasti rasanya sangat sakit.
Dengan nafas terengah-engah Radit membuka pintu kamar rawat Sandra. Disana dia mendapati Sya sedang menggenggam tangan mungil putrinya yang saat ini tengah tertidur pulas. Sedangkan Rendra dan Kendra duduk terdiam seraya menundukkan kepalanya di sebuah sofa di sudut ruangan.
"Sayang... " Panggil Radit dengan suara lirih.
Sya yang mendapati Radit datang langsung mengulum senyum tipisnya untuk menenangkan suaminya yang terlihat tidak baik-baik saja itu.
"Tidak apa-apa Yah, adek baik-baik aja." Ujar Sya kepada Radit.
"Bagaimana bisa ini sampai terjadi?" Tanya Radit kepada Sya.
"Dari kemarin adek terus ngerengek minta ke taman komplek tapi Bunda larang karena kemarin hujan dan hari ini juga gerimis. Bunda bilang supaya adek main dulu sama Mas dan Abang selagi nunggu Bunda selesai bikin pudding. Tapi tanpa kita tau ternyata adek keluar rumah dengan sepedanya. Pak Eko juga nggak tau kalau adek keluar karena dia lagi ke kamar mandi. Waktu adek keluar ternyata ada orang lewat naik motor, dia kehilangan keseimbangan karena melihat adek yang keluar tiba-tiba dari gerbang, dan jadilah ban sepeda adek kesenggol." Ujar Sya menceritakan detailnya. Memang setelah di lihat di CC TV oleh Pak Eko, sebenarnya pengendara motor itu juga tidak sepenuhnya salah. Dia tidak mengendarai motornya dengan kecepatan kencang, kejadian ini terjadi bukan karena kecerobohan si pengendara tapi karena rasa terkejut melihat Sandra yang tiba-tiba muncul dengan sepedanya.
"Ayah, maafin Abang karena nggak bisa jaga adek." Ucap Kendra dengan suara lirih.
"Maafin Mas juga Yah, harusnya Mas temenin adek main." Rendra tidak berani menatap Radit sama sekali.
Radit yang melihat itu menghampiri ke 2 putranya.
"Tidak apa-apa, Ayah maafin Bang, Mas, tapi lain kali tolong jaga benar-benar adeknya ya." Ujar Radit seraya membawa Kendra dan Rendra kedalam pelukannya.
Biar bagaimana pun keduanya juga pasti syok dengan kejadian ini.
.
.
.
*Mungkin tinggal 1 lagi extra partnya, mohon bersabar ya😁*
*Jangan lupa kritik dan sarannya 😍*
*Jangan lupa juga baca* ***Laras for Dani*** *sembari nunggu sequel* ***Baby... I Love You😍😍***
***Terima Kasih 😘💕***