
Mama Riana yang mengerti tabiat anaknya jika sedang marah seperti apa hanya membiarkan saja, nanti juga kalau sudah reda anak itu akan turun dengan sendirinya. Mama Riana tidak habis fikir dengan Radit, usia memang boleh sudah dewasa, bahkan menjelang tua. Tapi tingkahnya yang tempramental itu tidak juga berubah sejak dulu. Walaupun amarah Radit hanya akan meledak sekali saja, tapi itu akan cukup mengganggu jika dia memiliki pasangan. Mungkin ini juga yang membuat Audrey memutuskan untuk menghianati Radit. Menghianati laki-laki yang sudah bersama dengannya cukup lama.
Tidak lama kemudian Andre datang membawa koper milik Radit yang tadi laki-laki itu tinggalkan begitu saja di bagasi mobil.
" Assalamu'alaikum Bu Riana." Sapa Andre begitu melihat Mama Riana sedang terdiam di ruang keluarga.
" Wa'alaikumsalam Ndre." Jawban Mama Riana.
" Saya cuma mau mengantarkan koper milik Pak Radit, tadi tertinggal di mobil karena sepertinya Pak Radit buru-buru masuk rumah." Ujar Andre.
" Oo iya Ndre, taruh situ aja." Mama Riana menunjuk tempat kosong disebelah sofa. " Ngomong-ngomong Radit kenapa? Kok kayaknya dia lagi marah banget sih Ndre." Tanya Mama Riana kepada Andre.
" Saya juga kurang tau Bu, tadi sewaktu di Bandara Pak Radit masih biasa saja. Tapi tadi setelah dia bermain ponselnya tiba-tiba seperti emosi sekali. Pak Radit juga tadi sempat berteriak marah." Ujar Andre menjelaskan.
" Anak itu memang suka emosi tidak jelas." Gumam Mama Riana.
" Kalau begitu saya permisi dulu Bu.' Ujar Andre berpamitan.
" Iya Ndre hati-hati dijalan, minta diantara Pak Udin atau Pak Agus aja nggak usah naik taksi." Ujar Mama Riana.
Sepeninggalnya Andre, Mama Riana kembali duduk di kursinya sembari memainkan ponsel. Tanpa sengaja dia melihat postingan story WhatsApp milik Sya.
" Jadi ini yang membuat Radit emosi tidak jelas. Tapi ini siapa ya? Ganteng gini. Mirip juga ya mereka." Ujar Mama Riana dalam hati.
to Sya mantu
Wah anak Mama cantik banget sih. Ngomong- ngomong itu disebelah siapa? Ganteng deh. Cocok sama kamu. Mirip deh.
Mama Riana memutuskan untuk mengirim pesan kepada Sya.
Setelah menunggu beberapa saat, ternyata Sya membalasnya.
Sya mantu
Iihh Mama apaan deh. Ini tuh Mas Fardan, kakak Sya yang kerja di Bali. Dia mampir kesini dulu baru besok sore pulang ke Jogja.
Mama Riana tersenyum geli membaca pesan balasan dari Sya. Ternyata Radit sudah cemburu tanpa alasan. Benar-benar anaknya itu sangat bodoh entah mengikuti siapa. Bagaimana bisa dia marah hanya karena sebuah foto. Katanya pengusaha hebat, masalah seperti ini saja dia tidak mengonfirmasi kebenarannya. Perlu dipertanyakan lagi ternyata kinerjanya selama ini.
Mama Riana memutuskan untuk membiarkan Radit. Biar saja anak bodohnya itu mengetahui kebenarannya sendiri. Dia sudah terlalu dewasa untuk membuatnya ikut campur dalam setiap urusan anak sulungnya itu. Lagian sekarang dia sudah tidak ingin terlalu memaksakan Sya agar bersama dengan Radit. Biarlah semua mengalir apa adanya, karena jika memang berjodoh mereka pasti akan bersatu. Begitu pula jika mereka tidak berjodoh, apapun usaha yang dia lakukan maka mereka tetap akan berpisah. Lagi pula dia juga tidak tega jika Sya yang baik hati itu harus bersama anaknya, sudah duda, single parent, tempramental, dan yang paling menyebalkan adalah bodoh. Dia saja yang menjadi ibunya pasti akan menolak jika harus bersama orang macam Radit. Bukan dia berniat menjelekkan anak laki-lakinya itu, tapi memang ini semua adalah kebenaran.
.
.
.
Radit saat ini sedang menikmati rokoknya, dalam setengah jam dia sudah menghabiskan 3 batang rokok. Pikirannya sedang kalut saat ini. Dalam hati dia selalu menyangkal bahwa dia tidak sedang cemburu kepada Sya.
" Tidak-tidak. Aku tidak cemburu dengan laki-laki yang bersama dengan Maureen. Untuk apa cemburu jika aku saja tidak mencintai Maureen. " Ujar Radit bergumam kepada dirinya sendiri.
Radit merebahkan dirinya disofa yang ada dibalkon kamarnya. Untung saja kamarnya menghadap hutan dibelakang rumah, sehingga tidak ada orang yang berlalu-lalang disana.
Baru saja akan merebahkan badannya kembali, terdengar pintu kamarnya diketuk oleh Mama Riana.
" Radit, turun dulu makan siang. Patah hatinya dilanjutkan nanti lagi. Kendra dari tadi nyariin kamu ini. Dan satu lagi, beresin dulu kamar kamu, pastikan sudah tidak ada bau rokok lagi saat Kendra masuk nanti. Mama tau kamu pasti habis merokok. " Ujar Mama Riana dari luar kamarnya.
Radit hanya diam saja, bagaimana bisa Mama Riana itu menyimpulkan dengan seenaknya kalau dia sedang patah hati.
Radit mulai membereskan kamarnya, dia menyemprotkan pengharum ruangan sebanyak mungkin. Membuka jendela kamar agar udara berganti. Dan pastinya membersihkan putung rokok yang berserakan. Baru setelahnya dia memutuskan untuk mandi.
.
.
.
Kita tinggalkan sejenak Radit yang saat ini sedang patah hati.
Saat ini Sya dan Fardan sedang bermalas-malasan di kosan Sya. Fardan tertidur dengan telanjang dada karena cuaca Jakarta yang sangat panas. Sedangkan Sya sedang movie marathon melanjutkan drama Korea yang tadi malam tidak sempat di tonton karena membantu Dita mengetik tugas kuliah.
" Mas dari Bali nggak bawa oleh apa-apa gitu buat Adek? " Tanya Sya kepada Fardan.
" Enggak, emang adek mau apa? Kan tinggal ke Bali aja kalo pengen sesuatu." Jawab Fardan santai. "Dek, kamu nggak ada niatan pasang AC gitu? Panas banget disini." Padahal kipas angin sudah menyala dengan kecepatan penuh, itupun menghadap ke Fardan seorang.
" Enak banget Mas kalo ngomong, pengen sesuatu tinggal ke Bali. Gaji adek nggak sebesar Mas yah. Lagian bukannya Bali lebih panas ya Mas? " Tanya Sya.
" Nggak tau, tapi rasanya menurut Mas lebih panas di Jakarta." Jawab Fardan singkat.
" Dek, makan yuk. " Ujar Fardan mengajak Sya.
" Makan apa? " Tanya Sya tetap fokus kepada laptop yang sedang menampilkan drama favoritnya.
" Terserah. Kita ke Mall deh. Cari makan disana sama belanjaim adek sebagai ganti karena Mas nggak bawa oleh-oleh buat kamu." Ujar Fardan.
Ucapan Fardan ini ternyata dapat mengalihkan pandangan Sya dari laptopnya.
" Beneran belanjain buat adek? " Tanya Sya memastikan.
" Iya beneran. Emang Mas pernah bohongin adek? Nggak kan? Ayolah cepet, nanti Mas berubah pikiran lho. " Jawab Radit malas.
" Ya udah bentar-bentar. Adek cuci muka dulu. Sama pake bedak liptint biar kelihatan lebih fresh." Ujar Sya beranjak dari duduknya seraya mematikan laptopnya.
" Nggak usah ganti baju, pake itu aja." Ujar Fardan kepada Sya.
" Ya mas pake dulu itu bajunya, sama jangan lupa cuci muka. Itu muka udah kucel tau." Ujar Sya mengingatkan.
" Mana ada kucel. Orang Mas tadi langsung mandi. Emangnya adek yang dari tadi belum mandi." Ejek Fardan.
" Biarin, yang penting kan adek tetep wangi." Ujar Sya seraya menutup pintu kamar mandinya.