
Sengaja Sya meminta Radit untuk menghentikan mobilnya didepan gerbang saja agar nanti lebih mudah untuk putar arah.
" Aku masuk dulu ya Mas. " Ujar Sya kepada Radit.
" Hati-hati ya, jangan lupa makan nanti. Terus jangan lupa video call aku nanti malam. Kamu harus menepati janji kepada Kendra buat ngehubungin aku lebih dulu. " Ucapan panjang Radit ini hanya dibalas anggukan dan senyuman dari Sya.
" Ya sudah, aku turun ya. " Ujar Sya meminta izin.
" Kamu nggak mau cium tangan? " Ujar Radit seraya mengulurkan tangannya.
" Apaan sih, bukan muhrim. " Jawab Sya seraya tertawa.
" Ayo aku muhrimin. Kamu mau kapan? "Tanya Radit dengan wajah serius.
" Isshh, apaan sih Mas. Jangan bahas itu dulu, kita jalani aja hubungan itu sesuai alurnya. " Jawab Sya pelan. Pasalnya Sya memang belum memikirkan jika hubungan mereka akan masuk kejenjang yang lebih serius, pernikahan. Sedangkan mereka saja bisa dikatakan baru menjalin hubungan hari ini, itupun belum resmi karena dia belum menjawab pernyataan Radit.
" Iya iya, aku tunggu jawaban kamu besok. " Ujar Radit menenangkan. Radit sadar jika dia tidak boleh terlalu terburu-buru. Sya pasti menginginkan jika mereka untuk saling mengenal terlebih dahulu.
" Lho Mas Radit kok nggak masuk aja. " Pak Didin membukakan pintu gerbang, tadi beliau memang habis dari kamar mandi, jadi tidak tau jika Radit dan Sya sudah kembali.
" Nggak Pak, saya mau langsung pamit pulang soalnya. " Jawab Radit tersenyum.
Sedangkan Sya saat ini sudah turun dari mobil Radit dan berdiri di dekat Pak Didin.
" Ya nitip tolong jagain pacar saya ya Pak. " Ujar Radit kepada Pak Didin yang membuat pipi Sya seketika memerah.
" Apaan sih Pak, udah cepet sana pulang, ntar dicariin Kendra loh. " Ujar Sya mengingatkan Radit.
" Kendra mana pernah nyariin aku sejak ada kamu. Yang dia cari cuma Dunda Maureennya. " Jawab Radit kesal.
" Loh loh, ini kok malah jadi berantem. Jadi Mbak Sya sama Mas Radit sudah resmi pacaran nih? " Tanya Pak Didin menengahi pembicaraan Sya dan Radit.
" Sudah. "
" Belum. "
Jawab Sya dan Radit secara bersamaan. Mendengar jawaban mereka yang berbeda-beda, membuat Radit menolehkan kepalanya kearah Sya.
" Jadi yang bener yang mana ini. " Ujar Pak Didin terkekeh geli.
" Maureen pacar saya Pak. " Jawab Radit cepat yang membuat Sya seketika terdiam saat akan menjawabnya. Radit melihat kearah Sya dengan seringaian menggodanya.
" Oo pacaran toh sekarang. Ada PJ nya dong. " Ujar Pak Didin tersenyum penuh arti.
" PJ? Bapak ngomong apa sih? " Radit bingung dengan ucapan Pak Didin. Sya yang mendengar Radit tidak tahu PJ seketika tertawa. Benar-benar kudet atasannya ini. Pikir Sya.
" Mas Radit lebih muda dari saya tapi nggak tahu istilah kata jaman sekarang. Nih saya jelasin. Mas Radit sama Mbak Sya kan baru pacaran? Nah biasanya kalo orang baru pacaran itu ada PJnya. Pajak jadian, traktir makanan gitu kalo bahasa gampangnya. " Ujar Pak Didin menjelaskan.
" Oo traktir makanan. Oke nanti saya kirimin. " Jawab Radit santai.
" Udah sana pulang Pak. " Ujar Sya seperti mengusir.
" Pak tolong kabarin saya tentang semua kegiatan pacar saya ini ya Pak, dan jangan pernah bolehin kalo ada temen cowok mampir sini. " Ujar Radit kepada Pak Didin. Sedangkan Sya hanya memutar bola matanya malas. Tanpa menunggu Radit pulang Sya langsung pergi dari hadapan Radit dan Pak Didin untuk masuk kedalam kamarnya.
" Kok kamu nggak pamitan sama aku sayang. " Teriak Radit kepada Sya.
" Saya pamit pulang dulu ya Pak, nanti traktirannya saya kirim. Disini ada berapa orang yang kos? " Tanya Radit kepada Pak Didin.
" Ada 10 Mas. " Jawab Pak Didin tersenyum.
" Oke, kalo gitu saya pamit. Assalamu'alaikum. "
" Wa'alaikumsalam. "
Radit menutup kaca mobilnya dan berlalu dari sana.
Dikamar Sya tersenyum sendiri. Benar-benar dia tidak pernah menyangka jika Radit bisa menjadi manusia sereceh dan sealay itu. Dimanakah Radit menyembunyikan aura dingin yang selalu Sya rasakan setiap mereka bertemu di kantor? Seperti hilang tidak berbekas.
Sya langsung mandi dan sholat ashar setelah melihat jam sudah semakin sore. Selesai sholat Sya duduk di kasurnya sambil memainkan ponselnya, tiba-tiba dia teringat tentang kejadian tadi dirumah Radit. Apa maksud Mama Riana dengan menantu sesungguhnya? Dan fakta mengejutkan jika orang tuanya dan orang tua Radit ternyata dulu bersahabat. Sepertinya dia harus bertanya kepada Mamanya.
Tutt... Tut... tut..
" Assalamu'alaikum Dek. " Terdengar suara Mama Farida yang mengangkat telfonnya.
" Wa'alaikumsalam Ma, Mama lagi apa? Terus Ayah sama Mas Fardan? " Tanya Sya berbasa-basi.
" Mama lagi duduk aja diteras ini. Ayah sama Masmu lagi pergi mancing belum pulang-pulang. Mama kesepian nih di rumah, coba aja kalo Adek disini. " Mulai lagi Mama Farida mengeluh kepada Sya.
" Mungkin mau pada Men time kali Ma. " Jawab Sya terkekeh geli.
" Tau ah. Sekarang adek ada apa tumben telfon? Biasanya kalo Mama nggak telfon duluan kamu lupa sama Mama. "
Tau aja Mama kalo ada sesuatu yang mau Sya tanyakan kepada Mamanya.
" Mama kok bisa bersahabat sama Mama Riana dan Papa Riyan sih? " Tanya Sya langsung.
" Ooo itu. Ceritanya panjang dek. Tapi Mama males kalo cerita kamunya nggak ada disini. Jadi Mama ceritain tunggu kamu pulang dulu ya. " Jawab Mama Farida yang membuat Sya mendesah kecewa.
" Yahh... Kok gitu sih. Adek kan penasaran. " Ujar Sya dengan suara lemas.
" Mulehoo.. " Jawab Mama Farida santai.
" Iyo iyo, nanti adek muleh kalo tahun baru ya. " Ujar Sya. " Terus masalah menantu sesungguhnya itu apa? Adek pengen tau Ma, jangan bilang kalo tunggu adek muleh. " Ujar Sya menambahkan.
" Hahaha... Mama baru aja mau bilang gitu. " Ujar Mama Farida tertawa.
" Jadi maksudnya apa Ma? Kasih tau dong, adek penasaran. " Ujar Sya memohon.
" Jadi gini loh dek. Dulu waktu kamu sama Mas Fardan masih kecil, keluarganya Mbak Riana sama Mas Riyan itu main kesini. Mereka kan anaknya juga sama cowok cewek. Ya sekedar bercandaan aja waktu Mbak Riana bilang. " Far nanti kalo anak-anak udah pada gede boleh dong salah satunya kita jodohin biar kita bisa besanan dan persahabatan kita semakin awet. " Mama sih waktu itu cuma iya iya aja. Terus setelah mereka pulang ke Jakarta lagi, Mama sama Ayah pindah rumah, eehh buku telfonnya ilang, jadilah kita lost kontak sampai sekarang. Lagian Mama pikir anak-anak Mbak Riana udah pada nikah semua makanya Mama lupa sama perjodohan itu. Orang perjodohan abal-abal waktu kalian sama-sama masih kecil. " Ujar Mama Farida menjelaskan.
" Oo gitu. " Ujar Sya seraya mengangguk-anggukan kepalanya.
" Jadi bener dek kalo anaknya Mbak Riana yang cowok sekarang duda? Ehh siapa ya namanya, Mama lupa, dulu waktu ketemu dia masih 10 tahunan kayaknya. " Ujar Mama Farida bertanya.
" Namanya Radit Ma, dan bener dia sekarang duda. Mas Radit itu bosnya Sya di kantor. " Jawab Sya.
" Loh bosnya adek? Kok tadi waktu adek video call Mama dirumah Mbak Riana adek kayak yang akrab banget sama mertua. Adek sama Nak Radit pacaran ya? Beneran pacaran sama bos sendiri? "