
Seharian ini Radit menghabiskan waktunya di rumah saja untuk bermanja dengan istrinya, Sya. Dan seharian ini juga sejak Kendra pulang sekolah dia merasa sebal karena tingkah Radit yang membuatnya iri dengan perhatian yang Radit dapatkan dari sang Bunda. Mau marah pun tidak bisa karena Kendra sadar kalau saat ini Ayahnya itu sedang sakit sehingga dia harus mengalah.
"Ayah cepet sembuh ya, bial Bunda bisa buat Abang lagi." Ucap Kendra dengan nada polosnya yang langsung membuat Radit dan Sya tergelak mendengarnya.
"Ya ampun Abang, kok kamu jahat banget sih sama Ayah. Ayah kan lagi sakit." Jawab Radit dengan nada memelasnya. Sedangkan Sya hanya tertawa mendengar percakapan antara Ayah dan anak itu.
"Kok jahat sih, Abang kan nggak nakalin Ayah. Iya kan Bunda?" Tanya Kendra meminta pembenaran dari sang Bunda.
Sya hanya menganggukan kepalanya mengiyakan ucapan Kendra seraya tersenyum.
"Kok kamu gitu sih yank nggak belain aku." Ujar Radit dengan nada merajuknya. Dan ya Sya hanya meresponnya dengan senyuman saja.
"Ayah jangan sedih, nanti malah nggak sembuh-sembuh loh." Ujar Kendra kepada Radit.
"Emangnya kalau Ayah nggak sembuh-sembuh kenapa?" Tanya Radit kepada Kendra.
"Ya nanti Abang jadi makin lama nggak main sama Bundanya." Jawab Kendra jujur tanpa merasa bersalah sedkitpun kepada Ayahnya.
Radit memberengutkan wajahnya mendengar jawaban yang keluar dari mulut Kendra. Bagaimana bisa anaknya bebicara seperti itu kepada dirinya yang merupakan Ayahnya sendiri.
Kali ini Sya tidak bisa lagi untuk menahan tawanya. Salah sendiri dulu Radit pernah menganggap Kendra itu saingannya. Jadilah sekarang ya seperti ini, Kendra seolah-olah menjadi saingannya sendiri.
Tapi tenang saja, Radit tidak benar-benar menganggap Kendra saingannya atau bahkan marah sekarang ini. Radit hanya ingin melihat respon Kendra jika dia merajuk seperti ini. Dan ya, seperti yang terlihat kalau Kendra meresponnya dengan santai.
Dan justru dengan kedekatan Sya dan Kendra tentu saja membuat Radit bahagia. Karena dia merasa tidak salah pilih menjadikan Sya sebagai ibu untuk putranya dan tentunya sebagai istrinya. Entah bagaimana jadinya dia dan Kendra jika bukan Sya yang menjadi istri dan juga Bunda Kendra, Radit tidak bisa membayangkannya.
"Mau es krim enggak?" Tanya Sya mencoba untuk mengalihkan perhatian Kendra. Pasalanya Sya sadar kalau hari ini perhatiannya kepada Kendra cukup berkurang karena dia lebih banyak bersama Radit. Biarlah Sya memberikan sedikit kelonggaran agar Kendra senang.
"Mau Bunda, Abang mau es klim stlobeli." Jawab Kendra dengan antusias. Radit tersenyum melihat betapa pintarnya Sya membuat suasana hati Kendra menjadi lebih baik.
"Ayah juga mau Bund." Ujar Radit kepada Sya.
"No,Ayah kan masih sakit. Nanti enggak sembuh-sembuh kalau Ayah maem es klim." Ujar Kendraa kepada Radit.
"Enggak Bang, Ayah di bolehin kok sama Pak Dokter. Iyakan Bunda?" Tanya Radit kepada Sya.
"Iya, Ayah boleh makan es krim kok." Jawab Sya pada akhirnya.
Jika Sya sudah mengatakan iya, tentu saja Kendra akan langsung percaya.
Sya beranjak dari duduknya untuk mengambil es krim di kulkas dapur. Sedangkan kedua laki-laki yang berstatus Ayah dan anak itu dengan setia menunggu disofa di ruang keluarga.
Jadilah sore ini mereka habiskan dengan mengobrol santai sekaligus menikmati manisnya es krim.
...~~~...
Malam harinya Mama Riana dan Papa Riyan datang ka rumah Radit dan Sya.
"Ya ampun Radit, kenapa bisa sampai begini sih. Kamu nggak hati-hati ya bawa mobilnya." Ucap Mama Riana dengan heboh seperti biasa. Melihat kepala Radit yang di perban seperti itu membuatnya syok bukan main. Sebenarnya hari ini Mama Riana tidak ada niatan untuk mengunjungi anak, menantu dan cucunya.Tapi entah kenapa dia merasa harus bertemu dengan mereka yang sebenarnya baru bertemu weekend kemarin. Dan ternyata inilah firasat seorang ibu. Disini putra sulungnya itu baru saja tertimpa musibah dan Alhamdulillah nya lolos dari maut.
"Dan gimana bisa Mama sama Papa enggak dikasih kabar." Ujar Mama Riana sedikit marah. Sedangkan Papa Riyan tentu saja tetap stay cool seperti biasa. " Pasti kamu ngelarang Sya kasih tau ke Mama kan?" Tambah Mama Riana. Pasalnya dia sangat tau bagaimana tabiat anaknya itu.,
Dan apa yang Mama Riana katakan itu memang benar adanya. Saat Sya berniat memberitahu Mama Riana, Radit melarangnya dengan alasan kalau lukanya itu tidak parah. Dan jika memberitahu Mama Riana takutnya beliau malah menjadi cemas. Jadi ya Sya menuruti ucapan suaminya itu. Meskipun sebenarnya Sya sangat tidak setuju, tapi mau bagaiaman lagi. Dan sekarang ini Mama Riana telah membuktikan kalau firasat seorang ibu yang tajam memanag benar adanya.
"Aku nggak papa Ma, cuma nabrak pohon doang terus kepalanya kejedot." jawab Radit santai yang justru membuat Mama Riana semakin murka.
" Nabrak pohon kamu bilang cuma? Yang bener aja kamu Dit. " Mama Riana tidak habis pikir dengan apa yang ada dipikiran Radit itu.
" Udah dong Ma, jangan marah-marah begini. Nanti cantiknya ilang loh. " Ujar Radit mencoba untuk menggoda Mama Riana.
Dan benar saja, pipi Mama Riana langsung memerah mendengar ucapan Radit itu.
" Mamamu itu emang lemah sama pujian. " Ujar Papa Riyan menceletuk yang membuat Sya dan Radit langsung tertawa mendengarnya. Sedangkan Kendra saat ini sedang sibuk dengan video Coco Melon di IPadnya.
"Ishh, Papa jangan gitu dong. Mama kan jadi malu." Ujar Mama Riana seraya mencubit kecil pinggang Papa Riyan.
Setelah puas mengomeli Radit, sekarang ini mereka sedang makan malam dengan Ayam bakar yang Mama Riana bawakan.
" Bentar lagi usia kandungan kamu 7 bulan kan nak? " Tanya Mama Riana kepada Sya.
" Iya Ma, 2 minggu lagi. " Jawab Sya seraya tersenyum.
" Bunda, Oma, lagi makan nggak boleh sambil belbicala. " Ujar Kendra kepada wanita beda generasi yang ada di samping dan di depannya itu.
Sya dan Mama Riana langsung tersenyum mendengar peringatan dari Kendra.
"Iya Abang, maafin Bunda sama Oma ya. Kita lupa." Ujar Sya kepada Kendra. Ya begini lah Sya, jika memang dia yang melakukan kesalahan atau melanggar peraturan yang berlaku dia tidak segan untuk meminta maaf meskipun itu kepada Kendra.
" Iya, maafin Oma juga ya. " Ujar Mama Riana kepada Kendra. Dalam hati dia begitu bangga dengan hasil didikan Sya dan juga Radit kepada cucunya itu.
Dan sekarang mereka makan malam dengan tenang tanpa terlibat pembicaraan karena sudah mendapat teguran dari Kendra.