Baby... I Love You

Baby... I Love You
Sayang kamu



Benar saja ke esokan harinya setelah selesai sarapan Ayah Dodi mengajak Radit untuk pergi mencari kambing untuk aqiqah baby Rendra lusa. Tentu saja sebagai menantu yang baik Radit menuruti ucapan dari Ayah mertuanya itu.


Radit pada dasarnya tidak tau kambing seperti apa yang di gunakan untuk aqiqah. Dulu saat aqiqah untuk Kendra, Radit menyerahkan semuanya kepada event organisir untuk acara-acara seperti ini.


Namun untuk kali ini Ayah Dodi ingin memilih sendiri kambing yang terbaik untuk cucu ketiganya itu, barulah setelah mendapatkan kambing sesuai dengan yang di inginkan Radit bisa menyerahkan semaunya kepada event organisir.


Mencari 2 ekor kambing ternyata memakan waktu yang cukup lama, terlebih Ayah Dodi juga meminta untuk menambah 2 lagi agar bisa di bagikan ke tetangga-tetangga komplek.


Tentu saja Radit menuruti apa kata Ayah Dodi.


Berangkat pukul 8 pagi, kini mereka kembali ke rumah pukul 1 siang. Bayangkan betapa lelahnya tubuh Radit.


"Mas udah pulang? Mandi dulu sana, bau kambing kamu, setelah itu baru boleh main sama adek. " Ujar Sya kepada Radit saat laki-laki itu berniat untuk mendekati dia dan baby Rendra.


"Ya udah aku mandi dulu... Tapi kamu beneran enggak mau peluk aku dulu yank? " Tanya Radit kepada Sya. Dia masih berharap kalau Sya mau memeluknya meskipun tubuhnya memang sedikit bau kambing.


"Sebenarnya mau aja, tapi kan kalau aku peluk Mas aku jadi harus mandi lagi. soalnya baju kamu kan juga kotor Mas. " Jawab Sya seraya tersenyum. Hanya karena pelukan pun menjadi masalah untuk Radit, padahal baru tadi pagi laki-laki itu mendapatkan pelukan darinya.


"Ya udahlah, kalau gitu aku mandi dulu. Tapi janji ya abis itu boleh peluk kamu sama adek. " Ujar Radit yang pada akhirnya mengalah dan menuruti ucapan Sya.



Malam harinya semua sedang berkumpul di ruang keluarga, termasuk Sya dan juga baby Rendra. Sekali bayi tampan itu sedang di ajak main oleh abangnya yang juga tidak kalah tampan.



Sedangkan para orang tua sedang membahas rencana aqiqah baby Rendra yang akan di lakukan lusa.



Tiba-tiba saja baby Rendra menangis, padahal tadi masih anteng bermain bersama Kendra.



"Kok nangis sih sayang, udah ngantuk ya? Mau bobok? " Ujar Sya seraya mengangkat Rendra ke gendongannya.



"Bunda, tadi abang nggak ngapa-ngapain adek kok. Tiba-tiba aja adek Lendla nangis sendili. " Ujar Kendra tiba-tiba.



Padahal sebenarnya Sya sendiri tidak menyalahkan Kendra karena Rendra menangis. Sama sekali tidak ada pikiran sedikitpun untuk Sya memarahi Kendra.



"Iya Abang, Bunda tau kok, kan Abang Kendra adalah Abang terbaik buat adek Rendra. Jadi Bunda yakin Abang nggak mungkin nakalin adeknya. Adek Rendra ini masih kecil, jadi emang masih suka nangis kalau sedang merasa tidak nyaman. Abang tidak perlu menyalahkan diri sendiri kalau adek nangis. Bunda juga enggak akan marahin abang, karena mana mungkin Bunda marah sama anak baik Bunda ini" Ujar Sya seraya mengusap lembut puncak kepala Kendra.




Radit dan orang tua Sya tersenyum melihat interaksi antara ibu sambung dan anak itu. Jika orang-orang beranggapan bahwa ibu sambung hanya akan mencintai anak tirinya selama dia belum memiliki anak sendiri, maka itu tidak berlaku untuk Sya. Sya memperlakukan Kendra dan Rendra sama persis, tidak pernah dia beda-bedakan keduanya karena bagi Sya mereka adalah anaknya, terlepas darah dagingnya atau bukan Sya tidak peduli. Yang Sya rasakan dia mencintai dan menyanyangi Kendra sama dengan yang dia rasakan kepada Rendra. Tapi mungkin untuk saat ini Sya sedikit melebihkan perhatiannya kepada Rendra, karena bagaimana pun Rendra masih sangat kecil. Dan tentunya membutuhkan perhatian ekstra dari orang tuanya.



"Enggak apa-apa nang, adek Rendra emang masih suka nangis sendiri walaupun enggak di apa-apain. Sini abang main sama Mbah kakung, biarin Bunda boboin adek Rendra. " Ujar Ayah Dodi bersuara.



Sama seperti Sya, bagi Ayah Dodi dan Mama Farida pun Kendra adalah cucu pertama mereka. Mereka menyanyangi Kendra sama seperti mereka menyanyangi Shanum dan Rendra.



Setelahnya Kendra langsung melupakan kesedihannya begitu mendengar semua orang tidak memarahinya. Memang benar dia merasa bersalah kalau di suruh menjaga baby Rendra tapi malah membuatnya menangis. Dan sekarang Kendra tau kalau ternyata adik kecilnya ini bisa menangis tanpa sebab.



Sya yang sedang menyusui baby Rendra di kamar saat tiba-tiba mendengar pintu kamarnya terbuka. Terlihat Radit datang bersama Kendra yang sudah tertidur pulas, mungkin karena sudah lelah bermain bersama mbah kakungnya.


"Abang udah bobok ya, bobokin sini aja Mas. " Ujar Sya seraya menepuk bagian ranjang di sampingnya.


Radit menuruti ucapan Sya untuk menidurkan Kendra di ranjang mereka.


"Sekalian tolong adek di bobokin di box bayi aja, kayaknya udah pules banget ini boboknya. " Ujar Sya kepada Radit.


Dan sekali lagi suaminya itu menuruti ucapan Sya.


Setelah memastikan kalau anak-anaknya sudah tidur pulas dan memberikan ciuman selamat malam kepada mereka, Radit berjalan ke samping Sya. Sekarang posisi Sya setiap tidur adalah di tengah, sedangkan Kendra dan Radit ada di samping kiri dan kanannya. Tapi tenang saja karena disisi ranjang sebelah Kendra ada pagar pembatasnya, jadi sudah di pastikan kalau Kendra pasti aman.


"Kamu capek ya? " Tanya Radit seraya memijat bahu Sya pelan.


"Sedikit, tapi enggak papa aku suka kok. " Jawab Sya seraya tersenyum manis. " Udah, tidur yuk, udah malem. Mas juga pasti capek kan? " Ujar Sya seraya menarik tangan Radit agar naik ke ranjang.


"Terima kasih. " Ujar Radit seraya memeluk Sya dari belakang.


"Terima kasih? untuk apa? " Tanya Sya kepada suaminya itu.


"Terima kasih karena sudah mau menjadi istri aku, mau menjadi ibu dari anak-anak aku, dan menyayangi Kendra seolah dia adalah anak kamu. " Ujar Radit dengan suara lirih yang masih dapat Sya dengar.


"Jangan berkata seperti itu, Kendra memang anak aku, dan sampai kapan pun akan tetap jadi anak aku. Mungkin memang iya bukan aku yang melahirkan, tapi takdir Allah yang memilih aku sendiri untuk menjadi ibu untuk Kendra. " Jawab Sya lirih.


"Aku sayang kamu Maureen... " Tidak ada lagi yang bisa Radit ucapkan saat ini setelah mendengar ucapan dari Sya.


"Aku juga sayang kamu Mas. "