Baby... I Love You

Baby... I Love You
Membludak



" Pak, pesawat sebentar lagi take off. " Ujar Andre kepada Radit yang sedang duduk seraya mengecek e-mail yang pekerjaan yang masuk.


" Oohh, iya." Jawab Radit seraya mematikan ponselnya.


Hari ini masih sangat pagi, masih sekitar jam setengah 7. Namun karena cuaca yang agak mendung membuat awan terlihat agak gelap.


Sebenarnya Radit ingin langsung ke kosan Sya setibanya di Jakarta untuk mengajak gadis itu ke rumah Mama Riana dan bertemu dengan Kendra. Tapi karena Sya sudah menolak dengan alasan ada acara keluarga, Radit tidak bisa memaksanya.


Sebenarnya acara keluarga apa? Radit tidak sempat bertanya lebih lanjut kepada Sya tadi malam. Karena setau Radit, Sya adalah anak perantauan di Jakarta. Keluarga besarnya ada di Jogja, begitu yang dia tau dari data milik Sya yang pernah dia baca.


Tidak lama setelah pesawat landing, Radit dan Andre keluar dari Bandara menuju parkiran dimana Pak Udin supir pribadinya sudah menunggu.


" Selamat pagi Pak Radit dan Pak Andre." Sapa Pak Udin begitu melihat majikannya itu menuju kearahnya dengan masing-masing membawa koper pribadi mereka.


Walaupun Radit adalah atasan Andre, namun untuk masalah barang bawaan pribadinya Radit tidak pernah meminta bantuan Andre untuk membawakannya serta. Kecuali jika memang dia sangat repot, semisal saat membawa Kendra turut serta ke luar kota baru dia meminta Andre membawakan barangnya.


" Selamat pagi juga Pak Udin." Jawab Andre ramah. Sedangkan Radit hanya menyunggingkan senyumnya sekilas.


Setelah koper masuk kedalam bagasi. Pak Udin langsung melajukan mobilnya.


Radit membuka ponselnya untuk memberi kabar Sya jika dia sudah tiba di Jakarta. Tidak ada maksud apa-apa, hanya ingin memberitahu Sya saja. Tanpa sengaja Radit melihat Sya yang mengunggah story WhatsApp, sekitar 1 setengah jam yang lalu. Tidak ada fikiran macam-macam yang terlintas di otaknya. Namun begitu terkejutnya dia melihat foto yang diunggah Sya itu. Foto bersama seorang laki-laki muda tampan, mungkin usianya agak sedikit dibawah Radit. Mereka terlihat seperti seorang pasangan yang sedang melepaskan rindu. Terlihat dari pancaran kebahagiaan yang terlihat dari mata masing-masing. Ditambah ada caption yang membuat Radit merasa sangat terusik, Welcome my Hero tertulis dibawah foto itu, tidak lupa juga tambahan emoticon love.


" Apa-apaan ini. Apa aku sedang dipermainkan olehnya? Ooo jadi ini yang membuat Maureen menolak lamaranku. Bukan karena lamaranku yang tidak romantis, tapi karena dia memang sengaja ingin menolakku. Kenapa dia tidak berterus terang saja jika sudah memiliki pasangan. Dengan begitu aku tidak akan seperti orang bodoh yang mengharapkan dia akan jatuh cinta padaku. Kemarin dia bilang ada urusan keluarga? Apa ini yang disebut urusan keluarga. Bermesraan dengan seorang laki-laki. Dan tunggu-tunggu, apa foto ini diambil di Bandara?. Jadi mereka benar pasangan LDR yang sedang melepaskan rindu." Ujar Radit dalam hati. Radit mengepalkan tangannya hingga terlihat memutih karena terlalu keras menggenggam ponselnya. Menyadari jika latar belakang foto antara Sya dan laki-laki itu ada di Bandara dan terjadi pagi ini membuat emosi Radit sampai ke ubun-ubun. Apa dia sedang dibodohi oleh seorang wanita?


Dapat Radit rasakan kekecewaan yang amat sangat dihatinya. Rasa ini bahkan lebih sesak dibanding saat mengetahui jika almarhumah mantan istrinya selingkuh dengan pria lain. Apa dulu dia tidak benar-benar mencintai mendiang Audrey? Dan apa benar perasaan yang dia rasakan saat ini adalah cinta yang sebenarnya? Radit tidak tau, yang jelas saat ini rasanya dia ingin menumpahkan segala emosinya.


Andre yang menyadari perubahan aura Radit yang terlihat menjadi sangat dingin dengan selimut amarah menjadi bingung. Sebelumnya Radit baik-baik saja, apa yang terjadi dengannya hingga perubahan suasana hatinya begitu cepat.


Wajah Radit terlihat kaku dan datar. Namun sorot matanya yang penuh dengan emosi tidak bisa ditutupi.


" Ada apa Pak? Apa ada sesuatu yang mengganggu fikiran Anda? " Tanya Andre kepada Radit yang masih bergeming dengan ponsel di tangannya.


" Saya merasa ada sesuatu yang terjadi dengan And... " Belum sempat Andre menyelesaikan ucapannya tiba-tiba saja Radit berteriak marah.


" SAYA BILANG TIDAK YA TIDAK. BISA KAMU DIAM SAJA. JANGAN MENGURUSI URUSAN SAYA." Teriakan Radit ini membuat Andre dan Pak Udin terlonjak kaget.


" Baik Pak." Jawab Andre cuek. Dia tau jika sedang seperti ini atasannya tidak bisa diganggu. Bisa-bisa dia yang dilempar keluar dari mobil ini. Sejak menjadi duda emosi Radit memang sulit dikontrol. Jadi Andre tidak heran jika sewaktu-waktu Radit akan meledak kehilangan kontrol dirinya. Namun apapun itu, pasti ada penyebab yang membuat emosi Radit hilang kendali. Dan Andre akan mencari taunya. Biar bagaimana pun dia yang akan terkena imbas amukan Radit jika bosnya itu terusik akan sesuatu yang membuatnya marah.


Disampingnya, Radit terlihat memijat pelipisnya seraya memejamkan matanya. Andre memutuskan untuk membiarkannya saja. Biarkan bosnya mengontrol emosinya perlahan.


Suasana mobil menjadi terasa mencekam bagi Pak Udin, dia tidak berani untuk mengeluarkan suaranya sedikit saja, bahkan hanya untuk berdehem karena tenggorokannya yang kering pun dia tidak berani. Baru kali ini dia melihat bosnya itu semarah ini. Berbeda dengan Andre yang tampak santai karena memang dia sudah terbiasa menjadi pelampiasan amarah seorang Radit. Dan nanti begitu emosinya mereda, Radit juga akan meminta maaf padanya karena menjadikan dia pelampiasan amarahnya. Jadi ya sudah, biarkan saja.


Tidak terasa mobil sampai di pekarangan rumah Mama Riana. Pak Udin menghentikan mobilnya tepat didepan pintu masuk. Hening beberapa saat, mereka kira Radit akan langsung turun. Ternyata tidak, pria itu masih memejamkan matanya dengan lengan diatas dahinya.


" Pak, kita sudah sampai." Ujar Andre berniat membangunkan Radit. Namun tidak ada respon apapun dari laki-laki itu. " Pak, sudah sampai." Andre menggoyangkan lengan Radit.


Cara itu berhasil, Radit menurunkan lengannya dan membuka matanya. Setelahnya pria itu turun tanpa mengucapkan apa-apa.


Andre hanya menggelengkan kepalanya. Bosnya itu walaupun sudah tua tapi tetap saja moodyan.


Radit keluar dari mobil dan langsung membuka pintu rumahnya tanpa mengucapkan salam seperti biasa, tidak ada siapapun diruang tamu. Radit melanjutkan langkah kakinya dengan cepat, dia butuh rokok untuk saat ini.


Ternyata Mama Riana sedang ada di ruang keluarga dengan majalah fashion di tangannya.


" Sudah pulang Dit, gimana perusahaan anak cabang? Ada masalah apa? " Tanya Mam Riana begitu melihat Radit.


Tidak ada jawaban dari Radit, laki-laki itu langsung naik ke lantai 2 menuju kamarnya.


Dapat Mama Riana lihat ada aura kemarahan dalam diri anak lelakinya itu. Sebenernya apa yang sedang terjadi? Pikir Mama Riana bingung.


Untung saja Kendra saat ini sedang ada di kebun bersama Opanya. Jadi dia tidak ketakutan melihat Ayahnya yang sedang emosi itu.