Baby... I Love You

Baby... I Love You
Bongkar oleh-oleh



Tok... tok... tok...


" Mbak Sya, buka pintunya. Udah pagi nihhhh.... Aku mau ambil oleh-oleh sesuai yang Mbak janjikan. " Dita dengan ceria mengetuk pintu kamar Sya. Masih pagi sepertinya energi Dita masih full power.


Sya yang mendengar suara cempreng Dita seketika langsung mengerjapkan matanya. Rasanya masih sangat mengantuk. Sebenarnya Sya sudah bangun pagi tadi namun hanya untuk sholat shubuh dan setelah itu langsung melanjutkan tidur lagi.


Bagaimana tidak, tadi malam setelah membeli Martabak Radit justru memarkirkan mobilnya di dekat taman yang sedang ramai. Dengan alasan dia ingin Martabak berdua dengan Sya, ajaibnya Martabak 1 box bisa di habiskan oleh Radit semua, dan Sya hanya memakan 2 potong. Sampai akhirnya mereka ada di taman itu hingga pukul 10 malam. Ditambah saat sudah mengantarkannya pulang Radit masih ngobrol dengan Pak Didin. Dan secara otomatis Sya harus menunggunya sampai pulang karena Radit tidak mau Sya tinggal masuk ke dalam. Benar-benar seperti anak kecil yang tidak mau ditinggal ibunya. Sampai akhirnya jam 12 malam lebih barulah Radit pamit untuk pulang. Akhirnya Sya bisa bernafas lega dan segera istirahat.


Nasib Martabak yang tadinya Sya beli untuk Dita dan Mbak Titik akhirnya masuk ke dalam kulkas. Karena yang satunya lagi memang sengaja Sya beli untuk Pak Didin. Dan oleh-oleh untuk teman-temannya belum Sya unboxing.


Dan pagi ini Sya terbangun karena suara Dita.


" Mbak Sya yuhuuu.... Dita yang cantik ada di depan nih. Bangun napa sih. " Suara Dita terdengar lagi.


" Iyaa...Udah bangun. " Sya membuka pintu kamarnya. Tepat di depan pintu Dita tersenyum cerah masih menggunakan piyama teddy bearnya.


" Nah, gituu dong. Anak perawan bangunnya harus pagi. Kalo males-malesan nanti nggak dapet jodoh. " Ujar Dita dengan ngawur.


" Kata siapa itu? Ada-ada aja. Jodoh itu udah ada yang ngatur Dit. " Sya masuk kembali ke kamarnya sedangkan Dita juga mengikutinya untuk masuk.


" Kata Nenek aku. " Jawab Dita santai.


" Pintunya tutup lagi. " Sya merebahkan tubuhnya kembali ke kasur.


" Iihhh, jangan tidur lagi Mbak. " Ujar Dita seraya menggoyangkan tubuh Sya.


" Aku masih ngantuk Dit, tadi malem tidur jam 1. Kamu ambil aja itu oleh-olehnya. Udah aku pisahin buat kamu yang ada di kantong merah. " Ujar Sya kepada Dita.


" Ya udah deh Mbak tidur aja. " Ujar Dita membiarkan Sya tertidur.


Namun bukannya membuka kantong merah yang berisi oleh-oleh untuknya, Dita justru ikut merebahkan tubuhnya di kasur Sya.


Sya yang memang masih mengantuk tidak peduli apa yang akan dilakukan oleh gadis yang sudah dia anggap seperti adik sendiri itu. Yang Sya butuhkan saat ini adalah tidur. Tanpa tau jika sudah ada belasan panggilan tak terjawab dari Radit karena ponsel Sya dalam mode silent.


Hingga tidak lama kemudian pintu kamar Sya kembali di ketuk.


Tok... tok... tok...


" Assalamu'alaikum, Heyyy para gadis perawan. Jam segini masih tidur aja. Udah jam 9 nih. " Setelah mengetuk pintu namun tidak ada jawaban dari sang empunya kamar, Mbak Dita membuka kamar Sya karena melihat sandal Dita ada di depan. Dan ternyata keduanya justru masih tidur. Apa Dita pindah ke kamar Sya cuma buat numpang tidur?


" Hemm... " Sya membuka matanya perlahan. " Jam berapa Mbak? " Tanya Sya saat melihat ada Mbak Titik kamarnya.


" Jam 9 Sya. " Jawab Mbak Titik. " Ini Dita pindah ke kamar kamu cuma buat lanjut tidur disini? " Tanya Mbak Titik kepada Sya. Terlihat Dita tidur begitu pulas.


Sya menolehkan tubuhnya ke belakang. Lah iya ternyata Dita lanjut tidur di sini.


" Padahal tadi ada yang bilang ke aku kalo anak cewek nggak boleh bangun siang karena nanti nggak dapet jodoh. Lah yang bilang sendiri aja malah lanjut tidur disini. " Ujar Sya kepada Mbak Titik.


" Hahaha.. " Mbak Titik tertawa dan ikut bergabung duduk di kasur untuk membangunkan Dita.


Sedangkan Sya langsung bangun dan ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi.


" Heyy perawan, bangun. Udah siang. " Mbak Titik menggoyangkan tubuh Dita.


" Hemmm... " Dita membuka matanya. " Eehh aku kok jadi ketiduran disini. Lah Mbak Sya nya mana? " Tanya Dita kepada Mbak Titik.


" Lagi di kamar mandi. " Mbak Titik jawab Mbak Titik seraya memainkan ponselnya.


Sya keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar.


" Cuci muka dulu sana Dit." Ujar Sya kepada Dita.


Tanpa membantah Dita pun langsung ke kamar mandi untuk melakukan perintah Sya.


Sedangkan Sya dan Mbak Titik sekarang sedang unboxing oleh-oleh dari Jogja yang Sya bawa.


" Iihhh ini lucu banget sih. " Ujar Mbak Titik seraya memakai tas slempang rotan yang menurutnya sangat lucu.



...photo by Google...


" Ini, kamu juga aku beliin kok Dit, tenang aja. Semuanya sama bentuknya cuma beda warna. Pilih aja kamu mau yang mana. " Ujar Sya kepada Dita.


" Aku mau yang ini ya Mbak. "


Sekarang Mbak Titik dan Dita sedang berkaca untuk melihat seberapa kecenya mereka menggunakan tas rotan ini.


" Ihh bagus banget Mbak, aku suka deh. Makasih ya Mbak." Ujar Dita tersenyum senang.


" Makasih Sya. Ini bagus banget. " Ujar Mbak Titik kepada Sya.


" Sama-sama. Oya ini masih ada lagi. " Sya mengambil kantong berwarna biru.



...photo by Google...


Terdapat aksesoris cantik di dalamnya.


" Whaaaa.... Ya ampun. Cantik banget aku suka. " Dita langsung berteriak kegirangan saat melihatnya. Dita memang senang menggunakan aksesoris unik seperti itu.


" iihhh, lucu banget Sya. " Ujar Mbak Titik dengan mata berbinar.


Selain itu semua, tidak lupa juga Sya membawakan oleh-oleh yang memang benar-benar khas Jogja, yaitu bakpia pathok, yangko, keripik belut, cokelat monggo dan tentu saja gudeg, hanya saja gudeg yang dalam kemasan kaleng agar tidak cepat basi.


Saat Mbak Titik dan Dita sedang sibuk mencoba oleh-oleh berbentuk sovenir. Sya mengambil ponselnya yang tergeletak di meja.


Terdapat 16 panggilan tak terjawab dari Radit dan juga ada beberapa pesan darinya.


Direktur Ganteng


*Selamat pagi sayang.


Kamu belum bangun yank? Maaf ya udah buat kamu begadang semalem.


Tadi Kendra rewel waktu bangun nggak ada kamu. Tapi udah nggak papa kok, dia sekarang lagi main sama Aurel.


Aku telfon nggak di angkat-angkat berarti kamu emang belum bangun ya*?


Sya tersenyum sendiri membaca pesan dari Radit. Entah bagaimana bisa Radit yang awalnya Sya kenal dengan pribadi yang dingin dan penuh wibawa tiba-tiba menjadi Radit yang manja seperti Kendra. Tapi tidak apa-apa, Sya mencintai Radit yang seperti apapun.


Selamat pagi juga. Maaf Mas, aku baru bangun, kesiangan:)


Kendra beneran udah nggak papa? Udah nggak nangis kan? Maaf ya aku nggak bisa nginep di rumah Mama.


Oo iya, nanti aku telfon kamu. Sekarang aku lagi buka oleh-oleh sama Mbak Titik dan Dita.


Sya membalas pesan dari Radit agar laki-laki itu tidak menunggu kabar darinya terlalu lama.


.


.


.


Radit sama Sya bentar lagi OTW sah kok: D


*Terima kasih buat dukungan kalian semua 😍


Jangan lupa buat selalu memberi kritik dan saran biar aku bisa nulis lebih baik lagi 😁*


Terima Kasih😘💕