
" Dulu hampir suka sama Mbak Sya. Lagian siapa laki-laki yang nggak suka sama cewek secantik dan sebaik Mbak Sya. Kalau tidak keduluan Pak Radit mungkin Mbak Sya akan menjadi milik saya. " Jawab Andre dengan berani.
" Andre.. Kamu tuh ya, bener-bener... " Radit menatap tidak percaya setelah mendengar jawaban Andre. Bagaimana bisa Andre dengan beraninya berkata kalau dia menyukai Sya saat dirinya saja sudah memberitahu jika Sya adalah miliknya sekarang. " Pokoknya kamu harus hapus perasaan itu kepada Maureen. Karena mulai detik ini Maureen adalah milik saya. Dan selamanya akan menjadi milik saya. " Ujar Radit dengan suara dinginnya. Mungkin jika orang itu bukan Andre, mereka akan langsung terintimidasi olehnya. Namun itu semua tidak berlaku untuk Andre.
" Memang Pak Radit siapa sampai bisa mengklaim Mbak Sya sebagai milik Anda. Kalau Tuhan tidak berbiat menyatukan kalian bagaimana? Bapak bisa apa? Dan lagi, kenapa saya harus hapus perasaan saya kepada Mbak Sya, saya tidak pernah bilang kalau saya menyukai Mbak Sya. Tadi saya bilang kan hampir. " Dengan santainya Andre menjawab setiap ucapan Radit. Keberanian yang patut di acungkan jempol bukan?
" Jadi dari tadi kamu mempermainkan saya? Kamu mau saya pecat? " Ucap Radit dengan marah.
" Saya bercanda Pak. Lagi pula Pak Radit tidak bisa memecat saya karena masalah pribadi. Selama ini kinerja saya baik kan. Kalau begitu saya izin kembali ke ruangan saya Pak. Selamat siang. " Dengan beraninya Andre tersenyum jahil kepada Radit. Pasalnya Andre sudah merasa bosan dengan sikap Radit yang selama ini begitu tempramental. Dipancing sedikit emosinya langsung meledak. Jika saingan bisnis mereka tau tabiat asli dari Radit, mungkin perusahaan akan lebih mudah dihancurkan.
Radit tidak habis fikir dengan pernyataan Andre itu. Bagaimana bisa Andre mempermainkan emosinya begini. Ternyata benar, Radit harus belajar mengendalikan emosi agar suatu saat tidak lagi dipermainkan oleh orang lain.
Bagaimana pun Radit tidak ingin jika pengendalian emosinya yang lemah ini akan menyakiti Sya dikemudian hari. Hari ini saja Radit sudah sangat merasa bersalah karena mendiamkan Sya. Justru Sya lah yang begitu dewasa dengan memintanya untuk menyelesaikan masalah ditempat sebelum mereka kembali ke kantor.
Dengan berlebihan juga dia meminta Sya untuk mengganti SIM cardnya. Padahal Sya hanya tidak enak karena Jero adalah anak teman Mamanya.
Aishhh.. Tapi Radit tidak bisa menahan rasa cemburunya saat melihat Sya berbicara dengan laki-laki lain. Dulu saat bersama Audrey, dia memang cemburu, tapi masih bisa mengatasinya. Namun saat bersama Sya, Radit seolah kehilangan penguasaan dirinya untuk mengontrol rasa cemburu ini.
Memikirkan Sya membuat dia menjadi merindukan gadis itu. Radit memutuskan untuk melihat aktivitas Sya melalui CC TV ruangan kerja gadis itu yang terhubung langsung ke laptopnya.
Terlihat Sya sedang fokus dengan pekerjaannya. Begitu pula dengan teman-temannya. Tidak ada hal yang menarik kecuali wajah Sya sendiri.
.
.
" Sya gue pulang dulu ya. Duluan ya Tio " Ucap Dian yang memang sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dan kebetulan saat ini jam kerja juga sudah habis.
" Iya Di duluan aja. Aku masih nanggung nih. Bentar lagi selesai. " Jawab Sya tersenyum kearah Dian dan kembali fokus dengan pekerjaannya.
" Iya Di. " Jawab Tio singkat
" Gue juga duluan ya. " Leo juga beranjak dari kubikelnya setelah menyelesaikan pekerjaannya dan membereskan barang-barangnya. " Duluan bro. " Leo menepuk bahu Tio pelan.
" Oke Bro " Jawab Tio
" Oke. " Jawab Sya mengacungkan jempolnya kearah Leo.
Leo dan Dian sudah keluar dari ruang kerja mereka. Saat ini hanya tinggal Sya dan Tio. Tidak ada yang bersuara karena Sya sedang fokus dengan pekerjaannya, dan Tio juga mungkin belum menyelesaikan pekerjaannya.
Hingga 5 menit kemudian Tio berdiri dari duduknya.
" Eehh.. belum Mas. Aku kira Mas Tio udah pulang. " Jawab Sya seraya tersenyum. Namun dia kembali melanjutkan pekerjaannya.
" Belum. Ini baru aja selesai. Kamu butuh bantuan aku nggak? Kurang berapa? " Tanya Tio.
" Ini kurang dikit lagi Mas, 15 menit lagi juga selesai paling. Kalo mau pulang duluan aja Mas, nggak papa kok. " Ujar Sya menatap kearah Tio.
" Ya udah kalo kamu nggak butuh bantuan. Ini buat kamu. Aku duluan ya. " Tio langsung keluar dari ruangan kerja mereka tanpa menunggu Sya menjawabnya. Dia hanya tersenyum kecil kearah Sya.
Sedangkan Sya refleks melihat kearah mejanya. Ada sebatang coklat dan sekotak susu strawberry.
" Ini maksudnya apa? " Sya bermonolog dengan dirinya sendiri. Dalam rangka apa Tio memberikannya coklat dan susu.
Namun Sya tidak memikirkannya lagi. Dia harus fokus mengerjakan pekerjaannya, tinggal sedikit lagi maka dia bisa pulang dan bergelung dengan kasur dan menonton drama Korea.
" Akhirnya, selesai juga. " Sya merentangkam badannya yang terasa pegal. Setelah membereskan barang-barang yang berserakan di mejanya. Sya berjalan kearah loker. Mengganti high heels nya dengan sandal jepit. Tidak lupa melapisi tubuhnya dengan jaket.
" Aku bawa pulang aja kali ya ini coklat sama susu. Lagian kan Mas Tio yang ngasih. Nggak mungkin dada apa-apanya kan. Lumayan buat ganjel perut nanti malam. " Ujar Sya pada dirinya sendiri.
Sya keluar dari ruangannya dengan tangan yang membawa susu dan coklat. Suasana kantor sudah sedikit sepi karena memang sudah banyak karyawan yang pulang. Sepanjang perjalanan Sya hanya melihat beberapa karyawan yang sepertinya akan lembur hari ini. Tiba di parkiran Sya mengambil helm dan bersiap untuk menyalakan mesin motornya. Namun sebelum itu Sya harus memasukkan coklat dan susu ke tasnya, tidak mungkin bukan dia membawanya sambil menyetir motor, namun tiba-tiba sebuah tangan meraih kedua makanan itu.
" Aku haus dan lapar. "
Bisa kalian tebak siapa orang ini? Ya benar, dia Radit.
Tanpa Sya sadari, Radit sudah memperhatikan interaksi Sya dan Tio dari CC TV. Sebenarnya Radit lupa siapa laki-laki itu, yang dia ingat Radit pernah melihatnya saat di lift masuk bersama Sya. Radit ingin marah saat melihat ada yang memberi Sya susu dan coklat. Terlebih oleh seorang laki-laki. Bukan marah, lebih tepatnya Radit cemburu. Namun jika dia harus membuangnya, Radit yakin Sya pasti akan marah. Jadi Radit putuskan untuk mengambil dan memakannya sendiri.
" Mas, itu aku dikasih loh. " Ujar Sya tidak terima karena coklat dan susunya dimakan oleh Radit.
" Dari siapa? " Tanya Radit memancing.
" Dari Mas Tio. " Jawab Sya santai.
Setidaknya Sya menjawab dengan jujur. Hal ini membuat rasa cemburu Radit sedikit berkurang. Radit percaya kepada Sya.
Radit menatap lama kearah Sya dengan senyum manisnya.
" Mas kenapa? " Tanya Sya bingung.
" Kamu tau Maureen? Aku sayang kamu. "