Baby... I Love You

Baby... I Love You
Karma dari Papa Riyan



Setelah kejadian dimana Kendra mendengar jika Sya akan meninggalkannya, Kendra menjadi sangat lengket dengan Sya. Bahkan bocah kecil itu menolak untuk tidur sendiri lagi. Setiap dia tertidur sambil memeluk Sya dan berencana akan di pindahkan oleh Radit maka Kendra akan langsung terbangun. Hal ini tentu saja membuat 3 malam Radit terasa sangat berat. Disamping dia harus berbagi dengan Kendra, ditambah Radit yang juga sulit hanya sekedar untuk memeluk Sya karena Kendra hanya ingin tidur di posisi tengah.


flashback


" *Hikss, Bunda mau tinggalin Kendla? " Tanya Kendra seraya menangis. Para orang tua menatap kaget mendapati bocah kecil itu tiba-tiba datang sambil menangis.


" Kendra? " Panggil Sya kepada bocah kecil yang sedang menangis sesegukan itu. " Sini sayang, Kendra kenapa nangis? " Ujar Sya bertanya kepada Kendra.


" Bunda mau pelgi kan tinggalin Kendla? Bunda mau pelgi ke Jepang sama Ayah doang kan? Huwaaaa, Kendla mau sama Bunda. "Tangis Kendra ini semakin menjadi. Tentu saja membuat Sya menjadi semakin merasa bersalah karena dia memang memiliki rencana untuk meninggalkan Kendra bersama Oma dan Opanya agar dia dan Radit bisa pergi berbulan madu.


Berbeda dengan Sya, Radit hanya menggelengkan kepalanya melihat Kendra yang seperti itu. Radit sudah hafal dengan sifat Kendra.


" Katanya Kendra pengen cepet punya adek bayi di perut Bunda. Jadi ijinin Bunda beberapa hari aja pergi sama Ayah ya, nggak lama kok. Paling cuma 10 hari sayang. Ya cucu Oma kan pinter. " Ujar Mama Riana memberikan pengertian kepada Kendra.


" Hikss, Kendla nggak jadi minta dedek bayi kalo Bunda pelgi. Pokonya Kendla mau sama Bunda telus. " Ujar Kendra dengan keras kepala.


" Iya iya, Bunda sama Ayah nggak jadi pergi kok. Nanti kita perginya bareng-bareng sama Kendra. Sekarang stop ya udahan nangisnya. " Ujar Sya seraya mengusap wajah Kendra yang basah karena air mata. Sya semakin tidak tega jika harus meninggalkan Kendra.


Sedangkan Papa Riyan hanya mengulum senyum melihat kejadian ini. Ya karena ini semua mengingatkan dia akan sesuatu dimasa lalu. Masa dimana Radit seusia Kendra seperti. sekarang ini.


" Kamu tau nggak? Dulu kamu juga pernah seperti ini. Merengek meminta adik sama Mama dan Papa. Dan juga mengacaukan rencana bulan madu kedua Papa dan Mama. Jadilah Rida adalah made in rumah " Bisik Papa Riyan kepada Radit.


" Aku nggak inget kejadian itu Pa. " Jawab Radit mengerutkan dahinya mencoba untuk membuka memori masa lalu dimana dia seusia Kendra. Namun tetap saja nihil. Radit tidak bisa mengingat apapun.


" Jelas kamu nggak inget. Kamu aja masih kecil. " Ujar Papa Riyan. " Dan sekarang kayaknya kamu dapat karma deh dari perbuatan masa lalu kamu. Nggak enak kan kalo pengen berduaan sama istri tapi di gangguin. Ya itu kamu dulu juga gitu. " Ujar Papa Riyan seraya terkekeh geli.


" Karma? " Ujar Radit terkejut. Dia saja tidak tau apa saja yang dia lakukan di usia balitanya itu. Kenapa justru dia mendapat karma? Tapi mendengar cerita Papa Riyan itu tidak ayal membuat Radit sedikit merasa bersalah juga. Sekarang Radit tau bagaimana rasanya.


flashback off*


" Sayang.... " Panggil Radit lirih kepada Sya saat dia sudah memastikan jika Kendra sudah tertidur pulas.


" Heemmm... Kenapa Mas? " Tanya Sya seraya menatap Radit yang duduk bersandar di kepala ranjang. Wajah Radit terlihat begitu frustasi.


" Pengen peluk kamu. " Jawab Radit dengan tatapan memelas nya.


" Ya udah sini peluk. " Ucap Sya menggoda Radit yang tentu saja membuat bayi besarnya itu menekuk wajahnya.


" Apa Kendra di titipin ke Mama sama Papa dulu ya? " Ujar Radit kepada Sya.


" Jangan Mas, kasian Kendra. Mungkin dia emang lagi bener-bener butuh perhatian aku. Nggak papalah, pasti juga nggak akan lama. Kita cari cara lagi buat ngebujuk Kendra. " Ujar Sya menatap lembut Radit. Sebenarnya Sya juga rindu kepada Radit karena sudah 2 hari ini interaksi antara dirinya dan juga Radit begitu terbatas. Tapi Sya juga tidak tega kepada Kendra.


Radit menghela nafas panjang. Melihat posisi tubuh Sya yang di belit oleh tangan dan kaki Kendra membuat Radit sangat ingin menggantikan posisi itu dengan dirinya.


" Mas kamu pindah dulu sana. " Ujar Sya kepada Radit.


" Kenapa? Kenapa aku harus pindah, kamu mau nyuruh aku tidur di sofa? Sayang, aku tidur nggak bisa peluk kamu aja rasanya tersiksa apalagi aku harus tidur jauh-jauhan dari kamu. " Jawab Radit dengan hiperbola.


" Enggak Mas, kamu nurut aja sama kamu. Ini demi kebaikan kita bersama. " Ujar Sya meyakinkan Radit.


Akhirnya mau tidak mau Radit pun beranjak dari duduknya. Di berdiri melihat apa yang akan Sya lakukan.


" Bobok yang nyenyak ya anak Bunda. " Ujar Sya mencium kening dan juga menepuk-nepuk pantat Kendra. Dengan perlahan Sya mengangkat Kendra dalam dekapannya dan menggeserkan badannya sedikit ke ujung ranjang. Dan ya berhasil. Radit menatap dengan mata berbinar atas apa yang Sya lakukan. Dan ajaibnya kali ini Kendra tidak terbangun.


" Mas, ini pembatas ranjangnya tolong di naikin biar Kendra nggak jatuh. " Ucap Sya kepada Radit.


Radit tertegun sejenak, dia baru ingat kalau ranjangnya ini memang dipasangi pembatas yang bisa di naikan dan diturunkan karena dulu Kendra selalu tidur bersamanya. Dan untung saja Radit belum melepasnya. Mungkin tidak akan Radit lepas karena belajar dari pengalaman sekarang ini sepertinya benda itu berguna.


Setelah menaikan pembatas ranjang Radit meletakkan bantal guling disisinya. Kemudian Radit berbaring di belakang Sya dimana sekarang posisi Sya menjadi ada di tengah di apit olehnya dan juga Kendra. Meskipun belitan Kendra kepada Sya masih tidak terlepas tapi tidak apa-apa, bisa memeluk Sya saat ini saja sudah lebih dari cukup untuk Radit.


" Makasih sayang, akhirnya aku bisa peluk kamu. " Ucap Radit tepat berada di tengkuk belakang leher Sya. Radit menghirup aroma perpaduan antara bunga dan buah yang tercium dari tubuh dan rambut Sya. Aroma yang begitu menenangkan untuk Radit. Padahal sebelumnya Radit tidak begitu suka aroma seperti ini. Namun untuk Sya itu merupakan sebuah pengecualian.


Sya hanya tersenyum mendengar ucapan Radit.


" Besok aku boleh ijin cuti dulu nggak Mas? Sepertinya aku butuh banyak waktu untuk memberikan pengertian kepada Kendra. Biar bagaimana pun nggak baik kalau Kendra terlalu lama bolos sekolah. " Ujar Sya menyampaikan rencananya kepada Sya.


" Aku terserah kamu aja sayang. Aku yakin apapun yang kamu lakukan pasti untuk kebaikan kita bersama. " Jawab Radit masih menciumi tengkuk leher Sya.


Malam ini Sya dan Radit membicarakan banyak hal dengan Kendra yang tertidur pulas di pelukan Sya.