Baby... I Love You

Baby... I Love You
Jero



Sehabis makan, Sya, Kendra, dan Mama Riana langsung menuju tempat arisan. Mama Riana dan Kendra terlihat bahagia dengan adanya Sya diantara mereka. Begitu pula dengan Sya yang sudah terlihat nyaman. Terbukti dengan interaksi mereka yang begitu dekat satu sama lain.


" Bu, ini bener nggak papa saya ikut ke tempat arisan Ibu Riana? " Tanya Sya sekali lagi.


" Iya nggak papa, kenapa? Kamu nggak nyaman ya kumpul sama orang tua?." Jawab Mama Riana seraya tersenyum halus.


" Bukan begitu, takutnya nanti saya malah ganggu gitu. Apalagi pasti disana kalangan sosialita semua bu." Ujar Sya seraya menggaruk kepala walapun tidak terasa gatal, hanya untuk menutupi kegugupannya.


" Mau sosialita atau bukan, tetap saja kamu harus menunjukkan bahwa kamu tidak bisa diintimidasi oleh mereka. Dengan begitu mereka tidak ada kesempatan untuk merendahkan kamu." Ujar Mama Riana menasehati Sya.


Mendengar nasehat dari Mama Riana, Sya terdiam mengiyakan dalam hati.


" Udah yuk ah kita berangkat sekarang. Dan satu lagi, panggil Mama, jangan Ibu Ibu terus dan juga hilangkan bahasa formal kamu sama Mama. Mama tidak nyaman kalau kamu begitu." Ujar Mama Riana dengan nada serius.


" Iya Ma. " Pada akhirnya Mama Riana lah yang akan selalu menang karena sudah dapat dipastikan bahwa Sya akan kalah jika beradu argumen dengannya.


Ternyata kemampuan Sya memenangkan adu argumen hanya sebatas dengan Radit saja. Dengan Mamanya Radit Sya memilih untuk mundur teratur.


.


.


Saat ini Sya sudah ada ditempat arisan Mama Riana bersama teman-temannya. Ternyata orang kaya tidak selalu sombong seperti apa yang ada di pikirannya selama ini. Terbukti dengan sikap terbukanya mereka menerima Sya ada disini.


" Lho jeng, anak gadis siapa ini yang kamu bawa. Cantik ya. Masih sekolah atau sudah kuliah nak? " Tanya salah satu teman Mama Riana.


" Saya sudah kerja tante, baru lulus kuliah tahun ini." Jawab Riana tersenyum malu.


" Iya dong, dia ini calon mantu aku, calon istrinya Radit dan juga akan menjadi Bundanya Kendra. Kenalin namanya Sya." Mama Riana tersenyum bangga menjawab pertanyaan temannya itu.


Sedangkan Sya yang mendengar jawaban Mama Riana sebenarnya ingin protes namun tidak bisa. Sya tidak ingin membuat Mama Riana malu dengan sanggahan darinya mengenai pernyataan tersebut. Hingga akhirnya Sya hanya bisa menjawab dengan senyuman canggung saja.


" Sya tante." Ujar Sya menyalami satu persatu teman-teman arisan Mama Riana.


Arisan sosialita ini berjalan dengan santai. Disini pembicaraan masih dapat dimengerti oleh Sya karena pembahasannya yang tidak terlalu berat. Hanya pembahasan seputar anak-anak mereka yang sudah bekerja ataupun yang masih kuliah diluar negeri. Dan juga pembahasan rencana bakti sosial untuk bulan depan yang rutin dilakukan setiap bulannya.


Saat ini Sya sedang menyuapi Kendra makan siang. Sedangkan Mama Riana entah kenapa sedang tersenyum geli sendirian dengan ponselnya.


Ternyata Mama Riana sedang mengerjai Radit. Tadi setelah memposting foto Sya dan Kendra di story watsappnya, Mama Riana menambahkan bumbu kepada Radit jika dia akan merealisasikan rencananya untuk menjodohkan Sya dengan anak temannya sekarang.


Dan ya.. Saat ini Radit seperti sedang hilang kendali dengan terus menelpon Mama Riana. Namun tetap diabaikan oleh Mamanya itu.


" Sya kamu bawa ponsel? " Tanya Mama Riana tiba-tiba.


" Oo gitu, bagus deh kalau kamu tidak bawa ponsel." Ujar Mama Riana tersenyum geli. Hal ini justru membuat Sya penasaran.


" Memang kenapa kalau Sya tidak bawa ponsel Ma? " Tanya Sya bingung.


" Ya tidak apa-apa. Mama hanya sedang mengetes apakah anak Mama ini punya perasaan lebih atau tidak pada seseorang." Jawab Mama Riana tersenyum penuh arti.


" Perasaan anak Mama Riana pada seseorang? berarti Pak Radit dong. Lalu apa hubungannya dengan dirinya yang tidak membawa ponsel? " Ujar Sya dalam hati. Namun Sya memutuskan untuk tidak lagi bertanya.


Tanpa disadari oleh Sya, ternyata sedari tadi foto-foto dirinya diambil oleh Mama Riana dan dikirimkannya kepada Radit


Raditya


Cantik kan Sya, Mama sebenarnya pengen dia jadi mantu Mama. Tapi karena kamu nggak suka sama Sya ya sudah. Mama tidak bisa memaksa kamu. Lihat, Sya dan Kendra terlihat seperti kakak dan adik ya. Lagian Mama juga kasian sama Sya kalau dia mau sama kamu. Sya jadi terlihat jalan sama Omnya . Bahkan Rida masih terlihat lebih dewasa dari Sya. Kamu tenang saja, Mama pasti cariin jodoh yang pas buat Sya. Jangan lupa kalau kamu punya calon juga kenalin ke Mama ya.


Mama Riana terkekeh geli membaca ulang pesan yang dia kirimkan ke Radit tadi. Entah bagaimana ekspresi Radit saat ini, Mama Riana belum bisa menebaknya karena memang Radit sangat pandai menutupi perasaannya. Walaupun feeling seorang Ibu tidak bisa dibohongi.


" Oma kenapa ketawa-ketawa sendili? Oma lagi liat kaltun lucu ya. " Tanya Kendra penasaran. Tidak biasanya dia melihat Oma nya tertawa didepan ponsel.


" Enggak kok, Oma lagi baca pesan whatsapp aja." Jawab Mama Riana tersenyum.


Tepat pukul 3 sore acara arisan selesai. Mama Riana berpamitan dengan teman-temannya. Ternyata ada beberapa yang dijemput oleh anak-anak mereka.


" Kenalin jeng, ini anak sulung saya. Tumben nih mau jemput Mamanya arisan." Ujar salah satu temannya kepada Mama Riana.


" Jero tante." Ujar Jero menyalami Mama Riana.


Jero menjemput Mamanya menggunakan pakaian santai ala anak muda masa kini karena ini hari Minggu dan dia libur bekerja.


" Ganteng banget anak kamu An, tante dengar kamu yang ngelanjutin perusahaan Papa kamu ya." Ujar Mama Riana tersenyum kepada Jero dan Ana, Mamanya Jero.


" Iya Tante, saya bantu-bantu Papa, masih sambil belajar. Ngomong-ngomong, itu disebelah putri tante bukan." Tanya Jero dengan berani.


" Husshh kamu ini liat cewek bening langsung aja gitu. Ini tuh calon istrinya Radit." Ujar Mama Ana menyikut lengan Jero.


" Haha.. Tidak apa-apa kalau mau kenalan. Sya sini sayang." Mama Riana memanggil Sya untuk mendekat.


" Ini ada yang mau kenalan sama kamu." Ujar Mama Riana.


" Kenalin aku Jero." Ujar Jero langsung mengulurkan tangannya kearah Sya.


" Sya." Jawab Sya pendek. Jero tersenyum saat melihat dengan dekat wajah Sya, sangat imut seperti gadis SMA.