Baby... I Love You

Baby... I Love You
Beli 5 geratis 1



Sudah seminggu sejak mimpi itu datang dalam tidur Radit, Sya sekarang selalu ikut Radit ke Kantor. Kenapa? Karena Radit tidak mau jauh-jauh dengannya. Radit merasa takut setiap Sya jauh dari pandangannya. Dan ya, Sya tentu saja menuruti perintah suaminya itu. Tidak masalah, toh di rumah ataupun di kantor sebenarnya tidak terlalu berbeda untuk Sya. Karena ruangan Radit pun sudah seperti di rumah, ada kamar untuk tidur dan juga pantry minimalis untuk sekedar menghangatkan makanan atau bahkan memasak makanan yang simple. Justru dengan berada di kantor Sya sesekali bisa bertemu dengan teman-teman satu divisinya dulu.


Seperti sekarang ini, Sya sedang duduk di sofa dengan banyaknya cemilan di meja. Ada cokelat, keripik, cookies, sekotak susu hamil, dan banyak lainnya. Radit tidak pernah membiarkan istrinya itu sampai kelaparan.


Selagi Radit fokus dengan pekerjaannya, Sya fokus dengan IPad di tangannya yang sedang menampilkan drama Korea kesukaannya.


Sesekali Radit tersenyum melihat kearah Sya yang sejak kehamilannya itu justru terlihat semakin imut, wajahnya terlihat begitu serius melihat drama koreanya. Buat Radit tidak masalah jika Sya menyukai laki-laki yang sering dia panggil Oppa itu. Toh itu hanya untuk hiburan Sya saja. Selama masih dalam batas wajar kenapa kita harus melarang kesukaan pasangan kita bukan? Toh selama ini Sya juga tidak pernah berbuat di luar batas. Sya menjalankan tugasnya sebagai istri dan Bunda dengan baik.


Hampir satu jam berlalu, Radit sudah tidak mendengar suara dari drama yang sedang istrinya tonton itu. Dan saat Radit melihat ke arah Sya, terlihat istrinya itu tertidur pulas dengan IPad yang sudah tergeletak di meja.


Radit bergegas mendekati Sya saat melihat posisi tidur wanita itu seperti tidak nyaman. Meski tubuh Sya muat seluruhnya di sofa itu, tapi tetap saja tempat itu sempit. Sya tidak bisa leluasa dalam bergerak.


Radit memutuskan untuk memindahkan Sya ke kamarnya. Padahal ini masih jam 10 pagi, tapi memang sejak kehamilannya Sya menjadi lebih sering tertidur.


Bahkan saat Radit menggendong Sya ke kamar pun, istrinya itu tidak terganggu sama sekali karena saking pulasnya.


Setelah memastikan kalau Sya tidur dengan nyaman, Radit kembali lagi ke meja kerjanya karena beberapa berkas masih harus di selesaikan.


...***...


Sya terbangun dari tidurnya. Menatap sekitar yang sepertinya tidak asing baginya, dan sesaat Sya ingat kalau sekarang ini dia ada di kamar yang memang ada di ruangan Radit. Tapi bukankah tadi Sya sedang menonton drama Korea di sofa depan. Apakah dia ketiduran dan suaminya itu memindahkannya ke kamar? Sepertinya begitu.


Sya bangun dari tidurnya dan duduk, memastikan agar kepalanya tidak pusing jika dia berdiri nanti. Ditatapnya jam yang terpasang di dinding, terlihat sudah jam 12, itu berarti jam istirahat kantor sebentar lagi tiba.


Sya beranjak dari ranjang, kemudian menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar. Kemudian dia keluar kamar untuk menemui Radit. Dan ya, terlihat Radit yang masih fokus dengan pekerjaannya. Dahinya sesekali terlihat mengerut. Dengan kacamata baca yang bertengger di hidung mancungnya itu, Radit masih terlihat begitu tampan.


" Mas... " Panggil Sya dengan suara lembutnya.


Radit mendongakkan kepalanya seraya tersenyum, kemudian beranjak dari duduknya untuk menghampiri Sya. Setelah mereka berhadapan, Radit langsung memeluk tubuh mungil istrinya itu. Aaahhhh... Baru beberapa jam tidak melihat Sya saja rasanya sudah sangat rindu. Tidak, bukannya Radit bermaksud untuk lebay, tapi memang inilah yang dia rasakan saat ini.


" Udah bangun sayang, nyenyak boboknya? " Tanya Radit dengan suara lembutnya. Bersama Sya, Radit tidak pernah malu untuk menunjukkan rasa cintanya. Sudah tidak ada lagi kata gengsi dalam hidupnya jika itu bersangkutan dengan Sya. Karena Radit sadar jika dia sangat membutuhkan Sya dalam hidupnya. Dan Sya pun menyadari itu, tapi Radit ingat dengan kalimat yang Sya ucapkan untuknya. Pernah suatu ketika ketika Sya berkata kepadanya " Mas, aku tau kalau kamu sayang sama aku, kamu cinta sama aku, dan aku tidak pernah meragukan itu. Tapi satu hal yang harus Mas ingat, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Mas boleh menyayangi atau mencintai sesuatu, tapi harus dalam batas kewajaran. Allah SWT itu maha pencemburu Mas, jadi Mas tidak boleh mencintai dan menyayangi yang lain lebih dari cinta Mas kepada-Nya. " Dan ya, Radit akan terus mengingat ucapan istrinya itu.


" Nyenyak Mas... Aku tidur lama banget ya. " Jawab Sya seraya tersenyum malu.


" Laper.... " Jawab Sya dengan wajah imutnya. Siapa yang sangka jika usia wanita di depannya itu sudah hampir menginjak 24 tahun. Karena jika orang tidak mengenalnya pasti akan mengira kalau Sya itu masih anak SMA atau kuliahan, bedanya hanya karena saat ini perut Sya sedang buncit . Dan karena inilah Radit selalu merasa sangat tua jika sedang jalan bersama Sya. Padahal jika mereka tau, sifat Radit justru terkadang lebih kekanak-kanakan dari pada Sya.


" Jadi mau makan apa? " Tanya Radit sekali lagi. Senyum bahagia tidak pernah terlihat lepas dari bibirnya.


" Eehmmm, apa ya... " Ujar Sya berpikir.


" Mau pergi atau gofood aja? " Tanya Radit saat melihat Sya terlihat bingung.


" Gofood aja deh kayaknya Mas. Biar milihnya bisa lama-lama. " Jawab Sya seraya terkekeh geli.


" Ya udah, tapi sekarang kita duduk dulu. Kasian dedek bayinya kalau kamu berdiri terus. Dan nanti takutnya kaki kamu malah pegel yank. " Ujar Radit seraya menuntun Sya agar duduk di sofa.


Kemudian Radit memberikan ponselnya mempersilahkan Sya untuk mencari menu yang ingin di makannya. Sya menerima ponsel Radit seraya tersenyum manis. Mendengar kata makanan sudah membuatnya menjadi sangat bahagia.


" Mas mau makan apa? " Tanya Sya kepada Radit tapi fokusnya masih kepada ponsel yang saat ini menampilkan begitu banyak menu.


" Sop iga aja kalo ada. " Jawab Radit lembut.


Sya terlebih dulu mencari makanan yang Radit inginkan itu, baru setelahnya mencari makanan yang dia inginkan. Dan pilihannya jatuh kepada Ayam bakar dan rujak buah.


" Mas beli Thai tea boleh enggak? " Tanya Sya kepada Radit.


" Boleh, kamu mau? " Jawab Radit sekaligus bertanya. Pasalnya Sya memang tidak begitu menyukai minuman itu.


" Enggak... " Jawab Sya.


" Terus kenapa beli? " Tanya Radit bingung.


" Soalnya lagi ada promo beli 5 geratis 1. Nanti ini aku kasiin ke kamu, Dian, Leo, Mas Tio, Mbak Lisa sama Mas Andre. " Jawab Sya dengan polosnya.