Baby... I Love You

Baby... I Love You
Janda terpesona duda



Setelah mengantarkan Mama dan Ayah mertuanya ke Bandara, Radit langsung menuju kantor. Karena siang ini Radit harus memimpin rapat.


Saat ini Radit sedang menandatangani beberapa dokumen, sampai tiba-tiba Andre mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangannya dengan membawa sebuah bucket bunga.


" Selamat pagi Pak. " Ujar Andre menyapa Radit.


" Kenapa Andre membawa bucket bunga ke kantor? Apa dia memiliki seseorang yang spesial di sini? " Ujar Radit dalam hati.


" Ada apa? " Tanya Radit langsung pada intinya.


" Ada titipan dari Pak Agus. " Ujar Andre seraya memberikan bucket bunga di tangannya kepada Radit.


" Maksud kamu bucket bunga itu buat saya? " Tanya Radit tidak yakin. Dan lagi, ini titipan dari Pak Agus, berarti ini dari Sya dong.


" Iya Pak. "


Radit menerima bucket bunga itu, bunga tulip.


" Kalau begitu saya permisi dulu Pak. " Ujar Andre berpamitan. Dan hanya mendapat anggukan dari Radit sebagai jawaban. Andre melirik kearah Radit yang saat ini sedang tersenyum sendiri.


" Dasar, dulu aja sok-sokan mau mempermainkan Mbak Sya, cuma mau menjadikan dia ibu untuk Kendra. Tidak butuh seorang istri. Lalu sekarang apa? Kalau nggak butuh seorang istri kenapa Mbak Sya bisa hamil coba. Dasar bucin. " Tentu saja itu semua tidak Andre katakan kepada Radit. Hanya dia pendam. seorang diri di hatinya.


Kembali ke Radit yang saat ini sedang membaca surat dari Sya.


Ternyata istrinya bisa seromantis ini. Ujar Radit dalam hati. Bersama Sya, entah kenapa Radit selalu merasa jatuh cinta. Bahkan cintanya semakin hari bertambah semakin besar.


Ingin rasanya Radit pulang ke rumah sekarang juga dan memeluk erat tubuh Sya untuk menyalurkan rasa cintanya kepada wanita itu agar Sya tau. Namun kenyataannya Radit tidak bisa melakukan itu. Meski dia seorang Direktur, tapi bukan berarti dia bisa bersikap seenaknya.


Radit memutuskan untuk menghubungi Sya kembali setelah tadi dia sempat video call dengan Sya saat di parkiran Bandara. Tidak butuh waktu lama, panggilan yang Radit lakukan sudah diangkat oleh Sya.


" Haii... " Ujar Radit seraya tersenyum manis.


" Haii juga Mas, kenapa video call lagi? " Tanya Sya pura-pura tidak tau.


" Apa tidak ada yang ingin kamu sampaikan sayang? " Tanya Radit mengabaikan pertanyaan Sya.


" Apa? "


" Mengenai bunga ini? " Ujar Radit seraya memperlihatkan bucket bunga hasil dari Sya merangkai.


" Hehehe, ternyata sudah sampai ya. Gimana? Mas suka sama bucket bunga buatan aku? " Tanya Sya kepada Radit.


" Tentu saja suka, apalagi ada cinta di setiap rangkaiannya. " Jawab Radit seraya menatap lembut kearah Sya.


" Syukurlah kalau Mas Radit suka. " Jawab Sya seraya tersenyum.


" Kenapa tidak mengatakan langsung sekarang? " Tanya Radit lagi.


" Apa? Memangnya aku harus mengatakan apa? " Tanya Sya bingung.


" Seperti yang kamu tulis di surat ini. " Radit memperlihatkan selembar kertas berwarna pink kepada Sya.


Wajah Sya seketika memerah karena malu. Memang benar, Sya sangat jarang mengatakan I love you terlebih dahulu kepada Radit. Jarang? Atau bahkan tidak pernah. Sya sendiri sudah lupa. Setiap kali kata-kata itu keluar dari mulut mereka, itu sudah pasti Radit yang mengawalinya.


" Aku malu Mas. " Jawab Sya seraya menundukkan kepalanya.


" I love You Mas. " Ujar Sya dengan cepat.


" Apa? kenapa cepat sekali. Aku enggak denger sayang. " Ujar Radit menggoda Sya.


" Mass... " Sya mengerucutkan bibirnya.


" Sekali lagi, tapi jangan cepet-cepet. " Jawab Radit seraya tersenyum.


" I Love You Mas Radit. " Sya menekankan satu persatu kata yang keluar dari mulutnya.


Radit tersenyum semakin lebar mendengar ucapan Sya.


" I Love You too Maureen Calisya Putri. " Ujar Radit membalas ucapan Sya.


" Udah ah malu, aku tutup ya, bye Assalamu'alaikum. " Tiba-tiba sambungan video call di matikan secara sepihak oleh Sya dengan keadaan wajah yang semakin memerah karena malu.


" Hahaha... " Radit terkekeh sendirian di ruangannya setelah Sya memutus sambungan video call mereka.


Radit merasa dia seperti anak muda yang sedang jatuh cinta. Hanya mendengar Sya mengucapkan I love you saja sudah membuat Radit bahagia bukan main. Memang dalam. hubungannya dengan Sya, sangat jarang mereka mengucapkan kata I love you. Jadi sekalinya kata itu terucap menjadi terasa sangat spesial untuknya dan juga Sya.


...***...


Sudah jam 2 siang, itu berarti sebentar lagi Kendra akan pulang sekolah. Sya memutuskan untuk ikut Pak Agus menjemput Kendra. Sekalian jalan-jalan juga, Mama Farida dan Ayah Dodi yang sudah pulang ke Jogja membuat Sya merasa sedikit kesepian lagi.


Namun tentu saja sebelum pergi dia harus berpamitan sama Radit. Tapi ternyata Radit sedang tidak bisa dihubungi, jadilah Sya memilih untuk menghubungi Andre. Dan dari Andre lah Sya tau kalau Radit sedang ada rapat saat ini.


Sya bersiap selagi menunggu Pak Agus memanaskan mobil. Baru setelah mereka berangkat untuk menjemput Kendra.


Sesampainya di sekolah Kendra, ternyata ada banyak ibu-ibu yang juga sedang menjemput anak- anak mereka. Sya hanya tersenyum saat tanpa sengaja dia saling bertatap dengan mereka.


" Mbak jemput siapa? " Tanya salah satu wanita mudakepada Sya.


" Jemput Kendra mbak. " Jawab Sya dengan ramah.


" Ooo, Kendra anaknya Pak Radit ya, si duda tampan itu. " Ujar wanita tadi.


Sya terdiam dan tersenyum canggung. Jadi mereka taunya kalau Radit adalah seorang duda. Dan tidak tau kalau saat ini laki-laki itu sudah menikah lagi?


Memang selama ini setiap Sya mengantarkan Kendra dia jarang bertemu dengan wali murid disini. Jadi Sya mencoba memaklumi akan ketidaktahuan wanita itu.


" Sebenarnya saya tuh janda, anak saya cewek seusia Kendra. Pengen gitu punya suami kayak Ayahnya Kendra. Kalau ada kesempatan, bisa kali ya pdkt sama dia. Orangnya cool begitu bikin saya penasaran. " Ujar wanita itu, padahal sejak tadi saja Sya tidak berkata apa-apa. Tapi wanita itu bercerita dengan gamblangnya tanpa tau malu. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu kepada orang yang bahkan tidak di kenalnya.


Sya hanya tersenyum kecut mendengar ucapan dari wanita itu. Moodnya mendadak menjadi buruk. Sepertinya setelah ini dia harus mengajak Kendra untuk pergi bersamanya membeli es krim agar moodnya kembali baik.


" Jadi, mbaknya siapanya Kendra? " Tanya wanita itu penasaran. Dia menatap Sya dari kepala sampai kaki.


" Saya istrinya Mas Radit, Bunda sambungnya Kendra. " Jawab Sya seraya tersenyum manis.


Wanita di depannya itu seketika melebarkan matanya karena terkejut.


" Istrinya Pak Radit? Bundanya Kendra? Dan sekarang lagi hamil? " Ujar wanita itu menatap Sya.


" Iya, saya sedang hamil adiknya Kendra. Anaknya Mas Radit yang dulunya duda itu. " Jawab Sya seraya menunjukkan perut buncitnya.