Baby... I Love You

Baby... I Love You
Hari Kendra



Sepulang kerja, Sya dan Radit memutuskan untuk mengajak Kendra mampir ke Mall terlebih dahulu. Rasanya sudah sangat lama atau lebih tepatnya sejak kehamilan Sya, mereka tidak mengajak Kendra bermain ke Timezone. Sejak itu juga Kendra menjadi sangat jarang menginap di rumah Oma dan Opanya. Tentu saja dengan alasan inginkan menjaga sang Bunda. Tentu saja itu membuat Sya menjadi merasa sedikit bersalah walaupun dia juga merasa bangga dengan apa yang Kendra lakukan. Namun karena perubahan sikap Kendra yang mendadak menjadi terlalu dewasa itu membuat Sya merasa takut. Sya ingin Kendra menjadi seperti sebelumnya, bermanja kepadanya.


Sekarang ini bahkan Kendra lebih sering melakukan apapun sendiri, tidak pernah lagi meminta bantuan Sya. Kalau Kendra tidak bisa melakukannya barulah dia akan meminta tolong kepada Mbak Tinah, Mbok Inah, atau Ayahnya. Kendra sudah memainkan peran bahwa dia adalah seorang Abang yang nantinya harus bisa menjaga Bunda dan adik-adiknya. Sya berpikir tidak seharusnya Kendra bersikap terlalu dewasa.


" Abang, Bunda boleh tanya nggak? " Tanya Sya kepada Kendra yang saat ini sedang berjalan di sampingnya menggandeng tangan Sya.


" Boleh dong, Bunda mau tanya apa? " Ujar Kendra kepada Sya.


Sedangkan Radit hanya menyimak pembicaraan antara ibu dan anak itu. Berbeda dengan Sya yang takut jika Kendra bersikap terlalu dewasa seperti ini, Radit justru merasa senang. Dengan begitu Radit percaya jika suatu saat nanti Kendra bisa dia andalkan untuk menjaga Sya dan adik-adiknya kelak. Dan mungkin pengaruh Radit juga kenapa Kendra bersikap seperti itu.


" Tadi kok waktu Bunda bangun Abang udah bobok di samping Bunda sih? Emang Abang kapan datengnya, kok Bunda enggak tau? " Tanya Sya kepada Kendra.


" Abang kan tadi di jemput Pak Agus, telus diantel ke luangan Ayah sama Tante bibil meral. Tapi kalena Bunda lagi bobok ya udah deh Abang ikut aja bobok sama Bunda. Soalnya Abang kan ngantuk. " Jawab Kendra dengan suara lucunya.


" Tante bibil melah? Siapa? " Tanya Sya. Sepertinya Sya pernah dengar tentang tante bibir merah, tapi siapa?


" Itu loh yang Tante yang duduk di depan pintu. " Jawab Kendra.


" Itu Lisa sayang, Kendra emang suka manggil dia Tante bibir merah. " Ujar Radit menjelaskan.


" Abang ada-ada aja deh. Namanya Tante Lisa sayang. " Ujar Sya seraya tertawa kecil.


" Tapi bibilnya emang melah Bunda. " Jawab Kendra seraya tersenyum.


Setibanya mereka di Timezone, Sya memilih untuk duduk di sebuah kursi, rasanya akan lelah kalau harus mengikuti Kendra bermain. Pada awalnya bocah tampan itu menolak bermain karena Sya akan sendirian. Tapi dengan bujukan Sya akhirnya Kendra mau. Ya, Kendra tetaplah hanya seorang anak kecil yang pastinya akan tergiur dengan tawaran main seperti itu. Jadilah Radit yang menemani selama Kendra bermain.


Sya melihat Kendra dari kejauhan, wajah bocah tampan itu terlihat bahagia. Setelah sekian lama, akhirnya Sya bisa melihat Kendra yang bermain dan tertawa begitu lepas.


Sembari menunggu Kendra bermain, Sya mengeluarkan ponselnya untuk mengambil beberapa foto Kendra.


Hingga tidak terasa sudah 1 jam lebih Kendra bermain di Timezone. Sepertinya dia sudah merasa lelah. Dan benar, tidak berapa lama kemudian Kendra dan Radit datang menghampiri Sya.


" Abang mau minuman? " Tanya Sya kepada Kendra dan dibalas anggukan olehnya.


Segera saja Sya membukakan botol minum dan memberikannya kepada Kendra.


Sya mengambil tisu di tasnya dan mengelap dahi Kendra yang sudah banjir oleh keringat.


" Aku enggak ditawarin minum? " Tanya Radit dengan lucu. Sepertinya sang Ayah sedang jelous kepada putranya sendiri.


" Hehehe, iya ini Mas. Maaf ya aku lupa. " Sya kemudian memberikan botol minum kepada Radit.


"Untung cinta. " Ucap Radit lirih.


Dan karena sekarang adalah salah satu misi Sya untuk membuat Kendra bahagia, maka setelah puas bermain di Timezone Sya mengajak Kendra untuk makan di Ayam goreng kakek. Tentu saja Kendra sangat senang. Sudah lama sekali dia tidak memakan ayam goreng tepung kesukaannya.


Kendra makan dengan lahap disuapi oleh Radit. Ya seperti biasa, pantang bagi Kendra untuk membuat Bundanya susah. Seperti sekarang ini, Kendra meminta tolong Radit untuk menyuapinya. Padahal tadi Sya sudah menawarkan diri untuk menyuapi Kendra, tapi di tolak dengan halus oleh bocah tampan itu. Kendra bilang Sya harus makan yang banyak agar dedek bayi juga ikut makan. Sya hanya bisa tertawa mendengar ucapan polos Kendra itu.


Sedangkan Radit, dia merasa sangat bersyukur dengan kondisi sekarang ini. Dengan adanya Sya, hidupnya dan juga Kendra menjadi lebih tertata dan juga berwarna. Kadang disuatu ketika, Radit merasa bodoh karena pernah mempermainkan perasaan Sya. Bagaimana jika saat itu Sya menolak untuk memberikan kesempatan kepadanya? Radit tidak bisa membayangkan hidup tanpa Sya setelah ini.


...***...


Sya dan Radit sampai rumah hampir jam 8. Kendra sudah terlihat lelah dan mengantuk. Namun meski begitu Sya tidak memperbolehkan Kendra untuk tidur, karena dia harus membersihkan diri dan juga ganti baju. Akan terasa tidak nyaman jika Kendra nantinya tidur menggunakan baju yang sudah lengket dan bau keringat itu.


Seperti biasa sekarang tugas membantu Kendra di serahkan kepada Radit. Sya hanya bertugas menemani Kendra sampai bocah itu tertidur. Baru setelahnya Sya bisa kembali ke kamarnya.


" Sayang, sini. " Radit menepuk sisi ranjang yang ada di sebelahnya begitu melihat Sya yang masuk melalui connecting door.


Dengan tersenyum Sya mendekat ke arah Radit dan duduk di sampingnya.


" Kenapa Mas? " Tanya Sya kepada Radit. Jika sudah seperti ini itu berarti Radit sedang ada maunya. Namun seperti biasa Sya berpura-pura tidak tau.


" Kamu capek nggak? " Tanya Radit menatap lembut Sya.


" Ya capek sih, tapi cuma sedikit kok. " Jawab Sya membalas senyum Radit.


" Mau aku pijitin? " Tawar Radit.


" Boleh kalo Mas mau. " Sya menerima tawaran yang Radit ajukan kepadanya.


Radit dudul keujung ranjang, kemudian memulai tugasnya memijit kaki Sya yang hari ini memang lebih bengkak dari biasanya karena terlalu lama berjalan mungkin.


" Sakit enggak? " Tanya Radit.


" Enggak Mas, enak kok malah. " Jawab Sya. Memang benar pijatan Radit itu terasa enak, tidak terlalu keras dan juga tidak terlalu pelan.


" Tapi habis ini aku minta bayaran ya?. " Ujar Radit seraya mengedipkan matanya genit.


" Oohh jadi Mas mau mijitin aku karena ada maunya? " Tanya Sya kepada Radit.


" Ya enggak gitu sih. Mas kan nggak maksa. Itu pun kalo kamu mau. Kalau kamu nggak mau ya aku juga nggak papa. " Jawab Radit. " Tapi ya.... "


" Tapi apa? " Tanya Sya.


" Tapi ya kan nolak permintaan suami itu dosa sayang. " Ucap Radit seraya tersenyum bahagia.


Sekarang apa yang bisa Sya lakukan? Tentu saja pasrah.